
"Aku nyerah..." Kalimat itu yang pertama kali terdengar dari bibir Bella yang sedari tadi sungkan untuk tersenyum. Matanya menatap nanar kilau lampu kerlap kerlip berbentuk salju yang melingkari dahan pohon cemara di luar sana.
Bias cahayanya yang kekuningan, membuat Rangga bisa melihat wajah Bella yang berusaha tenang setelah mengucapkan kalimat itu.
Rangga menoleh Bella dan tertegun saat melihat mata Bella yang bening kini memerah dan berkaca-kaca. Yakinkah Bella dengan ucapannya barusan?
Rangga mengambil langkah mendekat namun Bella sudah lebih dulu mundur selangkah menjaga jarak darinya. Lantas laki-laki itu tersenyum kecil melihat Bella yang ia anggap sedang bercanda dengannya. Tidak lucu bukan?
Suasana cafe sore ini sangat sepi dari pengunjung. Hanya suara musik intrumental yang terdengar dari pemutar musik yang di putar berulang sedari tadi. Namun entah mengapa aura ruangan ini mendadak berubah panas setelah Rangga mendengar kalimat itu dari mulut Bella. Perasaannya tidak karuan.
Ia pikir setelah 11 hari tidak bertemu, Rangga akan mendapat sambutan senyuman dari Bella yang sangat ia rindukan. Ia sudah membayangkan kalau Bella akan berhambur berlari riang ke arahnya lantas memeluknya dengan erat. Tapi nyatanya hingga kini mereka hanya saling membisu tanpa tahu harus melanjutkan percakapan ini dari mana.
"Are you sure?" Pertanyaan itu yang akhirnya Rangga lontarkan.
Tidak ada jawaban, Bella hanya memalingkan wajahnya seraya menarik syal di lehernya untuk menutupi rambutnya yang ia kepang. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang murung tanpa mau menoleh pada Rangga.
Di sebrang Bella, Inka melihat wajah polos Bella yang terlihat sendu tengah menahan tangisnya. Ia sampai menggigit jarinya gemas saat perasaan yang Bella tunjukkan melalui ekspresinya terasa benar sampai kehatinya. Gadis itu gusar namun berusaha tegar. Benar-benar cerminan Bella yang selalu dilihatnya.
Melihat respon Bella, tubuh Rangga mendadak lemas. Gadis itu terlihat yakin dengan ujarannya di awal tadi. Ia duduk di salah satu bangku dengan kedua tangan yang menopang tubuhnya agar tidak ambruk. Ucapan Bella terlalu tiba-tiba dan sepertinya serius.
Saat melirik Bella, Rangga melihat Bella menyeka air matanya sendiri. Dia benar-benar menangis dan hati Rangga ikut merasa teriris.
Tangan Rangga terulur hendak menyentuh pundak Bella tapi seketika Rangga melihat cincin yang melingkar di jari manisnya. Sementara di tangan Bella, gadis itu masih memakai gelang yang ia berikan sebagai tanda cintanya.
Rangga mengepalkan tangannya geram, ini pilihan yang sulit. Ia sudah menikah dengan wanita lain sementara wanita yang ada dihadapannya adalah wanita yang ia perjuangkan selama ini. Wanita yang mengubah hidupnya yang sepi menjadi berwarna.
Seketika keserakahan mengisi relung hati dan pikiran Rangga. Mana bisa ia kehilangan wanita ini begitu saja?
“Kamu pergi selama 11 hari dan datang mengatakan hal konyol dihadapanku. Kamu pikir ini lucu?” Tanya Rangga yang beranjak dari tempatnya dan menghampiri Bella.
“Kemana saja kamu selama ini Nara? Hal bodoh apa yang merasuki pikiranmu sampai kamu berpikir kalau kita harus berpisah?” Lanjut Rangga seraya bersandar pada dinding dan memandangi Bella tidak percaya.
Bella tampak menghela nafas dalam dengan raut wajahnya yang berubah sendu.
“Aaaa... Inkaaa... Gue pengen nangiiisss..” Rengek Rini seraya meraih tangan Inka yang duduk di sampingnya lantas ia remas. Ekspresi Bella benar-benar menyayat hatinya.
Inka tidak menimpali, air mata sudah lebih dulu membasahi wajahnya. Melihat Bella begitu mendalami perannya, ia bisa membayangkan seperti apa ekspresi Bella saat ia mendapati Rangga tengah bersama Amara. Pasti lebih dari ini bukan?
“Mari kita akhiri semuanya.” Lagi Bella menegaskan kalimatnya disela usahanya menahan air mata.
“Apa?” Tidak tinggal diam, Rangga segera bangkit dari tempatnya dan menghampiri Bella. Ia menarik tangan Bella dengan kasar membuat gadis itu berbalik menatapnya
“Apa kamu bilang? Akhiri?” Rangga mengutip sebagian kalimat Bella yang terasa berdenging di pendengarannya.
“Ya.” Lirih Bella tanpa berani menatap Rangga. Ia hanya tertunduk.
“HEY!! TATAP MATAKU SAAT KAMU SEDANG BERBICARA DENGANKU!” Seru Rangga seraya mencengkram rahang Bella, mengangkatnya agar menatap matanya yang membulat penuh kemarahan.
Baginya candaan Bella sudah tidak lucu lagi.
Bella tidak menolak, ia membiarkan Rangga bersikap semaunya. Memaksa mereka saling bertatapan, kenapa tidak? Keputusannya sudah sangat bulat. Meski begitu bulir air mata tetap saja menetes dari sudut matanya.
“GILAAA!!! Ini beneran Bella?!!” Beberapa crew mendekat, mengelilingi area syuting. Mereka begitu tertarik melihat acting Bella yang ternyata jauh di luar perkiraan mereka. Sangat mumpuni.
“Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja?” Rangga menatap Bella dengan pilu.
“Lepaskan aku.” Bella berusaha melepaskan tangan Rangga yang mencengkram dagunya.
Rangga tidak lantas menuruti, ia masih ingin menatap sepasang mata bulat yang mulai mengganggu pikirannya. Ia melihat banyak kegundahan di dalamnya.
“Kamu pikir, aku akan melepaskanmu?” Suara Rangga terdengar bergetar. Rupanya pancingan Bella telah benar-benar berhasil, Rangga terbawa suasana.
Bella balas mencengkram tangan Rangga lalu mengibaskannya dengan kasar.
“Aku tidak memerlukan persetujuanmu atas pilihanku sendiri.” Tegas Bella dengan penuh keyakinan. Hanya beberapa saat ia menatap Rangga sebelum kemudian ia berjalan mundur menjauh dari Rangga.
“Kamu tidak boleh pergi kemanapun. Aku melarangnya!” Ia kembali menghampiri Bella dan berdiri dihadapan Bella dengan jarak yang cukup dekat. Bella bisa melihat nafas Rangga yang menderu menahan kemarahan.
“Kamu gak bisa pergi selangkahpun dariku. Aku tidak akan membiarkannya."
"Kamu pikir semudah itu mendapatkan kamu? Gak! Sulit Minara!!! Dan lebih sulit kalau aku harus melepaskanmu.”
Rangga dengan suara tangisnya yang tertahan. Seperti ada sesuatu yang menghalangi tenggorokannya dan membuat nafasnya seperti tersendat.
“Tolong, jangan seperti ini Michael.” Timpal Bella memelas.
“Kamu harus tau, kalau ini juga sulit untukku. Tapi,” Bella meraih tangan Rangga dimana cincin pernikahan tersemat di jari manis tangan kanannya.
“Aku tidak bisa menyakiti wanita lain. Aku tidak bisa sejahat itu, merebut seorang suami dari istrinya. Aku tidak bisa. Kamu mengerti kan?” Suara Bella sampai terbata-bata. Air matanya kembali menetes dengan bibir bergetar, sulit sekali untuk tidak menangis.
Rangga tidak lantas menimpali. Ia menahan geram dalam hatinya. Ia paham kalau ini pun sulit bagi Bella. Perlahan ia menyentuh sisi kiri wajah Bella dengan tangannya yang tersemat cincin pernikahan.
“Kamu tidak merebut siapapun dari siapapun. Sejak awal, yang aku cintai hanya kamu Nara. Bahkan tidak pernah sekalipun aku memikirkan wanita itu sebagai istriku. Aku membencinya. Aku sangat membencinya dan lebih dari, aku membenci diriku sendiri karena begitu bodoh telah membiarkan dia ada di antara kita.” Rangga menangis tersedu di hadapan Bella. Ia menempatkan dahinya di atas dahi Bella membuat jarak mereka sangat dekat.
Bella memejamkan matanya seraya mengigit bibirnya kelu. Ia pun merasakan kesedihan yang sama seperti yang dirasakan Rangga. Ditatapnya wajah Rangga dengan matanya yang merah dan berair.
“Michael, kamu laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Tolong jangan rusak kesanku untukmu. Tidak pernah ada jalan keluar untuk hubungan kita, maka seharusnya kita akhiri ini.” Lirih Bella pelan dan berusaha tenang.
Rangga hanya menggeleng. Matanya yang semula terpejam kini menatap Bella dengan kalut.
“Kamu tau kan kalau aku sangat mencintaimu?” Lirihnya tersengau-sengau. Wajahnya yang putih sampai merah karena menahan marah dan kesedihan di waktu bersamaan.
“Tentu,” Bella terangguk pelan.
"Lantas mengapa memilih pergi? Tidak bisakah kamu bertahan sebentar? Aku akan menyelesaikan urusanku dengan wanita itu dan kita bisa kembali bersama, Aku mohon." Bujuk Rangga.
Bella hanya bisa tersedu tanpa suara. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam, menatap lekat kedua mata yang berada tepat di hadapan satu sama lain. Bersama adalah keinginan keduanya namun keadaan tidak memungkinkan.
Semuanya hening. Tidak ada yang bersuara termasuk tangis para penonton yang coba mereka tahan. Rangga semakin mendekatkan wajahnya pada Bella membuat hidung keduanya bertemu. Dalam satu gerakan lagi Rangga hendak mengecup bibir Bella namun dengan cepat Bella memalingkan wajahnya. Pandangannya kini beralih pada Devan yang terdiam di tempatnya dan tengah melihat apa yang Bella perankan dihadapannya.
Melihat tatapan Devan, entah mengapa ada rasa menyeruak dalam dadanya. Bayangan-bayangan di kepalanya seperti kembali hadir. Bayangan saat ia terpuruk, bayangan saat ia merasa sendiri dan bayangan saat Devan selalu duduk di sampingnya. Yang ada dipikirannya bukan lagi bayangan kebersamaannya dengan Rangga dahulu. Bella merasa setiap moment bersama Devan yang tiba-tiba melintas di pikirannya terasa jauh lebih membekas di pikirannya.
Bella menaruh tangannya di dada Rangga dan perlahan ia mendorong tubuh Rangga menjauh.
“Tolong jangan buat aku terlihat seperti wanita murahan, Michael.” Lirihnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Devan.
Rasanya ia ingin berlari pada Devan dan mengatakan kalau ia baru saja melewati sebuah lompatan besar dalam hidupnya. Lompatan kesadaran yang membuat ia merasa bisa menghela nafasnya lagi dengan lebih leluasa. Tapi tidak untuk sekarang. Ia harus menyelesaikan apa ia mulai dengan Rangga.
Ia menghela nafasnya dalam lantas menghembuskannya perlahan. Di tatapnya kembali Rangga yang memandanginya dengan penuh kesedihan.
“Terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk merasa indah dan diperjuangkan. Tapi tolong, cukup sampai sini saja.” Bella menyentuh dada Rangga perlahan dan mengusapnya dengan lembut.
Ia tersenyum kelu pada Rangga yang kini menengadahkan kepalanya seraya menekan sudut matanya agar tidak menangis. Tidak ada lagi yang Rangga ucapkan.
Perlahan Bella berbalik meninggalkan Rangga. Ia melangkah menunju arah baru tanpa Rangga.
“Ra, Nara!!” Panggil Rangga.
Namun Bella terus melanjutkan langkahnya, semakin lama semakin panjang dan menjauh dari Rangga. Ia tidak ingin berbalik dan hatinya luluh lagi. Cukup sampai di sini saja.
“NARAAA!!!!! AAAARRRGHHHH!!!” Teriak Rangga. Ia jatuh bersimpuh di tempatnya. Tenaganya seperti habis karena hatinya yang patah. Ia mencengkram dada kirinya yang terasa sakit dan sesak. Tapi semuanya telah berakhir.
Bella tetap dengan pilihannya untuk pergi.
“CUT!!!” Seru Indra.
*****