Bella's Script

Bella's Script
Syuting Hari pertama



Syuting hari pertama resmi di mulai. Kesibukan terlihat jelas di sebuah café yang menjadi setting latar pertama mereka memulai episode di film ini.


Masing-masing tampak sibuk dengan pekerjaannya. Inka dan tim yang datang lebih dulu menyiapkan tempat dan mengatur posisi yang sesuai hingga menyiapkan detail properti yang di perlukan untuk mendukung suasana pada setiap scene nya.


Dengan tubuhnya yang mungil, Inka berjalan kesana kemari seperti bola bekel yang terus memantul di lantai dan tidak pernah berhenti.


“Di belakang 2 meja aja yang nanti terrekam kamera, figurannya udah gue siapin. Coba lo panggil aja.” Titah Inka pada Romi yang sedang menyiapkan meja untuk pemeran utama.


“Mereka datang dari sini, nanti kamera satu yang mengambil gambar pemeran utama pria dan kamera dua bersiap back up saat pemeran utama wanita datang.” Devan ikut mengarahkan para cameramen yang bersiap di lapangan.


“Setting latarnya udah cukup kan Bella?” tanya Roni pada Bella yang tengah berdiri di kejauhan memperhatikan seisi café.


“Eemm… Detailnya udah cukup.” Sahut Bella, namun wajahnya masih terlihat berpikir.


“Kalau lightingnya di kurangi lebih dapet gak sih Van, soalnya kan kita setting sore, tapi kontras cahaya terlalu kuat, pagi ini mataharinya terlalu cerah.” Bella bertanya pada Devan yang menghampirinya.


Lantas laki-laki itu berdiri di sampingnya. Melihat ke sekeliling dan seperti mendapatkan pointnya.


“Gak masalah. Nanti gue minta cameramen buat fokus ngambil detail pemain dari dekat. Kalau mau long shoot, nanti paling gue minta lo tambah latar di belakang yaaa..” Ujar Devan pada Bella dan Roni.


“Okey, gue setuju.” Sahut Bella dengan cepat.


Mereka kembali berbincang soal persiapan sambil menunggu para pemain bersiap.


“Wiidddiihhh… Gak nyangka gue café kita jadi tempat syuting. Buat bikin film lagi.” Ujar Dimas yang asyik mengambil gambar memperhatikan sekitar. Kamera ponselnya sibuk mengabadikan setiap moment penting yang terjadi di dalam cafe.


Suasana yang ramai oleh crew film , para artis dan fans yang ikut menonton juga masyarakat sekitar membuat café yang biasanya tidak terlalu ramai menjadi sangat ramai.


“Padahal kalau di bandingin, bagusan café yang sebelah sono di banding café kita. Kenapa malah milih café ini ya?” Dimas masih penasaran.


Tidak jauh dari tempat mereka bekerja memang ada café yang lebih besar dan aesthetic. Sehingga mungkin crew tidak perlu menata total latar café ini. Tapi pilihan tetap jatuh pada café ini.


Ibra tidak menjawab. Ia hanya memperhatikan Bella dari tempatnya. Melihat Wanita itu dengan energik bekerja, pikirannya fokus dan tidak lagi memperlihatkan gurat kesedihan membuatnya bisa tersenyum lega.


“Wooyyy ngelamun lo!” Dimas menyikut Ibra yang hanya mematung di tempatnya.


Remaja itu tersentak dan segera mengalihkan pandangannya.


“Kenapa?” ia balik bertanya.


“Ahhhh elaaahh, eloo… CK!!” Dimas berdecik kesal.


“Dah lah! Lo pelototin aja sana idola lo!” Ia menunjuk pada Bella yang sudah pasti jadi pusat perhatian Ibra.


“Eh ngomong-ngomong, dia potong rambut ya?” Dimas baru sadar akan perubahan penampilan Bella.


“Hem.. Gue baru liat rambutnya di iket ekor kuda gitu.” Komentar Ibra sambil tersenyum.


“Lo suka banget sama dia? Kenapa gak lo tembak aja?” Hasut Dimas yang cengengesan.


Ibra hanya menoleh lantas tersenyum. “Sarap lo!” deciknya sambil berlalu.


“Lah, kok sarap?” Protes Dimas. Ia mengikuti Ibra ke meja barista.


“Kalau di liat-liat lo mirip sama kak Bella. Kali aja lo jodoh sama dia. Lagian emang lagi musim kan pacaran sama yang lebih tua. Lebih berpengalamaaaannn.” Dimas masih terus berbicara. Ujung kalimatnya bahkan mengutip lirik lagu dangdut.


Ibra hanya tersenyum geli sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Dih, mulai gila lo!” Dimas jadi kesal sendiri melihat sikap Ibra.


“Gimana udah rapi?” tanya sebuah suara yang ternyata manager café.


“Eh, udah bu.” Dimas dan Ibra langsung mengubah sikapnya.


“Ini kita tetep jualan apa gimana bu?” Dimas bertanya dengan penasaran.


“Nggak. Stock bahan minuman kita udah di maksimalin buat konsumsi crew hari ini. Kalian cukup bersiap aja kalau-kalau nanti mereka perlu minuman atau makanan.” Terang Sofia, manager café.


“Wah siap bu.” Sahut Dimas yang melakukan hormat singkat.


Ibra kembali memandangi Bella dari kejauhan. Rasanya ia bisa menebak mengapa syuting dilakukan di café ini.


Para pemain utama sudah bersiap, rupanya syuting akan segera di mulai. Indra sang assistant sutradara menghampiri Ibra dan Dimas.


“Kopi bang?” tawar Dimas dengan cepat.


“Nggak nanti aja. Gue mau minta tolong sama lo berdua.” Sahut Indra dengan tergesa-gesa.


“Iya gimana bang?” Tanya Ibra dengan sigap.


“Emm, gini, figuran barista di film ini gak bisa masuk. Lo mau gak ngisi peran mereka? Gak banyak kok, cuma 4 dialog aja.“ Tawar Indra tanpa ragu.


"Wah, kita maen film bang?” tanya Dimas dengan antusias.


“Iyaa selewat doang. Mau kagak nih? Peran kalian tetep di bayar kok.” Indra tergesa-gesa. Tentu saja ia harus segera menemukan pemain walau dadakan seperti ini.


“Nih sih Ibra aja. Dia lebih cakep dari gue. Kayak actor Thailand kan?!” Dimas mendorong Ibra agar maju.


Indra jadi memperhatikan Ibra dengan seksama.


“Boleh juga. Tapi muka lo kayak gak asing. Mirip siapa ya?” Indra jadi berpikir serius.


“Mirip kak Bella! Noh hidungnya sama, tinggi! Matanya bulet. Dia juga ngefans banget ama kak Bella tapi nyalinya cemen.” Cerocos Dimas yang langsung mendapat sikutan dari Ibra.


Indra jadi memperhatikan Ibra bergantian dengan Bella yang sedang berbincang dengan Devan.


“Iya sih..” lirihnya.


“Ya udah lah, intinya lo mau kagak?” Indra kembali fokus.


“MAU!!!” sahut Dimas sambil mendorong Ibra maju ke hadapan Indra.


Ibra yang belum siap hanya bisa celingukan.


“Bell!!! Gue dapet nih figuran nya!” Seru Indra pada Bella.


“Ya! Gue ke situ!” Sahut Bella.


“Anjiirrr lo di samperin kak Bella brooo!!!!” Bisik Dimas dengan gemas mencubit-cubit Ibra.


Ibra hanya tersenyum, sambil merapikan dirinya ia memperhatikan Bella yang berjalan mendekat. Hah, kenapa ia harus gugup?


Dengan santai Bella memberikan naskah pada Ibra.


“Part lo yang sebelah sini. Lo perhatiin baik-baik termasuk ekspresi yang bisa lo munculin. Dialog lo gak banyak, jadi maksimalin saat muka lo tertangkap kamera. Perhatiin juga gesture lo. Karena selama merekam adegan lo bakal ikut terrekam. Tempat lo di sana.” Terang Bella langsung pada intinya.


"Wiihh kak Bella keren kalau ngomong kayak gitu." Lirih Dimas yang melirik Ibra yang hanya terdiam menyimak.


“Gilaaa,,, Lancar bener lo nge-briefing-nya. Lo berdua udah pada kenal?” Selidik Indra penasaran. Ia tidak melihat Bella yang sungkan saat berbicara dengan orang baru.


“Kenal. Dia pegawai di café ini.” Sahut Bella dengan santai.


Ia menyodorkan script pada Ibra dan Ibra langsung menerimanya.


“Bener juga sih.” Lirih Indra.


“Ya udah, lo hapalin dulu sambil test camera. Nanti minta di make up dikit. Bagian lo di scene 4.” Ujar Indra pada akhirnya.


Ibra hanya menangguk seraya menggenggam naskah di tangannya dengan erat. Sementara Indra, mengekori Bella, sambil berpikir tentang apa yang dilihatnya. Bella masih seserius itu saat bekerja.


*******


“CUT!!! Michael! Suaranya kurang jelas!” seru Devan dari tempatnya seraya melepaskan headset yang melingkar di atas kepalanya.


Rangga yang sedang berbicara langsung menghentikan kalimatnya. Ia mendengus kesal, entah berapa kali Devan mengatakan CUT! Pada peran yang sedang di mainkannya.


Devan menghampiri Rangga yang terlihat malas.


“Bro, kalimat lo sering gak jelas. Kenapa, lo sariawan?” tanya Devan tanpa ragu. Ia memandangi Rangga dengan penasaran.


“Ada yang sakit By?” Amara ikut berbicara, menyentuh wajah Rangga yang terlihat tegang.


“Nggak, biasa aja.” Rangga jadi menyentuh bibirnya sendiri. Entah mengapa produksi suaranya selalu di protes tidak jelas.


“Eaa, eaa… Aada apa nih?” Bisik Roni pada Romi. Penasaran juga dengan perdebatan dua laki-laki ini.


“Gue tau ini film pertama lo. Ini juga pengalaman pertama lo syuting kayak gini. Tapi, bukan berarti gue bisa mentolerir cara kerja lo. Lo udah di pilih jadi pemeran utama, Lo juga udah dikasih waktu buat reading dan GR, tunjukkin kualitas lo di depan kamera.” Cerocos Devan beruntun.


Ia sendiri sudah bosan mengatakan cut, padahal baru 2 scene yang mereka buat.


“Lo tau gak sih pak sutradara, kalau kalimat lo terlalu kasar?!” Amara ikut berbicara dengan kesal. Ia tidak terima kekasihnya di sudutkan oleh Devan.


“TAHU! Karena ini memang cara kerja gue. Tugas gue ngarahin pemain dan kalian mainin peran kalian dengan benar. That’s all!” sahut Devan dengan tegas.


Tidak ada Devan yang pendiam saat ia sedang bekerja. Semuanya harus di lakukan dengan baik dan benar tanpa ada celah kesalahan.


“Wiihhh Anjiirrr!! Gue suka gaya abang sutradaranya.” Dimas sampai ikut berkomentar. Ia dan Ibra sama-sama memperhatikan lokasi pengambilan gambar saat ini.


“Sorry nih gue ikut bicara.” Indra sedikit menahan tubuh Devan agar tidak terus maju. Ia berusaha menenangkan orang-orang yang saat ini sedang bersi tegang.


“Coba lo tegakin badan lo, lo harus percaya diri Michael!" Indra memegang punggung Rangga dan menegakkannya.


"Lo pemeran utamannya. Label itu bekal lo supaya lo pede jadi produksi suara lo juga jelas. Lo liat sendiri kan di sini gimana karakter Michael? Tegas, urakan, dingin dan angkuh. Tunjukkin itu depan kamera. Yang Lo tampilkan tadi terlalu soft bro. Lo bukan lagi meranin diri lo sendiri tapi lagi meranin orang lain. Okey?!” Indra coba menerangkan lebih detail.


Ia paham benar, kalau Devan sejak awal tidak menyetujui Rangga sebagai pemeran utama pria. Maka ia lebih sensitive dengan kesalahan yang di buat Rangga.


“Iya, gue paham. Sorry…” Lirih Rangga seraya menatap Devan.


“Bagus kalau lo paham. Sekarang kita break 15 menit dan lo siap-siap tunjukkin karakter di naskah ini.” Tegas Devan.


Rangga mengangguk saja seraya mengusap wajahnya kasar. Ternyata melakukan pekerjaan ini tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya.


Dari tempatnya, ia melihat Bella yang sedang berbincang dengan Indra. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas tampak serius.


“Kopi lo.” ujar Bella saat sudah berdiri di samping Devan.


Laki-laki itu berdiri tegak melihat keluar jendela dengan tangan bersidekap. Seperti ada hal yang di pikirkannya.


“Thanks.” Sahut Devan seraya mengambil alih segelas kopi dari tangan Bella.


Mereka berdiri sejajar sambil menikmati kopi di tangan masing-masing. Wangi kopi yang menenangkan ternyata bisa membuat pikiran mereka jauh lebih tenang.


“Pemain yang mumpuni memang lebih mudah diarahkan. Mereka lebih mudah mendalami karakter dan mengekspresikan apa yang perlu kita lihat.” Suara Bella terdengar di samping Devan, membuat laki-laki jangkung itu menolehnya.


“Tapi pemain baru yang masih belum di kenal, bisa memberi kejutan yang bagus saat kita berhasil menanamkan karakter tokoh itu di pemain tersebut.” Lanjut Bella yang balas menoleh Devan yang lebih tinggi darinya. Ia sampai mendongak.


“Makasih udah kukuh mempertahankan setiap karakter di script gue.” Ia tersenyum kecil pada laki-laki yang terlihat kesal dan lelah tersebut.


Bella tidak menyangka kalau Devan tidak menyerah untuk tetap menjaga kualitas film yang mereka garap, sesualit apapun mengarahkan pemain baru seperti Rangga. Ia melihat dengan jelas bagaimana tadi Devan memberikan arahan pada Rangga mulai dari cara yang paling halus hingga akhirnya ia kesal sendiri dan emosinya meledak.


Dan dalam beberapa saat, air muka Devan berubah. Ia menatap Bella lekat sesaat setelah mendengar ucapan Bella. Ucapan Bella berarti banyak baginya karena Bella masih mempercayainya. Padahal ia sendiri masih ragu apakah ia mempermasalahkan kualitas pemain atau orang yang bermain dalam film ini.


“Lo tau Bell, gue kadang gak sebaik itu.” ujar Devan tiba-tiba. Laki-laki itu menatap nanar dedaunan yang bergoyang terkena hembusan angin.


“Maksud lo?” Bella jadi membalik tubuhnya menghadap Devan.


“Em,,” Devan memikirkan cara menyampaikan kalimatnya dengan jelas pada Bella.


“Jiwa jahat gue bilang kalau gue harus bikin Rangga nyesel masuk di script lo.” Ia tersenyum sinis, satu hal yang baru Bella tahu kalau Devan bisa melakukannya.


Bella mengernyitkan dahinya masih belum paham dengan ujaran Devan.


“Dia bilang, lo superior karena selalu berusaha berada di atas dia dan mau ngendaliin dia,” Devan menjeda kalimatnya dengan menoleh Bella.


Mata Bella langsung membulat, rupanya Devan masih mengingat ucapan Rangga saat mereka bertengkar dulu.


“Gue mau dia sadar, kalau jadi lo gak semudah itu. Lo bukan mahluk superior yang ngendaliin dia. Tapi dia yang gak pernah paham sama isi pemikiran lo dan gak pernah berusaha mengambil langkah untuk sejajar sama lo.” Tiba-tiba saja ucapan Devan terdengar serius.


“Gak tau apa alasannya gue cuma mau dia lihat usaha yang bikin lo terlihat superior itu adalah karena lo gak pernah nyerah sama keadaan termasuk sama hubungan lo.”


“Dan gue yakin, lambat laun dia bakal sadar. Kalau kesejajaran dalam hubungan itu adalah tentang memahami satu sama lain dan menganggap penting pasangan kita, bukan tentang cara satu sama lain memegang kendali atas pasangannya.” Terang Devan dengan Panjang lebar.


Bella jadi tercenung mendengar ucapan Devan. Laki-laki itu hanya tersenyum melihat wajah Bella yang tampak serius berpikir. Dihirupnya wangi kopi yang masih hangat lantas ia teguk perlahan.


“Lo sendiri gak nyadar kan kalau lo udah memilih langkah yang tepat dengan melepaskan seorang pengecut?” laki-laki itu berujar dengan ringan seraya memainkan gelas kopi di tangannya.


Bella hanya terdiam. Devan seperti menyentilnya dengan sesuatu hal yang ia tidak sadari selama ini. Bella sampai tidak bisa berkata-kata. Pada akhirnya keduanya memilih meneguk minuman masing-masing.


Sekali lalu Bella menoleh Devan yang terlihat lebih tenang. Laki-laki ini mulai membuatnya berpikir tentang banyak hal yang tidak ia sadari sebelumnya.


******