
“Mana Devan?” Tanya Inka saat ia melihat Bella menunggunya hanya seorang diri di parkiran.
Padahal biasanya Devan selalu ada di samping wanita ini, kapanpun.
“Gak tau. Mobilnya sih masih ada. Lagi meeting kali sama mas Indra dan tim.” Bella jadi ikut celingukan padahal ia tidak sedang menunggu Devan.
Kalau mengingat tingkah Devan siang tadi, ia jadi bingung sendiri. Ia jadi teringat saat mereka di taman tadi dan asyik berbincang tentang pekerjaan. Pembicaraan mereka sangat berkualitas, memberi Bella banyak motivasi untuk tidak menyerah pada project ini, apapun kondisinya.
Devan seperti memberinya banyak ketenangan. Perasaan tidak sendirian itu membuat Bella bisa sedikit berdamai dengan pikirannya yang lega. Bella yang kelelahan memang sengaja menyandarkan kepalanya ke sandaran bangku. Ia berusaha mereleksasi seluruh tubuhnya dengan memejamkan mata.
Namun entah apa yang terjadi, saat tiba-tiba ia merasa kalau langit berubah teduh. Ia jadi senyum-senyum sendiri merasakan semilir angin yang sejuk menerpa wajahnya, membuat ia bisa merasakan ketenangan setelah tadi emosinya bergejolak.
Perlahan namun pasti, ia merasakan hawa tubuh Devan yang mendekat. Perlahan ia membuka matanya dan benar saja Devan begitu dekat dengannya. Ia cukup terkejut melihat Devan sedekat ini dengan kedua tangannya yang lebar memayungi wajahnya. Matanya terlihat berbinar namun ia tidak berreaksi apapun saat pandangan mereka bertemu.
Untuk beberapa saat mereka saling terdiam mematung, menikmati keberadaan satu sama lain yang memberinya rasa tenang. Sampai kemudian, ponsel Bella berdering dan keduanya tersadar akan sesuatu.
Mata keduanya tiba-tiba membulat dengan sempurna. Entah apa alasannya hingga Devan tiba-tiba menurunkan tangannya lantas berdiri.
“Gue duluan!” Ia memilih pergi dengan tergesa-gesa bahkan kakinya sampai tersandung, membuatnya mengusap tungkai kaki namun tetap melanjutkan langkahnya dengan tertatih-tatih. Sakit sepertinya.
“Van! Lo kenapa?!” Seru Bella memanggil Devan yang berusaha berjalan dengan cepat meninggalkannya. Tiba-tiba sekali pikirnya.
Devan hanya mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan lambang oke padanya.
“Ni anak kenapa sih? Kaget banget kayaknya liat gue melek.” Gumam Bella yang masih memandangi Devan yang pergi dengan cepat.
Ia juga menyentuh wajahnya yang terasa hangat saat mengingat kalau wajah ia dan Devan sangat dekat tadi. Mata Devan yang tajam terasa begitu lekat menatapnya hingga ia merasa mata mereka akan bertemu.
“Ishhh!!! Lo mikirin apa sih Bell!!” Dengus Bella seraya mengucek-ngucek matanya, berusaha menghapus bayangan wajah Devan yang begitu dekat dan jelas.
“Lo juga kenapa sih? Lo berdua berantem?” Tanya Inka yang kebingungan melihat tingkah Bella di hadapannya.
Tidak hanya itu, selama pross syuting tadi Devan seperti berusaha menghindar dari Bella dan berbicara seperlunya. Ia sangat kikuk pada Bella yang selalu ada di dekatnya.
“Nggak lah. Gue gak berantem sama Devan.” Kilah Bella yang tersenyum kelu.
Ia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi antara ia dengan Devan.
“Ya udah yuk! Mas Hendrik nungguin nih kayaknya.” Ajak Inka seraya menggandeng tangan Bella.
“Lo yang nyetir.” Cetus Bella.
“Iya iyaaa Belsky-ku tayaaaang…” Inka mengeratkan gandengannya dengan gemas pada Bella. Bella memang hugable pikirnya.
“****
“Hay Bell, apa kabar?” Sapa Hendrik saat melihat kedatangan Bella dan Inka.
“Hay, baik. Sorry nih udah bikin lo nunggu.” Bella mengulurkan tangannya pada Hendrik dan dengan sigap Hendrik menjabatnya.
“It’s okey lah, gak masalah. Kita satu kantor tapi jarang ketemu ya…” Ucap Hendrik yang mengabaikan uluran tangan Inka. Hanya tangan Bella yang di jabatnya. Gadis itu mengerlingkan matanya kesal pada tingkah laki-laki perlente ini. Untung ia masih bisa bersabar.
“Yaa wajar, karena kita masing-masing punya kesibukan.” Timpal Bella.
“Eh, makasih.” Imbuhnya saat tiba-tiba Hendrik menarikkan kursi untuknya duduk.
Laki-laki itu tersenyum lebar seraya mengangguk.
“Anjirrr, di kacangin gueee…” Gumam Inka lirih. Rasanya ia ingin menghilang dari hadapan Bella dan Hendrik.
“Mau pesen apa nih. Silakan di pilih. Katanya menu makanan di sini enak-enak.” Tawar Hendrik seraya membukakan buku menu dan menunjukkannya di hadapan Bella.
“Thanks.” Sambut Bella.
“Iya lah enak-enak, makanya gue sama Bella sering ke sini dan kita jadikan tempat ini salah satu lokasi syuting kita.” Terang Inka tidak mau kalah.
“Oh ya?! Hahahaha… Gue dong yaaa yang kurang update.” Timpal Hendrik sambil tertawa.
“Kurang sopan juga.” Imbuh Inka lirih sambil ikut tertawa.
“Hahahaha…” Bella balas tertawa untuk menyamarkan suara sinis Inka.
Ia yang mendengar ucapan sahabatnya lantas menepuk kaki Inka di bawah. Rupanya sahabatnya ini masih kesal karena Hendrik tidak menjabat tangannya. Ini tanda awal laki-laki ini menunjukkan perbedaan sikap dalam memperlakukannya dan Bella.
“Dek!” Panggil Inka pada salah satu pelayan.
“Siap kak!” Sahut Dimas dengan cepat. Ia bergegas mengambil catatan menu dan ballpoint.
“Tumben bukan Ibra yang nyamperin kita?” Inka jadi mempehatikan Ibra yang tetap memilih diam di meja bar.
Bella ikut menoleh dan benar saja Ibra terlihat acuh. Padahal biasanya anak itu akan segera menghampiri saat melihat Bella datang ke café. Tapi kali ini, ia sibuk sendiri dengan lap di tangannya untuk membersihkan meja bar.
Hanya sesekali ia memperhatikan Bella. Dan saat Bella balas menatapnya, anak itu pergi menghindar. Mungkin ke dapur.
“Mau pesen apa kak?” Tawar Dimas dengan senyumnya yang cerah.
“Gue mau pesen kayak biasa, minuman yang lo racik special buat naikin mood gue. Dua sama Bella. Tambahannya gue mau nasi ayam goreng mentega yaaa. Laper banget gue belum makan. Lo makan apa Bell?” Tawar Inka.
“Potato wedges aja deh.” Pesan Bella.
“Diet lo?” Inka di buat penasaran dengan pilihan menu Bella.
“Okey, gue buatin dulu ya.” Ujar Dimas.
“Eh ngomong-ngomong si Ibra kemana? kok gak nyamperin ada idolanya dateng ke sini?” Tanya Inka yang penasaran.
Pura-pura acuh namun Bella ikut menyimak.
“Ada di belakang. Beberapa hari ini dia murung terus, kurang sehat kayaknya. Nanti gue suruh dia yang nganterin makanannya yaaa kalau kak Bella kangen.” Ledek Dimas.
“Ehh gak usah kalau dia lagi sakit.” Sahut Bella refleks.
“Ehh cieee khawatir niyeehh.. Biasanya acuh-acuh aja.” Dimas kembali meledek dan Bella terlihat gelagapan. Bisa saja anak kecil ini menggodanya.
“Berisik lo! udah cepetan bikinin makanan gue. Laper nih!” Protes Inka.
“Hahaha.. Siap kak.” Dimas melakukan hormat singkat dan berlalu pergi.
“Dasar tuh bocah labil.” Ucap Inka sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Dimas.
Sementara Bella hanya terdiam, memikirkan ucapan Dimas kalau Ibra sedang sakit. Benarkah? Kenapa ia jadi resah? Apa ia mulai mencemaskan anak itu?
“Kalian kenal baik rupanya sama pelayan-pelayan di sini?” Suara bass Hendrik menyadarkan Bella dari lamunannya.
“Iyaa. Soalnya gue sama Bella sering ke sini.” Aku Inka, sementara Bella hanya tersenyum mengiyakan ucapan Inka.
“Okey, jadi ada apa nih kalian berdua ngundang gue ke sini?” tanya Hendrik yang penasaran. Ia menatap Bella dengan hangat seraya tersenyum.
Baru kemarin ia bertanya kabar Bella pada Roni dan siapa sangka hari ini Inka mengajaknya bertemu bersama Bella.
“Em, jadi gini. Gue perlu bantuan lo buat nyari info dan pedekate sama salah satu brand pakaian terkenal yang mau gue ajak kerja sama buat endorsement. Tapi kayaknya mereka selektif milih high quality influencer doang tuh yang di ajak kerja sama. Sementara kita perlu banget buat kerja sama sama mereka.” Terang Inka dengan menggebu-gebu.
“Influencer-nya siapa Bell? Lo kah?” Tanya Hendrik yang menatap Bella sambil menopang dagunya, memandangi Bella yang hari ini terlihat cantik menurutnya. Tidak, setiap hari ia terlihat cantik bagi Hendrik.
Inka langsung menyikut Bella saat ternyata Bella yang lebih mendapat perhatian Hendrik dan ingin ia ajak bicara.
Bella tersenyum tipis, seolah paham maksud Inka.
“Bukan gue. Tapi salah satu pemeran utama di project film sekarang.” Terang Bella.
“Hah, pemeran utama film? Jangan bilang artist yang lagi naik daun dan ngerebut pacar lo? Bener?!” Sergap Hendrik seraya menunjuk Bella.
Bellla terhenyak kaget dengan pertanyaan Hendrik, begitu pun Inka. Ia tidak menyangka kalau Hendrik tahu tentang gossip yang beredar.
“Eh, elo kalo ngomong! Lakii kok rumpi!” Dengan tegas Inka menepuk telunjuk Hendrik yang tertuju pada Bella.
Tanpa sadar Hendrik menunjukkan prilaku aslinya dan sudah pasti ini bukan salah satu kriteria dari laki-laki yang Bella sukai.
"Lo aman Van." Batin Inka tersenyum lega. Hendrik tidak akan pernah menjadi saingan Devan.
“Eh sorry. Gue cuma kaget aja.” Hendrik segera menurunkan tangannya lantas menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Ia sadar dengan kesalahan yang dilakukannya.
“Sorry ya Bell, gue gak maksud bikin lo sedih.” Tiba-tiba saja air muka Hendrik berubah. Air muka mengasihani yang sangat tidak ia sukai.
Bella hanya tersenyum kelu, tidak menimpali kalimat Hendrik.
“Engagment artis ini sama fansnya sangat bagus. Dia membangun komunikasi yang intens dan gaya dia berpakaian bener-bener menjadi kiblat fans-nya. Jadi gue harap lo bisa bantu buat promo dia ke brand ini buat dapat endorsement.” Bella lebih memilih melanjutkan kalimatnya, walau terlihat gamang.
Hendrik terangguk paham.
“Okey, gue bantu. Cuma, boleh gue nanya?” Raut wajahnya berubah khawatir.
“Ya, silakan.” Bella masih berusaha tersenyum, seperti ekspresi mengasihani Hendrik terhadapnya tidak berarti apa-apa.
“Lo yakin mau bantuin musuh lo? Lo gak sakit hati gitu Bell?” Tanya Hendrik perlahan. Ia menatap Bella penuh rasa penasaran.
Bella terdiam sejenak. Ia tampak berpikir tapi senyum itu kembali terlihat.
“Gue lagi bantuin Inka.” Bella menyentuh bahu Inka yang melorot setelah mendengar pertanyaan Hendrik.
“Dia kesulitan menuhin kemauan artist ini untuk masalah outfit. Dan sedikit banyak ini mengganggu proses syuting kami. Jadi gue harap, lo bisa bantu Inka juga.” Tegas Bella tanpa menurunkan pandangannya sedikitpun. Ia sangat yakin dengan yang diucapkannya.
Inka tidak bisa berkata-kata. Matanya terlihat berkaca-kaca saat mendengar ucapan Bella. Di tatapnya wanita di sampingnya yang duduk dengan tegak. Ia sangat berani. Bukan menghadapi Amara, melainkan menghadapi dirinya sendiri. Bukankah itu lebih sulit?
Hendrik terangguk paham.
“I’ll try my best Bell. Buat dukung lo dan film lo.” Tegas Hendrik dengan tatapan penuh kebanggan pada wanita di hadapannya.
“Thanks. It’s mean a lot, for me.” Sahut Bella dengan senyum tipis yang ia tunjukkan. Cantik. Ya sangat cantik.
Inka hanya bisa menengadahkan kepalanya menahan laju air mata yang tiba-tiba saja ingin menetes. Bella, sebesar ini dukungan dan rasa sayangnya pada persahabatan mereka.
Di kejauhan sana, ada Ibra yang kini memandangi Bella. Ia melihat Bella yang berusaha kuat di hadapan dua orang itu. Tangannya saling mencengkram satu sama lain. Ia benar-benar menguatkan dirinya sendiri dan Ibra tahu itu tdaklah mudah.
“Lo selalu terlalu berbuat banyak buat orang di sekitar lo kak.” Batinnya dengan perasaan yang tidak bisa ia uraikan.
Namun, jika jaraknya dan Bella sejauh ini, bukankah ia tidak akan terlalu menjadi beban Wanita kuat itu?
*****