
“Gue udah nyampe?” Pesan itu di kirim Devan sambil tersenyum.
Ia memang sengaja mengirim pesan ini pada Bella, karena Bella memintanya untuk mengabari saat sampai di rumah.
“Kabarin kalau udah nyampe.” Pinta gadis yang membuat Devan tersenyum sendiri. Rupanya Bella mencemaskannya.
“Syukurlah. Tadi ujannya gede banget, lo gak kejebak banjir kan?” Balas Bella di menit yang sama.
Setelah beberapa lama, ini kali pertama ia berbagi kabar dengan orang lain.
Saat mengantar Bella pulang, hujan memang sangat deras mengguyur ibukota. Bella menawarinya untuk mampir namun Devan memilih pulang karena sadar terlalu banyak kebodohan yang ia lakukan hari ini. Jangan menambahnya lagi, pikirnya.
Devan mengambil segelas air yang kemudian ia bawa ke sofa. Di teguknya hingga habis setengahnya lantas menaruhnya di atas meja. Perasaannya sudah jauh lebih tenang sekarang.
Sambil beristirahat, ia merebahkan tubuhnya di sofa. Tangannya tidak lepas dari benda pipih yang kini jadi pusat perhatiannya.
“Typing…” Ia sampai membaca notifikasi di nama Bella. Entah apa yang akan di ketik gadis itu.
Tidak sabar menunggu Bella melanjutkan mengirim pesannya, akhirnya ia memutuskan untuk menelpon Bella. Selama menunggu panggilannya di jawab, jantung Devan sudah berdebaran kencang tidak karuan. Ia sampai menarik nafas dan membuang beberapa kali untuk menetralisir perasaannya.
“Ya Van?” Sahut Bella dengan suaranya yang berat.
“Lo lagi ngapain?” Ini pertama kali ia menanyakan pertanyaan ini pada seseorang.
Biasanya ia tidak peduli apa yang orang lain lakukan karena menurutnya bukan urusannya. Tapi sekarang, hal sekecil apapun yang Bella lakukan, ia ingin mengetahuinya.
“Lagi tiduran.” Sahut Bella yang memang sudah merebahkan tubuh lelahnya.
“Tumben. Baru juga jam 9.” Devan melihat jam di tangan kirinya.
“Ya nggak apa-apa. Kan tidur lebih awal itu baik. Jadi saat bangun nanti lebih seger. Tidur minimal 8 jam juga bagus buat kesehatan hati kita. Kita gak mengganggu kerja hati untuk berregenerasi.” Terang Bella yang membuat Devan tersenyum kecil. Ada saja jawaban Bella untuk setiap pertanyaannya.
Memang tumben matanya sudah lengket padahal masih sore.
“Iya sih begadang itu memang gak baik.” Timpal Devan sambil memandangi rintik hujan di luar jendela. Beberapa jendela basah dan terlihat jelas air yang menetes di sana dengan pola yang acak namun cantik.
“Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo tadi gak kejebak macet?” Bella kembali bertanya.
Tangannya iseng memainkan boneka tedy bear yang ia dapat dari Devan.
“Nggak. Air emang udah mulai naik tapi masih batas normal. Tadi gue emang sengaja pelan bawa mobilnya soalnya banyak motor yang ngebut, kaget hujan tiba-tiba turun.” Terang Devan.
Padahal lebih dari itu, ia sedang menikmati perjalannya menuju pulang sambil mengingat banyak kejadian yang ia lalui bersama Bella.
“Hem, udah pasti mereka pada buru-buru. Nyari tempat berteduh atau terpaksa buru-buru pulang biar bisa sampe rumah lebih cepat.” Suara Bella mulai melemah.
“Iya. Lo udah ngantuk?” Devan jadi memandangi layar ponselnya. Suara Bella semakin kecil saja.
“Sedikit." Ia mengangguk lemah.
"Oh iya Van, makasih yaa buat tedy bear-nya. Dia nemenin gue sekarang.” Bella mengepuk-ngepuk boneka tedy bear yang memegangi sebentuk hati di kedua tangannya.
“Iya sama-sama. Ya udah lo istirahat aja. Besok mau gue jemput?”
“Nggak usah. Besok bareng abang aja. Dia jadwalnya WFO.”
“Okey. Ketemu besok di lokasi. Selamat istirahat Bell.”
“Iyaa.. See you Van.” Timpal Bella yang langsung mengakhiri panggilannya.
Devan masih tersenyum, memandangi wajah Bella di balik tulisan panggilan berakhir.
“Tedy bear.” Ia bergumam sendiri, mengingat usahanya untuk mendapatkan boneka beruang kecil itu.
Sore tadi saat mereka akan pulang, tiba-tiba langkah Bella terhenti di depan sebuah mesin capit. Ia memandangi mesin itu sambil tersenyum.
“Kenapa?” Tanya Devan. Penasaran dengan apa yang ada di benak Bella saat ini.
“Lo inget gak, dulu waktu gue SD, di deket sekolah gue ada abang-abang yang pasang mesin ini depan rumahnya?” Ingatan belasan tahun lalu itu tiba-tiba di kenangnya.
“Iya.. Lo pikir abang-abangnya mau pamer boneka yang dia punya padahal dia lagi jualan.”
Devan jadi tersenyum saat ingat Bella yang terus mengomel karena di mesin pencapit itu ada Winnie the pooh favoritnya. Ia pikir penjualnya sengaja memamerkan itu padanya.
“Hahahaha… Iya.. Terus gue sering diem di depan mesin itu sambil berharap abangnya meleng dikit dan mesinnya bisa gue bongkar. Dulu gue bengal dan norak banget ya?” Bella mendekat pada mesin yang ada di hadapannya.
“Lo mau?” Devan melihat Bella sangat tertarik dengan mesin itu. Tangannya menempel di kaca mesin sambil tersenyum memandangi boneka-boneka di dalam sana.
“Gak usah. Lo sendiri yang bilang kalau capitannya sengaja di buat longgar supaya gak bisa narik bonekanya.” Bella ingat persis kata-kata Devan dulu.
“Hahahaha… Itu alesan aja karena gue gagal mulu pas nyobain bareng Ozi.” Sahutnya yang tertawa kecil.
Mendengar tawa Devan, Bella jadi tertegun. Baru kali ini Devan tertawa setelah tadi malah melakukan hal-hal yang random menurutnya. Ia lebih suka Devan yang seperti ini, tidak kikuk apalagi bertingkah tidak jelas.
“Lo tunggu di sini, gue beli dulu koinnya.” Laki-laki itu menepuk bahu Bella lantas pergi.
Bella hanya mengangguk, menunggu dengan sabar Devan membelikannya koin.
“Mana nih yang bisa gue ambil?” Bella bertanya pada dirinya sendiri.
“Nih, lo coba dulu.” Devan memberikan beberapa koin untuk Bella.
“Okey. Kita liat, bisa gak gue?!” Dengan semangat Bella mengambil satu koin dan memasukkannya ke dalam lubang mesin.
Ia menaikkan lengan bajunya dan berancang-ancang bersiap mengambil boneka.
Tuas ia mainkan, di aturnya ke kiri dan kanan.
“Yap! Yang ini!” Serunya, seraya menekan tombol start saat pencapit persis di atas sebuah boneka.
Pencapit pun turun tapi akh gagal! Ia tidak berhasil menarik boneka keatas.
“Gagal kan!” Dengusnya kesal walau sudah ia duga.
“Mau coba lagi?” Devan memberikan koin berikutnya.
“Bismillah, kali ini bisa!” Bella mencium koin itu, menyemangati dirinya sendiri dan Devan jadi ikut memperhatikan.
Ia membalik topinya yang ia rasa menghalangi. Matanya sangat fokus menatap gerak pencapit. Ia sampai menggigit bibirnya sendiri agar konsentrasinya penuh.
“AKH!!!! Susah banget sih!” Lagi ia mendengus kesal.
Devan jadi tersenyum sendiri melihat tingkah Bella.
“Coba lagi!” Kali ini Devan langsung memasukkan koin.
Dengan semangat Bella kembali mencoba, sekali lagi, dua kali, tiga kali, empat kali, lima kali, hingga sudah 8 koin yang masuk ke mesin dan tetap gagal mengambil.
Di koin ke sembilan ia berharap berhasil mengambil salah satu boneka.
“Mau gue bantu?” Tawar Devan saat melihat wajah putus asa Bella.
“Heemh…” Cara dia merengek memang sangat lucu.
Devan segera menghampiri. Ia berdiri di belakang Bella. Ikut memutar topinya ke belakang agar tidak menghalangi pandangan mereka.
Tangannya ia tempatkan di atas tangan Bella. Tubuhnya sedikit membungkuk untuk mengimbangi tinggi Bella. Ia bisa mencium wangi rambut Bella dengan jarak sedekat ini. Sangat segar.
“Udah siap?” Tanya Bella seraya menoleh wajah Devan yang persis di sampingnya.
Wajah cerahnya berjarak sangat dekat dengan wajah Devan. Devan bisa melihat wajah cantik itu tengah tersenyum antusias.
“Udah.” Sahut Devan yang mendadak gugup.
“Lo gugup ya? Tangan lo dingin banget. Sans kali, gak dapet juga gak apa-apa.” Lirih Bella seraya memandangi tangan Devan yang berada di atas tangannya.
“Sedikit.”
“Sekarang lo yang fokus liat ke depan. Kali ini kita pasti berhasil.” Tegas Devan penuh percaya diri.
“HEMH!” Bella mengangguk semangat.
Kedua tangan mereka bertumpuk, mengatur laju tuas ke kanan dan kiri. Saat berada di atas salah satu boneka, Devan berseru,
“Sekarang Bell!”
Dengan semangat tangan kiri Bella menekan tombol start. Penjepitpun mulai turun. Mata mereka sama-sama mengikuti arah gerak pencapit dengan nafas tertahan,
“Ya bisa yaaa bisa..” Lirih Bella menyemangati penjepit yang tidak tahu apa-apa.
Dan, “YA!!!!!!” seru keduanya saat ternyata pencapit berhasil mengambil salah satu boneka.
Mereka bersorak senang, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang melihat kehebohan mereka. Bella berloncatan, melakukan tos dengan Devan yang jangkung.
“Nih!” Devan memberikan boneka itu pada Bella.
“Waaahh akhirnyaaaa…” Mata Bella sampai berbinar-binar. Ia memandangi boneka itu dengan penuh rasa bangga. Perjuangannya tidak sia-sia.
“Kita berhasil Van.” Ucapnya yang membuat Devan kembali mengajaknya untuk tos.
“Hahahaha… Ternyata bukan cuma penjepitnya yang gak kenceng tapi juga karena bulu tedy bear ini juga sangat halus. Eemmm… gemeeesss…” Bella memeluk boneka tedy bear itu dengan gemas.
Devan seperti melihat kembali sisi lain Bella selain sosok yang kuat, berani dan independent.
“Bagus kalau lo suka. Mau ambil yang lain?” Tawarnya lagi.
“Nggak usah. Koin nya sisa satu. Ini buat kapan-kapan. Jadi lo simpen koinnya baik-baik.” Bella membenamkan sisa koin dari Devan di tangan pemiliknya.
Dan saat ini Devan jadi memandangi koin itu dengan perasaan tidak menentu. Ia mengangkat tinggi-tinggi koin itu hingga tepat menutupi lampu yang tergantung di langit-langit rumahnya.
“Koin keberuntungan.” Ujarnya seraya tersenyum.
Entah kapan ia bisa menggunakan kembali koin ini bersama Bella.
*****