
Di parkiran mobil kini Bella dan Devan berada. Mereka tengah terduduk di dalam mobil dengan kaca jendela yang sedikit terbuka untuk membiarkan udara malam masuk agar ada udara segar yang mengisi bilik mobilnya.
“Lo yakin mau nikahin gue Van?”
Setelah lama terdiam, akhirnya Bella menyampaikan pertanyaan yang sudah ia simpan sejak mereka berada di ruang perawatan Ozi.
Jujur, perasaannya berkecambuk antara takut, gelisah, marah dan haru.
Devan selalu menyiapkan dirinya sebagai tempat Bella bergantung dan terkadang itu membuat Bella takut kalau suatu hari ia begitu ketergantungan pada Devan dan ternyata laki-laki ini meninggalkannya. Bukankah ia bisa sangat hancur saat tempat bersandarnya kembali pergi?
“Sama siapa sebenarnya lo gak yakin, sama gue atau sama diri lo sendiri?” Tanya Devan seraya meraih tangan Bella.
Bella hanya menggeleng lantas menundukkan kepala dan berusaha menjernihkan pikirannya untuk mengambil keputusan. Banyak hal yang ia pertimbangkan mengingat pernikahan bukanlah sebuah permainan dan tidak boleh karena paksaan dari orang lain. Ini menyangkut hidupnya juga masa depannya.
“Sebuah pernikahan, bukanlah hal kecil. Lo tau sendiri, saat bersama gue, lo selalu dikasih banyak masalah Van. Bahkan masalah saat ini terlalu besar buat gue dan gue gak tau gimana cara mengatasinya."
"Gue takut, di pertengahan jalan lo mundur. Lo kecewa dan berhenti bertahan. Apa lo pernah memikirkan itu?” Bella memberanikan dirinya untuk mengangkat wajahnya dan menatap Devan dengan matanya yang berkaca-kaca.
Devan mengeratkan genggaman tangannya pada Bella.
“Pernah.” Sahutnya seraya memandangi Bella. Ia sangat paham kekhawatiran Bella saat ini.
“Tapi sudah sangat lama. Tepatnya, sebelum gue memutuskan untuk kembali ke Indonesia.” Imbuhnya yang tersenyum kecil.
“Lo harus tau, setiap orang memiliki lubang dalam hidupnya dan itu gak cuma lo, gue pun sama.”
"Keputusan untuk menikahpun tidak pernah berdasarkan pemikiran sesaat dari satu orang melainkan harus keyakinan dari keduanya."
“Lo selalu bertanya, kenapa dulu gue pergi ninggalin lo tepat di hari ulang tahun kita. Gak ngabarin lo apapun seolah kita memang gak pernah saling mengenal.” Devan mengunci tatapannya pada sepasang manik coklat yang menatapnya lekat.
“Lo harus tau, itu karena lubang di hidup gue terlalu dalam dan besar. Gue gak bisa menghadapinya saat itu.” Devan menyesap wangi tangan Bella cukup lama, sambil mengingat kejadian menakutkan saat itu.
Menyakitkan sebenarnya saat harus mengingat kembali luka lama yang pernah ia alami. Tapi pura-pura melupakannya hanya membuat ia tersiksa. Bukankah lebih baik jika ia menerima dengan lapang dada kalau kejadian itu pernah terjadi di hidupnya di masa lalu.
“Hari itu, tepat di hari pemakaman nyokap, bokap di bawa paksa oleh 3 orang polisi.”
Kalimat Awal Devan, membuat mata Bella membulat kaget dan bahunya turun dengan lemas. Terlebih saat Devan berusaha keras menahan air mata yang ia tekan di sudut matanya. Nafasnya terdengar berat.
“Mereka membawa surat perintah penahanan dengan tuduhan, kelalaian saat berkendara hingga menyebabkan kematian.” Suara Devan terdengar tercekat. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada Bella. Ia ketakutan, saat mengingat kembali mimpi buruk belasan tahun silam. Seperti ia tidak pernah terbangun dari mimpi itu.
“Itu semua, karena kecelakaan maut yang terjadi belasan tahun lalu. Nyokap meninggal setelah mendapat perawatan intensive selama 2 hari dan bokap, masih mendekam di penjara sampai saat ini.” Bibir Devan bergetar saat mengucapkan kalimat itu.
Ketir rasanya membayangkan laki-laki yang selalu menjadi role modelnya itu berada di ruangan sempit dan pengap selama bertahun-tahun.
“Karena kejadian itu pula, om gue, kakak dari nyokap mengambil hak asuh gue. Dia membawa paksa gue untuk tinggal di Singapore demi menjauhkan gue dari bokap.”
“Itu alasan gue pergi dari lo dulu Bell. Karena gue belum mampu melakukan apapun sehingga gue harus ninggalin lo gitu aja. Maafin gue.” Devan menangkupkan kedua tangannya di pipi Bella, lantas ia tertunduk dengan tangis yang membuatnya menunjukkan kelemahannya.
Baru kali ini ia menunjukkan titik terlemahnya sebagai seorang manusia di hadapan Bella.
Bella yang baru mendengar cerita ini, hanya bisa tercenung, menatap tidak percaya pada laki-laki yang terpekur berusaha menahan air matanya. Perlu keberanian besar untuk memberitahukan dan menujukkan perasaannya atas kenangan buruk itu.
“Aaarrgghhh… Sial!"
"Padahal gue udah bersiap untuk bertemu dengan hari ini. Hari dimana gue harus dengan tenang ngasih tau lo kenyataan yang menakutkan ini.” Devan menengadahkan kepalanya untuk menahan air matanya agar tidak terus menetes. Tapi sepertinya sulit.
“Heeyy… It’s okey…” Lirih Bella. Dengan tangan kanannya ia meraih wajah Devan dan mengusapnya perlahan.
“Kalau lo belum siap, lo gak harus cerita sekarang.” Bella berusaha keras agar suaranya tidak ikut goyah karena menahan tangis.
Devan menundukkan kembali kepalanya lantas menyentuh tangan Bella yang ada di pipi kirinya.
“Gue udah berjanji sama diri gue sendiri, kalau gue harus ngasih tau lo masalah ini sebelum kita yakin kalau kita akan menikah. Lo masih boleh berubah pikiran Bell kalau lo ngerasa lo gak bisa berada di sisi gue setelah denger cerita ini. Bahkan sekarangpun, lo bebas untuk mengambil keputusan.” Lirih Devan yang mengecup telapak tangan Bella dengan sayang. Matanya terpejam beberapa saat, membiarkan air matanya menetes seraya menyesap wangi tangan Bella. Ia membutuhkannya untuk saat ini.
“Ya.. Gue bersungguh-sungguh.” Ia menatap nanar Bella yang ada di hadapannya.
“No, Van. Go ahead, lanjuti ceritanya kalau lo ngerasa itu bisa bikin sebagian beban di bahu lo hilangl. Gue akan tetap di sini.” Timpal Bella. Berusaha mengusap air mata Devan yang sepertinya tidak tertahan.
Devan tersenyum kecil. Ia menarik nafasnya beberapa saat sebelum melanjutkan ceritanya.
“Dia laki-laki yang naif. Dia merasa kalau dia yang paling bersalah atas kejadian ini. Hingga sejak proses sidang di mulai, dia gak mau menggunakan jasa pengacara manapun, karena ia ngerasa kalau ia pun tidak layak melanjutkan hidupnya setelah ia membuat wanita yang dia cintai pergi untuk selamanya.”
“Dan, rasa sesal terbesarnya adalah membuat gue kehilangan seorang ibu di waktu yang sangat muda. Hal itu yang membuat dia gak pernah mau nemuin gue saat gue berkunjung hingga beberapa waktu lalu. Gue sendirian Bell.” Suara Devan terdengar parau.
Bella tidak mengatakan apapun. Ia hanya membawa Devan ke dalam peluknya, memeluknya dengan erat seraya mengusap punggungnya dengan lembut.
“Lo sekarang gak sendirian lagi Van. Ada gue, yang akan selalu ada buat lo.” Bisik Bella di telinga Devan, dengan terbata-bata.
Devan terangguk dengan sungguh. Setelah mengatakan semuanya pada Bella, ternyata hatinya mulai lega. Seperti ada ribuan beban yang lepas dari pundaknya.
Setelah merasa lebih tenang, Devan berusaha bangkit dari pelukan Bella. Ia menatap Bella dengan hangat walau matanya masih terlihat merah. Di usapnya pipi Bella dengan lembut yang membuat gadis itu menggenggam tangan Devan erat.
“Setelah lo tau sisi gelap gue, bersediakah lo nikah sama gue?” Lirih Devan dengan tatapan lekat yang mengunci.
“Ya. Gue bersedia.” Jawab Bella tanpa ragu.
Devan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia tersenyum lega bercampur air mata, tanpa melepaskan tatapannya dari Bella. Dari dalam sakunya ia mengambil cincin yang sudah ia siapkan.
“Kali ini gue membawanya.” Ujar Devan lirih.
“So, give me the ring.” Bella mengulurkan tangannya pada Devan. Dengan senang hati Devan memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri Bella. Setelah cincin tersemat, Devan memandangi cincin dengan mata berlian kecil di tengahnya, yang terlihat cantik saat dikenakan Bella. Ia mengecup tangan Bella dengan lembut, penuh perasaan.
Bella tersenyum bersamaan dengan bulir air mata yang kembali menetes. Saat ini, ia merasa sangat yakin dengan keputusannya. Bukan karena Ozi yang memintanya menikah namun karena ia yakin ia sangat mencintai laki-laki di hadapannya kini.
Perlahan Devan mentautkan jarinya di sela jemari Bella, keduanya memandangi jemari yang kini saling tertaut. Mereka sama-sama tersenyum, sebelum kemudian Devan mendaratkan sebuah kecupan di dahi Bella. Menyesap wangi rambut yang menyegarkan pikirannya.
Puas mengecup dahi Bella, kini ia menempatkan dahinya di dahi Bella. Terdengar jelas keduanya menghebuskan nafas lega.
Mereka saling tatap semakin lama semakin lekat. Devan semakin mendekatkan wajahnya pada Bella, membuat hidung keduanya bersinggungan. Tanpa ragu, Devan hendak mengecup bibir Bella yang merah alami, namun..
“Tring…” Sebuah pesan masuk di ponsel Bella.
“Bell,…” Kata itu yang terbaca oleh keduanya dengan nama Rangga sebagai pengirimnya.
Bella yang terkejut, terdiam beberapa saat setelah melihat pesan itu. Tapi kemudian ia memilih mematikan layar ponsel dan membalik ponselnya agar tidak lagi terlihat. Satu tangannya mengusap pipi Devan dan dalam beberapa saat Bella mengecup bibir Devan dengan lembut.
Devan cukup terkejut dengan yang dilakukan Bella hingga kesulitan mengendalikan rasa bergemuruh di rongga dadanya. Seperti halnya Bella, Devan pun merasakan jantungnya berdebar sangat kencang. Namun sedetik kemudian, ia memilih memejamkan mata dan membalas kecupan Bella dengan lebih dalam. Keduanya memilih menikmati desiran halus yang masuk ke aliran darahnya hingga membuat jantung mereka berdetak sangat kencang.
Dan bintang tunggal Alpha centauri menjadi saksi mereka mengikat janji untuk selalu ada bagi satu sama lain.
*****
Wuhuuu,, bisa ngejar 2 part juga...
Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favoritnya yaa...
Terima kasih