Bella's Script

Bella's Script
Resep obat Devan



Perjalanan kurang lebih satu, telah membawa mereka sampai ke tepi pantai. Devan langsung sibuk sendiri menyiapkan semuanya. Dimulai dari membuat perapian, memasak air di atas tungku dan memasak daging dan makanan laut yang sudah ia siapkan untuk makan malam mereka.


“Kamu istirahat aja di sini, jangan ikutan. Biar aku yang nyiapain semuanya.” Pesan Devan sebelum ia melakukan pekerjaannya seorang diri.


Bella hanya terduduk di sofa kecil dan memperhatikan Devan dari dalam. Bahunya yang bidang menjadi pemandangan indah dan membuat Bella senyum-senyum sendiri saat mengingat pelukan Devan yang hangat. Bahu itu selalu menjadi tempat ternyamannya untuk bersandar.


Tangannya begitu lihai meramu makanan, jauh lebih lihai dari Bella yang hanya bisa memasak mie rebus atau bubur gosong.


Akh, mengingat itu rasanya sangat memalukan.


Tidak perlu menunggu lama sampai makanan selesai di buat. Devan membawa dua piring besar makanan yang sudah ia olah. Ada daging panggang yang di tata dengan cantik lengkap dengan rebus sayuran dan sauce-nya yang kental dan mengundang selera, juga makanan khas laut yang menjadi favorit Bella.


“Waaahh…. Wangis banget mas…” Sambut Bella dengan mata membulat. Ia segera menegakkan tubuhnya, antusias.


“Iya dong, special untuk istri tersayang. Gimana, perutnya masih sakit?” Masih saja Devan mencemaskan istrinya.


“Udah baikan. Setelah di pasang koyo tadi, sekarang jauh lebih nyaman.”


“Syukurlah. Kita makan di sini aja yaa, di luar takut kamu kedinginan.” Devan duduk di samping Bella lantas menyiapkan makanannya.


“Okey,..” Sahut Bella yang tertarik dengan apa yang dilakukan Devan kemudian.


Devan menyiapkan makanan Bella dengan baik. Di mulai dari memotong daging panggang kecil-kecil agar Bella lebih mudah memakannya, menaburinya dengan saus barbeque yang wanginya sangat lezat hingga menyuapi Bella.


“Aaa…” pintanya.


Dengan lahap Bella menyambut suapan Devan.


“Eemm… Enak mas…” Ungkap Bella dengan mata membola. Usaha Devan rupanya tidak sia-sia.


“Syukurlah kalau kamu suka.” Ia memandangi wajah cantik Bella dengan lekat.


Kecemasan Devan sedikit berkurang saat melihat wajah Bella yang sudah tidak terlalu pucat. Ia mengikat rambut Bella yang terurai, walau asal saja, yang penting tidak menghalangi istrinya saat makan.


“Mas juga makan dong. Aaaa….” Berganti Bella yang menyuapi Devan dan suasana makan itu terasa begitu menyenangkan.


****


Selesai menikmati makan malam, Devan dan Bella memilih berdiam diri di dalam mobil. Udara dingin dari pantai, membuat mereka menutup semua pintu dan hanya menikmati indahnya pantai dari jendela mobil.


Bella masih bersandar pada dada bidang Devan yang memeluknya dari belakang dan sesekali mengusap perutnya dengan hati-hati.


Ia begitu menikmati suara debaran jantung Devan di samping telinganya dan kemudian ia kecup. Wangi tubuh Devan juga masih melekat di sana. Devan membalasnya dengan kecupan di pucuk kepala Bella.


Memandangi ombak yang berkejaran lalu pecah di tepi pantai, membuat Bella berpikir banyak hal. Ia berpikir banyak tentang masa depannya yang kadang masih membuatnya takut.


“Mas,,,..” Panggil Bella pada sang suami.


“Hem,,, Ada yang gak nyaman?” Devan selalu terlalu cemas pada istrinya.


Bella menggeleng.


“Makasih ya, aku sangat bahagia saat ini." Ungkap Bella dengan penuh kesungguhan. Ia menengadahkan kepalanya demi melihat wajah sang suami.


"Syukurlah kalau kamu merasa bahagia. Itu harapan aku selama ini. Tapi, kenapa kamu masih terllihat gelisah?" Devan menggenggam tangan Bella yang ada di bawah selimut.


"Gak pa-pa. Aku cuma merasa kalau semua ini masih seperti mimpi.” Ia melanjutkan kalimatnya seraya memandangi kemilau air laut di hadapannya.


“Terbangun pagi ada kamu, saat aku sedih kamu ada dan di saat seperti ini pun, kamulah yang mengakhiri hari lelah ini dengan begitu indah."


"Kamu selalu tahu cara menyenangkan aku hingga aku lupa rasa sakitku.” Ia kembali menoleh sang suami yang kemudian ia pandangi dengan lekat.


“Aku sampai takut, kalau ini benar-benar hanya mimpi dan saat aku terbangun, malah menghadapi kenyataan yang tidak semanis ini.” Lirihnya dengan tatapan sendu.


“Kenapa harus takut? Apa yang kamu cemaskan?” Devan balas menatap sang istri yang sangat serius dengan ucapanya.


“Hanya dua hal, perasaan kamu berubah dan kamu ninggalin aku.” Diusapnya dada Devan yang bidang dan tengah berdegup konstan.


Devan tersenyum kecil mendengar ucapan Bella. “Rupanya, kamu sangat mencintaiku…” timpal Devan dengan senyum penuh kebahagiaan.


Ia mengeratkan pelukannya pada Bella, membuat rongga dadanya terasa begitu hangat.


“Asal kamu tau, sebenarnya, aku juga merasakan ketakutan.”


“Oh ya?” Bella menatap Devan tidak percaya.


“Aku takut kalau aku tidak bisa masuk ke hati kamu dan bertahan di sana untuk selamanya. Aku takut jika mungkin aku menyakiti kamu dan membuat kamu ragu. Seperti saat ini, ketakutan itu jelas aku rasakan saat kamu bilang, mungkin aku akan ninggalin kamu.”


“Apa yang membuat kamu berpikir begitu Bell, apa usahaku belum cukup?” Kali ini Devan yang bertanya membuat Bella tercenung beberapa saat.


“Ketakutan itu bukan karena kamu mas, tapi karena aku sendiri. Aku merasa, kalau aku tidak sempurna. Aku takut jika suatu saat kamu menemukan sesuatu di dalam diri aku yang membuat kamu tidak bisa menerimanya.” Bella menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Devan.


“Heeyy… Pikiran kamu terlalu jauh. Kecuali kamu menyembunyikan sesuatu dari aku.” Dengan cepat Devan meraih tangan Bella dan menggenggamnya dengan erat.


Mata elang itu menatap Bella dengan tajam.


“NO! Aku gak menyembunyikan apapun dari kamu mas. Hanya saja, Ketika sesuatu terlalu indah dan aku mulai merasa memilikinya, aku selalu takut kalau hal itu akan hancur di tanganku sendiri. Itu saja…” aku Bella dengan sesungguhnya.


Devan tidak lantas menimpali, ia lebih memilih mengecup tangan Bella, cukup lama seraya menyesap wangi tubuhnya.


“Tidak ada orang yang bisa memastikan perasaannya akan selalu sama. Tapi, sebuah komitmen itu adalah tentang pilihan. Seperti komitmen aku yang memilih kamu tanpa pernah ragu untuk alasan apapun. So please, jangan selalu mencemaskan hal yang hanya akan menakuti kamu.”


“Nikmati waktu kita, nikmati kebersamaan kita dan mari kita pikirkan masa depan bersama-sama tanpa perlu merasa ragu, takut apalagi merasa terbebani. Kamu memilikiku Bell, sepenuhnya.” Tegas Devan dengan penuh kesungguhan.


Bella termenung beberapa saat, ia sadar bahwa semua rasa takutnya karena trauma yang pernah dialaminya. Namun ia pun tahu bahwa ia tidak boleh merendahkan suaminya dengan berpikir mungkin Devan akan melakukan kesalahan seperti hubungannya di masa lalu.


“Maafkan aku mas,… Tidak seharusnya aku berpikir begitu.” Ucap Bella kemudian. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Devan lalu membenamkan tubuhnya dalam pelukan Devan yang selalu hangat dan memberinya ketenangan.


“It’s okey… Aku tahu kamu bukan sepenuhnya meragukan aku. Aku melihatnya sebagai bukti kalau kamu sangat mencintai aku…” timpal Devan.


Bella melerai pelukannya dari Devan, ia memandangi laki-laki itu dengan penuh cinta.


“Kamu udah gak terlalu pucat, apa udah lebih baik?”


“Hem, jauh lebih baik. Sekarang malah gak melilit lagi perutnya.”


“Syukurlah kalau kamu merasa lebih baik. Tapi sayang, apa setiap bulan kamu merasakan sakit seperti ini?” Devan jadi penasaran.


“Nggak setiap bulan, tapi seringnya begini. Apalagi kalau aku stress atau capek.” Bella berusaha mengingat perasaan setiap tamu bulanannya datang.


“Mau aku bantu supaya gak sakit lagi perutnya?” tawar Devan dengan wajah serius.


“Hah, emang bisa?” Bella terlihat antusias.


“Bisa lah. Selama beberapa bulan kamu gak akan sakit. Aku bisa pastikan itu.”


“Oh ya? Gimana caranya?” Bella benar-benar percaya pada perkataan suaminya.


Devan mencondongkan tubuhnya pada Bella lantas berbisik.


“Let’s make a baby..” bisiknya dengan yakin.


“Iiihhh kamu maahhh… Kirain beneraan kamu bisa ngilangin dismenorhoe aku!” Bella memukuli lengan Devan dengan kesal.


“Hahahahha… Aku beneran kok. Kalau kamu hamil kan, kamu gak akan haid. Jadi gak akan sakit menstruasi. Bener gak?” Devan balik bertanya.


“Iya juga sih. Tapi kan aku lagi dapet, malah ngomong gitu.” Bibir Bella mengerucut kesal dengan candaan suaminya walau sebenarnya perkataan Devan memang benar adanya.


“Ya nggak sekarang lah sayang.” Devan memutar tubuh Bella untuk ia peluk dari belakang.


“Aku masih bisa bersabar dan nabung dulu sampe kamu bener-benar bersih. Yaa…” bisik Devan seraya mengecup leher jenjang Bella.


“Ish dasar! Mesum!” Bella menyikut perut suaminya sambil menahan tawa.


“Hahahha… Kesel yaa… Maaf deh.. Aku kan cuma berusaha ngasih solusi. Mudah-mudahan di approve. Tapi, kalau kamu belum siap, ya aku gak akan maksa sekarang. Kamu yang punya badan seksi ini, kamu juga yang punya hak sepenuhnya terhadap fisik dan psikis kamu.” Devan menempatkan dagunya di bahu Bella seraya menatap wajah sang istri dari samping.


Bella hanya terdiam sampai kemudian ia tersenyum.


“Aku setuju untuk gak nunda.” Angguknya.


“Waahhh baiklah. Aku akan berusaha lebih keras lagi.” Devan sampai mengepalkan tangannya penuh semangat.


“Ihh dasar, itu mah maunya kamu mas.” Bella memilih menutup wajahnya sendiri yang merona karena malu membayangkan ucapan Devan.


“Hahahaha…” Tawa Devan terdengar lepas di malam itu. Ia menemukan hobynya yang baru sekarang, yaitu menggoda dan menjahili Bella. Rasanya sangat menyenangkan.


Dan malam itu, mereka lewati dengan berbincang ringan sampai kemudian mereka terlelap, berpelukan tanpa keinginan untuk saling melepaskan.


*****