Bella's Script

Bella's Script
Apakah ia benar-benar Rangga?



Menjelang malam, pulang dari Bogor Bella dan Devan langsung menuju apartemen Devan. Mereka membawa barang-barang Devan yang tidak terlalu banyak sebenarnya.


“Kata nyokap kalau lo kesulitan buat bersih-bersih, lo bisa minta bantuan mamah buat nyariin ART paruh waktu.” Ujar Bella, meneruskan pesan yang disampaikan Saras padanya.


“Sampein makasih gue ke nyokap lo, tapi gue bisa bersihin apartemen gue sendiri.” Timpal Devan yang menoleh Bella.


Gadis itu masih asyik berbalas pesan, yang entah dengan siapa. Ia memang pandai membagi fokus pada banyak pekerjaan.


“Perlu di kirim alat makan juga gak?” kali ini berganti Bella yang menoleh laki-laki itu.


Saras memang tidak sempat membantu packing barang Devan karena ia harus ke toko untuk menyelesaikan pesanan baju milik langganannya. Sehingga hanya Bella dan Devan yang beres-beres, di bantu Ozi sebagai juru tunjuk. Ya, Bella menyebutnya sebagai juru tunjuk, apa-apa yang kurang, Ozi yang mengarahkannya.


“Gue bisa beli di supermarket deket kantor. “Tegasnya.


Bella hanya mengangguk dan meneruskan ucapan Devan pada Saras.


“Halo yang?” suaranya berubah manis saat dering telpon menyudahi ketikan jarinya. Sudah bisa di pastikan kalau itu dari Rangga.


“Aku lagi di jalan, bentar lagi nyampe. Kamu dimana yang?” Bella sempatkan untuk melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


“Okey, nanti kalau udah nyampe aku shareloc. Gak jauh kok dari kantor.” terang Bella.


Panggilan langsung terputus.


“Cowok lo?” tanya Devan penasaran.


“Iya. Dia mau ketemu, katanya ada yang penting. Berapa lama lagi sih? Perasaan tinggal belok di depan kan?” Bella celingukan memperhatikan jalanan yang dilaluinya.


“Lo gak salah mau share alamat apartemen gue?” Devan tidak habis pikir dengan yang dilakukan Bella. Bagaimana kalau Rangga sampai meradang dan berpikir macam-macam karena ia membantu Devan pindahan.


“Gak usah kegeeran lo!” sengitnya dengan senyum meledek.


“Pacar gue, gak bakal cemburu sama lo. Gue udah bilang sama dia, kalau gue gak ada hubungan apa-apa sama lo. Lo bukan tipe gue banget. Lagian kalau gue diem-diem bantuin lo terus tiba-tiba dia tau, itu bakal lebih berabe. Mending terbuka dari awal. Gue gak mau bikin dia berpikir macam-macam soal gue sama lo.”


“Inget, kunci sebuah hubungan itu adalah keterbukaan, you know!” tegas Bella dengan penuh percaya diri.


“Baik suhu, terima kasih atas masukannya.” Ledek Devan sambil mengangguk takjim pada Bella.


Bella hanya terkekeh mendengar ucapan Devan. Ada-ada saja menurutnya. Sementara Devan hanya tersenyum simpul melihat Bella yang tertawa dengan renyah.


"Ngomong-ngomong, lo ada pacar atau yang lagi deket sama lo gitu?" Bella balik bertanya sambil memincingkan matanya penuh selidik.


"Kenapa jadi bahas gue? Kan yang mau ke sini pacar lo." timpal Devan dengan santai.


"Yaaa,,,, Kali aja ternyata lo udah punya pacar terus malah dia yang salah paham sama gue." Melirik Devan dengan sudut matanya, laki-laki itu tidak berekspresi apapun.


"Eh tapi, gak mungkin lah dia cemburu sama gue. Selera lo juga pasti bukan gue. Bisa gue bayangin selera lo itu mirip-mirip mba Jihan kali ya, cantik, anggun, pinter, type princes lah ya..." Bella terkekeh sendiri dengan gambaran di kepalanya saat membayangkan Jihan dengan Devan.


"Memangnya kenapa bukan kayak lo?" sahut Devan tiba-tiba, membuat Bella bungkam seketika.


Berganti Devan yang melirik Bella lantas tersenyum dan memalingkan wajahnya.


"Ya karena gak mungkin lo suka cewek kayak gue." hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Bella. Entah mengapa perasaannya jadi tidak menentu.


"Kenapa gak mungkin?" kali ini Devan menatap Bella lekat, membuat wanita itu berpikir keras mencari jawaban di kepalanya. Kenapa pikirannya malah kosong?


Membiarkan wanita itu berpikir, Devan memilih untuk memarkirkan mobilnya di depan apartemen.


"Lo spesial Bell, cuma sering kali lo gak sadar." Lanjutnya ringan.


Bella hanya terpaku di tempatnya sambil mengernyitkan dahi menatap Devan, baru kali ini kulkas 4 pintu memujinya.


"Itu cowok lo bukan?" ucapan Devan menyadarkan Bella yang masih berpikir. Devan berbicara seolah ia tidak memiliki maksud apapun tapi membuat Bella kaget dengan ucapannya.


Terlihat Rangga yang datang dengan mobil SUVnya.


"Eh iya." beruntung pikirannya kembali.


“Lo terusin ya, gue mau nyamperin cowok gue dulu.” Bella memberikan satu dus barang milik Devan yang ia taruh di atas pahanya.


“AWH!!” Devan hanya mengaduh saat ternyata dus yang di bawa Bella cukup berat. Gilaaa, tidak sekalipun ia mendengar Bella protes saat memangku dus ini.


Dari tempatnya Devan pun memperhatikan Bella. Bibirnya tersenyum tanpa diminta seperti ucapan barusan yang tanpa sadar meluncur begitu saja dari mulutnya.


“Hay sayang….” dengan riang Bella menyambut Rangga turun dari mobilnya.


Rangga turun dengan wajah yang tidak terlalu bersahabat.


“Kamu ngapain bantuin dia pindahan?” tanya Rangga saat melihat barang-barang Devan di turunkan dari mobil.


“Em tadinya, mau di bantuin bang Ozi aja, tapi abang masih kurang sehat. Mamah juga ada kerjaan yang harus di selesein jadi ya cuma aku yang bisa bantu.” Terang Bella dengan santai.


Rangga hanya berdecik saat bertemu pandang dengan Devan yang acuh.


“Gimana yang, ada apa?” Bella segera membawa Rangga untuk duduk di taman depan apartemen Devan.


“Ada yang mau aku omongin.” Ujarnya dengan tergesa-gesa.


“Tentang?” Bella mencondongkan tubuhnya pada Rangga.


“Aku denger kamu bikin script lagi?” tanya Rangga, yang lebih terdengar sebagai pertanyaan untuk mengintrogasi.


“Em, iyaa… Aku sekarang memang pindah ke departemen penyutradaraan dan lagi bikin script buat film, emang kenapa yang?” Bella balik bertanya.


Ia memang belum sempat berbicara dengan Rangga soal kepindahannya ke departemen penyutradaraan karena mereka jarang menemukan waktu untuk berbicara membahas tentang satu sama lain.


“Kenapa kamu gak bilang sama aku?! Kenapa aku harus tau dari orang lain?!” gertak Rangga yang membuat Bella tersentak.


Bella mematung di tempatnya, ia masih sangat terkejut. Ia pikir, hal ini tidak akan menjadi masalah bagi Rangga. Lagi pula selama ini Rangga tidak masalah saat ia membuat sinopsis cerita atau kerangka program televisi. Baru kali ini mempermasalahkan pekerjaannya.


“Yang, aku memang,”


“Oh, sekarang kamu emang udah nggak nganggap aku Bell?!” suara Rangga semakin meninggi.


“Yang, bentar, kamu mikirnya kejauhan. Aku bukan gak nganggap kamu. Aku cuma,”


“DIAM!!!!” bentak Rangga tidak kalah keras dari sebelumnya, membuat Bella refleks menutup telinganya dengan kedua tangannya yang gemetar.


Devan yang mendengar hal itu segera mendekat, namun Bella memberi isyarat untuk tidak mendekat. Akhirnya ia hanya memperhatikan dari kejauhan.


“Yang, kamu kenapa sih? Kenapa tiba-tiba marah kayak gini. Aku emang pindah departemen dan belum sempet cerita sama kamu karena belakangan ini kamu sibuk. Jadi aku pikir,”


“OH, jadi sekarang aku yang salah. IYA?! GITU BELL?!” lagi Rangga bersuara keras. Tidak memperdulikan orang yang melintas menatap mereka dengan aneh.


“Enggak, enggak gitu.” Bella menarik nafas dalam untuk menenangkan dirinya sendiri. Entah ada apa dengan Rangga yang tiba-tiba marah-marah seperti ini. Semua yang di jelaskan Bella menjadi salah di mata Rangga.


“Aku minta maaf kalau aku salah karena belum cerita. Tapi aku baik-baik aja kok walaupun nulis script. Aku bisa menyelesaikannya dengan baik. Dan malah bentar lagi di produksi yang. Kamu nggak usah khawatir…” Bella berpikir mungkin Rangga khawatir ia terpuruk.


“Khawatir? Sama kamu?” sinis Rangga penuh penekanan. Matanya menyalak penuh kemarahan.


“Bukannya kamu yang khawatir karir kamu terganggu sama aku sampai kamu gak ngomong apa-apa!!!"


"Kamu selalu mau berada di depan aku dan aku di belakang kamu agar kamu bisa mengaturku ini dan itu. Iya kan?!"


"Kamu juga pengen nunjukkin ke aku kalau kamu selalu lebih mampu dari aku. IYA KAN BELL?!!!” kali ini Rangga berteriak di depan telinga Bella hingga Wanita itu gemetaran.


“Yang,, aku..” suaranyapun parau. Tertunduk takut seraya berusaha meraih tangan Rangga untuk ia tenangkan. Ini usaha terakhirnya. Namun Rangga mengibaskannya.


“BRENGSEK KAMU BELL?!!! AKU BISA LEBIH DARI KAMU BELL!!!”


“BUK!!!”


Tanpa di sangka kibasan tangan Rangga mengenai wajah Bella membuat ia jatuh terhuyung. Bella hanya bisa mengaduh kesakitan.


“HEH! BRENGSEK LO Rangga!!!!” seru Devan yang sudah habis kesabaran.


Dengan segera ia menghampiri Rangga dan melayangkan bogem mentah ke wajahnya.


“BUK!!” pukulannya berhasil mengenai pipi kiri Rangga. Laki-laki itu pun terhuyung jatuh di hadapan Devan.


Devan masih belum berhenti, ia menghampiri Rangga, mencengkram kerah bajunya dan bersiap mengangkat kepalannya hendak memukul kembali Rangga.


“DEVAANN!!!” seru Bella.


Ia bergegas bangun dan menahan tangan Devan.


“Tolong berhenti Van,” lirih Bella dengan tangis tertahan. Tangannya gemetaran memegangi tangan Devan.


“Gue mohon, lo berhenti, jangan libatin diri lo dan bikin semuanya tambah runyam.” imbuhnya saat Devan masih belum menurunkan tangan dan cengkramannya.


“BUK!” akhirnya Devan melepaskan cengkramannya dan mendorong tubuh Rangga menjauh. Laki-laki itu meringis, menahan sakit di pipi kiri dan punggungnya. Ia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.


“Lo gak apa-apa Bell?” perhatian Devan beralih pada Bella. Dengan nafas yang terengah ia menghampiri Bella. Ia tidak menyangka kalau Rangga akan melakukan hal seperti ini.


“Bukan urusan lo!” tolak Bella. Ia segera menghampiri Rangga yang kesulitan bangkit. Pukulan Devan terlalu telak.


“Kamu gak apa-apa yang?” tanya Bella dengan tangis tertahan. Ia berusaha menggapai wajah Rangga dengan gemetar. Matanya sudah basah dengan air mata di tambah lebam yang terlihat jelas di sudut mata kanannya.


“Minggir kamu!” ia mengibaskan tangan Bella yang mau menyentuh wajahnya.


Dengan sempoyongan ia berusaha bangkit.


“Urusan kita belum selesai!” ujar Rangga seraya menunjuk wajah Devan.


Devan tidak bergeming. Tidak ada rasa takut sedikitpun di benaknya. Rangga pun menunjuk Bella tanpa mengucapkan apa-apa. Terlihat sekali kalau ia sangat marah.


“Ga, tunggu Ga,” Bella berusaha mengejar Rangga yang mau masuk ke mobilnya.


Namun Rangga mengabaikannya. Dengan cepat ia menyalakan mesin mobil dan menancap gas, hingga hanya menyisakan kepulan asap knalpot di depan Bella.


"RANGGA!!!!" seru Bella.


Namun Rangga tetap pergi. Tanpa berkata apapun tanpa mengatakan maaf karena tanpa sengaja melukai Bella.


Ada apa sebenarnya dengan Rangga? Ia sedang tidak mabuk bukan?


****