Bella's Script

Bella's Script
Permintaan Ozi



Café di dekat kantor menjadi tempat yang di pilih Bella untuk makan siang bersama Devan. Makanan yang tersaji di atas meja sudah hampir tandas seluruhnya. Tanpa terasa sudah hampir 2 jam mereka makan siang sambil berbincang di tempat tersebut.


Dari kejauhan Ibra memperhatikan dua orang yang asyik berbincang itu.


“Cewek idola lo noh! Gak lo tawarin lagi makanan?” tanya salah satu teman Ibra. Ia tahu benar apa yang selalu Ibra lakukan saat ada Bella datang ke cafe mereka.


Ibra hanya tersenyum. Ia sudah menyiapkan minuman untuk Bella tapi rasanya terlalu enggan mengganggu obrolan dua orang tersebut.


“Gue sempet mikir, apa mungkin plot yang ini gue pindahin ke part 16, jadi flash back gitu? Menurut lo gimana?"


"Bakal lebih bagus gak dramatisasinya kalau di visualkan?” tanya Bella yang masih antusias.


“Bisa aja. Tapi menurut gue, lebih bagus di part ke 18. Bikin penonton penasaran tapi gak gantung terlalu lama.” Sahut Devan.


Bella terangguk-angguk, ia kembali membaca bagian yang tadi ia lingkari.


“Bakal tabrakan gak sih sama scene yang ini nantinya?” wajahnya tampak serius berpikir.


“Nggak. Sisipan yang ini, lo masukin di part sebelumnya. Jadi nantinya nyambung alurnya.” Devan menunjuk halaman sebelumnya yang ada di hadapan Bella.


“Wah, iya juga yaaa… Gak kepikiran gue. Tadinya gue cuma mentingin alur doang, sampe lupa kalau udah visualisasi hasilnya bakalan beda.”


Devan hanya tersenyum melihat ekspresi Bella. Sejenak ia memandangi wajah gadis yang terlihat lelah tapi masih sangat penuh energi. Anak rambut yang tertiup angin melambai-lambai di dekat matanya, membuat Devan ingin menyelipkannya.


Sayangnya, ia tidak seberani itu.


Melihat Bella, ia yakin tubuhnya bisa teriak kelelahan tapi semangatnya terlalu tinggi untuk menghalau rasa lelah itu.


“Alur yang lo bikin, itu nunjukin banget energi lo waktu bikin script ini. Itu yang bikin orang-orang terhanyut.” Puji Devan tanpa sungkan.


Bella sempat termangu mendengar ucapan Devan.


“Sa ae lo! Pake bilang orang-orang segala, orang yang baca kan baru lo!” timpal Bella seraya berdecik.


Devan terkekeh ringan mendapat balasan dari Bella. Ternyata dengan membahas script, hubungan mereka sedikit lebih mencair.


“Minum lagi kak,” tawar Ibra yang sudah menyuguhkan gelas minuman ke sekian untuk Bella dan Devan.


Bella hanya melirik Ibra, lantas merapikan beberapa lembar kertas agar tidak menghalangi minuman yang di taruh Ibra.


“Di sini ada auto recharge minuman ya?” Devan bertanya pada Ibra. Ia pun melirik Bella yang terlihat kikuk.


“Minuman kakak berdua udah kosong tapi sepertinya obrolannya masih seru. Jadi saya tawarkan lagi minuman. Kakak suka es krim juga kan?” Ibra menoleh Bella yang tampak acuh.


“Hem, makasih. Taroh aja di situ.” Sahut Bella tanpa penolakan.


“Okey, silakan di lanjut kak.” Pamit Ibra.


“Thanks.” Hanya Devan yang menyahuti.


“Lo kenal anak itu?” Devan memberanikan diri untuk bertanya.


“Salah satu pelayan di sini. Lo gak liat dia pake seragam café ini?” sahut Bella sedikit ketus.


“Yang gue maksud, kenal secara pribadi.” Devan memperhatikan Bella yang acuh tak acuh menanggapinya.


“Part yang ini menurut lo gimana?” Bella memilih untuk mengalihkan pembicaraan.


Devan tersenyum kecil, dari cara Bella merespon pertanyaannya, ia yakin kalau Bella mengenal remaja tersebut.


Dari kejauhan Ibra hanya memperhatikan. Ia mendengar sayup-sayup pertanyaan Devan pada Bella tapi Bella mengabaikannya. Melihat hal itu, ia jadi teringat perdebatannya dengan sang tante pagi tadi.


“Kamu sama nenek kamu itu cuma nyusahin aja. Makan tinggal makan, katanya kerja sepulang sekolah tapi gak bawa hasil apa-apa. Sekarang pake mau kuliah segala, kamu yakin bakal ada yang biayain kamu?” ucap tante Lia pagi tadi.


“Biaya kuliah udah ada tan, tante gak usah pusing. Ibra cuma minta tante bantu ibra jaga nenek. Nanti kalau Ibra udah kerja, Ibra ganti semua uang tante.” Sahut Ibra dengan kesal.


Ingin lebih marah sebenarnya dengan perlakuan tantenya selama ini tapi apa daya, ia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Melihat sang nenek yang hanya bisa duduk di kursi roda dan menangis, ia pun enggan menambah beban pikiran neneknya.


“Ya iyalah. Cepetan kerja, cari duit yang banyak. Jangan bisanya cuma minta dan minta.”


Suara tante Lia seolah menjadi pembuka pintu kesadarannya. Tante Lia benar, ia jangan hanya bisa meminta dan meminta saja. Terlebih orang yang dia minta pun sudah sangat kelelahan dan kesulitan.


"Sorry kak," lirih Ibra penuh sesal.


*****


“Iya. Lo lagi apa?” akhirnya ia menghampiri Ozi dan duduk di sampingnya.


“Lagi nonton tayangan ulang bola. MU yang main."


"Capek ya?” ia menepuk tempat di sampingnya agar Bella mendekat.


“Kerja mana ada yang gak capek.” Sahut Bella. Ia memilih duduk di samping Ozi yang langsung mengusap pucuk kepalanya dengan lembut.


Ia melihat obat-obatan yang ada di atas meja. “Udah di minum?” tanyanya.


Ozi menggeleng. “Bosen gue dek. Lagian beberapa hari ini gue gak ngerasa pusing. Udah sembuh kali ya?”


“Ya syukur kalau lo gak ngerasa pusing. Tapi, selama lo belum check up lagi ke dokter, lo masih harus minum obatnya dengan teratur.” Bella mengupasi cangkang obat milik Ozi dan menaruhnya di telapak tangan Ozi.


“Minum dulu,” tidak lupa ia menyodorkan segelas air.


Ozi menurut saja, menelan beberapa butir pil dan meneguk air minumnya hingga tandas.


Bella menatap dengan khawatir wajah Ozi yang masih pucat. Ia bersandar di bahu Ozi sambil ikut menonton tayangan bola.


Sudah sangat lama ia tidak bermanja dengan sang kakak. Merasakan Ozi membelai rambutnya lalu mencium pucuk kepalanya.


“Gue udah keramas. Wangi kan?” tanyanya.


“Heem… Bau asap steik tapi." ledeknya, membuat Bella menghadiahinya dengan cubitan di pinggang.


"Ahahhaahaha becanda gue dek,,, Pedes banget sih cubitan lo." protesnya.


"Makanya jangan ngasal kalau ngomong." timpal Bella yang mendelik kesal.


"Iyaa, iyaa..." Ozi bersyukur sikap Bella mulai kembali hangat.


"Dek, gue bete di rumah terus, besok ajak gue jalan ya. Gue pengen ngajak lo nonton atau nemenin lo ke salon juga gak apa-apa.” Pinta Ozi tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi.


Permintaan Ozi membuat Bella menengadahkan kepalanya untuk menatap wajah sang kakak.


“Kenapa gak ngajak Inka aja? Dia suka banget sama lo. Eh bukan cuma suka, dia jatuh cinta sama lo.” hasut Bella


Yang di tatap hanya tersenyum seraya mengusap wajah Bella dengan telapak tangannya yang besar.


“Lo bilang, beban dia udah banyak. Masa sekarang gue harus nambahin beban dia?” kilahnya.


“Ya makanya lo harus berjuang buat sembuh. Lo ikuti terapi yang di saranin dokter. Tenang, lo gak bakalan sendiri. Gue pasti dengan senang hati nemenin lo supaya lo cepet sembuh. Lagian, lo juga suka kan sama Inka?” tanya Bella dengan wajah penasaran.


Ozi hanya terdiam tidak menanggapi. Bella terus menatapnya, rasanya ia bisa menghitung jumlah dan kedalaman nafas yang di tarik sang kakak kemudian di hembuskan perlahan, penuh keputusasaan.


“Dek, lo nikah gih.” Pintanya tiba-tiba. Ia menatap Bella dengan sungguh.


“Dih, lo ngomong apaan sih? Yang lagi gue bahas kan masalah lo sama Inka. Ngapain nyuruh gue nikah lagi? Terus aja lo bahas, mancing gue kesel.” Bella mendelik kesal. Bibirnya pun ikut mengerucut. Ia sedikit menarik tubuhnya menjauh dari Ozi karena tidak suka dengan ucapan sang kakak.


“Gue serius.” Tegasnya, mengunci pandangan Bella.


“Gue gak tau waktu gue berapa lama lagi. Kalaupun gue pergi, gue mau lo sama mamah udah ada yang jagain. Kalau sekarang misal gue operasi terus gue meninggal di meja operasi, lo sama mamah siapa yang jaga?” lirih Ozi dengan mata berkaca-kaca. Dalam satu kedipan mata, air matanya mungkin lolos menetes.


“Iihhhh… Lo ngomong apa sihh….” Sontak Bella memeluk Ozi dengan erat. Ia menyembunyikan wajahnya dan menutupi matanya yang tengah menahan tangis.


“Lo harus sembuh, gue sama mamah butuh lo bang.” Sungguh, ia tidak ingin kehilangan Ozi. Laki-laki satu-satunya di keluarganya saat ini.


“Gue juga gak mau ninggalin lo sama mamah secepat itu. Masih banyak banget mimpi gue bareng lo sama mamah yang belum kesampean."


"Tapi, gue ngerasa, udah capek banget dek.” Akhirnya Ozi terisak.


Nafasnya tersengal-sengal di jeda tangis. Dadanya sampai sesak karena menahan tangisnya agar tidak benar-benar pecah. Namun pada akhirnya pertahanannya runtuh. Kesedihan dan ketakutan yang selama ini di simpannya, akhirnya pecah begitu saja.


“Abaaaang…” rengek Bella. Ia memeluk Ozi seeratnya. Keduanya menangis dalam pelukan. Walau sering berselisih, dalam lubuk hatinya yang paling dalam mereka tidak ingin kehilangan satu sama lain.


Di belakang sana, ada seorang ibu yang ikut tersedu dengan tangis tertahan. Ia berpegangan pada lengan kokoh Devan yang ada di sampingnya.


Kenapa malam ini terasa begitu menyedihkan?


*****