
Adalah rumah Alwi yang kini di sambangi Devan. Walau hari sudah malam, ia tetap menerobos masuk ke dalam rumah megah yang di jaga beberapa orang pengawal demi untuk menemui Alwi yang sedang ada di ruang kerjanya.
Beberapa orang menghadang Devan dan menyebabkan baku hantam, seperti mereka sadar alasan kedatangan Devan saat ini. Namun pada akhirnya Devan tetap berhasil menerobos masuk hingga ke ruangan Alwi.
“BRAK!!” Pintu terbuka setelah Devan menendangnya dengan keras. Kemarahannya pada Alwi sudah terkumpul di ubun-ubun.
Laki-laki yang tengah terduduk di kursi kerjanya dan membelakangi pintu, segera berbalik. Ia tersenyum sarkas saat melihat kedatangan Devan dengan wajahnya yang dipenuhi kemarahan. Tidak ada rasa terkejut sama sekali seolah ia tahu kalau Devan akan datang menemuinya.
“Mohon maaf tuan, saya sudah menahannya di depan. Tapi tuan muda bersikeras masuk untuk menemui tuan.” Ujar bawahan Alwi yang memiliki memar di sudut bibirnya. Ia yakin, Devan pasti menghajar anak buah yang mengalangi langkahnya.
“Tidak masalah. Biarkan saja dia masuk. Toh ini memang rumahnya.” Alwi menyeringai lebar. Ia menaruh gelas wine yang masih terisi seperempatnya lantas merentangkan tangannya.
“Welcome home, Devan. Bagaimana kabarmu?” Sambutnya dengan senyum yang di buat lebar dan sangat menyebalkan.
Tapi sambutan itu sepertinya tidak bermakna bagi Devan. Ia malah melangkah maju menghampiri Alwi dan,
“BUK!!!”
Sebuah tinjuan keras menghantam wajah Alwi hingga laki-laki iitu terjungkal jatuh menimpa kursi kerjanya yang bergeser.
Dari mata Devan, terlihat jelas kemarahan yang terkumpul dan ingin segera ia tumpahkan.
“Ha, hahaha…” Alwi mengeja tawanya seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah dan berdenyut nyeri.
Ia berusaha bangkit di bantu oleh bawahannya yang segera menghampiri, namun ia mengangkat tangannya sebagai bentuk penolakan. Dengan bertumpu pada kursi kerjanya, Alwi bangkit dan merapikan stelan bajunya yang masih mengenakan baju kerja. Di kemeja putihnya bahkan ada noda darah yang Devan yakini adalah darah milik sang ayah.
Tangan Devan semakin mengepal saat membayangkan kalau laki-laki inilah yang sudah menghajar ayahnya.
“Rupanya, aku sudah salah. Aku tidak membesarkan seorang anak yatim piatu melainkan membesarkan seekor anjing yang tidak tahu diri. Hahahaha…” Ujar Alwi yang tertawa dengan suara tawanya yang menyebalkan.
“Aku bukan seorang anak yatim piatu. Hanya ibuku saja yang meninggal tapi anda, hampir saja membunuh seseorang yang saya panggil sebagai ayah saya!” Tegas Devan tidak mau kalah. Matanya menyalak merah pada Alwi.
“Aaahhh… Benar. Terima kasih sudah mengingatkanku kalau ayahmu adalah seorang pembunuh." Alwi berjalan mendekat pada Devan.
"PEMBUNUH DARI ADIK YANG PALING SAYA SAYANGI!!!!” Teriak Alwi tiba-tiba saat berada tepat di hadapan Devan.
Alwi tersenyum kecil, lantas menyeringai penuh kemarahan pada Devan. Lihat saja matanya yang berkaca-kaca dan merah saat mengingat sang adik yang tidak ada lagi di sisinya.
“Bagaimana rasanya melihat laki-laki itu bebas? Apa kamu merasa senang? Kamu tidak lupa kan, apa yang sudah laki-laki itu lakukan terhadapmu?” Alwi mencondongkan tubuhnya pada Devan membuat kepala keduanya bersisian pada garis yang sama.
“Dia membunuh ibumu, Devan. Hahahaha….” Bisik Alwi di susul tawa yang membuat merinding.
“Papah bukan seorang pembunuh. Papah tidak pernah sengaja memisahkan kita dari mamah. Dan dia sudah menebus kesalahannya. Dia bahkan tidak melawan saat anda menuntutnya dengan masa hukuman yang begitu lama.”
“Hukuman yang dia jalani, tidak lantas membuat adik saya kembali. Kamu tau itu kan? KAMU TAU ITU KAN?!!!!” Teriak Alwi tepat di depan wajah Devan hingga suaranya bergaung di ruangan luas ini.
“Apa kamu pikir hukumannya setimpal hah? Apa setimpal?” Alwi menampar-nampar kecil wajah Devan namun Devan tidak bergeming.
“Tidak ada pernah yang setimpal untuk sebuah kematian.” Bisik Alwi seraya mencengkram leher belakang Devan dengan erat hingga kuku-kuku tajamnya menusuk leher Devan.
Devan mencoba berontak, tapi cengkraman Alwi terlalu kuat hingga ia tidak bisa berkutik.
“Aku sudah memintamu, untuk tidak pernah menemui laki-laki itu lagi apalagi memanggil laki-laki itu dengan panggilan ayah. Tapi sepertinya, telingamu ini tidak berfungsi dengan baik. Iya, telingamu tidak berfungsi dengan baik, hah?!”
Lagi, Alwi menampar telinga Devan beberapa kali dan semakin lama semakin keras saja.
“Akh sial, aku semakin kesal melihat tingkahmu yang tidak patuh.”
“BUKKK!!!” kali ini ia bahkan meninju wajah Devan dengan keras membuat Devan kelimpungan dan hampir terjatuh.
Dengan segera Devan menegakkan tubuhnya dan hendak melawan Alwi. Namun baru saja Devan akan melayangkan pukulannya, beberapa anak buah Alwi segera menahannya dan memegangi Devan hingga memaksa Devan bertekuk lutut di hadapan Alwi.
Alwi tersenyum puas melihat Devan yang tidak berkutik. Kembali ia meninju wajah Devan berulang kali, membuat telinga Devan sampai berdengung dan menyisakan luka berdarah di sertai lebam di beberapa bagian wajah Devan. Devan hendak berontak tapi lagi ia kalah jumlah.
Tidak puas sampai di situ, kali ini Alwi mengambil stick golf-nya dan menghantamkannya ke tubuh Devan berulang kali. Kebiasaan yang selalu ia lakukan pada Devan sejak laki-laki ini masih kecil. Dan Devan tidak bisa melawan. Ia sadar, bagaimana pun Alwi lah yang merawatnya selama ini.
“BUK! BUK! BUK!” Stick golf di tangannya sampai bengkok dan Devan jatuh tersungkur dengan tubuh yang di dera kesakitan. Alwi melempar stick golf itu seraya menyeringai puas. Ia sampai terengah-engah karena tenaganya nyaris habis. Ia berjongkok sambil memegangi kerah baju Devan.
“Brengsek! Harusnya kau ikut mati saja bersama ibumu supaya aku tidak terlalu menyesal karena membesarkan anak tidak tahu diri sepertimu!” ucapnya dengan penuh penekanan.
Devan tidak bergeming. Ia hanya bisa merasakan sakit ditubuhnya yang teramat sangat.
“Papah tidak bersalah. Papah tidak pernah berusaha membunuh mamah. Papah sangat mencintai mamah.” Ucap Devan dengan terbata-bata.
Tapi Alwi tidak terima. Ia malah menginjak tubuh Devan hingga Devan meringkuk memegangi perutnya yang sakit.
Melihat Devan yang tidak lagi melawan, Alwi berbalik membelakangi Devan. Ia mengambil kembali wine-nya dan meneguknya hingga habis. Di hadapannya, ia melihat foto dirinya bersama sang adik Anggita. Mereka tersenyum bahagia di foto itu tapi malah membuat hati Alwi meringis.
Menghajar Devan sekuat tenaga bahkan nyaris membunuh Amri, ternyata tetap tidak membuat perasaannya menjadi lebih baik.
“Harusnya, aku tidak pernah membiarkanmu menikah dengan laki-laki itu. Seharusnya tidak pernah.” Ucap Alwi dengan mata merah yang berkaca-kaca dan basah.
Menghajar Devan dan Alwi tidak membuat perasaannya lega dan Devan tidak akan pernah menurut padanya. Ia terlalu mirip dengan adiknya yang begitu keras kepala. Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang?
*****