
POV Bella
Aku masih tidak mengerti dengan laki-laki ini. Laki-laki yang tidak membiarkanku turun dan berjalan sendiri padahal aku sudah memprotesnya.
"Gue bisa jalan sendiri." Ucapku yang memilih untuk tidak dia hiraukan.
Tiba di rumah sakit, Dia memilih menggendongku dari sejak tempat parkir hingga ke kamar dan membaringkanku dengan hati-hati.
"Lo bisa nyimpen tenaga lo buat besok-besok." Timpalnya seraya menatapku.
Ya, aku memang tidak pernah mengerti seperti apa sebenarnya pikiran laki-laki bernama Devan ini. Sejak sore hingga saat ini dia memperlakukanku dengan cara yang berbeda-beda.
Di mulai dari dia yang memberiku kepercayaan dengan melepas strait jacket di tubuhku dan membawaku keluar dari ruangan dominan berwarna putih ini. Dia seperti sangat percaya kalau aku tidak akan melakukan hal bodoh apapun di hadapannya.
Dia juga memberiku kebebasan dengan membiarkanku menangis sejadinya di hadapannya tanpa pernah protes sedikitpun. Dia hanya menambahkan suara musik yang membuatku merasa tidak ada yang mendengar suara tangisku kecuali aku sendiri.
Gila, ya memang gila.
Baru kali ini aku membiarkan orang lain melihatku sebagai seseorang yang lemah. Aku membiarkan Devan duduk di sampingku, mendengarkanku meracau tidak jelas, meraung untuk mengekspresikan kemarahanku dan tentu saja mengumpat dengan kata-kata kasar atas hal bodoh yang selama ini aku lakukan.
Dia tidak pergi, tidak juga mengomentari. Dia memberiku ruang yang sangat cukup untuk mengakui apa yang aku rasakan selama ini di hadapan orang lain.
Hingga saat ini Aku sampai tidak sadar kalau aku masih mengalungkan tanganku di lehernya. Cepat-cepat aku menariknya dan menempatkannya di atas perutku, dengan jemari saling tertaut satu sama lain.
Aku sadar kali ini Devan tengah menatapku. Padahal biasanya dia tidak pernah menatapku dengan lekat dan sering kali memalingkan wajah saat kami bertemu pandang, seolah wajahku tidak enak untuk di lihat.
Dia juga mengusap kepalaku, Merapikan rambutku yang berantakan. Jujur, ini membuatku tidak berani untuk mengangkat wajah dan balas menatapnya.
"Lo istirahat dulu. Jangan egois lagi sama diri lo sendiri." Ujarnya tiba-tiba.
Dia menaikkan selimut hingga ke batas tubuhku. Tapi dia tidak memasangkan kembali strait jacketku, seolah yakin aku tidak akan melakukan hal gila lain di hadapannya.
"Emang gue egois banget ya?" Tanyaku.
Pertanyaanku membuat Devan tersenyum tipis. Aku melihatnya dari sudut mataku.
Dia tidak lantas menjawab. Ia mengambil kursi dan menempatkannya di samping tempat tidurku, lalu duduk di sana. Dia sengaja membalik kursinya agar dagunya bisa ia topang dengan tangan yang bersandar pada sandaran kursi.
Hey, apa yang sedang dia lakukan? Memandangiku?
Aku mendengarnya menghela nafas dalam. Aku tahu, pertaanyaan yang aku tanyakan memang sangat khas wanita. Di jawab dengan jujur, mungkin aku tidak akan menerimanya dan jika dia berbohong, kepercayaanku akan hilang.
Serba salah bukan?
"Sering kali lo sangat egois terhadap diri lo sendiri." Aku mendengar jawabannya dan membuatku menoleh.
Dia menjawab dengan jujur. Dan jawabannya terasa seperti menamparku.
"Apa yang lo kejar Bell, sampe lo bekerja terlalu keras?" Lagi dia menatapku dengan lekat, membuatku memalingkan wajahku dan memilih menatap satu titik putih di hadapanku.
"Lo gak perlu bekerja terlalu keras, sampe ngelupain hak tubuh lo buat beristirahat hanya demi ngebahagiain orang lain. Inget, kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab lo sepenuhnya." kalimatnya terdengar penuh penekanan membuat rasa khawatir yang ada di hatinya sampai kepadaku.
"Tubuh lo perlu istirahat. Pikiran lo perlu istirahat supaya gak overthinking terus. Inget, mereka yang ada di hidup lo termasuk gue, selalu punya pilihan sendiri yang gak bisa lo atur dengan script lo. Mereka punya script sendiri dalam hidup mereka, seperti hal nya lo. Yang perlu lo lakuin adalah merespon dengan tepat pilihan mereka termasuk kenyataan kalau mereka berhak menentukan seperti apa kehidupan yang mau mereka jalani."
"Tetap ada di jalan cerita bersama lo, atau keluar dari jalan cerita dengan menjalani cerita mereka sendiri tanpa melibatkan lo."
Setelah pipi kanan, kali ini pipi kiriku yang di tamparnya. Tapi mengapa aku tidak merasakan sakit? Aku tidak bisa memprotesnya.
"Sial! Lo nampar gue." Gumamku yang masih di dengar Devan.
"Apa sekarang lo ngerasa gue bangunin?" Dia bertanya padaku.
Tepat, seperti itu rasanya. Devan bukan menampar untuk menyakitiku tapi membangunkanku. Membangunkan ego yang aku tekan dalam-dalam hanya demi membuat orang lain bahagia.
Bukankah egoku sebenarnya adalah bahwa aku juga berhak bahagia?
Aku tidak lantas menjawab, hanya menatap Devan dengan lekat. Sejak kapan dia begitu mengenalku?
Dia beranjak dari tempat duduknya.
"Istirahatlah. Lo boleh mikirin ini tapi inget, lo gak perlu jadi gelas kosong hanya buat nampung kesulitan orang lain dan mengantinya dengan curahan kebahagiaan."
"Lo berhak bahagia, lo berhak untuk tenang, lo berhak tidur dengan nyenyak, lo berhak untuk mimpi indah dan lo berhak memilih siapa yang berhak masuk ke pikiran lo, bermain dalam script lo."
"Dan mereka yang udah mengecewakan lo gak perlu lo pertahanin untuk bermain lebih lama di script lo apalagi mendapat perhatian lebih dari lo. Lo pemeran utamanya, bukan mereka."
"Lo udah berusaha semampu lo. Lo udah ngelakuin yang terbaik buat orang yang lo sayang. Tapi kalau kemudian mereka memilih pergi, maka bukan lo yang kehilangan mereka. Tapi mereka yang kehilangan lo." Ujar Devan beruntun sambil mengusap kepalaku.
Ucapannya tidak jauh berbeda dengan ucapan terapisku pagi tadi. Tapi rasa yang sampai ke dasar hatiku jauh berbeda.
Aku hanya tercenung. Ucapan Devan seperti bongkahan es yang selama ini aku bekukan dan tidak aku usik di sudut hati dan pikiranku. Ini menyakitiku dan aku tahu itu. Tapi selama ini aku tidak bisa mencairkannya. Mungkin Devan benar, itu adalah ego yang selama ini aku tekan. Aku egois terhadap diriku sendiri dan aku tidak pernah berusaha membahagiakan diriku sendiri.
Aku masih memandangi Devan yang berjalan menjauh dariku. Dia membaringkan tubuhnya di sofa, menjadikan lengannya sebagai bantal lalu memejamkan matanya.
"Percayalah, lo bisa tidur nyenyak saat lo bisa berpikir kalau kebahagiaan mereka bukan tanggung jawab lo sepenuhnya." ujarnya yang sayup-sayup masih aku dengar.
Entah mengapa saat mendengarnya hatiku jadi meringis. Devan benar, aku berhak bahagia walau tanpa mereka. Dan kebahagiaan mereka bukan tanggung jawabku sepenuhnya.
Ku toleh laki-laki yang sudah membaringkan tubuh dan memejamkan matanya.
"Van," panggilku.
"Hem," hanya itu sahutan singkat yang ku dengar. Dia lantas menoleh padaku dengan tatapannya yang hangat.
"Hem, tidurlah." Aku melihat senyuman tipis di bibirnya. Entah sejak kapan keberadaan Devan di sekitarku membuatku merasa lebih tenang.
Mengiyakan ujaran Devan, lantas akupun menutup mata tanpa memalingkan wajahku dari Devan. Aku ingin saat aku membuka mata karena mimpi buruk, ada seseorang yang bisa aku lihat.
Satu tetes air mata menjadi penutup malamku. Aku tetap memejamkan mataku, membiarkan air mata menetes untuk terakhir kalinya. Ku tarik nafas dalam beberapa kali lalu menghembuskannya.
Tuhan, aku ingin melepaskan mereka.
******
"BUK!!!” satu pukulan telak di berikan Ozi pada Rangga.
Tidak hanya sekali dua kali, tapi berkali-kali hingga laki-laki itu terhuyung dan jatuh. Laki-laki itu terkapar di jalan beraspal dengan wajah yang di penuhi lebam dan darah.
Ozi dengan kebuasannya, mencekram kerah baju Rangga, kembali mengangkat kepalnya namun saat akan menghantamkan lagi bogem mentahnya Rangga hanya tersenyum tanpa meringis sedikitpun. Seperti ia sudah bersiap menerima semua kemarahan Ozi.
“AARRRGGHHHHH!!!!!” teriak Ozi yang urung melanjutkan pukulannya ke wajah Rangga.
Kemarahannya seperti tidak habis hanya dengan menghadiahi Rangga dengan banyak pukulan. Dan Rangga tidak sekalipun berusaha melawan atau menghindar. Ia membiarkan Ozi melampiaskan kemarahannya. Mungkin dengan begini rasa mengganjal di hatinya sedikit berkurang.
“AAkkhh sial!” akhirnya Ozi melepaskan cengkramannya. Tenaganya tidak sekuat dulu untuk menghajar Rangga hingga puas.
Ia menjatuhkan tubuhnya terduduk di samping Rangga. Di cengkramnya kepalanya yang berdenyut nyeri, efek penyakit dan kemarahan yang bercampur menjadi satu.
“Kalau lo masih belum puas, lo bisa pukul gue lagi.” Tantang Rangga dengan nafas terengah.
Ia meringis, menyentuh sudut bibirnya yang berdarah namun ia tahu rasa sakitnya mungkin tidak sebanding dengan besarnya kemarahan dan kesakitan Ozi.
Ozi menoleh laki-laki di sampingnya dan laki-laki itu hanya tertawa dengan tawa yang di eja, mengejek dirinya sendiri. Lagi, Rangga tidak berkutik di hadapan keluarga Bella terutama Ozi.
Kalau saja ia tidak ingat laki-laki ini pernah berada di titik tersulit Bella di usia remajanya, mungkin Ozi sudah menghabisinya.
“Gue udah ngelepasin adek lo, apa lo masih belum ngerasa menang?” tanya Rangga.
Dengan tubuh sempoyongan laki-laki itu berusaha bangkit dan ikut duduk di samping Ozi.
“Lo selalu bilang kalau gue cowok brengsek, gak bisa di andelin ngejaga Bella dan gak berjuang apa-apa buat dia. Apa sekarang gue udah memenuhi ekspektasi lo sampe gak terima gue lepasin Bella?” lagi Rangga bertanya seraya tersenyum sinis pada Ozi.
“Lo lebih brengsek dari yang gue duga.” Dengus Ozi membalas tatapan Rangga dengan sinis.
“Hahahaha…” Rangga tertawa.
Tertawa sangat dalam sampai bahunya bergerak naik turun. Tapi kemudian ia terdiam. Termenung dengan air mata yang menetes.
“Gue capek." Akunya, termenung dalam.
"Gue gak bisa bertahan sampai akhir sama Bella. Gue udah ngerasa kalau hubungan kami ini beban buat gue.” Imbuhnya.
Tanpa terasa air mata menetes di sudut mata Rangga. Tidak bisa ia pungkiri, sesekali hatinya meringis saat ingat bahwa Bella pernah memberi banyak warna dalam hidupnya. Berjuang dengan keras untuk membahagiakannya.
“Jangan playing victim lo depan gue. Lo memposisikan Bella seolah dia wanita yang memberi lo banyak beban. CIH! Lakonan lo gak berarti buat gue.” Sinis Ozi yang tidak mempercayai ucapan Rangga.
“Lo punya perasaan gak sih? Lo bisa bayangin gak sih sesakit apa gue ngeliat Bella sekarang?"
"Kalau lo gak cinta sama dia, lo gak perlu menjanjikan angin surga buat dia. Mungkin dengan begitu dia gak akan sehancur sekarang.” Imbuh Ozi dengan mata merah yang berair. Dadanya jauh lebih sesak sekarang.
Rangga tersenyum tipis. Ia kembali menatap Ozi. “Lalu gue harus apa?”
“Bukankah hanya dengan cara itu gue bisa bikin Bella pergi dari hidup gue?”
Ia tahu benar kalau Bella sangat membenci perselingkuhan. Ia sangat yakin, setelah melihatnya berselingkuh, Bella akan pergi dengan sendirinya. Tanpa ia tahu kalau perasaan Bella tidak sedangkal itu.
Tidak,
Ia tahu kalau perasaan Bella terhadapnya tidak sedangkal itu. Ia hanya terlalu terbiasa melihat deburan perasaan yang terlampau besar dari Bella sementara ia tidak bisa mengimbanginya. Lantas, semuanya menjadi terlalu biasa bagi Rangga.
Bella yang berjuang untuknya, Bella yang selalu bertahan untuknya dan Bella yang selalu menaruh kepercayaan penuh terhadapnya, terasa terlalu biasa. Ia sampai tidak menemukan celah, bagian mana yang harus ia lengkapi.
Dan kini Bella hancur. Ia tidak pernah menyangka hal seperti itu terjadi. Ia pikir Bella akan selalu kuat. Berdiri di atas kakinya sendiri. Mahluk superior yang tidak pernah mengeluhkan hal apapun. Tapi kali ini ia salah.
Tidak, selama ini ia salah. Menimbang perasaan Bella hanya berdasarkan takaran perasaannya.
“Gue yakin suatu hari lo bakal nyesel." Ujar Ozi dengan penuh keyakinan.
"Lo mungkin bisa nemuin perempuan yang lebih baik dari Bella, tapi yang seperti Bella, gak akan pernah ada lagi."
"Perempuan yang bisa nerima kebrengsekan lo selama ini. Kesemana-menaan lo selama ini. Yang nemenin lo dari lo gak punya apa-apa. Bersabar walau lo acuh dan menyemangati lo saat lo bilang lagi berjuang padahal bukan buat dia."
"Saat lo ngerasain kalau kondisi itu benar-benar ada, gue minta, lo gak usah mengusik hidup Bella lagi. Apa lagi bermimpi lo bisa bersama Bella lagi. Langkahi mayat gue sebelum lo berani mendekat lagi sama Bella.” Tegas Ozi tidak bisa di bantah.
Harus ia akui, ia memang mengharapkan Bella menyadari bahwa Rangga bukan laki-laki yang harus ia tunggu. Tapi ia tidak pernah berpikir kalau Bella akan mengalami kehancuran mental seperti saat ini.
Dalam benaknya, Rangga adalah racun dalam hidup Bella. Harus ia jauhkan Rangga agar Bella tidak semakin terluka. Tanpa ia duga, mengakhiri luka Bella sama dengan membuat luka dan membuka trauma sang adik. Sungguh ia sangat menyesal.
Di tempatnya, Rangga hanya tercenung. Terangguk kecil berusaha memahami kemarahan dan kekecewaan Ozi. Lantas ia tertunduk dalam. Sangat dalam, tenggelam dalam pikirannya yang kini tidak bermuara.
Mungkin, begini lebih baik.
******