Bella's Script

Bella's Script
Buka mata



16 part script Bella sudah selesai di baca Devan. Hasilnya memang sangat menarik dan memuaskan. Ia tidak sabar menunggu Bella memberikan part selanjutnya untuk ia baca.


Bella, seharian ini ia belum bertemu dengan gadis itu. Seperti ada yang hilang karena saat melihat mejanya hanya ada tumpukan beberapa lembar dokumen dan alat tulis yang tersusun rapi. Biasanya, dari ruangannya ia akan melihat Bella dengan berbagai ekspresi saat ia menulis.


Ia jadi teringat perbincangan saat Bella berpikir keras apakah akan beralih departemen atau tidak. Keraguannya seperti bertambah saat ia datang dan diperkenalkan sebagai sutradara baru di PH tempatnya bekerja.


“Kalau lo gak yakin pindah departemen karena ada gue, tenang, gue bisa bersikap professional dan gak ngeganggu lo. Gue juga gak akan mencampuri apapun urusan pribadi lo.” tegas Devan kala itu.


Ia melihat Bella tersenyum tipis seraya menatapnya sinis.


“Lo kepedean tau gak.” Ia menyeringai. Terkesan menyebalkan tapi sangat manis untuk di lihat.


“Gue masih berpikir pindah atau nggak, bukan gara-gara ada lo. Tapi karena diri gue sendiri. Jadi jangan terlalu yakin kalau adanya lo berpengaruh di hidup gue. Hidup gue urusan gue dan hidup lo urusan lo.” Tegas Bella dengan senyum tipis seperti meledek.


“Bagus. Harusnya gak ada masalah dong kita ada di departemen yang sama?!” Devan membalas ujaran Bella dengan tidak kalah santai.


Ia berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan yang ia masukan ke dalam masing-masing saku celananya.


Bella hanya mengendikan bahunya, seraya tersenyum kecut lantas meneguk secangkir kopi di tangannya dan berlalu begitu saja dari hadapan Devan. Anggap saja ini kesepakatan yang mereka buat. Profesional tanpa mengganggu urusan pribadi masing-masing.


Devan jadi ikut tersenyum. Menunduk sejenak untuk menyembunyikan senyumnya sebelum kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


Lihat, saat ini pun yang terlihat adalah bayangan Bella di depan matanya. Ia salah jika hanya ada profesionalisme di antara mereka. Apa memikirkan Bella di waktu kosongnya adalah bagian dari profesionalisme? Entahlah.


“Hey, belum pulang?” suara seorang wanita tiba-tiba terdengar saat Devan mematung di depan meja kerja Bella.


Saat ia menoleh, ternyata Jihan yang kini berdiri di hadapannya. Di lengannya ia menenteng tas tangan sementara satu tangannya memegangi kacamata yang biasa bertengger di atas kepalanya.


Hari ini Jihan memang resmi berkantor di PH ini. Ruangannya tepat di sebrang ruangan departemen penyutradaraan. Katanya ia malas kalau harus naik satu lantai lagi ke lantai 3 karena tidak ada lift atau escalator. Ini memang salah satu kekurangan dari bangunan yang awalnya sebuah rrumah namun di jadikan kantor.


“Baru akan pulang.” Sahut Devan yang beranjak dari tempatnya.


Ia melangkah keluar dari ruangan departemen dan menyusuri koridor ruangan berdampingan dengan Jihan.


“Suka males deh kalau udah waktunya jam pulang gini. Jalanan pasti macet?” keluhan klise yang menjadi awal perbincangan Jihan dengan Devan.


Devan hanya mengangguk dengan sedikit senyum, mengiyakan keluhan Jihan. Jalanan memang selalu padat saat jam masuk dan pulang kerja. Tapi tidak selalu macet.


“Kamu nyetir sendiri?” tanyanya lagi, saat tidak mendapat respon berarti dari Devan.


“Eh, boleh kan aku manggilnya lebih santai gini? Biar lebih akrab aja.” belum Devan menjawab, ia sudah menjeda lebih dulu saat melihat Devan yang tidak merasa terbiasa.


“Ya, tidak masalah.” Timpal Devan singkat. Masih ada jarak yang di jaganya.


“Okey kalau gitu. Ngomong-ngomong kamu tinggal di daerah mana?”


Devan tampak berpikir mendengar pertanyaan Jihan. Entahlah, apa tidak masalah kalau menjawab alamat tinggalnya yang sebenarnya.


“Gandaria.” Hanya itu jawabannya.


Mendengar jawaban itu saja membuat mereka sudah sampai ke tempat parkir.


“Waahhh anak jaksel juga. Aku di PI.” Sahut Jihan dengan ceria.


“Ya, itu daerah yang bagus.” Tanpa mempedulikan jawaban Jihan, Devan membuka pintu mobilnya untuk dirinya sendiri.


Masuk ke dalam dan duduk dengan nyaman.


“Supirku kayaknya terlambat jemput, jadi..” Jihan segera mengitari mobil Devan hendak ikut masuk ke mobil Devan. Namun siapa sangka, belum sempat Jihan membuka pintu mobil Devan,


“Permisi, saya duluan.” Ujar Devan yang langsung menyalakan mesin, membunyikan klakson dan tancap gas, nyaris di waktu yang bersamaan.


“I-Iya…” ujar Jihan yang kemudian mematung. Ia tidak percaya dengan apa yang dilakukan Devan.


“Astaga, ini cowok gak peka banget sih… Jadi gemes..” gumam Jihan yang tersenyum memandangi arah berlalunya Devan.


Entah mengapa, sejak pertama kali bertemu Devan di depan Café, matanya langsung tertarik melihat sosok maskulin yang pendiam. Seperti ia tertantang untuk mendekat dan menaklukannya.


“Apa sih yang gak bisa buat Jihan?” lirihnya seraya tersenyum nakal sambil memainkan kacamata di ujung tangannya.


*****


“Dari mana lo?” pertanyaan itu yang menghentikan langkah Bella saat mengedap-endap masuk ke halaman rumah.


“Astaga!!!!” dengusnya. Ozi muncul dari balik pintu yang ada di depan Bella.


Ia menerobos masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Ozi yang masih mematung di mulut pintu rumahnya.


“Eh, gue belum selesai ngomong dek!” seru Ozi dengan suara lebih keras.


“Cari inspirasi!” sahut Bella acuh. Ia menyalami Saras yang ada di ruang tamu dan menunggunya dengan gusar.


“Sorry pulang telat mah.” Bisiknya penuh sesal. Saras hanya mengangguk saja, mencoba memaklumi.


“Nyari inspirasi harus sampe ke Surabaya?” sinis Ozi dengan tatapan tajam pada adiknya.


Mata Bella terbelalak kaget. Bagaimana bisa Ozi tahu kalau ia ke Surabaya, padahal ia tidak cerita pada siapapun.


“Abang, udah dulu yaa… Adeknya kan baru pulang. Biar istirahat dulu. Kasian…” Saras berusaha menengahi.


“Udah mah biarin. Biar dia puas dulu ngintrogasi aku.” Tantang Bella, yang membuat Saras akhirnya diam.


Ia hanya bisa memijat dahinya yang mulai berdenyut pening. Mentalnya harus kembali bersiap melihat perdebatan kedua anaknya.


“Lo segitunya nyari tau tentang gue kemana dan ngapain? Gue udah bukan bocah lagi bang! Umur gue udah 25. Gue berhak dong ngejar masa depan gue tanpa lo ribetin?!” Bella kembali bersuara lantang, memberi penjelasan.


“Oh, jadi bener, lo ke Surabaya buat nyusul cowok itu?” gertak Ozi.


“Lo bilang sekarang lo cuma temenan kan? Kenapa sampe segitunya?!” Ozi menunjukkan foto Bella bersama Rangga di salah satu story yang tentu bukan miliknya.


“Damn!” Bella mengupat dalam hati. Karena kecerobohannya ia lupa meminta Amara agar mem-private postingannya dari Ozi.


“Asal lo tau, gue ke Surabaya bukan cuma nyusulin Rangga karena semata-mata gue bucin. Di sana juga ada Ara dan mereka lagi ada masalah. Masa gue biarin temen gue dalam masalah? Ya enggak lah!” Bella coba memberi penjelasan. Walau ia tidak yakin Ozi akan mempercayainya.


“Lo selalu ada alasan.” Ozi tersenyum tipis. Ia menutup pintu lantas mendekat pada sang adik dan membuat Bella mundur beberapa langkah.


“Sekarang aja, lo ngehindar dari gue, yang abang lo sendiri. Sementara pagi tadi, lo milih buru-buru ke Surabaya buat nyusul cowok lo yang katanya ada masalah. Lo bahkan gak minta izin sama gue dan mamah. Apa dia lebih penting buat lo di banding gue sama mamah?!!” lagi Ozi menggertak.


Bella sampai terhenyak. Tidak hanya Bella, tapi juga Saras dan Devan yang ada di ruang makan. Ia tidak menyangka kalau Ozi akan semarah ini.


“Lo bisa gak sih gak usah main bentak-bentakan di depan mamah?!” Bella balas meradang. Ia melangkah mendekat menghadapi sang kakak. Matanya membulat dengan tangan mengepal.


“BISA!!!! Kalau lo nurut!!!” jawab Ozi dengan segera.


“Lo Adek gue, tanggung jawab gue, dan lo perempuan. Gue gak akan pernah ngelarang lo berhubungan sama cowok lo kalau dia menunjukkan sikap yang baik depan gue dan mamah."


"Gue cuma minta, lo jangan sembunyi-sembunyi. Dan kalau cowok lo serius sama lo, harusnya dia datang dan ngomong baik-baik sama gue dan mamah. Tapi ini apa? Lo pacaran lebih dari 8 tahun tapi tetep kayak gini. Lo di permainin Bell. Lo bisa sadar gak sih?! Buka mata lo lebar-lebar dek!” cerocos Ozi Panjang lebar.


Bella tidak menjawab, selain matanya yang mulai mengumpulkan butir air mata di salah satu sudutnya. Entah mengapa ia harus menangis. Karena bentakan Ozi? Sepertinya bukan.


“Gue, gue khawatir sama lo.” melihat mata Bella yang berkaca-kaca, tekanan suara Ozi mulai turun.


“Gue gak mau lo dimainin cowok cuma karena lo cinta mati sama cowok itu. Gue,”


“CUKUP!!!” seru Bella dengan suara bergetar menahan tangis.


“Cukup gue bilang.” Di tatapnya Ozi dengan mata basah karena air matanya yang lolos menetes.


“Bisa gak sih lo gak usah tambah beban gue dengan omongan lo tadi?” lirihnya dengan penuh penekanan.


“Gue udah dewasa bang. Gue bisa nentuin apa yang baik dan buruk buat gue. Lo gak harus selalu ngerasa gue cuma tanggung jawab lo. Gue tanggung jawab sama diri gue sendiri. Bisa gak sih lo percaya sama gue?” suara Bella mulai parau. Entah karena marah atau karena tangisnya yang pecah.


“Bell, gue…” Ozi jadi tidak tega melihat Bella kalau sudah menangis seperti ini. Sekeras apapun ia, ia tidak bisa membiarkan Bella menangis.


“Gue capek. Bisa berhenti dulu gak sebentar? Ngasih gue waktu karena gue pun lagi berusaha.” tegasnya mengabaikan tangan Ozi yang hendak menyentuh bahunya.


Tanpa menunggu jawaban Ozi, Bella berlalu dari hadapan Ozi.


“Sorry mah.” Lirihnya pada Saras, yang hanya di angguki Saras dengan lemah.


Saat melewati Devan, Bella terhenti sejenak. Tanpa menatap laki-laki itu, Bella mengambil gelas yang ada di tangan Devan dan meneguk air putih di dalamnya.


“Makasih,” ucapnya sebelum kemudian pergi dan masuk ke kamarnya.


“Don’t disturb.” Tulisan yang kini terpampang di depan kamar Bella.


Suasana pun hening tepat setelah Bella menutup pintu kamarnya. Kali ini tanpa bantingan, membuat Saras justru terisak. Selelah itukah putrinya sampai tidak ada lagi tenaga di tubuhnya?


****