
Suara tawa terdengar renyah dari meja nomor 6. Dua orang wanita tertawa-tawa melihat tampilan di layar ponsel masing-masing.
“Lo liat yang ini, pedes banget tau. Kalau gue sih bakal nangis.” Amara menunjukkan tampilan di layar ponselnya pada Jihan.
“Ooohh itu kurang sadis, ini nih yang lebih sadis. ‘Gue sumpahin nih si pelakor gak bakalan tenang hidupnya.’” Timpal Jihan, lalu terkekeh.
“Uuuuuhhh takuuttt...” Ucap keduanya bersamaan.
“Hahahahaha...” Beberapa saat kemudian mereka kembali tertawa, dengan gaya yang anggun dan elegan.
Adalah postingan Bella, yang saat ini menjadi bahan tertawaan Jihan dan Amara. Sudah sejam lalu mereka berada di cafe ini dan berbincang soal Bella.
“Lo kok begok banget sih dulu bisa temenan sama cewek kayak gitu?” Jihan menaruh ponselnya lalu mengambil gelas berisi minuman beralkohol untuk ia teguk.
“Tersilap hamba mulia." Amara mengangguk takjim pada Jihan dan membuat wanita itu tersenyum sinis mendengar ucapan pleonamse Amara.
"Yaaa sejujurnya itu tameng aja sih buat gue." Amara memainkan jarinya di atas permukaan gelas yang ada di hadapannya. melingkar, mengikuti lengkungan gelas searah jarum jam.
Pikirannya menerawang mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Anak-anak sekelas jadi nggak berani gangguin gue kalau gue deket sama anak itu. Padahal gue juga gak mau-mau banget deket sama dia. Cuma gara-gara ada Rangga aja gue mau bareng sama dia.” Terang Amara, ikut meneguk minumannya yang hanya jus jeruk.
“Hahahaha,,, Jahat lo!” Jihan tertawa renyah mendengar sahutan Amara.
“Iya!! Sok-sokan banget dia ngebelain gue depan anak-anak.” Amara berdiri dari tempatnya lalu berkacak pinggang.
“Heh, siapapun yang berani bully dan gangguin Ara, bakalan berhadapan sama gue. Gue gak segan buat lapor ke orang tua kalian soal kelakuan kalian di sekolah. Sekolah tempat belajar menjadi pribadi lebih baik, bukan tempat nge-bully!” Ia memperagakan cara Bella berbicara di depan teman-temannya.
Tanpa ia sadari, ucapan Bella saat kelas 1 SMA itu begitu membekas di pikirannya. Hanya kesannya saja yang berbeda, antara saat ia berusia 17 tahun dengan saat ia dewasa seperti sekarang.
“Cuih! Najis gue dengernya.” Ekspresinya langsung berubah sebal setelah mengatakan kalimat itu.
“Hahahaha... Terus orang-orang dungu di kelas lo itu nurut gitu?” Jihan tidak sabar dengan cerita selanjutnya.
“Hahahaha.. Iblis lo emang!” Jihan mengangkat gelasnya mengajak Amara bersulang.
“Iyaa, makanya cocok sama lo. Sama-sama iblis.”
"Hahahaha... " Mereka bersulang dengan elegan di sela tawa renyah keduanya.
Mereka begitu berbahagia menikmati pencapaiannya menghancurkan Bella sedikit demi sedikit.
“Ngomong-ngomong, lo kok gak minum ini? Ini mahal loh.” Jihan mendorong botol minuman mendekat pada Amara.
“Hem, enggak deh. Perut gue lagi kurang nyaman.” Amara mengelus perutnya yang sedikit membuncit walau sudah mengenakan korset.
“Hah, repot lu. Payah!” Jihan kembali meneguk minumannya dengan elegan. Rasa pahit di ujung lidahnya itu menjadi nikmat saat terasa manis di tenggorokan.
Amara hanya tersenyum, ia memandangi gelas Jihan yang kembali kosong dan menuangkan minumannya di sana. Baginya saat ini hanya Jihan yang memahaminya tanpa perlu terlalu terbuka dengan kehidupan pribadi satu sama lain.
“Sampai batas mana lo akan menghancurkan Bella?” Tanyanya, penasaran. Jihan benar-benar tidak bisa di tebak.
“Emm... Sampai mana ya?" Jihan tampak berpikir, membayangkan wajah Bella di pelupuk matanya.
"Paling tidak, sampai Bella memutuskan melompat ke rell kereta atau minum kopi yang gue suguhin. Baru gue ngerasa puas.” Jihan tersenyum sinis, satu alisnya terangkat saat menatap Amara.
Perasaannya selalu terasa lebih baik saat membayangkan Bella berada di bawah kakinya. Sungguh ia tidak menyukai setiap kali ada keberuntungan yang seolah selalu berada di pihak Bella. Bukankah ia yang seharusnya lebih beruntung dari Bella? Ia yang seharusnya mendapatkan segalanya di banding Bella?
“Gue akan ngedukung lo.” Gelas Amara kembali terangkat dan mengajak Jihan bersulang.
“Iya lah. Lo harus tau pihak mana yang bisa ngasih lo manfaat.” Sahutnya penuh rasa percaya diri.
Lagi, satu langkah kemudian ia merasa mampu mengungguli Bella. Ia sangat yakin kalau saat ini Bella sedang menangis darah setelah semakin banyak postingan buruk tentangnya menyebar di dunia maya.
*****