Bella's Script

Bella's Script
Apa yang terjadi, Bell?



Perjalanan pulang benar-benar sepi. Tidak ada suara selain suara mesin dan knalpot motor. Sama halnya dengan Bella, Devan pun tidak lagi mengatakan apapun. Ia harus membagi konsentrasinya. Satu konsentrasi untuk memilih jalanan dan satu konsentrasi untuk memperhatikan Bella dari spion.


Gadis ini tidak mau berpegangan pada Devan. Ia bersidekap memeluk tubuhnya yang kedinginan seraya membuang pandangan ke arah lain, benar-benar menghindari dari tatapan Devan. Ia duduk di ujung jok, hanya sesekali ia berpegangan pada pinggiran jok saat guncangan motor terlalu keras karena melewati jalanan berkerikil.


Perjalanan terasa begitu panjang dan lama bagi keduanya. Begitu sampai di lokasi syuting, Bella segera turun. Ia membuka helm dan menaruhnya di atas jok motor. Ia mengabaikan begitu saja tangan Devan yang terulur hendak mengambil helm. Lantas ia pergi lebih dulu meninggalkan Devan yang belum selesai melepas helmnya.


Devan hanya tersenyum kelu. Sepertinya Bella sangat menyesal dan kecewa dengan apa yang terjadi di antara mereka. Lihat saja langkahnya yang panjang dan cepat saat meninggalkan Devan.


Di area syuting, sayup-sayup Bella mendengar suara Indra, Roni dan Inka. Mereka tengah berbincang di sambil mengelilingi api unggun yang mereka nyalakan kembali.


"Gak ada yang lebih cepet sih, karena masing-masing ngejar waktu tayang. Film mungkin ceritanya singkat sehingga syutingnya gak terlalu lama. Tapi Miniseri dan sinetron pun gak berarti lebih singkat, karena hitungannya tetap mengejar ke perhitungan waktu tayang." Ujar Indra, entah menjawab pertanyaan siapa.


"Terus kalau dari segi biaya produksi bang? Kan sinetron suka lebih banyak ilkan yang masuk, berarti lebih menguntungkan ya?"


Tidak hanya tiga orang itu ternyata ada Rangga juga yang ikut bergabung


"Iya.. Tapi kelasnya,..." Indra melambatkan suaranya saat melihat Bella yang datang dengan badan basah kuyup.


Rangga segera berdiri melihat kedatangan Bella. Ia tidak lagi memperdulikan jawaban Indra berikutnya.


“Bell,” sapanya dengan senyum yang terkembang.


Ekspresi wajahnya kontan berubah saat melihat Devan datang di belakang Bella.


“Kamu dari mana?” Tanya Rangga penuh selidik. Entah cemas atau kaget arti ekspresi wajah yang di tunjukkan Rangga saat ini.


“Iya, kalian dari mana, kok basah begitu? Emang ada hujan?” Inka ikut bertanya dan segera menghampiri Bella.


Bella menggeleng.


“Gue mau istirahat. Selamat malam.” Hanya itu jawaban Bella yang kemudian pergi dari hadapan orang-orang itu dengan ekspresi kesal yang tidak bisa ia sembunyikan.


“Hah, kok langsung pergi. Van, lo sama Bella kenapa? Berantem? Itu badan lo juga, kenapa basah-basahan?” Indra ikut penasaran.


Devan tidak juga merespon. Ia hanya berkata,


“Sorry gue duluan. Malem.” Ujarnya tidak kalah singkat dari Bella lantas berlalu pergi, berlawanan arah dengan Bella.


“Nih dua orang kenapa sih?” Adalah Roni yang kemudian memandangi kedua orang itu bergantian.


Devan masuk ke tendanya begitupun dengan Bella.


“Mereka dari mana?” Tanya Rangga yang ikut penasaran.


“Gak tau.” Sahut Inka, Roni dan Indra bersamaan.


Rangga hanya tersenyum kelu mendengar jawaban 3 orang tersebut. Sepertinya bukan hanya ia yang penasaran dengan apa yang terjadi pada dua orang yang selalu terlihat tidak pernah ada masalah tersebut.


Akhirnya ia jadi termenung. Ia sudah tekadkan untuk datang ke sini dan menemui Bella. Tapi ternyata, Bella tidak ada di area camping. Dan beberapa saat lalu ia malah di beri kejutan saat melihat Bella pulang dengan wajah yang tertekuk, sangat kesal. Miris, saat ini ia hanya bisa memandangi sekotak coklat yang ia bawa untuk Bella. Makanan kesukaan gadis itu yang sengaja ia beli walau harus bersitegang dengan Amara.


“Kamu pulang sekarang sama aku. Lagian kamu ngapain sih masih mau di sini? Ngeri tau tidur sendirian di vila.” Ujar Amara sore tadi, saat tahu kalau hanya ia dan Lisa yang memutuskan pulang sekarang.


“Ra, ada yang harus aku bicarain dulu sama beberapa crew. Ini tentang kerjaan. Terutama tentang soundtrack.” Tutur Rangga berusaha meyakinkan Amara.


“Rangga, Sebagian besar crew udah pada pulang. Kamu liat aja dari sini, tendanya aja cuma tinggal dikit lagi. Paling cuma sekitar 6 sampai 7 orang lagi.” Amara memperhatikan tempat camping dengan teropongnya.


“Iyaa aku tau. Tapi sutradara belum pulang. Aku butuh ngobrol sama dia.” Rangga masih berkilah.


“Sama script writer juga kan?” Sindir Amara dengan wajah sinis.


Kemarin ia melihat Rangga mengikuti Bella keluar Vila. Bukan tidak mungkin sekarangpun ia akan menemui Bella lagi.


“Ra, kok gitu sih ngomongnya. Udahlah cukup. Aku cuma mau bahas masalah kerjaan. Masa kamu gak percaya?”


“GAK! Aku emang gak percaya sama kamu.” Tegas Amara seraya bersidekap dengan kesal.


“Terserah kamu, yang jelas aku gak pulang sekarang. Kamu mau pulang silakan.” Rangga sudah malas berdebat dengan Amara. Ia mengambil kunci mobilnya dari kamar namun saat akan keluar, Amara menjegallnya di pintu.


“Kirim pap setiap 10 menit sekali. Awas kalau enggak!” Ancamnya dengan tatapan tajam.


“Terserah.” Rangga mengibaskan telunjuk Amara yang tertuju padanya. Lantas ia pergi meninggalkan Amara yang masih kesal.


Seketika ingatan tentang Amara pun memudar.


“Kayaknya Bella masuk angin.” Ucap Rangga dengan wajah cemas.


“Gue ke sana dulu. Kalian lanjut aja.” Inka beranjak lebih dulu.


“Bikinin Bella minuman hangat Ka.” Pesan Roni.


“Iya bang.” Timpal Inka yang kemudian berlalu pergi.


*****


Di dalam tenda, Bella baru selesai berganti pakaian saat sebuah pesan masuk ke ponselnya.


“Bell,.. Bisa ketemu bentar? Gue mau ngasih minyak angin biar lo gak sakit.” Begitu isi pesan yang di kirim Devan padanya.


Rupanya beberapa kali bersin cukup keras, membuat Devan mendengarnya.


"No gue gak bisa." Gumam Bella saat menatap layar ponselnya. Ia menyentuh pipinya sendiri yang terasa hangat, sudah pasti wajahnya akan merah saat bertemu Devan.


"Aahh...Gue mesti gimana?" Bella mengacak rambutnya dengan kesal. Ia tidak siap bertemu Devan sekarang. Perasaannya sangat tidak nyaman walau ia sudah menepuk-nepuk dadanya beberapa kali untuk menenangkannya.


“Gak usah, gue bawa.” Balasnya dengan kesal. Ia belum bisa bertemu Devan untuk saat ini.


Rasanya ia sangat kesal tanpa alasan yang bisa ia uraikan terlebih saat mengingat kejadian di danau tadi.


“AARRGGHH!!!” Bella mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Entah mengapa ia jadi seperti ini.


Beberapa kali ia mengatur nafasnya berusaha menetralisir perasaannya namun nyatanya tidak lantaas membuat perasaannya lebih baik.


“Fiuh!” di tiupnya dengan kesal helaian rambut yang menutupi wajahnya.


Lantas ia memilih membaringkan tubuhnya dan menyelimutinya tubuhnya hingga menutupi kepala. Ponselnya masih menyala dan berulang membaca pesan ia dan Devan bergantian.


“Terlalu jutek gak sih? Dia kan cuma nawarin bantuan.” Ada rasa mengganjal pada pesan yang di kirimnya sendiri. Padahal biasanya ia tidak pernah memikirkan perasaan yang mungkin Devan rasakan saat membaca pesannya.


“Enggak Bell. Lo emang harus tegas. Batasan lo sama dia jelas. Gak boleh ada hal-hal kayak gitu yang bisa ngerusak apapun. Lagian, gue gak ngerasain apapun kok.” Lagi Bella berbicara sendiri. Kali ini seraya mengusap-usap dadanya.


“Batasan? Batasan apa?” Lalu Bella bertanya pada dirinya sendiri.


Ia tampak tercenung memikirkan pertanyaannya sendiri.


“AARRGGHHH!!!” Akhirnya ia hanya mengeram kesal dalam selimut. Ia tidak bisa melakukan apapun. Saat memejamkan mata, bayangan wajah Devan semakin jelas hadir di pelupuk matanya.


“Iiihhh… Gue mesti gimana?!!” Bella panik sendiri. Perasaan tidak menentu ini seperti serangan yang tidak pernah ia duga dan tidak berhenti menggetarkan jantungnya.


Berulang kali ia mengusap wajah dan bibirnya dengan tissue basah hingga terasa kering dan agak perih. Tapi kecupan dan bayangan wajah Devan masih jelas teringat di pikirannya.


“HATCHU!!!” Kali ini dua orang itu bersin bersamaan.


Indra dan Roni menoleh ke arah tenda Devan, sementara Rangga menoleh ke arah tenda Bella.


“Sebenernya mereka dari mana sih?” Gumam Indra. Misteri ini masih belum terpecahkan.


“Gak usah kepo.!” Cetus Roni.


“Kalau satu pertanyaan lo terjawab, lo jadi punya pertanyaan lainnya. Emang di sana mereka habis ngapain? Kayak gimana tempatnya. Bla blab la…” Lanjut Roni dengan gaya mencibir.


Indra hanya tersenyum kelu. Membahas Devan dan Bella sampai lupa kalau di depan mereka ada sang mantan yang kini tampak berpikir keras memikirkan ucapan Roni tadi.


Rangga masih memandangi tenda Bella. Tidak ada pergerakan yang terlihat. Hanya Inka yang berdiri di depan tenda dan membawakan segelas minuman hangat. Gadis itu masuk namun sosok Bella tidak pernah menampakkan dirinya.


“Bell, bolehkah aku bertanya apa yang sedang kamu lakukan sekarang?” Batin Rangga seraya memandangi layar ponsel yang menampilkan foto profil Bella di aplikasi chat-nya.


Entah mengapa perasaannya jadi gundah dan khawatir.


******