
Sebelum sampai di rumah sakit, Bella memutuskan untuk menghubungi Inka terlebih dahulu. Ia ingin tahu detail berita yang saat ini beredar dan menggemparkan dunia hiburan. Lihat saja usaha para netizen yang mulai cocokologi tentang gosip yang saat ini berredar. Mereka mulai menerka-nerka siapa sutradara gondrong berinisial D itu.
“Iya Bell, gossip itu tayang beberapa menit lalu di internet tapi sekarang udah nyebar aja, yang komen juga udah ribuan, ceoet banget pokoknya. Dan anehnya gossip hubungan lo sama Amara juga ikut naik. Perang deh sama promo film dan soundtrack Rangga.” Terang Inka melalui sambungan telepon.
“Terus mereka bener-bener nyebut nama Devan apa gimana Ka? Gossip gue sama Amara gossip yang mana lagi yang mereka bahas?” Bella benar-benar pusing di buatnya.
“Kalo gosip Devan sih gak nyampe nyebut nama tapi ciri-cirinya mengarah ke Devan. Gue gak paham aja, itu mereka bikin gossip kok ngadi-ngadi banget ya? Ngarang gak kira-kira pake bikin issue kalo kemungkinan bokap Devan mantan napi pembunuhan. Gila apa mereka?!” Ujar Inka dengan sengit.
Bella tidak menimpali, ia hanya menoleh Ozi yang ada di sampingnya. Inka memang belum tahu kejadian yang sebenarnya. Ia hanya tahu kalau Amri baru datang dan sekarang tinggal di apartemen Devan. Ia tidak tahu persis dari mana asal Amri dan hal detail lainnya.
“Devan udah liat belum beritanya? Gak kebayang, bisa murka dia kalau sampe liat gossip murahan kayak gitu.” Kekesalan Inka bergitu menggebu-gebu dan Bella hanya bisa menahan bibirnya agar tidak mengatakan apapun pada Inka.
“Devan belum liat. Ya, gue harap Devan gak liat deh. Terus soal gossip gue sama Amara, itu gosip apa lagi?” Bella berusaha mengalihkan pembicaraan dengan Inka.
“Gosip lo sama Amara justru bagus. Ini tentang hubungan lo sama Amara di lokasi, gimana lo ngebantu dia sampe kontrak eksklusif sama brand baju terkenal, tentang lo yang support sama kebutuhan dia, pokoknya yang manis-manis deh. Malah ada satu artikel yang menuliskan kalau kalian sangat kompak di lokasi. Gue gak paham dah itu yang bikin berita dari sudut pandang siapa sampe bilang lo sama Amara sedeket itu. Tapi ya patut di syukuri sih karena bukan gossip jelek yang muncul ke permukaan.” Terang Inka panjang kali lebar kali tingggi.
Bella termenung beberapa saat, ia mencoba berpikir.
“Nanti kirimin link gosipnya ya ke gue.” Pinta Bella yang penasaran.
“Iya nanti gue kirimin.” Janji Inka.
“Tapi Bell, yang lebih gila tuh promo soundtrack film. Gue gak tau si Rangga backing-annya siapa, tapi gila tiap titik keramaian lagu-lagu dia yang di puter. Gue sampe hampir hapal itu 6 lagu yang dinyanyiin si Rangga. Anak-anak kecil di lampu merah aja ngamennya nyanyi lagu si Rangga. Padahal promotor kita promonya biasa aja gak sampe meledak-ledak begitu. Aneh kan?” Lagi cerocosan Inka begitu panjang.
Bella sebenarnya tidak mempermasalahkan perihal promo Rangga, tapi dari penjelasan Inka memang terdengar janggal.
“Mungkin dia dapet promotor sendiri. Mba Lisa kan circle nya lumayan luas.” Hanya itu timpalan Bella. Pikirannya masih seperti bola kusut yang penting untuk ia urai.
“Eh, ngomong-ngomong mba Lisa, gue rencana mau nemuin dia. Gue pengen tau yang bikin berita pencitraan lo sama Amara itu siapa? Secara itu ironis banget kan?” Inka dengan pemikirannya yang memang teliti.
“Lo kapan pulang sama mas Bima? Wawancara mas Bima lancar kan? Sorry ya, honeymoon nya malah di ganggu sama gossip kayak beginian.” Kali ini Ozi yang di bahas Inka.
“Lancar. Lo ngomong aja langsung sama abang gue.” Bella memilih memberikan ponselnya pada Ozi. Sepertinya sang kakak belum menceritakan keadaan yang sebenarnya pada Inka. Biar dia saja yang melanjutkan kebohongannya.
Ponsel itu sudah berpindah ke tangan Ozi dan Bella meminta sang kakak meneruskan obrolannya. Sementara Bella segera menuju rumah sakit dan mencari sumber listrik supaya bisa menyalakan ponselnya.
Tiba di ruang tunggu, Bella segera masuk. Ia bisa bernafa slega karena tidak ada seorangpun di sana, termasuk Devan. Bella men-charge ponselnya dan menunggu dengan tidak sabar hingga ponselnya menyala. Walau charger fast charging tetap saja perlu waktu paling tidak sekitar 5 menit agar ponsel Bella bisa di nyalakan.
Setelah ponselnya siap, Bella segera membuka pesan yang di kirim Inka. Ia memutar beberapa video yang di kirim Inka. Dahinya sampai berkerut saking seriusnya menyaksikan 6 video yang di kirim Inka.
“Kamu udah melihatnya?” Tanya sebuah suara yang mengagetkan Bella.
“Hah? Mas?” Bella berusaha mematikkan videonya. Tapi tangannya yang gemetar karena kaget malah membuat ponsel itu jatuh.
Devan memungut ponsel Bella lantas duduk di samping Bella dan memberikan kembali ponsel itu pada Bella.
Wajahnya yang berusaha tenang, seperti ironis dengan perasaannya yang bergemuruh.
“Mas udah tau?” Tanya Bella pada akhirnya. Ia menerima ponsel yang di sodorkan Devan. Sepertinya sudah sia-sia ia diam-diam menonton video itu, layaknya anak sekolah yang sedang diam-diam menonton video dewasa.
“Maaf, udah bikin kamu dan keluarga kamu ikut terjebak dalam masalah aku dan papah ya Bell,…” Ucap Devan dengan sendu. Ia bahkan tidak berani menatap wajah Bella yang mencemaskannya.
“Hey,… Mas ngomong apa sih?” Bella segera meraih tubuh Devan untuk ia peluk. Di banding Bella dan keluarganya, tentu lebih bingung Devan yang menghadapi berita ini secara langsung.
“Mas jangan mikir macem-macem soal aku dan keluarga aku. Yang terpenting sekarang, kita nyari siapa pelakunya. Kita harus waspada, takut-takut gossip itu semakin meluas dan ada orang yang membumbuinya dengan tambahan berita aneh lainnya.” Ucap Bella seraya mengusap punggung Devan untuk menenangkannya dan laki-laki itu tampak tenang, dalam dekapan Bella.
“Aku pikir, mungkin ini tindakan Om Alwi. Dia masih belum puas dengan masalah yang aku hadapi dan dia ingin membuat papah dan aku semakin terpojok.” Ucap Devan dengan lemah. Pikirannya masih belum jernih karena memikirkan dua masalah besar yaitu masalah kondisi Amri dan gossip ini.
“Tapi Mas, ngomong-ngomong soal penyebar berita, aku kok kepikiran sama mba Jihan ya?” Cetus Bella tiba-tiba.
Devan yang sedang bersandarpun segera bangkit dan menatap Bella.
“Maksud kamu?” Ia benar-benar menunggu penjelasan Bella.
“Jadi gini, tadi waktu aku beli makanan buat kita, aku gak sengaja ketemu sama Mba Jihan dan Rangga. Dia bilang, dia baru habis rapat sama stasiun berita yang gak jauh dari sini. Aku gak nanya detail urusan dia apa. Tapi, melihat kondisi sekarang dan track record Mba Jihan yang pernah membocorkan BTS film kita, aku jadinya suudzon sama dia. Mungkin gak sih kalau dia pelakunya? Tapi dia tau dari mana kalau papah pernah kena masalah hukum?” Terang Bella yang sekaligus bertanya.
Devan terangguk kecil mendengar keterangan Bella.
“Kamu perlu tau,papah bilang, alasan papah datang ke sini karena ada fans mamah yang kebetulan mengenali papah. Papah sih gak bilang siapa nama perempuan yang ikut sama papah sampe ke makam mamah dan ikut menangis di sana. Tapi dari ciri-cirinya, aku ngerasa wanita itu pun Jihan. Terlebih stasiun berita itu adalah anak perusahaan om Alwi.” Terang Devan dengan hembusan nafas berat yang jelas di dengar Bella.
Jihan begitu berusaha menarik perhatian Devan. Mungkin ia masih belum puas membalas sakit hatinya atas penolakan Devan terhadapnya.
“Apa? Mas yakin?” Mata Bella sampai membulat tidak percaya sementara Devan mengangguk yakin.
“Kalau begitu, kemungkinan mereka kerjasama dong Mas?” Suara Bella semakin meninggi.
“Bisa jadi. Aku lagi minta bantuan Diego buat ngelacak pembuat berita itu. Dan kalau pengunggah pertamanya benar-benar dari anak perusahaan om Alwi, ya kita udah tahu benar kan siapa pelakunya?” Terang Devan dengan ringan, padahal masalahnya tidak pernah seringan itu.
Bella mengangguk paham. Namun untuk saat ini ia tidak bisa melakukan apapun. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah menggenggam tangan Devan yang dingin. Ia berusaha menguatkan suaminya. Jujur ia sangat geram pada Jihan. Ingin rasanya ia menemui wanita itu dan mengacak rambutnya yang lurus dan bersinar itu hingga membuatnya berantakan. Tapi tahan, semua ada waktunya.
“Aku udah beli bebek bakar buat mas. Aku tau, mungkin mas gak selera untuk makan. Tapi, untuk menghadapi masalah ini, kita butuh tenaga yang banyak. Perut kenyang, jalan keluarpun datang. Iya kan mas?” Hibur Bella di sela suaminya.
Devan tersenyum kecil mendengar ucapan Bella. Ia tahu, istrinya sedang sangat berusaha mendukungnya.
Di kecupnya kening Bella beberapa saat seraya memejamkan matanya. Ia merasa kalau kehadiran Bella seperti darah di dalam urat nadinya. Membuat ia benar-benar merasakan hidup yang sebenarnya dan cinta kasih yang begitu besar.
“Terima kasih sayang. Terima kasih untuk bebek bakarnya. Lebih dari itu, terima kasih karena kamu selalu ada di sisi aku.” Ucap Devan dengan sungguh. Ia pun mengangkat tangan Bella untuk ia kecup dengan cukup lama. Sungguh, ia sangat bersyukur karena Bella hadir di titik terrendahnya.
“Sama-sama. Mas yang semangat ya, kita hadapi masalah ini sama-sama.” Bella balas mengecup tangan Devan yang menggenggam tangannya.
“Hem,…” Devan mengangguk semangat. Seperti ada jutaan semangat yang Bella berikan padanya.
“Okey, sekarang mas makan dulu. Biar aku yang suapin. Walaupun aku gak pinter masak, tapi aku jago dalam hal nyuapin. Okey?” celoteh Bella untuk mengalihkan ketegangan.
“Iya sayang,…” timpal Devan seraya mengusap kepala Bella. Sungguh, ia merasa sangat beruntung.
*****