Bella's Script

Bella's Script
Bayi Eropa



Ruang perinatology menjadi tempat yang Bella kunjungi. Operasi Amara sudah selesai dan dokter berhasil menyelamatkan keduanya.


Jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, Bella mengucap syukur karena ternyata tidak ada yang pergi dari hidupnya. Kini ia kedatangan seorang bayi kecil yang tidak pernah ia duga akan masuk dan menjadi salah satu bagian di dalam script hidupnya.


Amara sudah berada di ruang perawatan dan menunggu tersadar sementara bayi itu ada dalam incubator dengan berbagai alat yang terpasang di tubuh kecilnya.


*“Berat badan bayinya masih terlalu kecil dan paru-parunya belum berkembang sempurna sehingga bayi harus di tempatkan di dalam incubator* dan di monitor secara ketat. Kondisinya tergolong sebagai bayi premature yang lahir di usia 30 minggu.”


“Bayi ini baru bisa dikeluarkan dari incubator setelah mencapai berat badan sekitar 2 kg. Refleks menghisapnya juga harus sudah baik dan dapat bernafas spontan tanpa bantuan alat.” Begitu penjelasan dokter yang diterima Bella satu jam lalu.


Bella tersenyum kecil melihat bayi mungil yang sesekali menggerakkan jemarinya merekah. Tangannya sangat mungil dan putih. Sesekali ia menangis dan membuat ruangan khusus bayi ini terdengar riuh, tidak sepi seperti ruangan lainnya. Dan katanya, tangisan itu bagus karena melatih kekuatan otot jantung dan paru-paru.


Entah mengapa, melihat bayi mungil ini membuat sudut hati Bella terrenyuh dan tersenyum kecil. Air matanya ikut menetes saat membayangkan perjuangan bayi itu di dalam perut ibunya.


“Apa itu bayinya Amara?” Tanya sebuah suara yang Bella dengar dibelakangnya.


Dari pantulan kaca di hadapan Bella, ia bisa melihat seorang sanita dengan sosoknya yang tinggi dan postur tubuh ideal layaknya seorang model.


“Nadine?” Tanya Bella saat menoleh.


Bella mengenal perempuan cantik ini sebagai salah satu Miss Pick me di sekolahnya dulu dan menjadi saingan Amara dalam hal kepopuleran.


“Apa kabar Bell? Kamu gak banyak berubah ya?” Nadine berjalan mendekat dan mengulurkan tangannya pada Bella.


“Kabar baik. Lama gak ketemu ya.” Bella balas menyalami tangan Nadine.


Wanita itu tersenyum kecil, tampak cantik dengan tampilannya yang elegan.


“Aku tidak tahu kapan dia menikah, tau-tau udah melahirkan aja.” Seraya bersidekap, Nadine ikut memandangi bayi kecil itu dengan lekat.


Bisa ia lihat kulitnya yang putih layaknya orang berkebangsaan eropa dengan rambut tipis yang berwarna kecoklatan.


Ia menepuk dadanya pelan saat ia semakin yakin kalau anak itu benar-benar anak Keith. Satu sudut hatinya seperti menjerit saat sadar kalau Amara dan Keith benar-benar mengkhianatinya.


“Kamu ada di sini, apa kalian masih berteman? Bukankah Amara sudah merebut Rangga dari kamu, Bell?” Kali ini Nadine menoleh Bella dengan senyuman miring. Entah itu senyuman ledekan atau memang gayanya seperti itu.


“Kami rekan kerja dalam satu project film yang sama.” Hanya itu jawaban yang bisa Bella berikan.


“Ngomong-ngomong, kamu tau dari mana kalau Amara ada di rumah sakit?”


Rasa penasaran tiba-tiba menghinggapi pikiran Bella. Rasanya belum banyak yang tahu kalau Amara ada di rumah sakit. Bella sengaja menyembunyikan ini dari semua orang dan hanya beberapa orang saja yang tahu keberadaan Amara.


*“Emm… Tadi itu aku berniat menemui Amara di apartemennya, melanjutkan pembicaraan kami semalam tentang project* iklan. Tapi aku lihat apartemennya kosong dan sangat berantakan. Aku tanya petugas keamanan apartemen, katanya Amara sakit dan pergi ke rumah sakit bersama manager-nya.” Terang Nadine dengan lancar tanpa keraguan.


Bella hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Nadine dan tanpa sadar tangannya jadi mengepal. Dengan jelas Nadine memberikan penjelasan yang asal. Bella memperhatikan benar sosok Nadine. Ia sempat tercenung saat memperhatikan pantulan sosok Nadine dari atas hingga ke bawah.


*“Well* Bell, sorry ya aku gak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji temu dengan rekananku. Tolong sampaikan saja salamku sama Amara ya… Semoga dia cepat sembuh.” Wanita cantik itu menepuk bahu Bella dengan akrab.


“Iya Nad, terima kasih.” Timpal Bella.


“Okey, bye Bell… Sukses buat filmnya ya…” Nadine melambaikan tangannya dengan elegan sebelum ia pergi dan Bella membalasnya dengan senyuman.


Sepeninggal Nadine, Bella menyesap kuat wangi parfum Nadine yang masih mengisi rongga hidungnya. Ia mengingat baik-baik aroma berkelas dari salah satu produk parfum terkenal. Sekali lalu Bella mengeluarkan plastik dari dalam sakunya, ia sadar ada yang tidak beres dengan kedatangan Amara yang berdarah-darah dan kesakitan saat ke rumahnya pagi tadi.


Mungkin saja Amara bukan hanya mencari pertolongan tapi juga perlindungan.


“Bell…” sebuah suara lain terdengar begitu mengagetkan bagi Bella. Cepat-cepat Bella memasukkan kembali plastik itu ke dalam sakunya.


“Mba Lisa.” Bella tersenyum melihat kedatangan Lisa dan Rangga.


“Kalian udah liat Ara?”


“Belum. Kami belum diperbolehkan masuk. Kata dokter dia masih di bawah pengaruh obat-obatan. Mungkin sekitar empat jam lagi baru akan benar-benar siuman.” Terang Lisa. Ia berdiri di samping Bella sambil memandangi bayi kecil di dalam incubator itu.


“Rupanya anak itu benar-benar anaknya Keith.” Ucap Lisa penuh sesal. Ia menoleh Rangga yang tetap berdiri tegak di sampingnya walau ia tahu mungkin hatinya hancur.


“Kecurigaan kamu rupanya benar, Ga.” Imbuhnya menyayangkan.


Rangga hanya tersenyum. Walau sudah berusaha menerima pengkhianatan Amara, tidak ia pungkiri kemarahan itu masih ada. Terlebih saat melihat bayi kecil itu dengan wujudnya yang memang seperti bayi orang-orang berkebangsaan eropa.


Ada sesuatu yang kemudian mengusik pikiran Bella.


“Ga, jam berapa terakhir kali kamu ketemu Amara?” Bella menanyakan rasa penasarannya.


“Em… sekitar jam 9 malam. Setelah aku dan mba Lisa ngasih dia obat penenang. Memangnya kenapa?”


“Gak pa-pa. aku cuma mau tau aja.” Bella mengangguk paham.


“Lalu, apa ada yang nemuin dia selain kalian?” Lagi Bella melanjutkan pertanyaannya.


“Aku rasa gak ada. Soalnya passcode apartemennya juga aku ubah. Tapi tadi pagi tiba-tiba apartemen berantakan, mungkin Amara sadar kalau dia di kurung sama aku dan Mba Lisa.” Terang Rangga.


“Aku permisi dulu, ya mba Lisa, Ga.” Pamit Bella dengan tergesa-gesa.


"Mau kemana, kok buru-buru banget?" Tanya Lisa.


"Ada perlu mba."


“Aku antar ya?” Tawar Rangga.


“Nggak usah, terima kasih. Aku titip Ara aja sama bayinya. Kalau bisa, jangan ada yang menemuin mereka selain kalian berdua.” Pesan Bella.


“Oh iya. Hati-hati di jalan Bell…”


“Iya. Aku permisi.” Bella pun bergegas pergi.


Entah mengapa Bella berpesan demikian, tapi Lisa dan Rangga hanya bisa patuh saja.


*****


Sekitar jam 7 malam, Bella baru tiba di rumahnya. Orang-orang sudah gelisah menunggu Bella yang sejak tadi tidak bisa dihubungi.


“Sayang, kamu dari mana?” Tanya Devan yang segera menghampiri Bella saat istrinya masuk.


“Iya, lo dari mana? Gue samperin ke rumah sakit lo gak ada. Kata Lisa lo udah pulang dari siang.” Cerca Ozi yang mengkhawatirkannya.


“Hape kamu juga gak aktif. Kamu gak kenapa-kenapa kan?” Devan memperhatikan sekujur rubuh Bella. Khawatir Bella terluka.


“Maaf aku udah bikin kalian cemas. Tadi aku ada perlu yang mendesak." Bella mengambil air minerak di atas meja lalu meneguknya.


"Bisa gak Mas sama Abang nganter aku ke kantor polisi?” Pinta Bella setelah menyelesaikan tegukannya.


“Kantor polisi? Ada apa? Apa Amara sudah sadar dan ngancam kamu lagi?” Devan dengan kecemasannya yang semakin bertambah.


“Nggak, Amara nggak mengancamku. Tapi ada sesuatu yang harus aku lakukan.” Tegas Bella tanpa bisa di tebak.


“Sayang, apa nggak besok aja? Adek baru dateng, pasti belum makan kan?” Saras ikut mencemaskan putrinya yang sejak sore tadi menghilang.


“Nggak Mah, adek gak laper.”


“Ayo Mas, anter aku sekarang.” Ia memaksa Devan seraya menarik tangannya.


Melihat Bella yang bersikukuh, rasanya Devan tidak bisa menolak.


Akhirnya ia menyetujui permintaan Bella.


****


Tiba di kantor polisi, Bella langsung membuat laporan. Ia duduk dihadapan seorang opsir polisi yang bersiap mencatat aduannya.


“Nama anda?” Tanya polisi tersebut.


“Bella Andini Fauzi.” Bella memberikan tanda pengenalnya pada polisi.


Polisi itu mengambil KTP Bella yang tergeletak di atas meja lantas memperbandingkan wajah Bella yang asli dengan KTP. Sebuah anggukan kecil ia tunjukkan lantas mencatat semua identitas penting Bella.


“Aduan apa yang ingin anda sampaikan?” Polisi itu memperhatikan Bella dengan seksama.


“Tindakan kekerasan yang mengancam nyawa.” Tegas Bella dengan penuh keyakinan.


Ozi dan Devan saling melirik. Keduanya saling menerka apa yang sebenarnya ada di benak Bella. Benarkah Bella akan melaporkan Amara karena penyerangan terhadap dirinya? Apa yang membuat Bella berubah pikiran dan mau melaporkan Amara, masih menjadi misteri untuk Ozi dan Devan.


Ia juga menaruh sebuah plastik transparan dihadapan penyidik, lengkap dengan sebuah flashdisk.


Penyidik melihat tiga benda di hadapannya, sepertinya ini barang bukti yang disodorkan Bella.


"Saya juga menyimpan sebagian bukti berupa foto dan video di ponsel saya, tapi sayangnya ponsel saya kehabisan daya. Silakan kalau bapak mau mengambil filenya." Ungkap Bella. Ia menaruh ponselnya di atas meja.


"Baik, kami akan memerlukan semua bukti yang mba Bella miliki. Lalu, siapa korbannya?” tanyanya lagi.


“Amara Prameswari.” Ucap Bella dengan penuh keyakinan.


Mendengar jawaban Bella, tidak hanya penyidik itu yang menatap Bella penasaran, tetapi juga Devan dan Ozi yang duduk di sampingnya.


"Apa?" tanya Ozi penuh rasa penasaran. Bukankah Bella lah yang menjadi korban serangan Amara beberapa waktu lalu?


****