
Tanpa menghiraukan larangan Ozi, Bella memilih pergi untuk menemui Rangga. Ia tidak lagi peduli dengan semua perayaan yang hancur di ruang VVIP itu.
Dengan menggunakan ojek online untuk sampai di studio. Rasa dingin angin malam ia abaikan saja. 30 menit perjalanan terasa seabad ia lalui. Ia hanya harus memastikan kalau Rangga baik-baik saja.
Selama dalam perjalanan, ia terus berpikir kalau Rangga mungkin merasa tertekan. Rangga merasa tidak siap untuk bertemu keluarga Bella, namun karena Saras yang memintanya langsung sehingga Rangga tidak bisa menolak.
Bisa Bella pahami alasan ketidaksiapan Rangga. Rangga selalu merasa kalau kondisinya saat ini berada jauh di bawah level keluarga Bella. Di tambah sikap Ozi yang selalu sinis, tentu banyak menyinggung perasaan Rangga. Akhirnya Bella hanya bisa menangis membayangkan perasaan Rangga saat ini.
"Maaf,," lirihnya dalam hati. Ia merasa kalau ini semua kesalahannya karena menempatkan Rangga dalam kondisi yang tidak nyaman.
Tiba di gerbang studio, hanya lampu jalan yang menyala redup. Mobil Rangga juga ada di sana namun suasana sangat sepi. Tidak ada jendela yang terbuka seperti biasanya. Semua tertutup dan tidak ada suara hingar musik sedikitpun.
“Gaaa,,, kamu di rumah?” Bella mengetuk pintu beberapa kali.
“Gaa, ini aku.. Kita perlu bicara…” lagi Bella mengetuk pintu dan sesekali menempelkan telinganya di daun pintu untuk mengecek apa Rangga ada di dalam atau tidak.
Tidak ada jawaban sama sekali. Seraya menyeka air mata, dengan tangan gemetar Bella mencoba menghubungi Rangga. Saat tersambung, terdengar juga deringan ponsel Rangga dari dalam rumah.
“Ga, plis jawab Ga. Aku mau ngomong…” lagi Bella berbicara dengan putus asa.
Rangga tetap tidak menjawabnya.
Dengan tubuh yang lemas, Bella terduduk di depan pintu sambil bersandar pada daun pintu. Dinginnya angin malam membuat ia memeluk kedua kakinya yang terlipat. Ia bahkan baru sadar kalau ia tidak memakai alas kaki.
Dengan kasar ia menyeka air matanya. Menarik nafas beberapa kali yang ia hembuskan perlahan. Ia harus menetralisir suaranya.
“Ga, kalau kamu di dalem, aku mau kamu dengerin aku sebentaaaaar aja.” lirihnya. Ia butuh kesempatan untuk meluapkan perasaan tertahan yang membuatnya sesak.
“Ga, hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu. Aku bener-bener bahagia karena akhirnya mamah membuka pintu restu buat kita. Abang juga gak protes waktu mamah bilang kalau kita akan makan malam keluarga. Aku bener-bener gak sabar nunggu hari ini tiba.”
“Kamu tau Ga, mamah bilang mamah gak akan nuntut kita menikah tahun ini. Mamah akan menghargai proses kita. Mamah cuma mau mengenal kamu lebih dekat. Mamah juga mau dikenalkan sama ibu dan bapak juga yaya dan nana.”
“Mamah lucu bilangnya, katanya jangan sampe ketemu di jalan, eh malah gak sadar kalau itu calon besan.” Bella tersenyum di ujung kalimatnya.
“Terus tentang sikap abang sama kamu,” Bella menjeda kalimatnya dengan helaan nafas dalam.
“Abang janji akan berubah. Dia akan lebih menghormati kamu dan menganggap kamu adik abang sendiri. Abang terlalu kolot mikirnya, dia pikir kalau aku sama kamu, aku bakal lupa sama dia. Ya enggaklah…”
“Walaupun abang ngeselin, aku tetep sayang abang. Dan kamu, tetap akan selalu aku perjuangkan. Jadi, untuk kejadian hari ini, aku minta maaf kalau aku terlalu egois. Aku gegabah karena berpikir kamu pun akan seneng makan malam sama mamah di hari pentingnya mamah. Tanpa aku bertanya, kamu bersedia apa nggak.”
Bella kembali terdiam, ia merutuki kecerobohannya. Ia merasa mengenal Rangga tapi ia tidak mengerti isi hati Rangga yang sebenarnya.
Tanpa di duga, pintu rumah terbuka. Wajah Bella berubah cerah dan dengan cepat ia bangkit.
“Ga,” serunya dengan sumeringah.
Rangga berdiri di hadapannya dengan wajah tenangnya. Namun saat Bella akan memeluknya, Rangga memilih menjauh.
“Kamu mar,” kalimat Bella terjeda saat melihat seseorang keluar dari kamar Rangga.
Wanita itu mengenakan kaos bertuliskan “I'm hers” yang Bella kenali sebagai miliknya, couple dengan Rangga yang bertuliskan “I'm his”. Tidak hanya itu, Wanita itupun mengenakan bando dengan tulisan angka 2 di atas kepalanya.
Yang tidak kalah mengejutkan, wanita itu adalah Amara, sahabatnya. Ia berdiri dengan tegak, menatap Bella tanpa rasa terkejut sedikitpun.
“Ga, kamu?” lirih Bella terbata-bata. Namun kalimatnya terhenti saat ia melihat Rangga yang hanya mengenakan kaos polo dengan celana boxer terbalik.
"Sial!" Dengusnya.
Untuk beberapa saat ia terpaku, menatap Rangga dengan pikiran kosong. Otaknya berusaha mencerna apa yang terjadi di hadapannya. Rasanya jntungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat ketika melihat semua yang ada di depannya. Kakinya mendadak lemas, tubuhnya nyaris roboh tapi ia berusaha bertahan, ia harus membuktikan sendiri benar atau tidak dugaan yang saat ini ada di benaknya.
Dengan cepat Bella menerobos masuk.
“Bell, aku…” Rangga mencoba menahan karena mengira Bella akan menghampiri Amara.
Namun langkah Bella terhenti saat ia melihat sebuah cake dengan tulisan “Happy 2nd anniversary A & R” dilengkapi beberapa foto kemesraan Amara dan Rangga yang di ambil dengan kamera polaroid miliknya.
Bella mengambil satu foto Rangga dan Amara dengan tangan gemetar. Dadanya terasa sesak dan air mata menetes begitu saja. Ia mendekat pada Rangga dan menatapnya lekat,
“Bilang kalau yang aku liat ini salah.” Ujar Bella dengan terbata-bata seraya membenamkan foto tersebut di dada Rangga.
“BILANG GA!!!!” gertak Bella. Tangisnya sudah benar-benar pecah.
Rangga hanya memalingkan wajahnya tidak mengatakan apapun.
“Ra, ini gak seperti yang gue duga kan?” tanya Bella pada Amara.
Bella menghampiri Amara dan menatapnya dengan lekat.
“Gue salah kan Ra? Lo lagi ngeprank gue kan Ra? Gue kan gak ulang tahun. Lo lupa ulang tahun gue? Tanggal,”
“CUKUP BELL!!!” seru Amara yang akhirnya kesal.
“Cukup? Lo bilang cukup Ra?” Bella tetap menatap Amara yang terus memalingkan wajahnya tidak mau menatap Bella.
“Cukup untuk hal apa? Terlalu banyak kata cukup di kepala gue yang butuh lo jelasin. Cukup yang mana Ra?” Bella mengambil tangan Amara namun dengan segera Amara mengibaskannya.
Bella tersenyum pilu dengan air mata berderai. Tangannya mengepal menahan amarah. Di tatapnya Rangga dan Amara bergantian tapi keduanya hanya membisu.
“Cukup gue yang di bully sama temen-temen, jangan lo Bell. Jadi mending kita gak usah bilang ke yang lain kalo kita temenan.” Ujar Bella mengulang kalimat yang pernah diucapkan Amara dulu, membuat Amara menatap Bella dengan sinis.
Ia berjalan menuju sofa, duduk di sana sambil memandangi foto Rangga dan Amara. Beberapa posenya memang terlihat menggoda dan Rangga seperti menikmatinya. Perih rasanya, seperti jantungnya di lepas dengan paksa hingga hanya menyisakan rasa muak.
“Cukup ada lo Bell di samping gue, gue gak akan peduli lagi walau nyokap gue ngebuang gue.” Kali ini Bella menatap tajam Amara dan gadis itu mengeram kesal karena masa lalunya di usik.
Lihat saja tangannya yang mengepal erat dengan mata yang menajam seperti ingin mencabik Bella.
Saat marah ternyata racun-racun yang selama ini di simpan Bella bisa meluap begitu saja tanpa terkendali tapi Bella, ia sedang tidak peduli dengan hal itu. Kali ini saja ia menunjukkan sikap kalau ia bisa jahat seperti yang dilakukan Amara dan Rangga terhadapnya.
“Atau, cukup gue yang putus sama Niko Bell, lo harus berjuang sama Rangga. Please demi gue.” kembali Bella mengutip ucapan Amara seraya berjalan menghampiri wanita itu dan menatapnya dengan lekat. Bella terisak sedih kala mengingat kalimat itu.
“Cukup yang mana yang lo maksud Ra?” lagi Bella bertanya dengan tangis yang ia coba tahan.
Amara telah menghancurkan kepercayaannya selama belasan tahun. Ia bahkan tidak habis pikir dengan semua yang dilakukan Amara di belakangnya.
Mendapati Amara yang tidak bergeming, Bella hanya tersenyum sinis. Ia mengusap kasar air matanya yang terus menetes tanpa isakan.
“Dan kamu Ga,” kali ini Bella menoleh Rangga yang mematung tanpa berani menatap Bella.
“SIAL! Aku benci harus mengakui kalau bang Ozi benar.” Bella tersenyum lebar namun kemudian ia menangis. Bahunya bergetar tanpa ada suara tangis yang terdengar. Sakit sekali menahan tangis seperti ini.
Di tangkupnya wajahnya dengan kedua tangan beberapa saat sambil berusaha menghapus ingatan perkataan Ozi beberapa saat lalu terhadapnya.
“Bang Ozi benar, kalau gue cewek begok.” Lirihnya. Ia beranjak menghampiri Rangga dengan langkahnya yang gontai.
“Kamu gak bertanya kabar aku, bukan karena terlalu fokus berusaha buat kita, tapi karena aku bukan lagi salah satu yang perlu kamu perjuangkan.”
“Dan kamu marah sama aku, bukan karena kamu merasa aku selalu berada di atas kamu, tapi ego kamu terlalu besar untuk mengakui KALAU KAMU SALAH UDAH MEMANIPULASI AKU.” Suara Bella kembali meninggi di sertai telunjuk yang menunjuk tepat di depan wajah Rangga.
“Benar begitu kan Ga? BENARKAN?!!!” kali ini Bella mencengkram baju Rangga dengan kuat dan mengguncangkan tubuhnya.
Ia menangis sejadinya sambil terhuyung di depan Rangga, memukuli dada Rangga dengan sisa tenaga yang ia punya. Namun Rangga segera mencengkram tangan Bella yang memegangi kuat bajunya.
“Gak perlu sentuh aku!” seru Bella. Ia mengibaskan tangannya yang di genggam Rangga.
“Kenapa kalian sejahat ini sama aku hah? Dua tahun, selama dua tahun kalian membodohi aku. Main gila di belakang aku. Aku bahkan gak bisa berpikir positif tentang apa yang kalian lakukan di belakang aku. KENAPA RANGGA? KENAPA RA?!!!!” seru Bella pada keduanya.
Bella kembali menangis lirih.
“Sial, aku bahkan masih merasakan perihnya bekas luka dua tahun lalu.” Bella menyentuh bekas luka di tangannya.
“Luka yang kamu buat karena aku meminjam hp kamu. Apa saat itu kamu merasa takut aku tau kalau kalian udah sama-sama?” lagi Bella bertanya.
“YA! Gue emang udah sama-sama Rangga sejak itu. Apa sekarang lo udah puas?!” jawab Amara yang membuat Bella terdiam.
“Rangga bahagia saat sama gue, itu alasan kenapa dia lebih memilih tinggal di sini sama gue di banding menghadiri makan malam bodoh itu. Dan sekarang lo sebaiknya pergi jauh-jauh dari hidup gue dan Rangga.” Ancam Amara dengan penuh percaya diri.
Bella sadar, apa yang dilihatnya tidak lah salah. Simpulannya benar. Rangga menduakannya selama dua tahun ini dan ia masih dengan kukuh bertahan, berdebat dengan Ozi kalau pilihannya adalah yang terbaik.
Bodoh! Ozi benar, ia memang Bodoh. Lalu untuk apa ia masih di sini?
Bella hanya tersenyum, tepatnya berusaha tersenyum. Ia berjalan mundur menjauhi Rangga. Ia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk berbicara lagi. Mungkin memang sudah seharusnya ia pergi tanpa harus memikirkan lagi dua orang dihadapannya.
“Bell,” lirih Rangga saat Bella berbalik pergi melangkah keluar dari pintu.
Namun dengan segera Amara menahan tangan Rangga agar tidak pergi menyusul Bella. Saat ini, hanya ada mereka berdua tanpa gangguan Bella, seperti yang selalu mereka inginkan selama dua tahun ini.
******
Bella berjalan dengan gontai, menapaki jalanan beraspal yang tidak rata. Ia tidak menghiraukan lagi kakinya yang sakit saat menginjak kerikil tajam. Yang ia tahu, ia harus segera pergi dari sini, pergi sejauh mungkin dari hadapan Rangga dan Amara.
Air mata yang menetes perlahan mulai mengering tersapu angin malam yang dingin. Namun tubuhnya terasa panas, sangat panas seperti ingin memuntahkan lava kemarahan dari hatinya.
Ozi benar, ia memang bodoh. Bodoh karena menganggap semua hal yang ia lihat antara Amara dan Rangga adalah normal. Ia kehilangan kewaspadaannya karena telah menaruh seluruh kepercayaannya pada Rangga dan Amara sahabatnya.
Ia masih mengingat, bagaimana Amara yang dulu sering di bully oleh teman-teman sekolah karena latar belakang ibunya sebagai wanita malam. Tidak ada satupun teman sekolah yang mau mendekat, kecuali Bella. Ia bahkan tidak ragu untuk membela Amara di depan teman-temannya.
Sambil menggenggam tangan Amara, Bella berbicara dengan lantang, “Amara temen gue dan sebagai ketua OSIS di sekolah ini, gue gak akan membiarkan pembulian terjadi, apalagi terhadap Amara. Gue gak segan untuk ngasih tau orang tua kalian atau lapor ke polisi kalau kalian masih ngebuli Ara.” Setegas itu Bella melindungi sahabat yang ternyata mengkhianatinya.
Amara hanya menangis di samping Bella, sampai Amara mengatakan kalau ia cukup hanya dengan memiliki Bella.
Tapi sepertinya hal itu sudah tidak berlaku lagi. Amara yang sekarang sudah jauh berbeda dengan Amara yang dulu di kenalnya. Mereka hanya dua orang asing yang sebenarnya tidak mengenali satu sama lain.
“Awh!” Bella mengaduh lemah saat telapak kakinya terasa semakin sakit.
Rupanya ia menginjak benda tajam hingga kakinya berdarah. Ia terduduk di trotoar dan hanya memandangi lukanya yang berdarah. Tidak terpikirkan apa yang harus ia lakukan. Isi kepalanya terlalu sibuk dengan ingatan-ingatan tentang ia dengan Rangga dan Amara.
“BELL!!” seru sebuah suara yang terdengar setelah bunyi klakson.
Saat Bella menoleh, ada cahaya lampu yang meneranginya, membuat Bella menutup wajahnya dengan lengan.
Sosok laki-laki yang datang dari cahaya itu mendekat.
“Lo kenapa?” ternyata itu Devan. Laki-laki yang menghampirinya di saat yang tidak tepat.
Bella tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Devan yang terlihat cemas. Laki-laki itu tidak lagi bertanya apapun. Ia meraih lengan Bella untuk ia kalungkan di lehernya, lantas ia menggendong Bella.
Ia membawa Bella masuk ke dalam mobil dan Bella hanya menatapnya dengan mata berkaca-kaca, penuh keputus asaan.
Devan yang bergerak cepat, ia segera memasangkan sabuk pengaman setelah memastikan Bella duduk dengan nyaman. Ia berlari mengitari mobil dan duduk di balik kemudi. Setelah tancap gas, tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut keduanya.
Bella asyik melihat keluar jendela tanpa tahu apa yang sebenarnya ia lihat dan Devan dengan perasaan menggebu campur marah, fokus menjalankan mobilnya menuju pulang.
“Gue gak mau pulang.” Suara Bella kemudian terdengar saat Devan nyaris tiba di pertigaan menuju rumah Bella. Ia terlalu malu untuk sekedar bertemu dengan Ozi dan Saras.
Devan berhenti sejenak, tampak berpikir kemana ia harus membawa Bella. Jika membawanya ke hotel, ia tidak mungkin meninggalkan Bella di sana. Ia khawatir kalau harus meninggalkan Bella sendirian dan Bella melakukan hal yang tidak-tidak.
Bella sangat berantakan, darah di kakinya pun di biarkan begitu saja hingga mengering. Jika saja orang jahat yang menemukannya, mungkin Bella pun tidak akan berontak. Devan terus berpikir namun tidak dapat menduga apa yang terjadi di studio itu hingga Bella terlihat sangat hancur.
Tanpa berpikir panjang, Devan membawa Bella menuju apartemennya. Ia kembali menggendong Bella dan mendudukkannya di sofa.
Di ambilnya segelas air minum dan ia taruh di hadapan Bella.
“Minum Bell,..” lirih Devan.
Wanita itu menggeleng, lantas ia merebahkan tubuhnya di sofa. “Gue cuma mau tidur…” lirihnya dengan suara parau, nyaris tidak terdengar.
“Kalau perlu sesuatu, lo bisa panggil gue.” Menunjuk kamarnya yang terlihat jelas dari tempat duduk Bella.
Anggukan kecil di berikan Bella. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Devan lantas menutup matanya yang terasa perih dan bengkak. Sungguh ia sangat lelah.
Beberapa lama membiarkan Bella tidur di sofa, perasaan Devan semakin tidak karuan. Entah Bella sudah tidur atau belum yang jelas ia sendiri tidak bisa tidur.
Akhirnya ia memutuskan untuk bangun. Memperhatikan Bella dari kamarnya. Terlihat oleh Devan darah di kaki Bella yang kering. Ia memutuskan untuk turun. Mengambil kain lembut dari lemari di tambah semangkuk air hangat dan obat-obatan.
Bella tidur menyamping. Devan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Bella namun gadis itu tidak bergeming. Rupanya Bella benar-benar tidur.
Ia memutuskan untuk mengobati kaki Bella. Di mulai dengan membersihkannya dan terlihat jelas ada pecahan kaca yang tertancap di sana.
“Astaga, lo bahkan gak ngeluh Bell…” lirih Devan seraya memandangi wajah Bella yang sembab tengah tertidur, membuat perasaannya semakin tidak nyaman.
“Sorry kalau sakit.” Imbuhnya lagi.
Pelan-pelan ia mencabut pecahan kaca dari luka Bella. Saat darah segar kembali menetes, ia langsung menekannya dengan kapas. Mungkin kalau Bella sadar, ia akan berteriak kesakitan dan memakinya dengan kesal tapi kali ini bergerak menarik kakinya pun tidak.
Devan berusaha mengeluarkan darah kotor yang bercampur tanah, menekan-nekannya perlahan sambil sesekali memperhatikan wajah Bella yang tetap tertidur. Setelah luka bersih seluruhnya, Devan memberikan obat di atas lukanya lantas menutupnya dengan kasa tipis.
Selesai dengan lukanya, Devan membersihkan satu telapak kaki Bella lainnya. Kaki yang selalu kokoh berjalan kesana kemari menyelesaikan berbagai macam persoalan tanpa pernah mengeluh. Maka ini waktu yang paling membuat Devan cemas pada Bella karena wanita ini terlihat begitu hancur.
“Lo harus baik-baik aja Bell.” Lirih Devan. Entah mengapa kali ini ia berharap Bella bangun dan mengomel hal apa saja padanya.
Tapi semua tidak terjadi. Gadis itu tidak bergeming dan Devan tetap memandangi wajahnya dengan penuh kecemasan.
****