
“Hay,,” Sapa Bella saat menghampiri Devan di meja kerjanya.
“Hay..” Sahut Devan seraya melepas headset-nya. Ia menghentikan segala aktivitasnya dan memfokuskan atensinya pada Bella.
“Kopi lo.” Bella menaruh secangkir kopi di hadapan Devan. Laki-laki ini tengah serius mengecek pengambilan scene hari ini.
“Thanks. Mau join?” Devan menyodorkan satu headset lainnya.
“Hem.” Bella memakai headset tersebut dan ikut mencondongkan tubuhnya mendekat pada layar yang tidak terlalu besar sehingga memaksa mereka harus berdekatan.
“Ekspresinya sudah jauh lebih natural.” Puji Devan pada beberapa peran Rangga.
“Iyaa…” Bella tersenyum melihat pencapaian hari ini.
Mendengar Bella hanya menjawab singkat, Devan jadi menoleh. Tanpa sadar ternyata jarak mereka sangatlah dekat. Ia bisa melihat mata Bella yang berbinar dengan bulu mata yang lentik alami.
“Kalau pengambilan gambarnya bisa secepat ini tiap scene-nya, kita bisa selesai cepat. Iya gak sih Van?” Ujar Bella penuh harap. Kalau semuanya cepat selesai tentu ia bisa segera pulang dan bisa melihat langsung kondisi sang kakak.
Devan sangat menghargai usaha Bella untuk bersikap profesional selama bekerja. Walau pikirannya terbagi-bagi namun ia bisa tetap memberikan perhatian penuh pada pekerjaannya.
Mendapati Devan yang hanya terdiam, Bella menolehnya hingga tanpa sengaja keduanya kini saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat.
Devan bisa merasakan kegelisahan Bella yang pasti mencemaskan sang kakak. Namun lebih itu, iapun tengah gelisah melihat wajah Bella dari jarak sedekat ini. Beberapa saat Devan merasa jantungnya begitu bergemuruh, detakannya sangat cepat hingga serasa mau pecah. Wajahnya menghangat, terlebih saat melihat Bella berusaha tersenyum agar tidak membuat Devan cemas.
“Lo capek banget kayaknya…” Komentar Bella, melihat wajah Devan yang kuyu.
Inilah Bella, selalu lebih mencemaskan orang lain di banding dirinya sendiri.
“Hah, nggak kok.” Cepat-cepat Devan memalingkan wajahnya.
Ia bisa memperkirakan wajahnya yang kini memerah bercampur lelah.
Harus ia akui kalau ia memang sengaja mempercepat semua scene, memberikan pengarahan dengan sangat detail agar tidak terlalu banyak waktu yang terbuang hanya untuk mengulang adegan yang sama.
“Lo gak pinter berbohong. Harusnya gue gak ngasih lo kopi, biar lo bisa istirahat dengan cepet.” Lanjut Bella yang kembali menatap layar di hadapannya.
“Gue masih mau mengoptimalkan waktu gue di sini. Kalau judulnya cuma tidur, ya mending di rumah.” Timpal Devan apa adanya.
“Lo bener. Waktu kita di sini cuma sebentar jadi harus dimaksimalin. Lagi pula, tempat ini sangat indah. Pasti banyak yang bisa di explore alih-alih menghabiskan waktu untuk tidur.” Bella tertegun seraya memandangi lingkungan sekitarnya.
Alam yang masih asri, hembusan angin yang sejuk dan suara-suara alam yang memberikan banyak ketenangan. Bisa ia bayangkan seperti apa indahnya tempat yang belum terjamah oleh para pengunjung seluruhnya.
“Lo mau berkeliling?” Tawar Devan tiba-tiba.
“Emang lo tau tempat ini?” Bella tersenyum kecil membuat Devan terpesona saat melihat bibir merah muda itu merekah, bersanding cantik dengan barisan gigi Bella yang rapi dan bersih.
“Kita bisa cari tau dulu. Mungkin bertanya ke masyarakat sekitar atau nanya tour guide yang ada di sekitar sini.” Usul Devan yang berbicara antusias tanpa mengalihkan pandangannya dari Bella. Rasanya ia sangat betah memandangi wajah cantik ini.
“Okey,,,” Bella mengangguk-angguk saja setuju.
Devan tersenyum senang, akhirnya ia bisa memiliki waktu lebih yang ia habiskan khusus bersama Bella.
“Belll…” Panggil seseorang yang membuat Bella dan Devan kompak menoleh.
“Hay, bawa apa lo?” Bella langsung beranjak saat melihat Inka membawa sebuah dus besar di tangannya. Inka sampai kepayahan.
"Baju!" Sahutnya, menggunakan lengannya untuk melap keringat dengan kasar.
“Biar gue aja.” Devan segera mengambil alih saat melihat tangan Bella yang hendak meraih dus di tangan Inka. Berat juga.
“Thanks.” Sahut Bella.
“My pleasure. Mau di bawa ke mana ini?”
“Mau di masukkin ke mobil. Ini kiriman endorse-nya Amara. Tadi udah satu dus yang di anterin crew dan ini sisanya.”
Mereka berjalan menuju mobil yang terparkir.
“Lo bisa nemenin gue ke Vila gak Bell? Gue takut sendirian. Kayaknya pulangnya bakalan cukup gelap.” Inka memperhatikan sekitar yang mulai sore.
Cahaya matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
“Boleh dong. Mau berangkat sekarang?” Tawar Bella.
“Hem, biar pulangnya gak kemaleman.”
“Mau gue anter?” Tawar Devan.
“Gak usah, lo lagi ada kerjaan kan? Lo terusin aja dulu, biar waktunya istirahat semua orang juga istirahat. Lo juga kayaknya capek, nyampe sini langsung take syuting gak pake istirahat.” Inka memang sangat pengertian.
“Okey, hati-hati di jalan.” Devan membukakan pintu mobil untuk Bella dan menutupnya kembali setelah Bella duduk dengan nyaman.
Dengan satu injakan gas, Inka membawa mobil melaju menuju jalanan sempit khas pegunungan. Mereka menikmati pemandangan asri yang mereka lewati untuk menuju Vila.
“Kayaknya enak yaa kalau tinggal di tempat kayak gini. Adem, tenang, bisa fokus kalau mau nulis.” Ujar Bella.
Ia menurunkan kaca jendela semakin lebar dan melihat keluaran sana seraya menopang dagunya dengan tangan kiri.
Bisa ia lihat petani yang baru pulang dari ladang, masing-masing dengan keranjang yang mereka panggul di punggung dan penutup kepala yang khas. Mereka berjalan berduyun-duyun sambil berbincang. Bella mengangguk takzim saat berpapasan dengan mereka.
“Tapi di sini jauh kalau lo mau ke al*amart. Susah juga kalau malem-malem lo laper dan pengen makan ayam goreng atau pizza. Ujung-ujungnya pasti mie kuah.” Kali ini Inka tidak sepemikiran.
“Loh bukannya itu bagus? Kita jadi bisa nerapin pola hidup sehat. Tiap saat paru-paru kita terisi udara baru dan segar, kulit kita bakalan selalu lembab dan gak kering. Pencernaan kita sehat karena yang di makan seringnya sayuran dan buah segar bukannya fastfood. Lo liat aja sayuran di mobil itu seger banget, pasti enak banget di jadiin salad.” Terang Bella yang sedang bermain dengan imajinasinya.
Walau ia tidak pandai memasak, ia membayangkan betapa kerennya bisa meramu bahan segar itu menjadi makanan enak dan menatanya dengan cantik seperti yang kerap ia lihat di tayangan beberapa akun media sosial yang sedang booming saat ini.
“Yaaa, selera orang kan beda-beda Bell. Kalau gue sih prefer tinggal di kota besar. Karena akses mudah, mau ini itu gampang. Kalau lo tipe yang suka berdiam diri di tempat sepi sambil ngayal, ya kayaknya cocok.” Inka ikut mengamini.
“Hem,,, Iyaaa… Bisa gue bayangin, tinggal di sini pasti nyaman banget…” Tutur Bella dengan penuh harap.
Tidak jauh dari tempat mereka berada, sudah terlihat sebuah Vila besar dengan pelataran halaman yang luas. Beberapa mobil terparkir di sana, salah satunya mobil Amara.
“Vilanya yang itu ya?” Tunjuk Bella.
“Iyaaa, horror gak sih menurut lo? Si Rini katanya mau tidur di vila juga, gak kuat dingin soalnya. Meler mulu dia.” Inka sedikit berbisik karena jarak mereka dengan Vila semakin dekat.
“Em,,, biasa aja sih kalau menurut gue.” Bella merasa Villa itu nyaman-nyaman saja untuk di tinggali.
Laju mobil terhenti dan keduanya segera turun. Mereka membawa satu dus besar itu bersama-sama.
“Wah udah dateng lagi? Sini gue bantuin.” Dengan segera Lisa ikut membantu.
“Di sini aja.” Lisa mengajak mereka untuk menaruhnya di atas meja makan yang berukuran sangat besar.
"Baiknya lo perlu rekrut anggota tim cowok deh, soalnya kayaknya kedepannya bakalan sering dapet paket gede-gede gini." Saran Inka.
"Iya harus gue pertimbangin kayaknya." Lisa mencoba mengangkat dus itu sendiri dan benar saja, cukup berat.
“Yang tadi udah mulai di coba-cobain belum?” Inka jadi penasaran dengan paket sebelumnya.
“Iya lagi di cobain. Tuh di kamar.” Tunjuk Lisa pada kamar yang pintunya terbuka lebar.
“Yuk!” Inka menarik tangan Bella. Ia tidak mau menemui Amara sendirian.
Bella mengikuti saja.
Saat pintu di buka lebih lebar, tampaklah Amara yang sedang mencoba beberapa baju. Dengan bebas ia melepas pakaian atasnya, menunjukkan bagian tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian minim padahal di dalam kamar tersebut ada Rangga yang sedang duduk di sofa dan memainkan gitarnya.
“GILLAAKK!! Kayaknya mereka udah biasa kayak gini?” Bisik Inka pada Lisa.
Lisa hanya tersenyum, tidak mengiyakan atapun membantah. Ia menghargai keberadaan Bella di hadapannya.
“Ra, ada Inka sama Bella.” Panggil Lisa agar Amara dan Rangga tersadar keberadaan orang lain.
Rangga tampak terkejut melihat kedatangan Bella. Sorot matanya seolah ingin menjelaskan kalau ia tidak sedang melakukan apapun dengan Amara.
“Masuk aja. Gue lagi nyoba baju-bajunya.” Sahut Amara dengan santai.
“Gue nunggu di luar yaa..” Bisik Bella.Walau sudah pernah melihat lebih dari sekedar yang ia lihat sekarang, namun hal ini tidak lantas membuatnya terbiasa.
“Iyaa..” Dengan berat hati Inka melepaskan genggaman tangannya.
“Temenin gue mba.” Pinta Inka pada Lisa.
“Iya, gue temenin.” Lisa membukakan pintu lebih lebar dan masuk lebih dulu. Di susul oleh Inka yang sedikit merunduk saat melewati Rangga.
Tidak lama dari itu Rangga pun keluar kamar, membuat Amara menatapnya waspada.
“Gimana, bagus kan?” Lisa menunjuk baju yang sedang di coba Amara. Ia ingin mengalihkan perhatian bossnya.
“Bagus.” Inka mengangkat kedua jempolnya.
“Jangan lupa, ini ketentuan posting-nya.” Ia memberikan selembar kertas pada Lisa.
Wanita itu membaca baik-baik instruksi yang ada di kertas tersebut tentang waktu posting, jumlah video feed dan story hingga lama tayang di akun media sosial Amara.
“Okey, nanti gue post sesuai arahan di sini.” Lisa menyanggupi.
“Inka, lo punya kontak orang brand-nya? Bagi dong, gue pengen nyoba jadi BA nya.” Amara yang sedang mematut dirinya di depan cermin, kini menatap bayangan Inka di belakangnya.
“Kontak langsungnya gue gak punya. Paling nanti lo coba tanya anak promotor aja.” Terang Inka. Ia membuka ponselnya.
“Ini kontaknya.” Inka menunjukkan kontak anak promotor pada Lisa.
“Okey.” Sahut Lisa.
Mereka kembali memilihkan baju untuk Amara dan memotretnya beberapa kali.
Istilah Dunia tidak selebar daun kelor, terkadang memang benar adanya. Kemanapun Bella pergi pasti bertemu Rangga. Padahal dulu karena pekerjaan membuat mereka sulit bertemu dan sekarang, karena pekerjaan membuat mereka selalu bertemu.
Seperti saat ini, Rangga menghampiri Bella yang tengah duduk di atas ayunan seraya memejamkan mata. Ia sedang menikmati suasana sejuk dan hening di tempat ini. Hanya suara air kolam yang terdengar mengalir dari saluran bambu yang sengaja di tata dengan aesthetic.
“Tempatnya sesuai impian kamu ya.” Suara Rangga tiba-tiba terdengar dan memecah lamunan Bella.
Bella segera membuka matanya dan menegakkan tubuhnya. Ia harus terbiasa berada pada situasi seperti ini, melihat Rangga di sekitarnya, paling tidak sampai project film selesai.
Dan dengar, laki-laki ini masih mengingat salah satu keinginan Bella untuk memiliki rumah di tempat seperti ini.
“Crew memilih tempat yang tepat buat syuting.” Bella berusaha mengalihkan pembicaraannya pada pekerjaan.
Rangga tersenyum kecil mendengar sahutan Bella. Ia duduk di bangku kecil yang berada di depan Bella lantas menatap gadis itu dengan lekat.
Bella berusaha melihat ke arah lain agar tidak bertemu pandang dengan Rangga.
“Udah hampir 3 bulan berlalu, tapi aku masih belum terbiasa Bell.” Ujar Rangga tiba-tiba.
Entah apa yang ada di benaknya hingga ia tidak ragu berbicara hal seperti ini dengan Bella.
Ia menyatukan kedua tangannya mengerucut, lantas menopang dagunya dengan kedua tangan tersebut. Matanya masih menatap Bella dengan lekat.
“Kadang aku masih merasa kalau kamu masih bagian dari aku. Hah, konyol bukan?” Kini laki-laki itu tersenyum kelu. Ia mengusap wajahnya kasar.
“Saat sampai di tempat ini saja, aku langsung ingat kalau tempat seperti ini adalah salah satu impian kamu. Itulah mengapa suasana seperti ini kamu gambarkan di script."
"Aku bisa bayangin gimana indahnya kalau tempat ini di tata oleh tangan kamu. Pasti sangat cantik dan nyaman.” Ujar Rangga seraya memandangi lingkungan sekitarnya.
Bella tersenyum kecil mendengar ujaran Rangga. Entah apa yang ada di benak laki-laki itu saat ini yang jelas sangat tidak enak untuk di dengar.
“Mimpi aku, udah bukan bagian dari hal yang harus kamu pikirin. Cukup fokus pada isi script yang kamu perankan. Lagian tujuan kita udah jauh berbeda. Dan ingat, waktu yang kamu habiskan untuk terbiasa itu bukan 3 bulan tapi 2 tahun 3 bulan.”
“Udah sepantasnya kamu mengabaikan hal yang bukan lagi urusan kamu dan lebih memikirkan serta menghormati hubungan kamu yang sekarang.” Tegas Bella dengan penuh keyakinan.
Rangga tersenyum kecil mendengar ujaran Bella. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Bella dengan tatapan yang lekat.
“Lalu, apa kamu udah bisa lupain aku? Ada yang hilang gak sih setelah kita pisah?” Tanya Rangga setengah berbisik.
Bella segera menarik tubuhnya menjauh namun tidak lantas menjawab. Ia memilih memalingkan wajahnya dari Rangga. Rasanya tidak perlu juga ia menjawab pertanyaan Rangga karena jawabannya tidak akan mengubah apapun.
“Belakangan, aku sering ngerasa kalau aku udah kehilangan kamu Bell. Sangat kehilangan kamu. Aku pikir, aku yang meninggalkan kamu. Nyatanya, aku yang di tinggalkan.” Lirih Rangga yang sayup-sayup masih Bella dengar.
Bella tidak menimpali. Ia memilih memandangi air jernih yang mengisi kolam di hadapannya. Melihat ikan yang berenang kesana kemari, membuat ia merasa iri. Pasti pikiran ikan-ikan itu selalu tenang, seperti yang selalu ia inginkan.
Dan Rangga, kamu hanya angin lalu yang tidak perlu ada lagi dalam pikirannya.
*****