
Sudah waktunya sarapan pagi namun Bella belum juga keluar dari kamarnya. Padahal Saras sudah menyiapkan sarapan favorit untuknya.
“Adek kok gak keluar juga ya bang? Apa dia libur hari ini?” Tanya Saras sambil memperhatikan arah tempat biasanya Bella datang.
“Abang panggilin ya mah. Bisa kesiangan dia, jam segini belum keluar kamar.” Ozi melihat jam yang menempel di dinding. Sudah cukup siang.
“Makasih sayang.” Ucap Saras seraya mengusap punggung Ozi.
“Iya mah.” Ozi pun berlalu pergi menuju kamar Bella.
Namun baru pintu kamar Bella akan di ketuk, sayup-sayup ia mendengar Bella sedang berbincang. Mungkin lewat telepon.
“Waktunya gak pas. Gue gak bisa pergi apalagi lama kayak gitu.” Ujar Bella dengan tetap menjaga suaranya agar tetap rendah.
Sang adik pasti takut suaranya di dengar Ozi ataupun Saras.
Ozi memutuskan untuk membuka pintu kamar Bella perlahan dan ternyata gadis iitu benar sedang bertelepon. Ia menghadap ke jendela membelakangi Ozi. Penampilannya sudah rapi dan siap pergi bekerja.
“Atau lo aja yang berangkat ya Rin. Devan bilang script-nya udah aman kok, gak ada yang perlu di ubah lagi. Nanti lo berkabar aja report di sana kayak gimana. Devan paham banget kok sama plot yang mau di munculin.” Lagi Bella berbicara.
“Lo beneran gak bisa ikut emang Bell?” Rini kembali bertanya di sebrang sana. Rasanya tidak karuan kalau Bella benar-benar tidak ikut.
“Iya sorry, gue gak bisa ikut. Ada hal penting yang harus gue lakuin di sini dan gak mungkin gue tinggalin. Gue juga udah ngajuin cuti sama pak Eko buat beberapa hari ke depan. Gue,”
Tiba-tiba saja kalimat Bella terhenti saat tiba-tiba Ozi muncul ke hadapannya. Laki-laki itu membuat Bella terhenyak padahal hanya duduk di atas tempat tidur Bella seraya tersenyum.
“Nanti kita ngobrol lagi.” Bisik Bella yang segera mengakhiri panggilannya.
“Lo ada apa ke kamar gue?” Tanya Bella yang masih terkejut. Ia tidak yakin bagian mana obrolannya yang terdengar oleh Ozi.
“Sini.” Ozi menepuk tempat di sampingnya.
Ragu, Bella ikut duduk.
“Lo harus pergi kemana dek?” Tanya Ozi langsung tanpa basa-basi.
“Hah, nggak. Itu anak-anak cuma,”
Bella jadi gelagapan menjawab pertanyaan Ozi, entah apa yang harus ia katakan. Ia bahkan tidak menduga kalau Ozi akan mendengar obrolannya dengan Rini. Rasanya iapun sudah berbicara pelan.
“Perlu gue nanya ke Devan?” Lagi Ozi bertanya. Tatapannya saja sudah seperti polisi yang siap mengintrogasi dan mencari bukti.
“Ngg-Nggak.” Bella menggeleng.
“So tell me…” Ozi bersiap menyimak.
Bella tampak berpikir, mencari kalimat yang tepat agar bisa di terima Ozi. Tapi benar saja, saat akan sedikit memanipulasi keadaan, pikirannya selalu blank. Tidak ada kata-kata yang muncul di benaknya.
“Hey! Gak apa-apa, lo ngomong aja.” Ozi menjentikkan jarinya di hadapan Bella yang malah bengong.
“Oh ya. Em, jadi gini…” Bella mulai kembali fokus pada sang kakak.
“Ya…” Dengan sabar Ozi menunggu Bella menjelaskan.
“Saat ini proses syuting masuk ke part 21. Dimana lokasinya itu di ambil di tempat yang agak jauh dari rumah kita. Nah tadi gue bilang sama Rini, kalau…. Bagusnya dia aja yang ikut. Karena,…” Bella menghela nafas dalam seraya menatap Ozi.
“Emhm? Karena…” Ozi mengulang satu kata akhir milik Bella.
“Karenaaa… Ada pekerjaan lain yang harus gue lakuin di sini. Jadi, gue minta Rini yang berangkat.” Lambat sekali bicara Bella.
“Padahal sebenernya lo gak bisa pergi ninggalin gue. Gitu kan?” Tembak Ozi tepat sasaran.
Seketika Bella hanya ternganga. Hah, susah payah membolak balik kalimat untuk menyamarkan kondisi yang sebenarnya tapi Ozi selalu terlalu peka dan terlalu paham isi pikirannya.
“Kondisi gue menyulitkan yaa buat lo?” Tanya Ozi selanjutnya. Laki-laki itu menatap Bella dengan penuh rasa bersalah.
“Noo!!! No, bukan kayak gitu bang. Lo salah sangka.” Timpal Bella dengan cepat.
“Terus kenapa lo gak pergi padahal ini penting buat kerjaan lo?”
“Ya karena, assistant gue juga masih bisa nanganin ini.” Bella berujar dengan sangat meyakinkan.
Namun Ozi hanya tersenyum kecil lalu tertunduk.
“Lo tau dek, gue selalu berharap agar sakit gue gak menyusahkan siapapun. Terlebih itu lo, mamah dan Devan. Tapi sepertinya, harapan gue gak bisa terkabul. Lo bahkan gak bisa pergi kerja hanya karena mencemaskan gue. Padahal, ini pekerjaan yang sangat penting.” Ozi tersenyum miris.
Semakin terasa saja kalau ia hanya bisa bergantung pada orang lain.
“Lo ngomong apa sih. Lo gak nyusahin siapapun kok.” Bella memeluk sang kakak dari samping.
“Kalau orang di sekitar lo kepikiran sama lo, itu wajar lah. Namanya juga sayang sama lo.” Hibur Bella.
“Lo sayang sama gue?” Ledek Ozi. Baru kali ini ia mendengar Bella yang terlebih dahulu mengatakan kalau ia menyayangi Ozi.
“Hem, iya. Ya walaupun lo sering nyebelin dan galak, gue tetep sayang kok sama lo. Lo abang terbaik yang gue punya. The best in the world pokoknya!” Seru Bella dengan penuh kesungguhan, membuat Ozi geli sendiri mendengar ucapan Bella yang tidak biasanya.
“Berapa hari harusnya lo pergi?”
“Ehh… Masih aja lo mikirin itu.” Bella jadi kesal sendiri namun Ozi malah tertawa saat sang adik melepaskan pelukannya.
“Sini lah!” Ozi menarik kembali tangan Bella, lantas ia peluk sang adik dengan erat.
“3 hari.” Akhirnya Bella mengaku.
Bisa mendengar detak jantung Ozi yang teratur ternyata memberi keberanian bagi Bella untuk mengatakannya.
“Em… Lo pergi aja yaa… Jangan ngerasa terhalangi sama gue. Gue bakal baik-baik aja kok, kan ada mamah. Lagi pula, selama lo pergi, gue masih di bolehin minum obat pereda nyeri walau dosisnya di turunin. Jadi, lo gak usah cemas. Lo harus tau, selain gue abang terbaik, gue juga abang terkuat.”
“Really? Lo akan baik-baik aja? Lo gak akan kemana-mana sendiri?” Bella menatap wajah sang kakak yang berada di atas kepalanya.
“Sure… Promise!!” Satu kecupan di berikan Ozi di dahi Bella.
“Nanti gue mau nelpon Devan sama Roni supaya mereka selalu jagain lo. Kalau lo pulang terus ada bekas bentol nyamuk, gue bakal minta pertanggung jawaban sama mereka.” Cerocos Ozi.
“Heeyy,, Gue bukan anak kecil bang.” Bella jadi terkekeh geli mendengar kalimat sang kakak.
“Ya nggak apa-apa. Salah mereka gak bisa di kasih kepercayaan sama gue.”
“Hahahaha…” Bella tertawa lepas mendengar ujaran Ozi yang kadang suka melantur.
Saras yang mendengar dari luar kamar Bella, ikut tersenyum mendengar obrolan kedua anaknya. Ia berharap, Ozi dan Bella akan selalu saling menyayangi dan menjaga sampai kapanpun.
*****
“Hey, kenapa lo? Sedih terus dari tadi…” Tanya Bella saat melihat Inka yang duduk sendirian dengan memasang wajah sendu.
“Gak apa-apa.” Ia menopang dagunya dengan tangan kanan dan tatapannya begitu sedih.
“Need to talk?” Tawar Bella. Memberikan semua atensinya pada Inka.
Inka hanya menggeleng dengan helaan nafas dalam dan ia hembuskan dengan kasar.
“Need ice cream?” Bella coba tawarkan hal lain. Biasanya ini ampuh.
“Gelato?” Inka balik bertanya.
“Sure,, Apapun buat lo!”
“YUK!!” dengan semangat Inka langsung berdiri.
Hah, benar kan! Ini memang bujukan paling ampuh untuk Inka. Hal ini juga yang menjadi kesamaan keduanya. Moodnya akan langsung berubah saat di kepalanya membayangkan makanan manis dan dingin itu.
Beruntung ini jam break syutting dan mereka masih menata panggung. Ada satu orang yang pasti di repotkan kalau Inka tidak ada, yaitu Roni. Tapi Roni akan memilih di repotkan daripada melihat Inka yang seharian ini terus cemberut.
“Kenapa sih temen lo Bell? Di tanya kagak nyaut, di tawarin makanan cuma mendelik, konsul kerjaan malah ngomel. Capek hati gue liatnya. Lo cari tau kek dia kenapa?!” Keluh Roni beberapa saat lalu dan inilah alasan Bella akhirnya mengiyakan kemauan Inka.
“Di bujuk es krim doang mauan lo. Dasar murah!” Ledek Bella seraya mengalungkan tangannya di leher Inka. Mereka berjalan bersisian menuju tempat parkir.
“Kebanyakan main sama lo nih gue, makanya jadi murahan!” Timpal Inka tidak mau kalah.
“HAHAHAHAHAHA…” Keduanya hanya tertawa mendengar kalimat receh masing-masing.
“Mau kemana mereka?” Tanya Romi yang mendengar suara tawa Bella dan Inka.
“Udeh biarin. Yang penting tuh anak kagak manyun lagi. Si Bella emang paling bisa bujukin si tuan putri.” Roni berdecak kagum melihat keberhasilan Bella membujuk sahabatnya.
Perjalanan menuju café pun di mulai. Bella melajukan mobil dengan santai sambil bergumam lirih menyanyikan lagu kesukaannya bersama Inka.
“Izinkan ku Lukis senja,,, Mengukir namamu di sana…”
Inka jadi ikut tersenyum mendengar Bella menyanyikan bait itu dengan jelas seraya memiringkan tubuhnya pada Inka. Sisanya Bella kembali bergumam setelah Inka bisa tersenyum.
Selama Bella bergumam lirih, Inka menurunkan jendela sebentar untuk menghirup udara khas ibu kota.
“Biar ku lukis malam. Bawa kamu bintang-bintang. Tuk temanimu yang terluka. Hingga kau bahagia!!!!!!" Teriak Inka dengan sepenuh hati lalu kembali terdiam memandangi jalanan ibu kota yang tidak terlalu ramai. Bella memperhatikannya dari samping.
Setelah beberapa menit, ia kembali menutup jendela dan duduk dengan tegak. Bella yakin, Inka sudah lebih siap untuk berbicara.
“Gue bilang cinta sama bang Ozi di hadapan dokter dan perawat.” Ujar Inka tiba-tiba.
“HAH?!!” Bella langsung menoleh.
“HEH! FOKUS!!!! Gue gak mau mati muda!!” Dengan segera Inka menahan pipi Bella agar tidak berpaling dari jalanan di depan mereka.
“KOK BISA???!!! Ke pinggir dulu yaaakk, gue pengen denger ceritanya.” Bella sudah memberi sein kiri tanda akan menepi.
“Kagak usah Belsky!!! Gue gak tahan pengen es krim. Sambil jalan aja ngobrolnya.” Tolak Inka.
“Hemhh.. Ya udah…” Pelan-pelan Bella kembali masuk ke jalanan.
“Sorry bang, temen gue gak jadi minggir…” Ujar Bella saat pengemudi lain memberinya klakson.
“Kalau kesel, omelin aja nih anaknya pak Wibisono.” Imbuh Bella saat klakson kedua terdengar tepat di belakangnya.
Inka hanya tertawa mendengar ujaran Bella.
“Malah ketawa, ceritanya kapan?” Protes Bella. Ia tidak mau usahanya setelah di omeli pengendara lain menjadi sia-sia.
“Yaaa… Ini sih dokternya yang resek. Pake bilang gue istri lah,,, Eh terus ganti jadi pacar. Dia bilang, gue gak boleh ninggalin Mas Bima. Sialnya gue malah keceplosan bilang kalau gue gak bakal ninggalin mas Bima karena gue cinta sama dia.”
Bella berusaha menahan tawanya saat membayangkan kondisi Inka saat itu. Muka polos dan bloonnya langsung tergambar di pikiran Bella.
“Pas gue liat tuh dokter senyum sama gue dan Mas Bima. Gue baru sadar kalau gue udah bilang cinta depan banyak orang. Anjiirrr rasanya gue pengen ngumpet di kolong meja atau masuk ke dalem lemari obat deh. Malu banget anjiirrr!!!” Inka sampai mengacak rambutnya karena malu.
“HAHAHAHA…. Tapi udah plong kan bilang cinta langsung sama abang gue?!” Bella bisa membayangkan bagaimana merahnya wajah putih Inka saat ia malu.
“Udah lah! Tapi semalem,” Kali ini wajah Inka terlihat sendu.
“Kenapa? Abang gue juga bilang cinta sama lo? Dia gak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan di kamarnya sama lo?” Bella langsung membrendel Inka dengan banyak pertanyaan dalam satu tarikan nafas.
Inka menggeleng lemah.
“Terus apaan?” Bella kesal karena penasaran.
“Dia,” Inka menjeda kalimatnya dan malah menangis.
“Dia kenapa Inka?! Ekh resek lo ya, malah mewek. Terusin dulu ceritanya sebelum gue injek gas lagi nih.” Kebiasaan memang Inka buat Bella penasaran.
“Mas Bima, “ menghela nafas dalam.
“Minta gue menjauh. Dia bilang, gue terlalu bodoh karena mempertaruhkan masa depan gue buat dia. Hati gue hancur Bell… Gue patah hatiii… HWAAAA!!!!!!!” Inka menangis sejadinya.
Dalam satu rotasi stir, Bella membanting stir ke kiri. Ia menginjak rem dalam-dalam dan suara decitan pun tidak terelakan. Untuk beberapa saat ia mematung. Ia juga membiarkan Inka menangis sesegukan di sampingnya. Ucapan Ozi benar-benar tidak di duga.
Satu hal yang ada di benaknya saat ini, Ozi telah sampai pada titik putus asanya. Sang kakak bahkan tidak berani membayangkan masa depannya. Apa sebesar itu ketakutan Ozi selama ini?
“Gue patah hati Bell… Dada gue sesek. Gue gak bisa tidurr.. Air putih juga rasanya pahit.”
“Gue sakiittt….” Rengek Inka dengan tangisnya yang tidak mau berhenti. Ia memukul-mukul dadanya sendiri dengan kepalan tangannya.
Bella menahannya. Ia tidak mau Inka menyakiti dirinya sendiri. Diraihnya tubuh Inka untuk ia bawa ke dalam kepelukannya. Lantas mereka sama-sama menangis.
Hingga saat ini tidak terbayangkan seperti apa takutnya Ozi menghadapi rasa sakit dan kematian yang mungkin saja tiba-tiba datang.
*****