
“Aku ikut!” tegas Bella saat Devan sudah berdiri di hadapannya dan menggendong tas di punggungnya.
“Hem?” Devan mengernyitkan dahinya tidak mengerti. Bukankah tadi mereka sudah sepakat kalau Bella tidak akan ikut?
“Aku hanya sebentar sayang, nanti aku cepet balik lagi ke sini. Jadi kamu tunggu aja yaa…” Devan berusaha menenangkan Bella dengan meraih tangannya.
“NGGAK!!!” Bella langsung mengibaskan tangannya dan membuat Saras ikut berdiri dan menghampiri.
Devan cukup terhenyak dengan jawaban bersikukuh Bella.
“Kamu pikir aku nggak tau? Kamu mau rapat membahas masalah gosip aku kan? Soal gossip gila yang sekarang sedang beredar seperti bola panas.” Suara Bella tidak terlalu keras namun penuh dengan penekanan dan kemarahan.
Devan tampak terkejut, entah dari mana Bella tahu gossip ini.
“Udah lah Van, jangan bohong lagi depan aku. Aku tau, gossip ini udah mempengaruhi project kita. Dan sekarang kamu nyuruh aku diem gitu? Nonton aja ngeliat kamu dan crew kebingungan menyelesaikan masalah yang aku bikin?”
“Kamu jangan sepicik itu sama aku Van. Aku berhak tau! Jangan bohongin aku kayak anak kecil dong!” Suara Bella mulai meninggi. Dari wajahnya terlihat jelas kalau gadis ini marah dan putus asa di waktu yang bersamaan.
“Ssstttt… Sayang…” Saras segera menghampiri. Ia berusaha menenangkan putrinya dengan mengusap punggungnya.
“Bell, aku gak pernah nganggap kamu anak kecil.” Timpalan Devan terdengar tegas.
“Aku juga gak berniat membodohi kamu. Aku cuma berusaha melindungi kamu.” Ia menyentuh pundak Bella untuk meyakinkan sang istri.
“Pikiran kamu sedang harus fokus sama Ozi. Aku gak mau pikiran kamu terbagi-bagi karena masalah gossip seperti ini.”
“Gosip seperti apa maksud kamu? Ini bukan sekedar gossip, ini masalah buat aku Van."
"Baik besar atau kecil, aku harus menyelesaikannya. Terlebih ini berimbas sama banyak hal.” Bella masih kukuh dengan pilihannya.
“Ya okey! Okey!” Devan tidak bisa lagi berkata-kata, Ia hanya bisa tertunduk lantas mengguyar rambutnya dengan kasar, berusaha menenangkan dirinya beberapa saat.
“Jadi apa mau kamu sekarang?” Devan menghembuskan nafasnya kasar, sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menolak keinginan Bella.
“Biarin aku ikut sekarang!” keputusan Bella bulat.
“Aku ngerti kamu mencemaskan aku karena aku lemah dan sebagainya. Tapi Van, tolong jangan posisikan aku sebagai bangkai yang harus selalu di sembunyikan. Ya Okey aku paham, kamu berusaha melindungi aku. Tapi,”
“Ini masalahku dan mana mungkin aku diam menonton saja. Mau susah atau gampang, aku harus terlibat dalam penyelesaiannya. Aku tidak mau terus-terusan di pandang lemah sama orang-orang yang merendahkanku. Aku bisa melawan mereka dan menyelesaikan masalahku sendiri.”
Bella bersidekap dengan penuh keyakinan. Ya, ia sangat yakin kalau ia bisa menyelesaikan masalah ini.
“Bella benar Van, jangan hindarkan Bella dari menyelesaikan masalahnya.” Dengan terpaksa Saras harus ikut campur masalah putrinya. Padahal ia sudah bertekad untuk tidak ikut campur masalah di kehidupan rumah tangga Bella. Tapi kali ini, Saras bukan hanya sedang mencoba memahami perasaan seorang istri tapi juga putrinya.
“Mamah ngerti kamu ingin melindungi Bella tapi kamu harus percaya juga sama istrimu. Dia wanita dewasa, bisa membuat pilihannya sendiri dan tidak harus selalu membebani kamu.” Saras mengusap lengan sang putri dengan lembut.
“Masalah abang, kita semua berharap hal yang sama untuk kesembuhan abang. Kita juga memiliki kecemasan yang sama. Tapi bukan berarti, kita tidak melakukan apapun.”
“Mamah yakin, abang juga akan khawatir kalau masalah ini tidak segera selesai. Maka, segera selesaikan masalah ini dengan pikiran yang bijak."
“Salah satunya, perasaan putri mamah.” Tegas Saras yang menatap kedua anaknya lekat, bergantian.
Devan tertegun melihat tatapan Saras yang penuh keyakinan. Saras benar, ia harus percaya pada Bella kalau ia benar mencintai wanita itu.
Maka, tidak ada pilihan lain selian ia membawa Bella ke pertemuan hari ini.
*****
Restu Saras membawa Bella untuk ikut ke kantor bersama Devan.
Sehari menikah dan ini pertengkaran pertama mereka yang Devan berusaha untuk selesaikan. Ia tidak mau menunda sebuah masalah hingga menyebabkan masalah selanjutnya.
“Bell…” Panggilnya pada Wanita yang tengah sibuk dengan benda pipih di tangannya.
“Hem,” Bella langsung menaruh ponselnya di sela pintu mobil.
Benda pipih itu membuat kepalanya sedikit berdenyut nyeri. Hanya sebuah permainan otak ringan yang ia mainkan di sana sebagai usaha Bella untuk mengalihkan pikirannya yang seperti benang kusut.
“Aku minta maaf soal kejadian ini. Aku benar-benar tidak bermaksud mendeskreditkan posisi kamu dalam masalah ini.” Ucapnya seraya mencengkram stir dengan erat.
Ia melirik Bella dari kaca spion tengah dan wanita itu hanya tertunduk lalu mengangguk pelan.
“Kamu selalu terlalu mengkhawatirkan aku Van dan itu gak baik buat kesehatan kamu." Berganti Bella yang menatap Devan dengan cemas.
"Terkadang yang membuat kita bahagia adalah ketika membebaskan perasaan kita dan perasaan pasangan kita tanpa mengikatnya terlalu ketat. Dan aku tau, itu bukan karena kita tidak saling peduli. Tapi untuk melihat sedikit lebih jauh, sosok pasangan kita.”
“Menurut aku, cinta pun perlu bernafas dalam bentuk kepercayaan terhadap satu sama lain.” Ucap Bella seraya menghembuskan nafasnya pelan.
Ia sadar benar, kecemasan Devan adalah bentuk cintanya yang sangat besar. Laki-laki ini berusaha melindungi perasaan dan mental Bella agar tidak lagi terpuruk. Namun, ia pun punya hak untuk di berikan pilihan. Ia wanita dewasa yang sudah bertemu dengan berbagai macam masalah.
Dan kepercayaan Devan kalau Bella bisa menghadapi masalahnya dengan benar, adalah salah satu wujud cinta yang Bella harapkan.
Ia tidak ingin selalu bergantung pada laki-laki ini.
“Ya, I know. Untuk itu aku minta maaf.” Tegas Devan.
Ia mengulurkan tangannya, meminta tangan Bella yang semula saling cengkram di atas pangkuannya sendiri, untuk ia genggam dengan erat.
Bella memberikan tangannya dan tidak lama Devan mengecupnya dengan hangat.
“I love you…” Lirihnya seraya melirik Bella dengan segaris senyum yang ia tunjukkan. Setelah bertengkar tadi, ia sadar kalau terjadang ia terlalu egois.
“I Love you too…” timpal Bella dengan senyuman yang sama.
Ia bersyukur, Devan memiliki kemampuan dan kemauan untuk memahaminya. Dua hal yang tidak selalu dimiliki oleh setiap orang dalam menjalani hubungan.
*****