Bella's Script

Bella's Script
Gangguan malam-malam



Sebuah blankar melaju dengan cepat di dorong oleh beberapa petugas medis di sebuah lorong menuju Unit Gawat Darurat. Blankar itu melintas persis di depan Bella dan Devan saat mereka baru masuk ke loby rumah sakit.


“Tolong beri jalan! Tolong beri jalan!” Teriak petugas medis saat beberapa orang menghalangi jalannya.


Devan segera menarik tangan Bella ke samping, melingkarkan tangannya di pinggang Bella, untuk melindungi sang wanita.


Bella segera menyembuyikan wajahnya di dada Devan saat ia melihat darah yang terus menyambur dari mulut seorang pasien wanita yang terlihat kejang-kejang di atas blankar dan menutupi wajahnya. Devan pun ikut memejamkan matanya, sementara satu tangannya berusaha menutupi kepala Bella.


Keduanya mendadak mematung melihat kejadian mengerikan yang hanya beberapa saat saja melintas di hadapannya.


“Kamu baik-baik aja?” Tanya Devan saat mendapati Bella begitu erat menggenggam kemeja di dadanya.


“Apa sudah lewat?” Tanya Bella. Ia belum berani menujukkan wajahnya. Melihat kondisi seperti itu ia jadi teringat pada sang ayah yang di bawa berlari dengan blankar menuju UGD rumah sakit.


“Udah. Mau duduk dulu di sini?” tawar Devan. Ada bangku panjang yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


Bella menggeleng. “Kita ke ruangan papah aja.” Pintanya.


“Bisa jalan?” melihat Bella yang gemetar, Devan sangat khawatir kalau kaki Bella mungkin lemah karena syok melihat kejadian tadi.


“Bisa.” Bella berusaha menegarkan dirinya sendiri. Ia menghela nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan. Beberapa kali ia lakukan untuk menenangkan dirinya.


Perlahan ia menunjukkan wajahnya pada Devan.


“Ke ruangan papah sekarang?” Devan melihat kalau Bella sudah lebih tenang.


“Iya,…”


Mereka segera menuju ruangan Amri untuk menemui sang ayah. Sepanjang perjalanan melewati lorong ruangan perawatan, Devan menggenggam erat tangan Bella seperti tidak ingin melepaskannya. Sesekali ia mengecup punggung tangan Bella dengan cukup lama dan menyesap wanginya.


Bella tersenyum kecil melihat tingkah suaminya walau perasaannya belum sepenuhnya membaik. Ia sadari, pengalaman traumatis tidak bisa menghilang begitu saja. Selalu ada moment yang memaksa ia mengingat kejadian buruk dan menakutkan baginya.


“Kalian datang,…” Sambut Amri saat melihat kedatangan Bella dan Devan. Ia langsung melepas kacamata yang dipakainya.


“Hay pah.” Sapa Devan.


“Hay,…” Amri hendak menaruh koran yang sedang ia baca dan Devan membantunya untuk ia taruh di meja samping tempat tidur Amri.


“Gimana kondisi papah sekarang? Udah enakan?” Devan dan Bella duduk di kursi samping tempat tidur Amri.


“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik. Dokter bilang, papah juga sudah boleh pulang. Katanya menunggu persetujuan wali.” Terang Amri.


“Ya udah kalau gitu Devan temui dulu dokternya. Papah di temeni Bella dulu ya.” Devan mengusap punggung Bella dan gadis itu mengangguk patuh.


“Iya.” Sahut Amri.


Devan pun pergi menemui dokter, meninggalkan Bella dan Amri berdua.


“Papah belum makan?” Tanya Bella, saat melihat makanan di atas baki masih utuh.


“Belum. Perawat baru mengantarkannya beberapa menit lalu, tapi papah gak selera.” Sahut Amri yang tersenyum kecil.


“Papah mau makan apa? Nasi padang mau?” Goda Bella yang tetap menarik baki di atas meja itu mendekat.


“Waahh,… Enak itu kayaknya. Nasi rendang, pake cabe ijo sama lalapan daun singkong di tambah telor dadar dan udang balado. Mantap pasti!” Amri sudah membayangkan makanan bersantan itu di mulutnya.


“Nanti Bella beliin. Bella punya langganan penjual nasi padang yang lamak bana. Tapi, setelah papah keluar dari rumah sakit yaa.” Tawar gadis itu yang tersenyum simpul.


“Belum bisa sekarang ya?” Amri mencoba bernegosiasi.


“Belum. Nanti kita di omelin dokter kalau gak makan makanan di sini dulu. Lagi pula, makanan di sini udah d hitung nilai gizinya. Jadi biar papah cepet pulih, baiknya makannya di habisin. Mau Bella suapin?” Bella sudah mengangkat sendok di tangannya.


“Hahahahaha… Kamu bisa aja.” Amri jadi tertawa gemas melihat usaha Bella untuk membujuknya makan.


“Hehehehe… Bella siapin dulu makannya ya…” Bella ikut terkekeh. Rupanya siasatnya terbaca jelas oleh ayah mertuanya.


“Okey,…” Amri akhirnya menyetujui.


Satu suapan di berikan Bella pada Amri dan laki-laki itu mengunyahnya dengan tenang. Nasi tim yang di tambah dengan sup ternyata begitu mudah untuk di kunyah.


“Mamah Devan dulu jago banget bikin sup. Dia bikin supnya unik banget, gak kayak gini. Katanya sup khas negri tirai bambu, namanya Lao huo tang.” Amri mulai bercerita. Bella bisa melihat binar mata yang indah saat Amri mengingat kenangan bersama sang istri.


“Kayak gimana itu pah?” Bella merespon dengan antusias.


“Em, jadi itu tuh sup daging tanpa lemak di tambah ikan, sayuran dan rempah-rempah gitu. Masaknya lama karena di masak dengan api kecil. Kalau papah atau Devan lagi sakit, atau kalau musim dan cuaca lagi gak bagus, mamah biasanya masakin itu. Selain enak itu juga meningkatkan imunitas kita.” Terang Amri dengan penuh semangat.


“Wah, harus Bella coba tuh kayaknya. Tapi, sebenernya Bella gak pinter masak pah. Bikin bubur buat mas Devan aja gosong dan malah jadi kerak telor.” Kenang Bella.


“Hahahahahaha…. Mamah dulu juga gitu. Awalnya gak bisa masak. Rebus telur aja sampe harus nyari di internet, kira-kira matangnya berapa lama. Tapi dia terus nyoba dan akhirnya bisa sendiri.” Amri tersenyum di ujung kalimatnya. Ia mengingat dengan jelas bagaimana usaha Anggita dulu untuk mengurus ia dan Devan.


“Sebenarnya, kebahagiaan sebuah keluarga bukan hanya terletak pada sehebat apa seorang istri memasak untuk anak dan suaminya. Bella gak bisa masakpun papah yakin tidak akan mengurangi cintanya Devan. Hanya saja, saat seorang suami melihat istrinya menyajikan makanan, walaupun cuma goreng telur gosong, waaahhh itu rasanya luar biasa.” Ungkap Amri seraya mengusap dadanya.


Mendengar ucapan Amri, Bella jadi tercenung. Ia bisa membayangkan bagaimana bahagianya keluarga Devan dulu. Sangat wajar kalau Amri dan Devan merasa sangat kehilangan seorang wanita seperti Anggita. Mungkin seperti ada bagian tubuh yang hilang atau nyawa yang tidak lengkap.


“Bella mau belajar pah. Walaupun gak bikin cinta mas Devan berkurang tapi Bella mau bikin mas Devan tambah sayang sama Bella.” Ucap Bella dengan sungguh.


“Hahahaha… Bagus itu, biar Devan bucin terus sampe kakek-kakek.” Timpal Amri yang tertawa geli.


Beberapa saat Amri menatap Bella dengan lekat. Ia pun mengusap kepala Bella dengan sayang.


“Terima kasih ya, Bella udah mau terima papah dan masa lalu papah. Terima kasih juga karena Bella udah membuat Devan bisa lagi menunjukkan kasih sayangnya dan membuat dia bisa tersenyum. Papah bangga sama kalian berdua. Kalian begitu melengkapi satu sama lain.” Ungkap Amri dengan mata berkaca-kaca.


Bella tersenyum kecil. Seperti ada sesuatu yang berjogol di tenggorokannya dan membuat Bella harus menelan salivanya kasar-kasar.


“Bukan Bella sebenarnya yang mengubah mas Devan. Tapi mas Devan lah yang membawa Bella dari dunia yang gelap menjadi terang benderang seperti sekarang pah.” Aku Bella dengan sungguh.


Ia masih mengingat, bagaimana dulu Devan berusaha menguatkannya saat ia sedang sangat terpuruk. Bagaimana dulu Devan menjadi sandaran ternyaman untuk dirinya yang sedang rapuh. Dan bagaimana dulu Devan menjadi seseorang yang paling berani membersamai Bella melewati masa-masanya yang kelam dan menakutkan.


Sosok Devan begitu penting, sangat penting di hidup Bella.


Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Bella akan masa lalunya.


“Kok pada diem? Lagi ngomongin Devan ya?” Tanya Devan yang baru datang setelah menemui dokter.


“Iya,…” ucap Bella dan Amri bersamaan. Merekapun kompak tersenyum dan saling tatap.


“Ngomongin apa nih? Bukan yang jelek-jelek kan?” Devan segera menghampiri Bella dan duduk di sampingnya.


“Bella gak ngaduin yang macem-macem soal Devan kan pah?” Devan jadi penasaran dengan pembicaraan ayah dan menantu ini.


“Nggak lah. Bella cuma cerita kalau Bella pernah bikinin kamu bubur gosong. Papah pengen tau, gimana rasanya?” Tanya Amri dengan senyum kecil.


“Wah iya tuh pah. Rasanya itu, beeeuuhhh…..” Devan memegangi perutnya penuh ekspresi.


“Gak usah peres! Orang aku tau kok kalo bubur itu gak enak.” Bella segera menyudahi ekspresi Devan yang berlebihan itu.


“Hahahaha… Siapa bilang? Enak tau. Makanya waktu itu aku langsung sembuh dan ngajak kamu nikah.” Timpal Devan sambil menarik Bella ke dalam pelukannya.


“Mas, ihhh…” Tolak Bella dengan wajah memerah. Ia malu sendiri karena Devan melakukannya di hadapan Amri.


“Ya nggak apa-apa ya pah? Papah mah gak irian kok orangnya.” Timpal Devan yang sadar kalau Bella malu.


“Iya lah. Papah lebih seneng liat kalian mesra-mesraan daripada marahan. Pikiran papah gak tenang kalau kalian marahan.”


“Pokoknya Van, wajib buat seorang suami memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Ingat, selain dia seorang istri, dia adalah seorang putri yang disayangi keluarganya. Jangan sampe kasih sayang kamu tidak lebih besar dari kasih sayang keluarganya. Ingat loh, kamu gak cuma minta Bella ke mamahnya atau ke Ozi saja tapi kepada tuhan. Itu Amanah untuk kamu yang paling besar.” Tutur Amri dengan serius.


“Iya pah, Devan pasti menjaga Bella dengan baik.” Janji Devan seraya mengusap kepala Bella dengan sayang.


****


Malam itu, Devan, Bella dan Amri sudah pulang ke rumah mamah Saras. Atas izin dokter, akhirnya Amri di perbolehkan pulang dan tinggal berobat jalan saja satu minggu ke depan.


Setelah drama penuh kesibukan dan ketegangan hari ini, akhirnya Devan dan Bella bisa beristirahat dengan tenang.


Bella masih berada di depan meja riasnya. Menyisir rambutnya sebelum tidur dan merapikan penampilannya. Dari tempatnya, ia bisa melihat pantulan sosok Devan yang masih sibuk dengan laptopnya setelah tadi melakukan meeting dadakan melalui zoom.


“Ada apa sayang?” tanya Devan yang ternyata sadar kalau Bella sedang memandanginya.


“Gak apa-apa. Cuma merhatiin aja mas masih sibuk apa nggak?” kali ini Bella memoles bibirnya dengan pelembab bibir yang membuat bibir mungilnya lebih berisi dan berwarna terang.


Tanpa menimpali, Devan segera menutup laptopnya dan menaruhnya di atas meja samping tempat tidur. Ia menghampiri Bella yang masih di depan meja rias.


“Seksi banget sih istri aku.” Goda Devan seraya memandangi wajah cantik Bella. Ia bisa mencium wangi parfum Bella yang lembut.


“Udah selesai kan persiapannya?” tanya Devan dengan tatapan yang penuh harap.


“Udah. Udah cantik belum?” goda Bella.


“Cantik banget.” Devan mengecup bibir Bella singkat. Ia bisa merasakan bibir Bella yang terasa manis dengan sensasi rasa buah strawberry.


Satu kecupan tidak puas, ia menambah kecupan kedua dan ketiga.


“Mas, jangan di sini?” Tahan Bella dengan nafas yang terengah.


“Okey, sorry. Aku terlalu bersemangat.” Ucap Devan. Ia menelan salivanya kasar-kasar dan berusaha menahan gairahnya.


Di gendongnya tubuh Bella berpindah ke tempat tidur. Bella melingkarkan tangannya di leher Devan. Mereka berpandangan sangat lekat. Bella iseng mengecup bibir Devan membuat Devan membalasnya dengan semangat.


Tiba di tempat tidur, Devan membaringkan Bella dengan hati-hati. Ia mengecup dahi Bella, pipinya lalu menelusur leher Bella dengan hidungnya yang bangir.


“Mas,…” Desah Bella saat ia merasakan perut bawahnya berdenyut geli.


“Aku baru mau memulainya.” Bisik Devan yang mengecup leher Bella yang jenjang lalu mengecup pula telinganya dengan sensual.


Bella melingkarkan tangannya di leher Devan, seperti enggan melepaskan suaminya.


“Tok tok tok!” suara ketukan di pintu tiba-tiba saja membuat aksi keduanya berhenti.


“Dek, sorry ganggu. Lo punya makanan gak, gue kelaperan.” Panggil ozi dari luar.


“Astagaaa,… Abang kamu.” Dengus Devan yang kemudian tertawa.


Bagaimana mungkin saat semuanya baru mau di mulai, gangguan itu tiba-tiba datang.


“Hahahaha… Abang mau mencoba menyelamatkan adiknya dari terkaman serigala buas.” Ucap Bella yang terkekeh geli dengan tingkah kakaknya.


“Dek, udah tidur ya?” Lagi Ozi memanggil.


“Hah, Ziii, Ozii…” Devan terpaksa bangkit. Ia menutup tubuh Bella dengan selimut.


“Aku aja yang nemuin Ozi. Makanannya ada di mana?” Devan terpaksa mengalah.


“Hehehehe…. Ada di lemari kecil itu.” Tunjuk Bella pada sebuah lemari plastik. Ozi memang tahu persis kalau Bella suka menyimpan makanan di kamarnya.


Devanpun beranjak.


“Makasih suamiku.” Ucap Bella tertahan.


Devan hanya menoleh seraya tersenyum. Nasibbbb, nasiibb… Pikirnya.


Ia mengambil beberapa jenis makanan dan memasukkannya ke dalam plastik.


“Dek,” baru Ozi akan bersuara lagi tiba-tiba saja pintu kamar terbuka. Dari celah pintu yang hanya terbuka sedikit, Devan mengasongkan keresek makanan pada Ozi.


“Bellanya udah tidur.” Ucapnya dingin.


“Oh sorry,… Padahal lo bilang aja kalau Bella udah tidur.” Timpal Ozi dengan santai. Ia mengambil keresek dari tangan Devan lalu pergi begitu saja.


“Hah, kampret dasar.” Umpat Devan yang menutup pintu dan menyandarkan tubuhnya beberapa saat.


Bella menurunkan selimutnya dan terkekeh geli melihat kekesalan suaminya.


“Malah ngeledek. Tunggu ya!” Ancam Devan.


Ia segera mengunci pintu kamar dan mematikan lampu utama dan hanya menyisakan lampu-lampu kecil yang menyala aesthetic di kamar Bella. Ia berharap dengan begini Ozi tidak akan kembali lagi.


“Astaga, menakutkan!” Seru Bella rendah. Ia segera menutupi tubuhnya dengan selimut saat melihat Devan berjalan cepat ke arahnya.


Devan melompat ke atas Kasur membuat ranjang itu berguncang.


“Wah istriku mana ya?” Devan dengan candaannya menggoda Bella.


“Ini kali ya?” Devan sengaja menyentuh perut Bella.


“Awh! Hahahaha…” Bella kaget sekaligus geli.


“I got you!” Dengan satu tarikan tangan, Devan berhasil membuka selimut yang menutupi tubuh Bella.


Bella tampak terhenyak dengan wajah kaget dan rambutnya yang sedikit berantakan membuat Devan semakin tergoda.


“Aku harap, gak ada lagi yang mengganggu kita.” Ucap Devan. Ia segera melepas bajunya dan mempertontonkan dadanya yang bidang dengan barisan otot yang tersusun rapi.


Jemari Bella mengusap dada Devan yang bidang, “Rasanya aku setuju untuk punya rumah sendiri.” Timpal Bella.


“Baguslah,…” Devan menatap Bella dengan lekat. Ia mengusap helaian rambut yang menutupi wajah Bella lantas mengusap pipinya dengan lembut.


“I love you Bell,…” Ucap Devan dengan sungguh. Bella bisa melihat tatapan Devan yang begitu hangat kepadanya. Kilatan gairah terlihat jelas dari cara Devan menatapnya.


Kedua tangan Bella terangkat untuk menangkup kedua sisi wajah Devan yang berada di atasnya. Laki-laki itu mengungkung tubuh Bella dan bertumpu pada kedua tangannya yang kokoh.


“I love you, suamiku.” Timpal Bella.


Tidak hanya itu, ia juga mengecup bibir Devan dengan lembut. Ia ingin memulai kembali semua yang tadi sempat terjeda oleh Ozi.


Mendapat kecupan dari Bella, sisi buas Devan seperti keluar. Ia balas mengecup Bella, mengigit bibir mungil itu kecil-kecil lantas melummatnya dengan semangat. Lidahnya bergriliya mengabsen setiap sudut di rongga mulut Bella hingga gadis itu terengah antara berbalut gairah dengan nafas yang nyaris habis.


Devan menghentikan sejenak pagutannya, membiarkan Bella meraup nafasnya dalam-dalam. Kini ia beralih pada leher jenjang Bella sementara tangannya bergerak menelusur perut Bella dan mengusapnya melingkar dengan sensual.


“Mas Devan,…” panggil Bella yang terengah seraya berpegangan pada bahu Devan.


Laki-laki itu semakin semangat mengecupi leher Bella memberi tanda kepemilikannya di leher Bella lalu berpindah ke dadanya. Satu tarikan tangan membuat baju Bella terlepas begitu saja.


Devan merangkul tubuh Bella dengan satu tangannya yang kokoh. Memeluk tubuh Bella dengan erat dan saat itu juga penyatuan itu terjadi.


Devan melenguh penuh gairah saat merasakan bagian tubuhnya berada di dalam tubuh Bella.


Perlahan namun pasti tubuh Bella berguncang seirama hentakan tubuh Devan. Detakan jam mulai samar terdengar berganti suara ******* yang semakin lama semakin terdengar lirih.


Dan malam itu terasa begitu hangat bagi keduanya yang sedang memadu kasih. Sepanjang malam hanya nama keduanya yang disebut masing-masing bersamaan dengan suara lenguhan tertahan.


*****


Selamat travelling readerku ;p