
Malam perpisahan ini terasa begitu romantis bagi Jihan. Di bawah langit yang di penuhi bintang, ia duduk berhadapan dengan Devan. Laki-laki yang kerap membuatnya tersipu dan merasakan keinginan untuk memilikinya.
Nyala kembang api di kejauhan seperti bintang jatuh yang membuat Jihan memejamkan matanya, sambil berharap Devan akan memberikan kejutan yang indah untuknya, malam ini.
Jantungnya sudah berdeburan seperti ombak saat melihat Devan yang memandanginya dengan tajam. Tidak, ia tidak bisa menahan perasaan dan senyumnya saat ini. Semua terlalu romantis, di luar dugaan Jihan. Ini seperti mimpi indah yang kemudian menjadi nyata. Akh, ia tidak sabar menunggu apa yang akan Devan katakan padanya.
“Saya tidak tahu, nama yang lebih anda suka, teh atau kopi. Jadi saya pesankan keduanya.” Terang wanita itu saat sekretarisnya membawakan minuman untuk ia dan Devan.
Devan memandangi dua minuman di hadapannya, tidak tertarik sama sekali.
“Anda bisa bertanya lebih dulu jika memang tidak yakin. Karena tidak semua orang menyukai apa yang ada di pikiran anda.” Sahut Devan dengan ekspresinya yang tenang.
“Oh,, maaf... Lain kali saya akan bertanya lebih dulu.” Jihan tersipu malu. Ia baru tahu kalau Devan bukan tipe laki-laki yang menyukai act off service dari lawan jenis. Tapi sungguh, ini membuat Jihan semakin penasaran.
Ralat, dari seseorang yang tidak ia sukai.
“Jadi, apa yang kita perlu bicarakan sekarang? Saya siap mendengarkan.” Jihan mengibaskan helaian rambutnya ke belakang seraya mencondongkan tubuhnya pada Devan.
Sikapnya yang cenderung agresif membuat Devan menarik tubuhnya untuk bersandar pada kursi.
“Saya, memiliki penawaran untuk anda.” Devan mengawali kalimatnya.
“Oh ya? Apakah kerjasama yang baru? Sepertinya anda sangat menyukai bekerjasama dengan saya.” Senyuman menawan itu langsung terbit di bibir merah Jihan. Semangatnya seperti bertambah berkali lipat.
Sayangnya Devan hanya menggeleng.
“Sebelumnya, saya mau tau, apa rencana anda dengan film yang baru kita selesaikan?”
“Eemmm,,, Tentu saya ingin film ini booming dan bisa menghasilkan pendapatan yang sepadan lah dengan usaha kita. Bagaimana pun, ini film pertama yang saya produseri jadi pasti saya memiliki harapan besar untuk film ini.” Tutur Jihan dengan berapi-api. Terlihat sekali kalau wanita ini adalah seseorang yang ambisius.
“Saya akan membantu untuk mewujudkannya.” Sambut Devan.
“Benarkah?! Anda akan membantu saya?!” Jihan terlonjak girang, begitu antusias hingga menyentuh tangan Devan yang ada di atas meja.
Dengan segera Devan menghindar.
“Oh, maaf, saya tidak bermaksud apa-apa.” Jihan kembali tersipu. Refleksnya memang sangat baik terutama pada seseorang yang sangat ia sukai.
“Ya, saya akan membantu anda. Saya memiliki cara promo sendiri yang bisa meningkatkan ketertarikan penonton.”
“Saya percaya itu. Saya melihat beberapa karya anda yang memang memiliki penonton fantastis. Saya sangat bersyukur kalau kita bisa saling membantu. Saya harap film ini akan sukses di pasaran.” Ujar Jihan penuh harap.
Devan tersenyum kecil. Satu umpan sudah ditebarnya dan ternyata Jihan melahapnya dengan semangat.
“Sebagai gantinya, saya perlu bantuan anda.” Ini saatnya Devan menarik kail.
“Tentu, apa yang bisa saya bantu?” Jihan semakin antusias, terlebih saat ia sadar Devan membutuhkannya.
Tanpa menunggu lama, Devan mengeluarkan sebuah flash disk bersama beberapa buah foto dan menaruhnya di hadapan mereka berdua.
Tatapan Jihan yang semula berbinar kini berubah menohok kaget. Senyumnya yang semula lebar, kini menggantung bingung. Di hadapannya kini ada foto-foto saat ia bersama dengan Amara dan Rini. Tidak hanya itu, ia juga melihat foto bukti transfer pada salah seorang kameramen yang ia perintahkan untuk mengambil file video dari komputer Kemal.
“Apa maksud anda? Kenapa memberikan ini pada saya. Saya,” Jihan kehilangan kata-kata. Suaranya masih tercekat menahan keterkejutannya sendiri.
“Apa mungkin yang saya lihat di cafe Alamanda jam 8 malam itu salah? Mungkin ini seseorang yang mirip dengan anda ya?” Sindir Devan menguji kejujuran Jihan.
Devan dan Indra yang saat itu mengikuti Rini, melihat dan mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Devan bahkan memiliki rekaman CCTV di tempat kejadian sebagai antisipasi kalau Jihan mengelak.
Jihan hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, ia sudah tertangkap basah. Bagaimana lagi ia harus menyangkal?
“Apa yang sebenarnya anda inginkan?” Ekspresi Jihan tidak lagi seperti semula. Jihan mengambil Foto-foto itu dan memasukkannya ke dalam tas. Ini sangat memalukan menurutnya.
“Saya tidak begitu yakin kalau anda menginginkan film ini booming. Cara yang anda lakukan terlalu kasar dan tidak memiliki etika."
"Sejujurnya saya tidak peduli jika kemudian film ini hancur. Tugas saya untuk membuat film ini semaksimal mungkin sudah selesai dan sayapun sudah dibayar. Tapi saya yakin, akan tidak menyenangkan bagi anda ketika orang lain tahu bahwa, hancurnya film ini karena cara licik anda." Devan tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
Ia bisa melihat perubahan drastis yang ada di ekspresi Jihan dan Devan tidak ambil pusing. Jihan menggenggam erat flash disk di tangannya seolah ingin menghancurkan benda kecil itu dengan cengkramannya yang kuat.
"Permintaan saya simple, suruh pemeran utama wanita melakukan klarifikasi tentang berita yang anda buat dan foto-foto yang ia sebar. Script pembicaraan yang harus dia ucapkan, sudah saya siapkan di dalam flash disk itu. Hanya itu saja. Bagaimana?” Pinta Devan dengan santai.
Ia menatap Jihan dengan segaris senyum miring yang membuat gadis itu marah, gugup dan malu di waktu bersamaan. Laki-laki yang ia sukai telah menemukan jejak kejahatannya, bagaimana mungkin ia baik-baik saja di hadapan Devan?
“Baik, saya akan melakukannya.” Sahut Jihan dengan cepat. Ia ingin Devan melihat usaha untuk memperbaiki kesalahannya.
“Tapi saya ada satu persyaratan.” Masih saja ia tawar menawar.
“Silakan, anda sampaikan.” Devan acuh saja menanggapinya.
Jihan mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu mengirimkan pesan pada Devan. Ia menatap Devan dengan gamang saat laki-laki itu mengecek pesannya.
“Saya akan meminta Amara melakukan klarifikasi setelah anda datang ke tempat itu. Jika tidak, saya tidak keberatan kalau harus membuat orang lain semakin lama merasakan ketidaknyamanan akibat berita ini.” Pinta Jihan yang lebih terdengar sebagai ancaman.
Devan hanya menghela nafas dalam, ternyata tidak semudah itu untuk bernegosiasi dengan Jihan. Bisa ia bayangkan bagaimana piciknya wanita yang kini ada di hadapannya. Kedepannya, mungkin ia bisa melakukan hal yang lebih gila lagi dari ini dan mengancam ketenangan Bella.
“Baik, saya akan datang.” Tegas Devan tanpa rasa ragu.
“Baik, pastikan anda datang sendiri. Saya akan menunggu anda di sana.” Jihan tersenyum puas penuh kemenangan.
Tanpa menimpali lagi, Devan memilih pergi dari hadapan Jihan. Ia sudah tidak betah duduk berlama-lama dengan seseorang seperti Jihan.
Sementara Jihan, melihat Devan pergi dari hadapannya, ia hanya bisa mengepalkan tangan seraya menggeretakkan giginya dengan kesal. Bisa-bisanya gara-gara kecerobohan Rini hingga ia yang harus menanggung semuanya. Gara-gara Rini juga Devan harus melihat sisi lain yang ia coba sembunyikan.
“BODOH!!” Dengus Jihan penuh kemarahan.
****