
Pagi menjelang bagi keluarga Fauzi adalah sebuah keberkahan. Bisa melewati masa kritis Ozi tanpa sesuatu kabar yang buruk membuat mereka sedikit bisa bernafas lega.
“Gimana abang, udah mulai sadar?” Sepagi ini Ibra pun sudah sampai di rumah sakit. Semalaman ia mencemaskan sang kakak yang belum ada kabar beritanya.
“Belum. Katanya dokter akan visit sekitar jam 9an.” Bella melihat jam di tangannya yang baru jam 6 pagi. Rasanya masih sangat lama.
“Lo mau ke kampus?” Bella melihat Ibra sudah membawa barang-barangnya di dalam tas ransel. Penuh sekali.
“Gue kelas siang hari ini. Jadi bisa nemenin abang sama mamah di sini. Lo berdua gak tidur ya semaleman?” Ibra melihat lingkar mata yang hitam di wajah Bella dan Devan.
“Gak ngantuk.” Aku Bella.
Ia memandangi kaca ruang rawat Ozi yang masih juga belum di buka. Entah jam berapa ia bisa melihat kembali sang kakak.
“Mamah mana?” Ibra celingukan mencari Saras.
“Masih di masjid. Katanya mau ngaji dulu.”
“Semalem kayaknya mamah mimpi buruk. Mukanya pucet banget pas bangun. Dia juga langsung meluk gue.” Bella jadi teringat kejadian pagi tadi.
Wajah Saras benar-benar ketakutan. Ia menangis sesegukan dalam pelukan Bella.
“Wajar, mamah banyak pikiran. Nanti kita ajak ngobrol yang ringan-ringan aja biar dia gak sedih terus.” Devan pun merasakan kekhawatiran yang sama.
“Kalau udah visit dokter, mungkin kita bisa lebih tenang. Mudah-mudahan ada kabar baik pagi ini.” Ucap Bella penuh harap.
“Aamiin…” Mereka berujar seragam.
“Gue mau beli sarapan. Kalian berdua mau gue beliin makanan apa?” tawar Ibra. Ia yakin kedua kakaknya bahkan tidak memikirkan makan.
“Apa aja asal jangan nasi goreng.” Cetus Bella ringan.
Devan tersenyum kecil mendengar cetusan Bella.
“Emang kenapa nasi goreng?” Ibra jadi ikut penasaran.
“Abang-abangnya baru balik kayaknya. Dia jualan semalam. Jadi mending lo beli makanan lain.” Devan memutar tubuh sang adik ipar menghadap ke pintu keluar.
“Ya udah, nanti gue beliin yang lain. Kalau ada tambahan lo telpon aja.” Percaya saja anak itu dengan ucapan asal Devan.
“Iyaaa…” Angguk keduanya bersamaan.
Setelah Ibra pergi, tinggallah Devan dan Bella yang saling mematung. Mereka sama-sama memandangi kaca ruangan Ozi yang masih tertutup tirai. Kekhawatiran keduanya masih tetap sama.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Bella dan Devan menoleh. Adalah Saras yang baru kembali dari masjid rumah sakit. Wajahnya terlihat lebih segar walau masih sembab.
“Udah selesai mah?” Bella mengambil alih mukena di tangan Saras.
“Udah. Tadi mamah ketemu sama keluarga pasien yang lain. Ada juga yang suaminya hari ini akan operasi. Kasian mamah ngeliatnya, cemas banget.” Saras bercerita begitu saja
Mereka kembali duduk di kursi tunggu.
“Iya adek bener. Mamah jadi gak ngerasa sendiri lagi. Gak kita doang yang di uji dengan cara seperti ini.” Saras tertegun dengan ucapannya sendiri.
“Kata orang, kalau kita sakit di rumah, kita akan merasa paling menderita sendiri. Tapi saat sampai di rumah sakit, ternyata, akan ada saja yang membuat kita merasa bersyukur. Salah satunya saling mengenal dengan keluarga pasien lain dan bisa saling menyemangati.” Bella meraih tangan Saras yang kemudian ia genggam dengan erat.
“Iya adek bener. Mamah kadang lupa sama hal itu. Lupa kalau yang di uji gak cuma kita. Astagfirullah… Maafkan aku ya Allah…” Lirih Saras seraya menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruang tunggu.
Bella tidak lagi menimpali. Ia lebih memilih memeluk tubuh Saras dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu Saras. Ia menatap wajah sang ibu yang terlihat lelah dan di kecupnya pipi Saras dengan lembut.
Sebagai balasan, Saras mengusap kepala sang anak dengan penuh sayang.
“Mah, maaf, ada yang mau Devan tanyakan.” Suara Devan mengalihkan perhatian dua orang itu.
“Iya, gimana nak?” Perhatian Saras segera beralih pada menantunya.
“Em,, Gini, Devan coba nyari info tentang perawatan di sini. Ternyata, di sekitar rumah sakit ini ada rumah singgah untuk pasien dan keluarga pasien yang sedang menunggu seperti kita.”
“Karena rumah kita cukup jauh dari sini, untuk beristirahat saat gantian berjaga, mamah mau gak istirahat di sana? Jaraknya hanya sekitar 10 menit dengan berjalan kaki.” Tawar Devan dengan hati-hati.
“Emmm boleh,,, Mamah pikir itu ide yang bagus. Mamah jadi gak harus bolak balik ke rumah kalau ada tempat istirahat yang deket.”
“Iya mah. Kalau mamah setuju, nanti Devan daftarkan.”
“Iya nak, terima kasih yaa…” Saras mengusap bahu Devan dengan sayang.
Ia sungguh tidak menyangka kalau ia bisa menemukan jalan keluar untuk masalah ini. Lagi pula ia tidak karuan kalau lama-lama meninggalkan Ozi.
Dengan jarak sedekat ini, paling tidak ia bisa menitipkan barang di sana dan mengambilnya dengan segera saat di perlukan.
“Mamah boleh minta tolong satu lagi?”
“Boleh, apa mah?” Devan memang selalu sigap.
Bella jadi tersenyum melihat sikap tanggap suaminya. Ia benar-benar menghormati Saras.
“Mamah belum bawa barang apapun ke sini. Tolong temani Bella untuk membawakan beberapa barang pribadi mamah ke sini. Baju ganti dan alat mandi. Bisa?”
“Bisa mah.” Devan langsung menyanggupi.
“Tolong ya sayang..” Ia pun meminta bantuan Bella.
“Iya mah. Adek pulang dulu, nanti udah nyampe rumah kita video call supaya tau barang apa aja yang mau di bawain.”
“Terima kasih sayang.” Lirih Saras dengan raut kebahagiaan.
Ia bersyukur memiliki anak dan menantu yang selalu menjaga dan menemaninya.
****