Bella's Script

Bella's Script
Cemburu?



“Ra, apa maksud reel kamu ini?” Sergap Lisa sesaat setelah Amara menyelesaikan take-nya yang terakhir.


“Emang kenapa?” Amara melirik malas layar ponsel yang di tunjukkan oleh Lisa.


“Kok kamu masih nanya? Kan aku udah bilang, jangan nanggapin apapun soal video yang tersebar itu. Orang-orang udah menahan diri Ra, supaya gak terpancing sama omongan-omongan netizen yang gak tau apa-apa. Inget, kalau sampe ada desas desus lain, ini bisa mengancam pembuatan film ini.” Terlihat jelas kalau Lisa sangat kesal.


Sejak munculnya video behind the scene yang menampilkan Rangga dan Bella, crew sudah sepakat, jangan ada yang berkomentar apapun tentang hal tersebut sampai menunggu keputusan dari Eko yang sedang ada urusan di luar negri. Lisa pun sudah mewanti-wanti agar Amara tidak menanggapi apapun. Tapi kali ini ia malah mengunggah potongan video yang ia jadikan reel pada akun media sosialnya dan memberi caption “It’s hurt.”


“Boddooo!!" Sahutnya acuh.


"Gak usah rempong deh! Emang mba Lisa pikir maksudku apa?” Amara balik bertanya.


Setelah upload –an latar hitam yang mendapat reaksi di atas ratusan ribu, video itu pun mendapat comment tidak kalah banyak. Sebagian besar di antara komentar yang masuk tentu saja memojokkan Bella. Namun tidak sedikit yang mempertanyakan sikap yang akan di ambil Amara.


“Kamu nyindir Bella kan? Rangga juga terbawa loh Ra. Dia pacar kamu dan artis pegangan aku.” Lisa menegaskan kecurigaannya.


“Ck! Dangkal!” Decik Amara yang memilih tidak menanggapi pertanyaan Lisa.


“ARA!!” Lisa menahan tangan Amara agar tidak berlalu.


“Ikh! Apaan sih!” Dengusnya yang memilih pergi dan mengabaikan Lisa yang mengeram kesal.


Lisa hanya bisa melotot melihat tingkah Amara. Entah apa yang ada di pikirannya, hingga menghalalkan segala cara demi menunjukkan eksistensinya.


Kalau sudah seperti ini, rasanya Lisa ingin menyerah saja.


****


Di tempat berbeda, Devan dan Bella tengah bersiap pulang. Devan membantu Bella memasukkan script ke dalam tasnya dan memakai tas ransel itu di punggungnya. Ia membawakannya untuk Bella.


“Thank you…” Bella tersenyum manis pada sang kekasih.


Devan hanya tersenyum lantas mengusap kepala Bella. Ia berjalan lebih dulu menuju tempat parkir sementara Bella masih mematung memandangi arah berlalunya Devan.


Ia sempat berpikir, ada apa dengan Devan? Kenapa tidak seceria tadi?


Alih-alih menduga-duga, Bella memilih menyusul Devan yang tengah memasukkan tasnya ke dalam mobil. Ia ingin bertanya langsung pada laki-laki itu.


Devan membukakan pintu untuk Bella, menempatkan tangan kanannya di atas kepala Bella demi melindungi agar tidak terbentur pada pintu mobil. Bella tersipu, laki-laki ini selalu tahu cara untuk bersikap manis.


“Makasih.” Bisik Bella yang tersenyum simpul.


“My pleasure.” Tiimpal Devan.


Setelah Bella masuk, ia segera menutup pintu dan berjalan memutar menuju kursi di balik kemudi.


Devan sudah ada di sampingnya, Bella jadi memperhatikan Devan yang tengah memakai seatbelt. Sekali waktu Bella mendengar Devan menghebuskan nafasnya kasar, seperti tidak nyaman.


“Kita akan kemana?” Tanya Bella berusaha mencairkan suasana.


“Makan malam.” Sahut Devan pendek.


Hanya beberapa saat Devan menatapnya sebelum kemudian mengeluarkan kunci dari saku baju dan hendak menyalakan mesin.


“Tunggu bentar.” Bella menahan tangan Devan agar urung menyalakan mesin mobil. Entah mengapa ia merasa ada yang harus di selesaikan sebelum mereka berangkat,


“Ada yang lupa?” Devan langsung bertanya. Sekilas saja ia melirik Bella lalu menoleh ke belakang mengecek barang bawaan mereka.


Bella memperhatikan gerak gerik Devan seraya bersandar pada sandaran jok. Bella menggeleng saat pandangan mereka bertemu.


“Lo kenapa Van?” Tanya Bella penasaran.


“Gue? Gak kenapa-napa.” Kilahnya, masih belum menatap Bella selaman biasanya.


“Hey…” Bella mengusap lengan kiri Devan sambil memandanginya.


“I’m good Bell…” Devan berusaha menegaskan membuat Bella tersenyum kecil.


“You’re not a good liar, Van. Just tell me.” Kali ini Bella menatap Devan serius.


Ia cukup mengenal Devan dan saat ada yang Devan sembunyikan, ia bisa membaca gelagat itu. Bella sepeka itu sekarang terhadap pasangannya.


Devan membuang nafasnya kasar lalu ikut menyandarkan tubuhnya. Ia perlu waktu untuk menyusun kalimatnya. Setelah berhasil mengendalikan perasaannya, Devan mulai memfokuskan dirinya pada Bella.


“Kedatangan perempuan tadi, mengusik gue Bell.’ Ucap Devan tanpa ragu. Ia menatap Bella dengan lekat.


“Maksud lo, tante Lina?” Bella balik bertanya.


“Yaaa,, Gue gak tau namanya siapa. Tapi gue ngerasa, lo jangan seterbuka itu pada orang yang gak terlalu lo kenal.”


“Gue kenal wanita itu. Dia mamahnya Rangga.” Sahut Bella balas menatap Devan lekat.


“Okey… Jadi ternyata dia ibu mantan lo.” Ujar Devan dengan wajah yang terlihat kecewa.


Ia mencengkram stir dengan kuat. Pantas saja mereka berbincang sangat asyik saat Devan perhatikan. Wanita itu bahkan menggenggam tangan Bella dengan erat.


“Hey, wait. Are you jealous?” Bella memincingkan matanya, menatap Devan dengan penasaran.


“No! tentu aja nggak. Mana mungkin gue cemburu sama seorang perempuan.” Timpal Devan dengan cepat. Jelas terlihat kalau ia berusaha mengingkari perasaannya.


Bella tersenyum kecil. Ia mencondongkan tubuhnya dan berusaha menatap Devan yang terus melihat ke depan sana.


“Ayaaaang cemburruuu??” Goda Bella dengan ekspresi wajahnya yang di buat menggemaskan. Lihat saja matanya yang berkedip manja dan bibirnya yang sedikit mengerucut.


“Atau ayaaang maraahh?” Kali ini wajahnya di buat bereskpresi sedih.


“Astagaaa…” Devan hanya bisa menunduk sambil merasakan jantungnya yang berdebar kencang. Ia mencengkram stir dengan kuat. Tidak bisa begini. Ekspresi Bella terlalu menggemaskan menurutnya.


“Ayaaaaang…. Don’t be mad at me, pleaseeee….” Rengek Bella.


“Aakhhh siaall…” Devan tiba-tiba mengubah posisi duduknya, menghadap pada Bella dan berusaha menerkam kekasihnya.


“Hahaha,,, Ampun ayaaang, ampuunnn…” Bella berusaha melepaskan diri dari pelukan Devan dan menghindari gigitannya.


“Masih mau ngeledekin gak hah, masih mau ngeledekin gak?” Devan benar-benar berusaha mendominasi Bella.


“Iyaaa ngaaakk iyaaaa…. Ampuunnn…” Tubuh Bella benar-benar di kungkung Devan.


Ia sampai terrengah, kewalahan menghadapi tingkah agresifnya Devan.


Tidak tega melihat Bella yang kewalahan, akhirnya Devan hanya memeluk Bella erat-erat. Ia tidak ingin melepaskan Bella, yang menjadi obatnya saat ingin melepas gundah. Di tempatkannya dagunya di bahu Bella, ia menatap wajah sang kekasih dari spion kiri.


“Udah gak marah?” Bella mengusap pipi Devan yang berada di sebelah kepalanya.


“No.” Bisik Devan.


"Gue gak marah. Gue hanya takut. Kadang setiap orang yang ada di sekitar lo bikin gue harus waspada." Devan menghembuskan nafasnya kasar.


Ya, ia selalu mencemaskan Bella. Terlebih kondisi sekarang sedang tidak nyaman. Bella mendapat banyak sorotan dan hingga sekarang ia belum menemukan pelaku penyebaran video yang ia yakini dari salah crew di antara mereka. Hal kecil apapun yang Bella lakukan, ia yakini akan memancing pelaku penyebaran video.


"Lo mencemaskan gue terlalu banyak Van." Lirih Bella.


"Lo harus percaya, kalau gue akan baik-baik aja karena gue punya lo." Tegas Bella. Ia menoleh wajah Devan yang ada di sampingnya.


"Hem,.." Devan mengangguk pelan, di kecupnya kepala Bella dengan lembut. Ia sangat suka menyesap wangi rambut Bella yang segar.


"Udah ngerasa lebih baik?" Bella kembali bertanya.


"Yaa, better now."


“Kalau gitu, ayo kita berangkat sekarang. Gue udah laper. Nanti gue ceritain kejadian tadi dalam perjalanan.” Bujuk Bella.


“Okeeeyy…” Dengan malas Devan melepaskan pelukannya dari Bella. Lemas, seperti baterai yang di lepas dari pusat dayanya.


Bella hanya tersenyum melihat tingkah Devan. Benar-benar bayi gondrong.


Mobil mulai melaju memasuki jalanan. Bella merasa atmosfer di dalam mobil mulai nyaman. Rasanya baik Bella ataupun Devan bisa mulai membuka pikiran masing-masing.


“Tante Lina, dateng karena mencemaskan gue.” Bella memulai kalimatnya. Ia menatap Devan dan tersenyum.


“Dia minta maaf atas masalah gue sama Rangga. Cuma itu.” Lanjut Bella, singkat dan padat.


“That’s all?” Devan menoleh sang kekasih yang sepertinya sudah selesai berbicara.


“Ya,, cuma itu aja.” Bella mengendikkan bahunya. Sejujurnya ia pun tidak persis paham apa yang Lina inginkan, namun yang ia tangkap hanya itu.


“Beberapa saat dia megang tangan gue dan memperhatikan cincin ini.” Bella menunjukkan jemari lentiknya pada Devan.


“Sepertinya beliau langsung paham tanpa perlu gue kasih tau kalau ini pengikat dari laki-laki lain. Karena dia tau persis, putranya belum punya keberanian sebesar itu.” Imbuh Bella dengan senyum bangga pada Devan.


Devan tidak menimpali, ia lebih memilih meraih tangan Bella lalu menyelipkan jemarinya di sela jari Bella. Di kecup dan di sesapnya tangan Bella untuk beberapa saat.


“Jadi ini semacam jimat ya…” Goda Devan.


“Iya dong. Begitu orang liat tangan gue dan ada cincin ini, langsung ada tulisan hologram, Punya Devan. Hehehehe…” Bella terkekeh geli dengan kata-katanya sendiri.


Devan sampai ingin menggigit lagi jemari Bella yang ia genggang dengan gemas.


“Eitt.. Jangan lupa, lo lagi nyetir.” Ledek Bella, sambil mengingatkan kekasihnya.


“Ohhh jadi ini alasan lo mau cerita sambil gue nyetir?” Devan langsung bisa menyimpulkan kalau ini usaha Bella untuk menghindari serangan agresifnya.


“Iya lah. Must be think smart. Wleee…” Bella menjulurkan lidahnya meledek Devan.


Devan hanya bisa mengigit gemas tangan Bella yang di genggamnya. Ia kalah strategi.


“Lain kali, kalau ada yang bikin lo gak nyaman, lo ngomong ya Van. Gue juga pengen tau banyak tentang lo."


"Apa yang lo suka, apa yang lo gak suka, apa yang bikin lo seneng, apa yang bikin lo marah dan yaaa banyak hal lain yang mau gue tau tentang lo. Gue mau mengenal lo sebaik lo mengenal gue.” Tutur Bella dengan penuh kesungguhan. Ia menatap penuh kasih, laki-laki yang duduk di sampingnya.


“Sure.” Lirih Devan sekali lalu mengecup tangan Bella.


Untuk beberapa saat suasana cukup hening. Hanya suara deru mesin yang terdengar dari jalanan lengang sore menjelang senja ini. Mereka melanjutkan perjalanan tanpa melepaskan genggaman tangan mereka.


“Bell,,..” Sekali waktu Devan memanggil Bella, membuat gadiis itu refleks menoleh.


“Ya..” Perhatian Bella beralih pada Devan.


“Lo mau mas kawin apa?” Tiba-tiba saja Devan bertanya.


Sudah dua hari ini ia meminta saran Ozi dan Saras untuk mas kawin apa yang sekiranya cocok ia berikan pada Bella.


“Emm,,, Apa ya?” Bella jadi ikut berppikir.


Sesuai saran Ozi dan Saras, sebaiknya Devan bertanya langsung pada Bella.


“Gue gak kepikiran sama sekali Van. Apa ya yang biasanya dijadiin mas kawin?” Bella jadi tercenung.


“Perhiasan mungkin? Uang atau apa?” Devan memberikan pilihan.


Bella hanya menggeleng. “Terserah lo Van. Semampu lo aja. Gue yakin, lo pasti tau apa yang cocok lo kasih buat gue.” Sahut Bella.


Devan jadi terdiam. Ia tengah berpikir, apa mungkin mas kawin yang ia siapkan sudah pantas untuk menikahi Bella?


****


Kira-kira mas kawinnya apa ya?


Ada yang bisa nebak?