Bella's Script

Bella's Script
Sidang



Di ruangan VIP nomor 206 ada sepasang kekasih yang sedang di tatap tajam oleh Ozi. Adalah Bella dan Devan yang kini di tatap bergantian penuh selidik oleh sang kakak. Keduanya terlihat gugup dan tidak berani menatap mata Ozi yang begitu tajam menatap keduanya.


Di luar sana juga ada Inka, yang berdiam diri menunggu Ozi, Devan dan Bella membicarakan masalah mereka bertiga. Ia harap-harap cemas menunggu pembicaraan mereka selesai. Hingga saat ini, ia belum bisa menduga apa masalah keluarga ini, karena sedari tadi fokus Inka hanya pada Ozi.


Melihat dua orang ini membuat Ozi bisa merasakan, sejak semalam sikap Bella dan Devan memang berbeda. Keduanya lebih sering berdekat-dekatan, saling tatap, senyum-senyum tidak jelas bahkan hingga tengah malam tadi Ozi mendapati Devan belum tertidur.


Ia sengaja duduk di lantai, dengan dagu tertopang ia memandangi Bella yang sedang tertidur lelap dengan penuh perasaan. Devan pasti berpikir kalau Ozi sudah tidur, padahal ia sempat terjaga dan melihat keasyikan Devan memandangi Bella dengan senyum kecil yang terus terkembang di bibirnya.


Sesekali Devan mengusap kepala Bella dan berdesis lembut saat Bella sedikit bergerak atau sekedar untuk merubah posisi tidurnya. Selimut yang sebelumnya ia gunakanpun ia pakaikan pada Bella. Perubahan sikap Devan menjadi alarm perhatian bagi Ozi. Ia sangat khawatir kalau Devan berbuat yang tidak-tidak pada sang adik yang sedang tertidur apalagi jika mengingat Devan pernah mengakui tanpa sengaja ia mencium Bella.


Akh pikirannya benar-benar tidak karuan.


Sehingga untuk saat ini, akhirnya ia memutuskan untuk mengintrogasi dua orang di hadapannya. Ia ingin mendapatkan penjelasan yang jelas soal perubahan sikap mereka yang kalau di perhatikan terlihat sibuk sendiri.


“Jadi, apa yang gak gue ketahui soal kalian berdua?” Tanya Ozi memulai introgasinya.


Tatapannya begitu mengintimidasi pada dua orang yang duduk bersisian. Mereka saling lirik seperti hendak menyamakan jawaban.


“Kenapa diem? Apa pertanyaan gue kurang jelas?” Ozi sampai bersidekap. Sepertinya ia lupa kalau di punggung tangan kirinya ada jarum infus yang tertancap.


Adalah Devan yang mulai berani menatap Ozi. Ia pun meraih tangan Bella yang semula saling tertaut gugup dan menggenggamnya dengan erat.


“Kami memutuskan untuk bersama.” Jawab Devan tanpa ragu. Ia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Bella yang terasa dingin karena gugup.


Bella sampai menoleh dan menatap Devan tidak percaya. Bukankah semalam laki-laki ini bilang biarkan Ozi tahu dengan sendirinya? Kenapa sekarang begitu percaya diri mengakui hubungan mereka?


Merasa di tatap oleh Bella, Devan balas menoleh dan tersenyum tipis pada Bella membuat Wanita itu ikut tersenyum kecil. Ini melegakan, karena Devan menunjukkan tanggung jawabnya di depan Ozi.


Ozi jadi memandangi tangan Bella yang di genggam Devan. Kaget juga karena ternyata Devan bisa mewujudkan ucapannya dalam waktu singkat. Entah seperti apa usahanya hingga berhasil membuat Bella membuka hatinya untuk Devan. Ia tahu persis, bagaimana teguhnya perasaan Bella selama ini. Hatinya akan sulit bergerak hanya karena rayuan-rayuan bunga surga. Adik kecilnya sudah sedewasa itu sekarang.


“Apa itu bener?” Ozi beralih menatap Bella yang sedari tadi seringnya hanya tertunduk. Ia perlu memikirkan jawaban yang tepat untuk sang kakak yang over protective. Sekalipun Devan yang mendekatinya, Ozi pasti akan selalu waspada, tidak percaya sepenuhnya.


Perlahan gadis itu mengangkat wajahnya dan menatap Ozi.


“Iya.” Sahutnya berusaha tegas. Ternyata menakutkan saat melihat Ozi menatapnya seperti ini.


Ozi menghembuskan nafasnya kasar. Ia tidak percaya kalau Bella benar-benar mengakuinya. Padahal dulu susah payah ia membujuk agar Bella meninggalkan Rangga dan lebih baik bersama Devan.


“Lo gak ngerasa  terpaksa?” Lanjut Ozi.


“Bro, mana mungkin gue maksa,”


“Stop!” Dengan tegas Ozi menghentikan kalimat Devan yang baru di mulai.


“Perasaan adek gue penting buat gue. Gue gak mau dia ngejalanin hubungan terpaksa sama laki-laki lain, apalagi lo.” Tegas Ozi yang masih menatap Devan dengan tajam, seperti tidak rela Bella menjatuhkan hatinya pada Devan.


Sebenarnya, ia bukan tidak rela Bella menjalin hubungan baru dengan seorang laki-laki, apalagi ia seorang Devan. Sejak dulu, ia berharap kalau suatu hari Devan dan Bella bisa Bersama. Namun setelah kejadian beberapa bulan lalu, jujur hati Ozi tidak karuan. Banyak kecemasan yang ia simpan untuk Bella. Ia sangat takut Bella menjalin hubungan dengan seorang laki-laki dan hancur seperti kemarin.


Ia tahu persis bagaimana bucinnya Bella kalau sudah memilih satu laki-laki. Ia bisa sangat menerima laki-laki itu seburuk apapun, memprioritaskan setinggi-tingginya, sangat memperjuangkan laki-laki itu dan tentu saja sangat setia. Ia tidak pernah mempermasalahkan keburukan pasangannya, karena baginya manusia itu tidak ada yang sempurna.


Ozi setuju tentang itu, namun karena perasaan Bella yang selalu totalitas saat mencintai seseorang, justru membuat Ozi sangat takut. Karena dengan begitu, kewaspadaan Bella menurun. Celah kesempatan dia di sakiti oleh laki-laki semakin besar. Dan Ozi takut, jika kemudian Bella kembali terpuruk seperti dulu sementara tubuhnya selemah ini sekarang untuk memlindungi Bella.


Siapa yang akan bersama dan menguatkan Bella kelak? Apa ia masih punya kesempatan?


“Gue tanya sekali lagi, lo gak terpaksa berhubungan sama Devan? Laki-laki yang baik bisa saja bukan dia yang tepat buat lo.” Ozi mencoba menguji keyakinan Bella, membuat Devan melirik sahabatnya dengan kesal.


Kedua laki-laki itu kini menatap Bella


“Apa yang mengganggu pikiran lo sebenarnya bang? Perasaan gue, atau kecemasan lo sendiri terhadap gue?” Bella balik bertanya pada Ozi.


Ia memahami benar arti kecemasan yang Ozi tunjukkan padanya.


“Keduanya.” Tegas Ozi.


“Apa salahnya gue mencemaskan perasaan lo dan perasaan gue sendiri? Lo penting buat gue dek. Dan perasaan gue, gue gak akan tenang kalau lo gak yakin Devan bisa biikin lo bahagia? Lo beneran cinta sama dia?” Selidik Ozi lebih dalam. Nafasnya sampai tertahan menunggu jawaban Bella.


Orang jatuh cinta biasanya bodoh dan ia tdak mau Bella seperti itu.


Bella tersenyum kecil mendengar pertanyaan Ozi. Ia beranikan dirinya untuk membalas tatapan Ozi yang mempertanyakan keyakinannya.


“Gue, udah bertemu dengan banyak kehilangan. Kehilangan papah, kehilangan sahabat dan kehilangan seseorang yang sangat berarti di hidup gue dulu. Gue pernah sangat hancur sampai gue merasa, mungkin gak pernah ada hal baik yang bisa gue miliki sepenuhnya.”


“Tapi dari banyaknya kehilangan itu, tiba-tiba gue tersadar. Bahwa datang dan pergi itu adalah pilihan semua orang dan gue gak punya hak untuk memaksa siapapun ada di samping gue selamanya. Setiap orang selalu punya masanya sendiri walau jujur, butuh waktu buat gue menerima itu semua.”


Bella menatap kedua laki-laki itu bergantian.


“Kebahagiaan gue, bukan tanggung jawab siapapun sepenuhnya termasuk pasangan gue. Itu pilihan gue sendiri untuk memilih hidup bagaia atau terpuruk dan menderita. Dan sekarang, gue ngerasa bahagia sama Devan, ini pilihan gue sekarang.” Bella menoleh Devan dengan senyumnya yang tertahan dan matanya yang berkaca-kaca.


“Gue gak tau, ini cinta atau bukan yang jelas, dia selalu mampu membuat gue tenang dalam kondisi apapun. Selain lo dan mamah, dia udah menunjukkan kalau dia adalah support system terbaik dalam hidup gue. Lantas, kenapa gue harus mengingkari hal yang membuat gue tenang dan bahagia?"


"Perkara perasaan dia ke gue, itu kepercayaan gue. Gue yakin, gue penting buat Devan. Untuk itu dia berani masuk ke hidup gue yang rumit.” Tandas Bella dengan senyum terkembang di bibirnya yang ia tujukan untuk Devan.


Devan tidak menimpali apapun. Ia meraih tangan Bella untuk kemudian ia kecup dengan penuh perasaan di hadapan Ozi.


Ozi tertegun mendengar ucapan Bella. Ia pikir pemahaman Bella belum sedewasa itu sekarang. Nyatanya ia bukan anak SD yang terpanah cupid lalu berteriak di pinggir lapangan ingin menikah dengan Devan. Bella yang ada di hadapannya benar-benar berbeda. Ia bahkan berbeda dari Bella yang beberapa waktu lalu terpuruk.


“Apa lagi yang lo raguin Zi? Perasaan gue ke Bella?” Devan ikut mengambil suara.


Ozi hanya menoleh sahabatnya dengan tatapan penuh kecemasan. Ya ia masih merasa cemas kalau laki-laki yang kini ada di hati Bella malah mungkin menjadi laki-laki yang paling menyakiti Bella.


“Gue gak akan berjanji apapun saat ini. Yang jelas, lo harus sembuh. Lo harus liat bagaimana usaha gue buat Bella. Gue gak pernah main-main sama Bella dan lo udah pasti tau itu.” Tegas Devan menambahkan.


“Ck!” Ozi berdecak kesal mendengar ucapan Devan. Menyebalkan sekali karena ucapan sahabatnya ini seperti menembak tepat isi pikirannya.


Lalu apakah saat ini ia harus percaaya dengan dua orang yang tidak henti berpegangan ini? Lihat saja sorot matanya yang penuh binar. AKH!! Kenapa ia jadi mencelos? Kenapa ia jadi merasa tersisihkan?


Apa ia masih akan menjadi bagian penting untuk Bella setelah ada Devan?


****


Lanjut?


Kepanjangan gak sih part ini? Wkwkwkwk...


 See you on next part.


Jangan lupa 4 sehat 5 sempurna (Like, komen, vote, jadikan favoriit dan gift juga boleh) hehehe....