
Studio 3 saat ini menjadi pusat perhatian crew di PH. Deretan kursi yang biasanya di isi oleh penonton bayaran, saat ini di isi oleh para crew yang ingin melihat langsung klarifikasi Amara tentang video dan foto yang beredar.
Mendebarkan, Bella dan Inka menjadi 2 di antara banyak orang yang ikut menyaksikan klarifikasi ini.
Saat ini yang sedang tayang di layar kaca adalah tayangan iklan sebanyak 37 iklan. Sungguh jumlah iklan yang fantastis untuk menjeda tayangan berikutnya. Klarifikasi Amara memang di tunggu banyak orang dan karena trending-nya yang tinggi membuat banyak rekanan memasang iklan di acara ini.
“Okey, tiga menit lagi kita live. Setelah comersial break, kita tayangin dulu videonya baru kita wawancara singkat okey?” ujar Tio dari pengeras suara yang di pegangnya. Ia ikut duduk bersama Bella yang menyaksikan acara ini secara langsung.
“Okey bang.” Luna, sang host mengacungkan jempolnya tanda setuju.
“Via, tolong dong rapihin dulu rambut kak Amara.” Sambung Luna pada make up artist yang ada di back stage.
Tidak lama seorang gadis menghampiri Amara dengan membawa beberapa alat make up untuk merapikan riasan Amara.
“Permisi ya kak.” Ujar gadis itu yang mulai menambahkan beberapa riasan di wajah Amara. Mulai dari bedak tipis sampai lipstick yang di buat lebih terang.
“Muka aja terus yang dibikin cantik, hatinya tetep jelek dan busuk.” Gumam Inka yang sayup-sayup di dengar Bella.
“Ssst! Nanti di denger orang Ka.” Bella menyikut Inka untuk mengingatkan.
Ia tidak ingin yang lain mendengar cetusan Inka yang mungkin akan memancing mereka untuk ingin tahu seperti apa aslinya Amara.
Jujur, Bella menjaga itu. Ia tidak mau orang-orang melihat sisi buruk Amara dan memberi penilaian negative pada Amara. Bella bukan sedang melindungi pribadi Amara melainkan sedang melindungi figur Amara sebagai pemeran utama di film-nya.
“Iya sorry, habis gue gedek sih!” sahut Inka dengan sebal.
Bella hanya menggeleng dan tersenyum. Sahabatnya ini memang tidak bisa menahan emosinya kalau melihat Amara.
“Jaketnya, mau di lepas gak kak. Biar aku bantu?” Tawar Via pada Amara.
Wanita ini memang memakai jaket bomber untuk menyamarkan penampilannya. Ia tidak mau orang-orang melihat kehamilannya. Ya, ia masih berusaha menyembunyikan kehamilannya walau harus kembali memakai korset ketat untuk membuat perutnya tidak lagi kelihatan.
Sesak dan engap sudah pasti, tapi Amara tidak punya cara lain. Baju longgar di tubuhnya memang sedikit menyamarkan kehamilannya. Orang-orang hanya beranggapan kalau Amara lebih gemukan.
"Gak usah, gue lebih nyaman gini." Timpal Amara
“Okey, kita akan live 30 detik lagi.” Seru Tio membuat jantung Amara semakin berdebar.
Di saat yang bersamaan seorang laki-laki duduk di samping Bella dan tidak lain adalah Rangga.
“Lo dateng juga?” sapa Inka pada Rangga. Sementara Bella tetap melihat lurus ke depan.
“Iya. Hay Bell, apa kabar?” Sapa Rangga. Jantungnya selalu berdenyut lembut setiap kali melihat Bella.
Terakhir bertemu adalah saat Bella dan Rangga sama-sama mengurus hak cipta. Tepatnya di kejadian saat Bella meninggalkannya yang menangis sendirian di taman. Sudah cukup lama tapi rasa sedih dan sakitnya masih jelas terasa.
“Baik.” Sahut Bella tanpa niatan untuk bertanya balik.
Rangga hanya mengangguk-angguk, ia jelas melihat Bella tidak ingin terlibat dalam pembicaraan yang lebih jauh. Seperti yang pernah Bella katakan, mereka hanya dua orang asing yang terpaksa bertemu dalam satu pekerjaan yang sama.
Di belakang sana, ada Devan yang ikut memantau sang istri. Ia tidak akan membiarkan jika kemudian Rangga bertingkah macam-macam pada Bella.
Video BTS syuting mereka mulai di putar. Tepatnya adegan saat Bella dan Rangga memerankan tokoh Michael dan Minara. Emosi yang kental dan keterikatan yang kuat antar dua pemain itu membuat video itu terasa sangat nyata.
Tidak heran kalau netizen menyangka ini video sungguhan, sebagai perselingkuhan Rangga dengan Bella.
“Waw, videonya keren yaaa… Saya sampai terbawa nih.” Puji host yang memandu acara.
“Buat penonton di rumah, di tengah-tengah kita, sudah hadir Amara. Aktris cantik yang sedang naik daun. Gimana kabarnya Ra?"
"Baik." sahut Amara pendek dengan senyum tipis yang ia tunjukkan.
"Okeh, kita ngobrol-ngobrol sedikit yaa soal gossip perselingkuhan kekasih anda yang saat ini sangat kencang berhembus. Kami lihat, selama ini anda bungkam soal gossip perselingkuhan ini. Sebenarnya, benar gak sih gossip itu?” tanya Luna dengan kalimat dan ekspresi yang provokatif.
Semuanya hening, mereka menunggu jawaban dari wanita yang kini berusaha tersenyum dan membuat penasaran.
Amara berusaha tenang saat kamera tertuju untuk menangkap ekspresi wajahnya.
Tentu saja ia harus mengatur ekspresi yang di tampilkannya. Jangan sampai ada akun gossip lain yang membahas masalah micro dan macro ekspresinya.
"Menurut kak Luna, apa seorang Amara pantas di selingkuhi?" Timpal Amara dengan percaya diri.
"Hahahha.. Bisa aja kak Amara ini." Luna terkekeh anggun mendengar jawaban penuh percaya diri dari wanita cantik ini. Rupanya Amara cukup bisa memerankan karakternya saat ini.
“Kak Amara ini positif vibes dan di cintai sekali oleh fansnya. Sampai begitu banyak fans yang ikut bersedih waktu ada gossip tidak sedap itu. Beberapa fans sampai berkomentar kalau mereka tidak rela queen mereka di sakiti. Ini ada beberapa komentar nih dari fans Amara. Coba kita liat ya…”
Mereka sama-sama menatap layar besar di belakang mereka.
“Ada juga yang berkomentar, semangat queen, kami akan selalu mendukungmu. Siapapun yang berani menggangu queen, akan kami hajar habis.”
“Waw, mereka terlalu bersemangat yaaa…”
“Apa tanggapan anda soal kejadian ini? Apa benar kalau King sudah mengkhianati queen?” kalimat Luna beruntun pada Amara.
Amara tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaannya. Ia melirik Rangga yang duduk di kursi penonton bersama Bella. Entah mengapa ia selalu merasa sesak setiap kali melihat Bella dan Rangga bersama. Ada perasaan tidak rela saat melihat mereka tampak serasi.
Dan janji laki-laki itu untuk menyembunyikannya, rupanya tidak ia tepati. Rangga nyata-nyata memberitahukan keberadaannya pada Jihan hanya untuk memastikan kalau klarifiikasi ini harus ia lakukan. Akh, ia sungguh kecewa tapi ia hanya bisa menerimanya. Walau menyedihkan, di lubuk hatinya yang terdalam, Rangga tetaplah laki-laki yang ia cintai.
“Saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih untuk fans saya yang selalu mendukung dan menyemangati saya. Jujur saya sangat terharu dengan semua dukungan mereka, mereka adalah sumber kekuatan saya dan keluarga terdekat saya selama ini.” Ini adalah ungkapan terjujur dari lubuk hati terdalam Amara untuk para fansnya.
“Gossip apapun yang menyebar, mereka selalu mendukung saya termasuk saat gossip ini merebak. Mereka ramai-ramai menanyakan kondisi saya, khawatir saya tertekan bahkan depresi. Untungnya saya baik-baik saja. Karena perselingkuhan itu, tidak benar-benar terjadi.” Aku Amara dengan tenang.
Banyak orang yang menghela nafas lega setelah ucapan Amara terakhir tadi namun tidak sedikit orang yang semakin penasaran dengan tanggapan Amara.
“Benarkah? Lalu apa maksud dari video itu? Bukankah di sana jelas kalau King sedang mengungkapkan perasaannya pada wanita lain?” Luna semakin mendesak.
“Ya, benar. Saat itu Rangga sedang mengutarakan perasaan cintanya yang begitu dalam. Kalian mungkin tidak akan berpikir kalau itu hanya potongan scene dari film yang sedang kami garap.” Terang Amara yang sekali lalu menoleh Rangga.
Ia merasakan benar kesungguhan perasaan Rangga pada Bella tapi ia selalu berusaha berpikir kalau itu hanya totalitas Rangga saat ber-acting. Tapi, salahkah kalau ia selalu merasa cemburu?
“Boleh dong cerita lebih banyak soal video itu… Dan kenapa selama ini Amara tidak menanggapi soal gossip ini sampai para netizen berpikir kalau King sudah mengkhianati Queen. Banyak juga komentar pedas yang menghujat wanita di video itu. Gimana nih tanggapan Amara?”
Amara mulai gugup, ia berusaha mengingat script yang diberikan Jihan padanya pagi tadi.
“Di video itu, Rangga memerankan tokoh Michael, kekasih dari Minara. Ya sebenarnya itu salah satu scene yang saat itu Rangga kesulitan untuk memerankannya. Kebetulan Bella adalah script writer kami. Dia membantu Rangga untuk berlatih.”
“Oh, jadi itu sesi Latihan?” Luna berusaha menyimpulkan.
“Iyaa, itu sesi latihan. Saat itu Rangga sangat gugup dan beberapa kali blank. Beruntung Bella bisa membantu Rangga berlatih jadi scenes itu bisa kami dapatkan dengan sempurna.”
“Lalu, soal anda tidak menanggapi gossip ini, apakah Amara memang sengaja membiarkannya?” pertanyaan Luna ternyata di luar prediksi.
Devan sudah khawatir saja kalau Amara akan asal menjawab dan membuat masalah ini bukannya selesai tapi malah semakin runyam.
“Em, sebenarnya kami bukannya membiarkan yaa… Saat itu syuting masih berjalan dan kalau saya menanggapinya, takutnya malah jadi spoiler. Saya memilih menanggapi sekarang karena, proses syuting kami sudah selesai dan kami harap dengan video itu bisa membuat penonton penasaran. Kalian pasti penasaran dong seperti apa sih adu acting saya dengan Rangga sebenarnya? Saat berlatih saja sudah sebagus itu, padahal Rangga tidak memerankannya dengan saya, apalagi adegan aslinya. Kami pasangan kekasih, emosi kami lebih kental dari itu.” tegas Amara yang kali ini tegas menoleh Bella.
Bella tidak bergeming, ia hanya berpikir kalau jawaban Amara cukup bijak.
“Jadii, kalau kalian penasaran gimana dengan acting aku dan Rangga, jangan lupa nonton film-nya yaa… Di jamin bapeer!” Ucap Amara dengan senyum yang sempurna.
“Waahh, benar-benar tidak di sangka yaa.. Kita semua mengira kalau itu memang sebuah perselingkuhan tapi ternyata hanya video latihan loh…”
“Iyaa betul sekali, hanya video latihan saja.” Sahut Amara dengan penuh percaya diri.
“Okey. Lalu bagaimana dengan gossip kalau, Rangga dan Bella adalah mantan kekasih. Apa itu benar?” lagi, pertanyaan Luna di luar dugaan.
Senyum merekah Amara langsung memudar. Ia mengepalkan tangannya saat mengingat kalau Bella adalah masa lalunya Rangga.
“Tio! Kok lo nyuruh Luna nanya itu sih?” Adalah Inka yang meradang di kursi penonton.
“Lah, gue gak nyuruh Ka. Lo liat aja, gak ada di script buat pertanyaan itu!” Tio menyerahkan script di tangannya pada Inka.
Cepat-cepat Inka membacanya dan ternyata memang tidak ada.
“Udah, lo comersial break dulu. Kita siapin dulu jawaban buat Amara.” Pikir Inka dengan cepat sambil membenamkan script di tangan Tio dengan kasar.
“Gak bisa Inka, masih 8 menit lagi menuju iklan.” Timpal Tio.
"Brengsek lo emang!" Inka segera merebut headset di kepala Tio dan memakainya.
“Luna, ini gue Inka.” Panggil Inka pada Luna.
Gadis itu tampak menoleh ke bangku penonton.
“Ganti pertanyaan lo sekarang, itu gak ada di script!” ujar Inka dengan penuh penekanan.
Luna hanya terdiam di tempatnya. Namun bukannya mengganti pertanyaan ia malah mematikan microphone di dadanya beberapa saat sebelum berbicara dengan Inka.
“Sorry Ka, itu pertanyaan request dari seseorang. Udah terlanjur gue tanyain juga.” Sahut Luna seraya melirik Jihan.
“Shi^!” dengus Inka seraya melepas headsetnya dengan kesal.