
“Hay,” hanya kata itu yang berhasil lolos dari mulut Bella. Ia berusaha tersenyum namun terlihat jelas wajahnya yang tegang menyembunyikan keterkejutannya.
“Kamu dateng?” ia segera menghampiri Rangga yang terus menatap Devan dengan penuh selidik.
Di rangkulnya lengan Rangga dengan erat. Ia tidak menyangka kalau Rangga akan datang ke rumahnya.
“Makasih udah dateng,” Bella hendak memeluk Rangga, namun urung.
“Eh sorry, ternyata tangan aku kotor.” Ujarnya. Entah ia harus merasa senang atau bagaimana saat melihat Rangga di situasi yang tidak menguntungkan ini.
Membaca raut wajah Rangga, terlihat sekali kalau laki-laki ini penuh rasa penasaran dan kecurigaan.
“Em, ini pak Devan. Kamu inget kan? Kamu pernah ketemu di,”
“Kenapa dia ada di sini?” Rangga mengabaikan penjelasan Bella dan segera menghampiri Devan. Ia berdiri menantang di hadapan laki-laki berambut gondrong itu.
“Oh, dia,” Bella segera menengahi.
“Gue tinggal di sini.” Sahut Devan dengan tenang.
“APA?!” Bella dan Rangga bersuara bersamaan. Keduanya menatap Devan dengan heran.
Melihat keterkejutan Bella dan Rangga, Devan hanya mengendikkan bahunya.
“Masuk aja, Ozi lagi di dalem.” Ajaknya, layaknya tuan rumah. Enteng sekali kalimat itu di ucapkan Devan sampai Bella tidak habis pikir.
“DEVAAAAANNNNNNN….” Batin Bella seraya mengepalkan tangannya kesal. Laki-laki ini benar-benar tidak bisa membaca situasi.
Sementara yang bicara, tampak santai saja. Ia berlalu lebih dulu masuk ke dalam rumah, membiarkan pintu terbuka untuk tamunya. Segaris senyum di tahannya saat melihat wajah kesal Rangga dari pantulan kaca jendela.
Saat menoleh, ternyata Rangga sedang memandanginya penuh tanya. Bella tersenyum kelu pada Rangga.
“Aku bisa jelasin yang,” bujuknya.
Namun Rangga tidak memperdulikannya. Ia melangkah masuk ke rumah menyusul Devan yang berjalan dengan tenang.
“ASTAGAAAAA!!!! Gila ya si Devan ini!” gerutu Bella di belakang Rangga.
Sampai di ruang keluarga, terdengar suara tawa dari Inka dan Saras yang sedang bercengkrama. Sementara Ozi masih dengan ponselnya yang menyala dan sibuk menyimak pembicaraan orang di sebrang sana.
“Iya, lusa gue udah masuk kok. Nanti road map nya email aja ke gue. Okey, thanks bro, buat do'anya.” Ujarnya. Dan tidak lama panggilan pun terputus.
“Nak Rangga? Masuk nak,” sambut Saras. Sontak ia berdiri.
Ozi yang baru menyelesaikan panggilannyapun segera menoleh.
“Apa kabar tan?” Rangga menyalami tangan Saras.
“Bang,” bergantian dengan Ozi.
“Baik. Ayo duduk.” Saras memang sangat ramah berbeda dengan Ozi yang hanya menjawabnya “Hem,” dengan tatapan tidak percaya.
“Makasih tan,” Rangga duduk berhadapan dengan Ozi yang menatapnya dingin.
“Bikin minum dek,” Saras melirik Bella yang terlihat tegang berdiri di tempatnya.
“Iya mah. Aku tinggal bentar ya,” tidak lupa ia mengusap bahu Rangga.
Rangga terangguk ringan seraya tersenyum.
“Gue bantuin Bell. Inka bantu Bella dulu ya tan.” Inka segera beranjak dari tempatnya. Aura ruangan yang berubah tegang, membuatnya tidak berani berada di antara orang-orang tersebut.
“Iya nak.”
Bella meninggalkan Rangga, Ozi, Saras dan Devan di ruang keluarga. Untuk beberapa saat suasana hening, entah bagaimana mengawali perbincangan di suasana yang canggung ini.
“Gimana kabarnya bang?” Akhirnya Rangga memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu.
“Baik, seperti yang lo liat. Lo sendiri, gak lagi sibuk sama band lo?” Ozi memperhatikan Rangga yang canggung di hadapannya.
“Emm, nggak bang. Kebetulan akhir-akhir ini belum ada jadwal manggung lagi. Paling yaa latihan aja sama anak-anak.” Rangga mulai merasakan suasana yang mencair.
“Udah punya berapa lagu sekarang?” lagi Ozi bertanya.
“11 lagu bang. Kita lagi fokus nyari produser. Tapi ya, gak segampang itu ternyata.”
“Eemmm… 11 lagu dalam waktu lebih dari 5 tahun ya?”
“Gue rasa band lo gak terlalu produktif ya. Sorry nih, gue ngomong gini.” Ujar Ozi dengan santai. Entah apa maksud kalimatnya barusan.
Yang jelas, Rangga hanya bisa tersenyum kelu. Ia memang harus terbiasa dengan sikap Ozi yang menunjukkan jelas rasa tidak sukanya pada Rangga. Untuk menguatkan dirinya sendiri, ia mentautkan jari-jarinya yang kemudian ia remas. Ujaran Ozi tidak terlalu nyaman di telinga dan hatinya.
“Kenapa gak lo coba hal yang lain. Misal, lo kirim demo lagu lo ke perusahaan film, siapa tau bisa jadi soundtrack kan. Atau lo manggung jangan nunggu ada event, tapi ngisi di café-café, kan lumayan juga. Lo bisa cepet di kenal orang. Atau juga, lo bisa apply lamaran ke tempat gue kerja, lagi ada rekrutment buat pegawai magang, tim sound.” Tawar Ozi yang tersenyum kecil.
Entah ini suatu kesungguhan atau bukan, yang jelas Rangga merasa kalau Ozi sedang mengejeknya.
“Makasih tawarannya bang, cuma gue masih coba jalur band bareng temen-temen.” Tegas Rangga.
“Yaaa,, boleh aja sih lo kukuh sama pendirian lo. Cuma jadi cowok itu harus punya plan A, B, C kalau perlu sampe Z. Apalagi lo udah lama macarin anak orang. Perlu kepastian dong dia.” Kali ini Ozi tersenyum sinis.
Rangga tidak menimpali, ia hanya termangu menatap Ozi. Ada senyum kelu yang ia tunjukkan pada calon kakak iparnya. Ia pun menoleh Devan yang tampak sibuk dengan benda pipih miliknya, mungkin sedang berbalas pesan. Namun tidak mungkin Devan tidak mendengar ujaran calon kakak iparnya.
"Abang, setiap orang kan punya pilihan masing-masing, yang penting dia terus berjuang, gak putus asa dan tanggung jawab sama pilihannya." Saras mencoba menengahi.
Sedikit terbantu oleh ucapan Saras, Rangga merasa lebih baik.
Di tempatnya Ozi hanya mengangguk-angguk saja, sesekali menggaruk pelipisnya yang sebenarnya tidak gatal. Kalimatnya sedikit terpatahkan oleh ujaran Saras. Namun ia tidak kehabisan cara.
“Bro, gue denger salah satu project lo udah mau naik tayang ya?” kali ini Ozi bertanya pada Devan.
“Hem, awal bulan depan.” Devan yang sedang asyik dengan ponselnya, segera menaruh benda pipih tersebut.
“Keren, lo emang cekatan. Sukses bro.” Ozi menepuk bahu Devan dengan bangga.
Devan hanya tersenyum. Tanpa sengaja, ia melihat tatapan sinis dari Rangga yang tengah mengepalkan tangannya.
Jika saja mereka berada di luar, mungkin akan terjadi baku hantam karena merasa di perbandingkan.
*****
“****!” dengus Rangga.
Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa lantas mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa kesal dan marah berkecambuk di dadanya dan tidak bisa ia abaikan begitu saja.
Bukan hanya karena ia melihat laki-laki yang ia curigai ternyata tinggal di rumah Bella tapi karena sikap Ozi yang terkesan sangat membanggakan Devan di hadapannya. Ia seperti tidak ada harganya di hadapan Ozi dan Saras.
“AAARRGGHHH!!!!!”
Dan yang menyedihkan adalah, cara Ozi menatapnya dan cara Devan menatap Bella. Ada yang mengganjal di hatinya.
“Lo kenapa?” tanya Niko yang mendekat. Sedari tadi ia memperhatikan sahabatnya yang datang dengan wajah kesal.
“ASS****UU semuanya!!!” dengus Rangga. Ia menangkup wajahnya dengan kedua tangan sambil *******-***** kepalanya yang terasa pusing.
“Berantem lagi lo sama Bella?” selidik Niko.
Rangga berdecik sebal. Ia menatap sahabatnya dengan tajam.
“Laki-laki itu tinggal serumah sama Bella.” Ujarnya penuh penekanan.
“Laki? Laki-laki yang mana?” Niko semakin penasaran dengan cerita Rangga.
“Yang lo liat di warung soto.” Tegas Rangga.
“Oouuhhh…” mulut Niko membulat.
Beberapa hari lalu ia memang melihat Bella makan soto bersama seorang laki-laki. Saat itu juga ia memberitahu Rangga dan siapa sangka ternyata Rangga menyusul Bella ke kantornya. Dan benar saja, Bella turun dari sebuah mobil bersama laki-laki itu.
“Tapi kok bisa? Lo udah nanya sama Bella langsung?”
Rangga beranjak dari tempatnya, berjalan mondar mandir tidak tentu arah.
"Udah, tapi jawabannya gak masuk akal. Ada yang dia sembunyiin dari gue." Rangga terlihat gelisah.
Ia masing mengingat bagaimana terkejutnya Bella saat ia tiba di rumahnya. Bagaimana santainya ia bersama-sama membuang sampah sambil sesekali saling lirik. Gerah rasanya. Dan tadi sebelum pulang, Bella memberinya penjelasan yang menurutnya masih janggal.
“Dia temen abang dari kecil, kamu gak usah mikir macem-macem yang.”
“Dengan santainya dia ngomong gitu sama gue.” Rangga mencontohkan cara Bella berbicara.
“Terus respon lo apa?” Niko menepuk tempat di sofa agar Rangga kembali duduk.
Ia menggeleng malas.
“Ya gue tanya, sedeket apa hubungan dia sama cowok itu. Dia cuma bilang, gak ada yang spesial, cuma sekedar teman di tempat kerja dan kerabat di rumah. Katanya nyokap Bella temenan sama nyokapnya cowok gondrong itu.” cerocos Rangga dengan kesal.
Mendengar jawaban Rangga, Niko hanya tersenyum kecil.
“Gimana rasanya?” tanya Niko seraya menepuk bahu Rangga. Ia beranjak menuju kursi tempat ia bermain drum.
“Maksud lo?” Rangga mentautkan alisnya, kesal dengan cara Niko yang seolah meledeknya.
“Ya gimana rasanya di bikin cemburu sama Bella?"
"Selama ini lo cuek kan sama dia. Dia nelponin gak lo jawab sampe akhirnya dia nelponin gue dan anak-anak cuma buat nanya kabar lo. Dia chat kemarin baru lo bales besok lusa. Dan sekarang?” Niko terkekeh sendiri melihat raut wajah Rangga.
“Tapi tunggu, lo sebenernya bukan cemburu, lo cuma takut mainan lo di ambil orang. Karena cemburu, cuma milik mereka yang masih peduli sama pasangannya.”
“Trang!!!!” Niko memukul cymbal drum hingga berbunyi nyaring.
"Lo gak usah sok tau! Lo gak tau apa-apa soal gue sama Bella." kilah Rangga dengan kesal.
"Yaaa, detail hubungan lo gue emang gak tau. Tapi, sebagai sesama cowok, gue tau persis. Lo cuma pura-pura aja orang lain gak tau soal lo sama," Niko tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat tatapan Rangga yang di penuhi kemarahan.
"Okey, gue emang gak tau apa-apa." Imbuhnya. Ia tersenyum kecil sambil terus memainkan drumnya. Ini lebih menyenangkan baginya di banding harus menceramahi Rangga.
Sementara Rangga hanya terpaku di tempatnya, menatap Niko tanpa berkata apapun. Sampai kemudian ponselnya berdering dengan satu nama di sana,
“Ya, by?” lantas ia pergi menjauh dari Niko yang asyik dengan dunianya sendiri.
“Itu yang gue maksud.” Gumam Niko sambil menggelengkan kepala.
****
“Script selesai!!!!” seru Bella seraya menaruh tumpukan kertas di atas meja Devan.
Wajahnya terlihat ceria dengan senyum mengembang. Walau tidak di pungkiri, ada lingkaran hitam di matanya.
“Good! Gue baca dulu.” refleks Devan ikut tersenyum.
“Okey. Siang ini, bisa makan siang bareng? Gue pikir kita perlu penyamaan persepsi supaya frekuensi lo sama gue sama soal alur ceritanya dan plot tiap partnya.” Ajak Bella tanpa ragu.
Tumben, pikir Devan. “Lo yang tentuin tempatnya.” Sahut Devan tanpa penolakan.
“Okey. Nanti gue kabarin.” Bella mengacungkan jempolnya.
Saat Bella berlalu dan membuka pintu hendak keluar dari ruangan Devan, saat itu pula ponselnya berdering. Langkahnya terhenti dan langsung mengecek ponselnya.
“Kabari lewat sini.” Bunyi pesan tersebut.
Bella langsung berbalik dan Devan mengangkat ponselnya. “Nomor gue.” Ujarnya.
Bella hanya mengulum senyum lantas keluar dari ruangan Devan. Sementara Devan tersenyum kecil melihat langkah riang Bella meninggalkan ruangannya.
“Bos! Gue izin Netflix-an sama nongkrong di kolam. Gue mau nikmatin me time bentar.”
Satu pesan di terima Devan dan ternyata pengirimnya Bella. Ia melihat dari jendela, gadis itu sedang mengenakan headset-nya dan melenggang ke luar ruangan.
“Perlu gue beliin pop corn?” tawarnya iseng.
“Rasa caramel paling enak.” Balas Bella.
Devan tersenyum semakin lebar membaca balasan pesan Bella. Ternyata sangat mudah memberi apresiasi pada seorang Bella.
Tanpa menunggu lama, ia membuka aplikasi pesan antar dan memesan beberapa makanan. Sambil menunggu, ia mulai membaca script buatan Bella di meja kerjanya. Sesekali ia tersenyum, sesekali ia mengernyitkan dahi dan adakalanya wajahnya datar atau mengkerut menahan kesal. Emosinya bercampur.
“Tring!” satu pesan lagi masuk.
“Makasih pop corn sama lychee tea-nya.” Tulis Bella di sertai sebuah foto makanan yang dibelikan Devan. Yang menarik adalah foto latarnya yaitu kaki Bella yang berada di dalam air kolam.
“Enjoy it. Tapi jangan kelamaan, lo bisa kena flu.” Balasnya.
“Hatchi!!!!” baru juga pesan Devan di bacanya, Bella sudah bersin lebih dulu.
“Gue kira yang bisa perhatian cuma manusia doang.” Ledek Bella.
Devan hanya tersenyum sambil berulang membaca pesan yang di kirim Bella.
Menikmati waktu bebasnya, Bella habiskan dengan berdiam diri di tepian kolam renang. Ponselnya masih memutar drama korea favoritnya sementara mulutnya sibuk mengunyah pop corn ukuran besar yang di belikan Devan.
Hah, ini lah yang menyenangkan bagi Bella. Merasakan kakinya yang dingin seperti otaknya berhenti berpikir, tidak ada lagi kegaduhan suara-suara tokoh yang ia ciptakan dalam imajinasinya. Ia hanya perlu mengikuti alur yang ada di drama yang di tontonnya tanpa perlu memikirkan akhir drama ini seperti apa. Otaknya seperti beristirahat dengan nyaman untuk beberapa saat.
*****