Bella's Script

Bella's Script
Call him, dady



Hari-hari dilalui Amara dengan dipenuhi rasa sepi. Ia sendirian di apartemennya tanpa ada yang memperdulikan kondisinya. Sebenarnya ia sudah biasa sendirian, hanya saja di saat seperti ini semakin lama rasa sepi ini semakin menyiksanya.


Hanya beberapa orang yang melakukan kontak dengannya. Kalau bukan petugas kebersihan apartemen, sudah pasti petugas pesan antar yang mengirimkan barang dan makanan yang ia beli secara online.


Gorden apartemennya lebih sering tertutup dan hanya sesekali ia buka, jika udara terasa sangat pengap saja. Ia sangat takut jika ada paparazi yang mengambil gambarnya diam-diam.


Seperti saat ini, Amara tengah menikmati sarapannya dengan di temani suara musik klasik dari music player di ponselnya. Katanya ini bagus untuk merangsang perkembangan otak anaknya.


Ya, Amara sudah memutuskan kalau ia akan membesarkan anak ini seorang diri. Berdo’a saja semoga anak ini tidak bernasib sial seperti dirinya.


Tangan kanannya ia gunakan untuk menyendoki makanan sementara tangan kirinya masih scroll media sosialnya. Memantau aktivitas para fansnya yang sering kali menyapanya melalui postingan di akun fansbase-nya atau mengirim direct message untuk sekedar menanyakan kabar Amara. Hal kecil itu saja membuat Amara merasa diperhatikan.


Belakangan ia memang jarang posting apalagi setelah endorsement nya tidak terkelola dengan baik selepas Lisa pergi meninggalkannya. Beberapa gosip yang beredarpun tidak ia tanggapi walau sebenarnya ia masih tersenyum senang saat melihat postingan berbau bulyying tentang Bella.


Senang rasanya melihat Bella menempati posisinya saat SMA dulu. Menjadi object hinaan seantero jagad.


Suara musik tiba-tiba terjeda saat sebuah pesan masuk ke ponselnya. Amara meliriknya sedikit dan ternyata pengirimnya adalah Nadine.


Wanita itu berhasil membuat selera makan Amara langsung hilang. Ia menaruh sendoknya saat melihat pesan dari Nadine.


“Which one you prefer dear?” Begitu isi pesan yang di kirim Nadine beserta 5 foto gaun pernikahan yang sedang ia coba.


“Akh, damn it!” dengus Amara seraya menaruh ponselnya dengan kesal.


Menyesal rasanya karena membuka pesan dari Nadine yang ternyata malah membuat suasana hatinya semakin buruk.


Dengan emosi Amara membalas pesannya.


“Tidak ada yang lebih baik Nad, semuanya terlihat murahan. Entah bajunya, atau yang memakainya.” Balas Amara dengan senyuman sinis di bibirnya.


Ia meneguk jus sayur dan buah untuk meloloskan makanan yang susah payah ia telan gara-gara pesan Nadine.


“Hahahaha… You’re so funny Ra. Gak usah sirik, buruan pilih, gue udah pusing ini.” Lagi Nadine membalas pesan Amara. Ia pikir gadis ini sedang becanda dengannya.


“Tidak perlu susah payah memilihnya, toh suamimu akan merobeknya di malam pertamamu karena dia orang yang tidak sabaran.” Amara kembali mengeluarkan unek-uneknya dan entah Nadine paham atau tidak.


“Hahahahaha… Keith sudah pernah merobek gaun kado ulang tahunku dari Ine. Sampe sekarang gue gak berani bilang sama Ine karena takut tuh anak marah. Laki gue emang ganas, apalagi di ranjang.” Nadine masih menganggap pesan Amara sebagai candaan. Dan dengan bangga memamerkan aktivitas ranjangnya bersama Keith.


Amara berdecik sebal. Ia hanya membalasnya dengan emoticons 100%.


Nadine mulai mengerutkan dahinya.


“Apa maksud Amara?” Nadine mulai tidak mengerti dengan balasan Amara.


Amara hanya tersenyum miring saat membaca pesan Nadine. Ia hanya membacanya saja dan sengaja tidak membalasnya.


Merasa tidak suka dengan pesan awal yang di kirim Nadine, akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan pada Keith.


“Hello Dady... When are we’ll receive your wedding invitation?” Tulis Amara pada pesan yang ia kirim pada Keith. Tidak lupa ia juga mengirimkan foto dirinya yang sedang berselfie ria dengan hasil USG di tangannya.


Keith tidak lantas membalas pesannya dan Amara hanya memandangi ponselnya dengan sabar. Mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja. Ia yakin, Keith akan segera menghubunginya.


Dan benar saja, belum genap Amara berhitung sampai 10 dalam hatinya, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Nomor Keith yang menghubunginya. Laki-laki itu pasti tengah ketar-ketir. Ia tersenyum penuh kemenangan karena serangannya berhasil mengusik Keith.


“Yes,,, Babe..” Sapa Amara dengan senyuman yang terkembang di bibirnya. Walau sedetik kemudian ekspresinya berubah jijik pada laki-laki ini.


“AMARA! WHAT DO YOU MEAN?!” Seru Keith dari sebrang sana.


Ketara sekali kalau laki-laki ini sedang marah pada Amara. Amara sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Keith terlalu menyentaknya dan tidak enak untuk di dengar.


“Heey… Easy dady… Easy, Okey…” Lirih Amara yang malah meledek Keith. Ia tidak mau resah sendirian, maka dengan sengaja ia mengusik ketenangan Keith.


“STOP IT BITH!! It’s your baby! Not Mine!*” lagi Keith mengingkarinya, membuat Amara mengepalkan tangannya dengan kesal.


“Are you serius?” Amara terkekeh dalam kekesalannya. Susah payah ia menahan emosinya agar tidak meledak.


“Don’t you see dady, His eyes glow like yours, his nose sharp like yours, his face also look like you. Don't you feel that you two are so similar?” Pertanyaan Amara penuh penekanan dengan perasaan sesak yang menggantung di dadanya.


“Oh wait, it’s a boy, by the way, Dad.” Imbuhnya yang tersenyum puas karena berhasil mengatakan apa yang ia simpan selama ini.


“****!! You’re sick Amara! He’s not mine. I don’t care with the baby, okey! Don’t call me anymore.” Tegas Keith yang langsung menutup teleponnya.


Menyadari panggilannya di tutup Keith, Amara memandangi foto Keith di ponselnya dengan geram.


Ia tersenyum kecil, “Hihihi…” Lantas terkekeh, dan “HAHAHAAHHAHA….” Ia tertawa terbahak-bahak bersamaan dengan air matanya yang menetes.


“Ahhh,,,,” Tiba-tiba saja, Amara melenguh sakit saat tendangan kecil diberikan oleh putranya tepat di ulu hatinya.


Bayi ini berrespon entah pada tawa atau  tangisan ibunya. Perlahan Amara terisak, ia menangis sesegukan sambil memandangi perut buncitnya. Ia mengusap perutnya yang tidak berhenti bergerak, pergerakannya bahkan mulai jelas, perutnya sampai miring ke kiri dan kanan dengan sendirinya.


“Jangan menyulitkan ibu nak, kita hanya berdua.” Lirihnya tanpa bisa menghentikan tangisnya. Ia pun tidak tahu bagaimana caranya agar bayi ini berhenti bergerak di dalam perutnya.


*****