
“Okey, so tumben lo keluar sendiri?” Tanya Niko sesaat setelah menaruh dua gelas kopi di hadapan mereka. Akhirnya mereka berbincang santai setelah penampilan mereka selesai.
Saat ini mereka tengah berada di depan sebuah food court yang menjual khusus aneka minuman berbahan dasar kopi. Walau sudah menjelang dini hari, namun mereka memutuskan untuk melajutkan perbincangan setelah tadi manggung dadakan yang menguras energi namun menyenangkan.
Sudah satu minggu lebih Niko manggung di salah satu sudut khusus food court ini namun baru hari ini banyak orang yang menonton penampilan Niko. Biasanya hanya banyak di awal lalu perlahan berangsur bubar. Tapi kali ini mereka bertahan sampai akhir. Mungkin karena ada Rangga yang menemaninya. Seperti biasa, Rangga selalu mahir untuk berinteraksi dengan penonton. 14 lagu mereka nyanyikan hingga suara mereka nyaris serak.
Dan kedatangan Rangga menjadi sesuatu yang tidak di duga oleh Niko. Walau mereka kerap berselisih paham, ternyata Rangga tidak pernah melupakannya.
“Gue juga gak nyangka bisa ada di sini.” Aku Rangga sekali lalu meniup lantas menyeruput minuman hitam yang masih mengepulkan asapnya.
Matanya masih memandangi tumpukan alat band yang belum selesai mereka bereskan.
Niko memperhatikan sahabatnya dengan lekat. Terlihat jelas kalau Rangga sedang menyembunyikan kegundahannya.
“Sorry, hubungan lo sama Ara baik-baik aja kan?” Selidik Niko yang penasaran. Setelah lama mengenalnya, baru kali ini Rangga terlihat kosong.
Rangga tersenyum kecil. Ia mengeluarkan satu kotak rokok dari dalam sakunya beserta ponselnya yang mati.
“Akan selalu baik-baik aja selama gue nurutin maunya dia. Lo pasti tau itu.” Sahut Rangga seraya tersenyum sinis pada Niko.
“Gue berasa jadi buronan yang wajib lapor setiap 10 menit sama dia. Dia selalu curiga sama gue, ngungkit-ngungkit masa lalu gue sama Bella. Banding-bandingin dirinya dengan Bella. Ya lo bayangin lah, gimana rasanya di ikat dengan sangat kuat sampe gue ngerasa sesak.” Tutur Rangga dengan tatapannya yang sendu dan sesekali terlihat kilatan kemarahan.
Niko terangguk paham. 4 tahun bersama Amara tentu ia sangat tahu persis bagaimana sikap dan cara Amara dalam memperlakukan pasangannya.
“Ya mungkin Ara memang memiliki kekurangan tapi positifnya anggap aja itu bentuk perhatian dia sama lo. Pasangan lo cemburu kan karena dia cinta sama lo. Lagian, lo udah milih dia dan ngelepasin Bella. Kenapa nggak lo coba bertahan.” Hibur Niko, walau ia tahu ini tidak akan berarti untuk Rangga.
Lihat saja Rangga yang tersenyum sarkas. Saran Niko malah terasa seperti sebuah sindiran.
“Kenapa lo matiin hp lo, bukannya itu malah bakal mancing Ara untuk ngelakuin hal yang aneh-aneh?” Niko memandangi layar ponsel Rangga yang mati.
“Gue perlu waktu buat bernafas Ko.” Rangga mengusap wajahnya dengan kasar. Tarikan nafasnya terdengar lama dan dalam. Laki-laki ini seperti benar-benar lelah.
“Entah mengapa, gue ngerasa kalau keputusan gue kemaren salah. Harusnya sama Bella lah gue bertahan. Iya kan?” Kali ini Rangga menatap Niko penuh tanya, seperti menunggu sahabatnya untuk mengiyakan.
“Oh ya? Lo baru sadar itu sekarang?” Niko balik bertanya dan membuat Rangga mengigit bibirnya sendiri dengan kelu.
Dulu entah berapa kali Niko mengingatkan agar Rangga mengakhiri permainannya bersama Amara. Hatinya ikut meringis sedih setiap kali Bella kebingungan mencari Rangga, bertanya kabarnya, cemas terjadi sesuatu yang buruk pada kekasihnya hingga Bella bertanya,
“Ko, gue salah apa ya sama Rangga? Apa Rangga udah bosen atau gak cinta lagi sama gue?” Tanya Bella dengan tangis tertahan.
Niko masih mengingat persis bagaimana eskpresi rasa bersalah dan tidak percaya diri itu di tunjukkan Bella padanya. Dan saat itu Niko tidak bisa menjawab karena ia tahu di belakang sana Rangga sedang berduaan dengan Amara.
Di tengah kegalauan dan kecemasan Bella, mereka pergi berlibur ke pulau dewata, minum-minum di club sampai keduanya mabuk hingga beberapa hari staycation di hotel padahal Bella kelabakan mencari mereka.
Miris, ya saat itu Niko hanya bisa miris seraya melihat bagaimana perjuangan Bella untuk sahabatnya.
“Apa usaha gue kurang ya Ko, buat nunjukkin ke Rangga kalau gue cinta sama dia?” Pertanyaan Bella yang satu itu tidak bisa Niko jawab, hingga akhirnya Bella menemukan jawabannya sendiri.
“Ga, lo udah ngelangkah sejauh ini. Lo akan terlihat sangat jahat kalau sekarang lo masih mikirin Bella. Inget, lo yang nyakitin dia, bukan dia yang nyakitin lo.” Niko jadi terbawa kesal mendengar semua keluh kesah Rangga saat ini.
Rangga tidak lagi menjawab. Ia mengeluarkan secarik kertas lantas menaruhnya di atas meja. Ia membiarkan kertas itu terbuka dan Niko bisa membacanya.
Perlahan Rangga menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi rotan. Ia menengadah memandangi langit malam yang gelap dan seperti bersiap untuk runtuh menimpanya. Bibirnya mulai bergumam lirih menyanyikan lagu yang belum selesai ia buat. Sedikit demi sedikit ia menutup matanya dan terlihat titik air mata yang kini menetes di sudut matanya.
“I Miss her…” Lirihnya di sela gumaman lagu yang ia nyanyikan.
Niko hanya memandangi sahabatnya dengan penuh iba. Ia mengambil kertas yang berada di atas meja. Dibacanya dengan seksama tulisan Rangga. Isi lagunya seperti menceritakan perasaan Rangga saat ini. Rasa sesal dan takut kehilangan yang begitu besar hingga laki-laki ini sukar bernafas.
Niko hanya menghembuskan nafasnya kasar. Setelah perpisahannya, baru kali ini Rangga terlihat menyesal. Sayangnya, ia terlambat.
*******
Sementara itu, di tempatnya Amara masih memandangi layar ponselnya. Ia membaca kembali barisan pesan yang ia kirim pada Rangga.
“Yang, kamu dimana?”
Setengah jam sudah dari sejak pesan itu di kirim, Rangga belum juga membalas pesannya.
“Hey, don’t you miss me? Ini udah 3x10 menit dan kamu belum menjawab pesanku. Are you okey?” Itu pesan kedua yang di kirim Amara beserta foto selfie dirinya yang memasang ekspresi cemas.
Amara memutuskan untuk menelpon Rangga, tapi ternyata ponselnya malah tidak aktif.
“Ga, aku keluar dengan pakaian ini. I look a like cute hyena right? Raawrr…” Amara mengirimkan lagi pesan, beserta foto selfie yang menunjukkan ia mengenakan baju seksi dengan belahan dada yang terekspose.
Ia yakin, kalau Rangga membaca pesan ini, Rangga akan segera menghubunginya dan bertanya ia ada di mana. Lantas bergegas membawanya pulang dengan raut wajah cemas.
Sayangnya, sudah 4 jam berlalu, Rangga tidak kunjung memberinya kabar. Pikiran burukpun mulai merasuki pikiran Amara.
Mungkinkah Rangga mulai tidak mencintainya? Ataukah Rangga sedang berusaha kembali mendekat pada Bella? Apa mereka sekarang bertemu? Apa Bella luluh? Apa mereka kembali? Lalu bagaimana dengan ia sendiri? Apa yang bisa ia lakukan untuk tetap bisa menggenggam tangan dan hati Rangga?
Pikiran-pikiran itu benar-benar menguasai Amara. Amara akui, ia memang kerap membuat masalah untuk menarik perhatian Rangga. Ia hanya ingin fokus Rangga tertuju padanya. Ia sering kali cemburu hanya karena mengingat kalau dulu perlakuan Rangga pada Bella jauh lebih manis dibandingkan perlakuan Rangga padanya. Rangga yang kini bersamanya, bukan lagi Rangga yang ia puja saat bersama Bella. Ia kehilangan sosok itu.
Dan saat ini Ia sangat berharap Rangga menghubunginya dan mengomelinya. Mereka berdebat sedikit, marah-marahan kecil lalu berakhir dengan menghabiskan malam berdua di atas ranjang yang sama.
Tapi ternyata semua hanya ada di angan-angan Amara. Kini ia masih berada di sebuah club malam. Ia menahan nafasnya dalam saat sebuah tangan kokoh membelai punggungnya dengan erotis.
“Hey, you okey?…” Suara Keith berbisik lembut di telinganya membuat hasrat Amara seperti terpanggil.
Amara memejamkan matanya, ia menaruh ponselnya di atas meja seraya berusaha mengalihkan kecemasannya pada Rangga.
“Ga, aku butuh kamu tapi kamu malah gak ada.” Bisik hati Amara dengan sendu.
Ya, ia sangat membutuhkan Rangga saat ini. Ia membutuhkan pelukan hangatnya, sentuhan lembutnya dan kecupan mesranya. Tapi Rangga tidak ada di sisinya.
“Do you need something?” Lagi Keith berbisik di telinga Amara dengan sangat dekat. Ini godaan besar yang membuat bulu kuduk Amara semakin meremang saat sapuan kumis kasar Keith mengusap telinganya.
Amara menggelinjang, Ia membuka matanya lebar-lebar.
“Can you help me, pelase?” Balas Amara yang tersenyum kelu.
Matanya terlihat nanar, menatap beberapa botol minuman yang sudah ia teguk. Yang ia lakukan kemudian mungkin sebuah kebodohan namun ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan dalam hatinya. Baginya, ini salah Rangga karena tidak ada di saat ia sangat membutuhkan kehadiran kekasihnya hingga akhirnya ia meminta bantuan laki-laki lain.
“Anythings for you baby girl.” Sahut Keith seraya melingkarkan lengannya di leher Amara. Ia melihat dengan jelas kesedihan dan hasrat yang tersirat dari mata Amara.
Di kecupnya bahu dan leher Amara kecil-kecil membuat helaan nafas Amara terdengar berat. Tangan Keith mulai bergeriliya mengusap permukaan tubuh Amara dengan erotis dan Amara hanya memejamkan matanya.
“*I got you B**tch!” Bisik Keith seraya mengigit kecil daun telinga Amara.
Amara hanya terengah. Entah mengapa kata yang dulu sangat ia benci ketika di lontarkan oleh banyak laki-laki pada ibunya, ternyata kini ia malah menikmatinya.
Ia menikmati setiap bentuk intimidasi yang Keith berikan padanya. Ia pun menikmati setiap sapuan lembut yang sesekali berubah menjadi remasan kasar yang Keith lakukan di tubuhnya. Ini gila, ia tidak bisa menolaknya.
Sedetik kemudian Amara di buat mabuk kepayang saat Keith memutar tubuhnya lalu menciumnya dengan rakus. Laki-laki itu membawa Amara melewati kerumunan orang-orang yang sedang asyik menari di atas lantai dansa. Mereka seolah tidak peduli pada banyak pasang mata yang memandangi mereka dan tersenyum sinis.
Beberapa di antara mereka yang bersorak saat melihat apa yang dilakukan Amara dan Keith. Namun mereka acuh saja. Mereka hanya ingin menikmati apa yang sudah mereka mulai.
Keith membawa Amara masuk ke dalam sebuah ruangan gelap yang menjadi tempat favoritnya. Ruangan dengan warna serba merah dan hitam dengan lampu remang-remang itu kemudian menjadi tempat Amara dan Keith melepaskan hasratnya.
Mereka sudah tidak memperdulikan apapun. Dan beberapa saat kemudian pintu tertutup rapat. Suara Amara dan Keith samar terdengar bersahutan dengan suara dentuman musik di club.
*****
Haayy readerku sekalian yang selalu setia nunggu cerita Belsky update, hehehehe
Aku gak tau nih mesti nulisnya dimana tapi aku mau ngasih tau info penting.
Btw, novel yang ini aku coba ikutkan lomba dengan kategori #pengkhianatan. Aku mohon dukungannya yaa…
Gak muluk-muluk menang sih cuma semoga tulisanku semakin banyak yang kenal dan mampir ke sini. Mohon bantuan like, komen dan vote nya di setiap part yang temen-temen baca yaa…
Kalau mau ngasih gift juga boleh banget, hehehe…
Aku ucapin terima kasih untuk semua dukungannya selama ini, mulai dari ngasih masukan, like dan ngasih semangat buat aku nulis dan nerusin cerita ini.
Aku memang bukan tipe penulis yang bisa bikin cerita kocak but i hope setiap tulisan yang aku buat ada maknanya 🙏
Sekali lagi terima kasih banyak ya… And happy reading buat kalian semua. Love you ❤️❤️