
Pekerjaan Bella di mulai. Diawali dengan laptop yang siap di gunakan lalu menacapkan flash disk di laptop Devan. Ia mencari folder scriptnya, tapi kemudian perhatiannya teralih pada sebuah folder yang ada di desktop Devan.
“MyBella.” Nama Folder yang ada di tengah-tengah.
Bella pikir Devan pasti sengaja menyiapkan folder itu di depan agar mudah saat akan mereview script dengan hasil shoot. Ia pun membuka folder itu.
"Wahh.. Folder apa ini? Apa Devan sengaja nyiapin folder ini biar aku gak susah nyari bahan punyaku?" Bella bergumam sendiri dan tersenyum gemas membayangkan well prepare-nya Devan menyiapkan materi khusus untuk film. Ia pikir isi laptop Devan akan berantakan, ternyata ia menatanya dengan rapi.
Dahinya sedikit terkejut saat membuka folder itu yang ternyata berisi beberapa folder lainnya dengan nama tahun. Ada 6 folder dengan nama yang berbeda di sana. Karena penasaran, Bella membuka salah satunya, folder bernama Senior high school.
Ia cukup terkejut saat ternyata isinya foto-foto Bella ketika SMA. Foto ia di hukum waktu MOS, foto saat latihan mengibarkan bendera, foto mengikuti ekskul ada juga foto Bella saat mendapatkan hadiah menulis dan foto Bella saat menangis sendirian di kamarnya. Jika di lihat-lihat ini adalah foto di hari kematian sang ayah. Bagaimana bisa Devan memilikinya?
Bella jadi berpikir, darimana Devan mendapatkan ratusan foto Bella selama SMA ini?
Semakin penasaran, Bella memutuskan membuka folder lainnya. Folder ini berisi foto saat Bella kuliah. Foto-foto dengan rambutnya yang panjang, foto saat memamerkan ia dapat beasiswa di kampus, foto-foto candid saat ia mengerjakan tugas kelompok dan ada satu foto terselip saat ia di antar pulang oleh Rangga.
Bahu Bella sampai lemas melihat foto-foto ini. Ini adalah foto yang sifatnya pribadi yang bahkan tidak pernah ia unggah di media sosial manapun.
Di folder lainnya bahkan ada foto Bella saat SD. Foto ia menunjukkan giginya yang copot sambil menangis. Foto itu di ambil oleh Ozi katanya untuk menakut-nakuti tikus agar tidak masuk ke kamar Bella.
Tunggu, foto-foto ini adalah koleksi pribadi Ozi.
Ozi? Apa foto ini dari sang kakak?
Bella menoleh Ozi yang terbaring di tempatnya. Ia menatap wajah itu penuh tanya. Apa Ozi yang mengirimkan foto-fotonya pada Devan? Sejak kapan?
“Krieett..” Suara derit pintu yang terbuka menyadarkan Bella dari lamunannya.
Devan sudah selesai mandi dan berganti pakaian dengan celana olahraga dan kaos oblong. Rambutnya masih setengah kering setelah ia keringkan dengan handuk.
“Gimana, lancar sayang?” Devan menghampiri Bella yang mematung di depan laptopnya.
“Iya, lancar.” Ia menatap Devan penuh selidik.
Devan yang menghampiri Bella di sofa tampak penasaran dengan arti tatapan Bella.
“Kenapa? Aku ganteng ya?” Tanya Devan yang tidak bisa menyembunyikan senyumnya yang menawan.
Bella tidak lantas menimpali, ia membiarkan Devan mendekat lebih dulu dan duduk di sampingnya.
“Hey, kenapa sih?” Sempat-sempatnya laki-laki itu mencolek dagu Bella untuk menggodanya. Lalu duduk di samping sang istri tanpa perasaan apapun.
“Ini apa?” Bella langsung menunjukkan tampilan di layar laptop pada Devan. Tampilan yang berisi foto-foto Bella dari masa ke masa.
“Oh, ini…” Devan jadi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lupa untuk menyembunyikan folder khusus Bella.
“Ada hasil download-an film dan mini seri aku segala. Ini kamu koleksi mas?” Bella benar-benar penasaran.
“Hehehe.. Iya..” Devan jadi tersenyum melihat rahasianya terbongkar.
“Darimana mas dapet foto aku?” tatapan istrinya yang tajam, benar-benar penuh selidik.
Sepertinya Devan sudah tidak bisa mengelak apalagi menutupi semuanya.
“Dari sumber yang paling terpercaya.” Ia memonyongkan mulutnya ke arah Ozi yang sedang tertidur.
“Dari abang?” Sesuai perkiraan Bella namun ia masih belum yakin kalau tidak mendengar pengakuan Devan secara langsung.
“Iya.” Devan jadi tertegun seraya memandangi satu per satu foto Bella di folder yang terbuka.
“Setelah aku berangkat ke Singapore, aku bener-bener kesepian Bell. Aku kesulitan beradaptasi ditambah rasanya aku terus berduka setelah mamah meninggal, papah di tahan dan harus terpaksa ikut Om Alwi.”
Foto-foto itu menerbangkan kembali ingatan Devan di masa lalunya.
“Cuma Ozi yang sejak saat itu gak pernah ninggalin aku. Dia selalu nanyain kabar aku, ngehiibur aku dan sesekali cerita tentang kamu.” Devan mengusap kepala sang istri seraya tersenyum gemas. Bella memang obat mujarab untuk semua lelahnya.
“Waktu itu, aku tidak pernah punya keberanian buat ngehubungin kamu karena aku tau, aku udah bikin kesalahan besar dengan ninggalin kamu gitu aja.”
“Buat ngehibur aku, Ozi sering mengirimi foto kamu. Adek gue ikut ekskul taekwondo, sengaja gue suruh olahraga biar gak kegemukan. Itu pesan pertama yang menjadi caption foto-foto kamu saat dia chat aku.” Devan tersenyum kecil seraya membuka salah satu folder lawas berisi foto Bella dahulu.
“Foto ini yang dia kirim. Dan jujur, foto-foto ini bikin aku senyum-senyum sendiri ngeliat berbagai ekspresi kamu.” Devan tersenyum kecil, di antara kenangan saat sulit dimana ia merasa begitu kesepian.
“Astaga mas,,,, Itu aku jelek banget. Poni aku baru di potong sama mamah gara-gara kena permen karet yang nutupin wajah aku, pas aku letusin.” Bella langsung menutup layarnya saat melihat potonya sendiri dengan poni gantung.
“Hhahaahha… Iyaaa… Yang ini kan fotonya?” Devan menarik tangan Bella untuk ia pegangi lalu membuka satu folder lain yang berisi foto-foto Bella menangis saat rambutnya di potong paksa oleh Saras.
“Iiihhh itu aku jelek bangeeettt. Lubang hidung aku gede banget kalo nangis gitu.” Bella langsung menyentuh gidungnya sendiri.
“Hahaha.. Makanya aku bilang kamu lebih cantik kalau senyum.” Ledek Devan.
“Maaasss, kamu ya!” Gemas Bella yang mencubit pinggang Devan dan laki-laki itu hanya terkekeh sambil berusaha menghindar. Di tariknya tangan Bella untuk mendekat padanya lantas ia peluk dengan erat.
Bella jadi terdiam di dekapan Devan. Mereka sama-sama memandangi foto lainnya.
“Ini waktu itu bang Ozi fotoin aku pas masuk SMA favorit. Aku udah mulai kurusan gara-gara MOS nya nyiksa banget.” Bella menunjuk fotonya yang memakai keranjang tahu di atas kepala, papan nama besar di dada dan perintilan lainnya yang merepotkan.
“Ini siapa yang nyoret muka kamu?” Devan jadi penasaran pada coretan lipstick di pipi Bella. Istrinya terlihat sanga lucu saat itu.
“Kakak kelas. Dia nyuruh aku nyari nama kak Mondy dan harus minta tanda tangannya. Aku keliling lah nyari-nyari kakak kelas yang namanya Mondy. Aku nanya ke banyak siswa tapi gak ada yang tau entah mereka pura-pura gak tau, pas di kumpulin akhirnya aku kena omel."
"Sialnya ternyata Mondy itu nama kucing kesayangan kepala sekolah. Gila, aku di kerjain hari itu. hampir aja aku minta pindah sekolah ke abang.” Bibir Bella sampai mengerucut karena kesal mengingat kejadian itu.
“Hahaha.. Iya Ozi cerita itu sama aku. Katanya pulang sekolah kamu nangis, sampe gak mau makan segala.” Kecemasan Devan saat itu masih membekas hingga hari ini.
“Tapi mas, kok kamu juga punya foto ini?” Bella mengarahkan kursor ke foto ia dan Rangga.
“Iyaa,, itu foto keramat yang nyaris bikin aku pulang ke Indonesia.” Aku Devan. Ia menjeda kalimatnya beberapa saat dan memandangi foto itu.
“Hari itu, adalah hari rabu. Gak tau kenapa aku kangen banget sama kamu karena Ozi udah beberapa minggu gak ngirimin foto tentang kamu.”
“Aku chat dia, terus aku bilang kalau aku mau ngehubungin kamu langsung. Gak lewat Ozi lagi.”
“Tapi tiba-tiba Ozi bales pesan aku pake foto itu. Kata Ozi, kamu udah punya pacar, jadian hari senin saat upacara."
"Heemmhh… Itu hari patah hati buat aku Bell. Sakit banget.” Devan sampai mencengkram kaos oblong di dadanya dengan erat.
“Tapi, gara-gara itu aku jadi sadar, sebagai seorang kakak, aku cemas tapi sebagai seorang laki-laki, aku tidak bisa terima.” Aku Devan dengan tegas.
Mendengar ucapan Devan, Bella jadi menengadahkan wajahnya demi melihat wajah sang suami. Bella melihat bibir Devan yang tersenyum kecil, seperti penuh penyesalan.
“Jadi, udah lama kamu cinta sama aku mas?” lirih Bella seraya mengusap dada suaminya. Jantungnya yang berdegub tenang seperti melodi yang menenangkannya.
Devan menundukkan kepalanya sedikit dan membalas tatapan Bella.
“Sepertinya begitu.” Jawab Devan asal.
“Sejak kapan?” Bella semakin penasaran. Ia tidak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang cerah dan berseri-seri.
“Emmm,, Aku gak tau. Yang jelas aku patah hati waktu itu. "Gue tandain lo Rangga!" Aku sampe bersumpah kayak gitu dalam hati.”
“Hahahaha… Beneran?” Bella malu sendiri mendengarnya.
“Iyaa!!” Devan bersungguh-sungguh.
“Nyari cewek lain gak waktu itu?” Bella jadi penasaran.
“Loh, kok nanyanya gitu?” Devan mencubit hidung Bella dengan gemas.
“Iissshh jawab aja. Pasti kamu banyak mantannya kan. Di singapore kan banyak cewek cantik berkualitas yang bisa menarik perhatian kamu pastinya. Heemmhh Iya kan? Ngaku ajalah.” Bella menyikut pinggang Devan dengan sengaja.
“Nggak lah, aku gak pernah pacaran. Walaupun banyak yang naksir aku, aku belum punya keinginan buat ngebangun sebuah relationship.”
“Heemmhh narsis!" Bella mencubit hidung Devan dengan gemas.
"Emang kenapa gak pacaran?” Melihat paras suaminya yang begitu tampan, dengan tubuh atletis yang menarik perhatian, pasti tidak sedikit wanita yang mengincarnya. Penampilannya saja pacar-able sekali. Di tambah sikapnya yang cool. Pasti banyak wanita yang melirik atau agresif mendekat.
“Karenaa,,, Aku belum bisa terbuka sama orang lain. Tentang diri aku, keluarga aku.” Aku Devan dengan yakin.
“Lebih dari itu, om Alwi masih mengikatku dengan sangat kuat, membatasi ruang gerakku. Aku di besarkan untuk menjadi ambisinya dan aku ngerasa, mencintai seorang wanita itu perlu kebebasan. Aku harus bisa mencintai diriku sendiri sebelum mencintai orang lain."
"Di saat terikat seperti itu, mana bisa aku mencintai diriku apalagi orang lain?” Devan jadi tertegun setelah mengucapkan kalimat panjang itu.
Bella bisa membayangkan kegundahan Devan saat itu.
“Terus, kenapa kamu pulang?” Pertanyaan ini yang selalu muncul di pikiran Bella.
“Karena kamu.” Tanpa ragu Devan menjawab seraya menanduk hidung Bella dengan hidungnya.
“Oh ya? Emang aku ngelakuin apa sampai kamu ngerasa kamu harus pulang buat aku?”
“Aku mencemaskan kamu.” Itu alasan paling pasti yang bisa Devan akui.
“Cemasin aku?” Bella balik bertanya, tidak mengerti.
“Iyaa.." Devan mengeratkan pelukannya pada sang istri.
"Ozi bilang, kamu terjebak di hubungan yang toxic. Dia mengatakan kalau dia juga sakit, jadi gak bisa ngejaga kamu dengan baik."
"Saat itu aku sangat takut karena aku pernah ngeliat kamu terpuruk setelah papah kamu meninggal. Itu salah satu penyesalan terbesar aku karena gak ada di samping kamu saat kamu terpuruk."
"Di tambah, aku takut kalau kamu di rusak oleh laki-laki itu. Makanya aku pulang untuk memastikan sendiri kalau kamu baik-baik aja.” Devan semakin mengeratkan pelukannya pada Bella, seperti tidak ingin lagi kehilangan wanita ini.
Antara senang dan terharu perasaan Bella saat mendengar alasan kepulangan Devan saat ini. Ia sampai tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkannya.
“Tapi waktu pertama dateng, kamu acuh banget loh mas. Ngeselin!”
Meski malam merambat, perbincangan mereka terus berlanjut.
“Oh ya? Tapi kamu jadi penasaran kan sama aku?” pertanyaan Devan memang iseng.
"Nggak! Malah aku seringnya bete sama kamu."
"Aku kan ganteng, nama bisa bikin kamu bete?"
Dan semalaman ini sepertinya mereka akan terus mengobrol. Sampai tidak sadar, kalau Ozi menyimak obrolan pengantin baru itu sambil pura-pura tertidur.
Mendengar Bella yang sesekali tertawa kecil membuat perasaan Ozi jauh lebih lega. Juga Devan yang menunjukkan semua usaha terbaiknya, membuat Ozi merasa kalau ia tidak salah menerima permintaan Devan untuk memperistri sang adik.
“Kalian harus selalu seperti ini, bahagia dan saling menjaga. Itu cukup buat gue.” Batin Ozi seraya membuka sedikit matanya.
Dan di saat itu ia melihat kepala Devan seperti bersatu dengan kepala Bella. Apa dia mencium Bella?
Aarrgghh Ozi masih belum rela. Menyebalkan! Rasanya ia ingin melempar bantal pada sahabat sekaligus adik iparnya. Berani-beraninya mengumbar kemesraan di belakang dirinya.
*****