
Sebuah Pesawat yang membawa Devan, Bella sekeluarga, mulus mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Keputusan mereka sudah bulat untuk membawa Amri pulang dan melanjutkan pengobatan Amri di Jakarta.
Jam 15 sore waktu Jakarta, mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah. Udara terik Jakarta langsung terasa di tambah hiruk pikuk jalanan yang tidak pernah sepi. Beberapa hari tidak melihat Jakarta, ternyata cukup membuat mereka rindu.
Amri di bawa dalam sebuah ambulan sementara Devan dan yang lainnya dalam mobil terpisah.
“Gue harus ke rumah sakit dulu nanti baru ke kantor.” Ucap Devan melalui sambungan telepon.
Ia tengah berbicara dengan Indra yang memberikan detail laporan semua kejadian yang terjadi beberapa hari ini.
“Iya, gue udah minta kuasa hukum gue buat ngurusin semuanya. Gue sama Bella udah nyerahin semuanya sama tim pengacara.”
Bella memandangi Devan yang berbicara serius di sampingnya. Sepertinya, kesalahan yang dilakukan Jihan sudah tidak bisa lagi ia tolerir. Kalau saja Inka tidak menemui Amara, mungkin mereka tidak akan tahu kalau Jihan lah yang menjadi otak dari semua kekacauan ini. Wanita itu menggunakan alasan perseteruan Devan dengan sang paman untuk menambah keruh suasana.
“Iya, nanti gue kabarin lagi. Makasih ya bro!” ucap Devan sebelum mengakhiri panggilannya.
Selesai bertelepon, Devan memandangi layar ponselnya. Ia mencengkram benda pipih dengan perasaan yang entah.Penggalan pembicaraannya dengan Bella, tiba-tiba saja berdegung di telinga Devan.
“Mungkin om Alwi menyesal melihat papah dihajar seperti itu, makanya beliau datang ke rumah sakit untuk mengunjungi papah.” Ucapan Bella tersebut membuat hati Devan merasa teriris.
Bisa saja Alwi tidak sejahat itu pada sang ayah.
"Aku tidak yakin kalau Om Alwi benar-benar membenci Mas." Ucap Bella suatu waktu.
"Kemarahan Om Alwi mungkin saja karena dia masih belum bisa menerima kepergian Mamah Anggita. Lagi pula kalau Om Alwi benar-benar membenci Mas, dia tidak akan mengurusi Mas. Dia tidak akan menyekolahkan Mas tinggi-tinggi dan membiarkan Mas menjadi sutradara."
"Dia bisa saja kukuh memaksa Mas menjadi pengusaha seperti yang dia mau. Tapi pada akhirnya, dia membiarkan Mas untuk memilih."
"Aku merasa kalau Mas adalah pelampiasan kemarahan Om Alwi. Mungkin saja Om Alwi juga berusaha melindungi apa yang dia punya sekarang. Ia belum bisa memaafkan papah karena dulu ia memiliki kepercayaan yang terlampau besar pada papah untuk bisa menjaga mamah. Adik yang sangat beliau cintai."
"Walau tidak sama persis, tapi aku pernah merasakan perasaan itu." Ucap Bella dengan penuh kesungguhan.
Dan saat ini Devan tertegun dengan ucapan Bella itu. Anggaplah Bella dan Alwi memiliki pengalaman traumatis yang hampir sama. Yang berbeda adalah responnya terhadap masalah itu.
"Dulu, aku bukan membenci Ibra. Tapi setiap melihat Ibra mengingatkanku pada kesalahan yang papah buat." Tegas Bella dengan tatapannya yang penuh makna.
Tiba-tiba saja, Devan tertunduk lesu. Pada titik ini sepertinya ia sadar bahwa ia tidak memahami perasaan Alwi.
Bukan, ia bahkan belum pernah mencoba menyelami perasaan Alwi. Ia hanya tahu, Alwi adalah orang yang menjebloskan ayahnya ke penjara. Alwi juga yang menuntut Amri dengan hukuman seberat-beratnya dan memisahkan ia dari sosok ayah yang ia butuhkan.
Bella benar, sebaik apapun peran Alwi di hidupnya, tidak bisa menggantikan sosok ayahnya. Namun seburuk apapun perlakuan Alwi terhadapnya, laki-laki itu berjasa dengan merawatnya. Walaupun ia tidak pernah meminta, namun Alwi berusaha bertanggung jawab atas dirinya.
Sekali waktu, Ia menggenggam tangan Bella lantas menoleh sang istri yang selalu memberikan pemikiran dari sudut pandang yang berbeda. Pikirannya mulai terbuka dan mempertimbangkan kondisi Alwi seperti yang disarankan Bella.
Bella jadi memandangi tangannya yang di genggam Devan dengan erat lantas menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya.
“Hey, you okey?” Tanya Bella yang berbisik lirih.
“Hem, better now.” Sahut Devan. Sekali lalu ia mengecup kening Bella lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran jok. Matanya terpejam namun pikirannya tidak mengambil jeda untuk beristirahat.
Memandangi suaminya yang terlihat lelah, Bella mengusap-usap tangan Devan lalu ia kecup.
“I’m with you.” Bella berucap lirih.
Mata Devan yang semula terpejampun kini kembali terbuka. Ia menoleh sang istri dan tidak di sangka ia mengecup bibir Bella beberapa saat.
Bella sampai terhenyak kaget, khawatir supir taksi melihat apa yang dilakukan suaminya. Tapi sepertinya, ia memilih acuh.
“Aku mau semuanya segera selesai. Aku mau mulai menikmati hidup yang normal sama kamu dan papah.” Ucap Devan yang menyandarkan kepalanya di kepala Bella.
Bella bisa mendengar helaan nafas Devan yang berat, setara dengan beban yang dipikulnya.
“Tentu, kita akan segera menyelesaikan semuanya. Tapi, kita lakukan dengan tenang, supaya tidak menyisakan masalah lainnya di kemudian hari.”
“Sure,…” Devan balas mengecup tangan Bella. Cukup lama sambil menikmati wangi tubuh Bella yang dirindukannya.
****
Kurang lebih setengah jam perjalanan, rombongan tiba di rumah sakit. Amri langsung mendapatkan penanganan dan di tempatkan di rawat inap setelah dokter berbicara langsung dengan dokter yang merawat Amri saat di Singapore.
“Kalian selesein dulu aja masalah kalian, biar gue yang jaga papah Amri. Mamah juga mau gue suruh pulang supaya bisa istirahat.” Ucap Ozi seraya menepuk bahu Devan.
“Makasi bro. Sorry gue titip bokap ya.” Devan menatap Amri dengan khawatir dari celah pintu ruang perawatan. Amri sudah kembali tertidur setelah perjalanan panjang yang membuatnya lelah.
“Santailah. Bokap lo sekarang bokap gue juga kali.” Timpal Ozi seraya mengusap kepala Bella dengan gemas.
“Makasih bang.” Bella menatap Ozi penuh haru.
“Apa sih yang enggak buat adek gue yang satu ini?” Ozi mencondongkan tubuhnya sedikit untuk mengimbangi tinggi Bella.
“Lo selesein masalah lo sekarang. Kalau lo perlu nampar itu perempuan, lo tampar aja. Dia gak bakal bisa nuntut adek gue hanya karena ngasih dia 5 atau 10 tamparan. Lo berhak marah dek.” Imbuh Ozi seraya mengedipkan mata kanannya pada Bella.
“Bandit lo emang!” Bella meninju pelan dada sang kakak yang sedang berusaha menghiburnya.
“Akh tonjokannya lumayan juga. Sini gue peluk dulu biar makin semangat nonjoknya.” Ozi menarik Bella ke dalam pelukannya untuk beberapa saat. Ia juga mengusap kepala Bella, sang adik yang pasti sangat lelah dengan segala masalahnya dan ia ingin menyemangatinya.
“Di setiap masalah lo, lo harus percaya kalau lo gak pernah sendiri. Jadi, semangat ya…” Bisik Ozi sekali lalu mengecup pucuk kepala Bella.
Bella terangguk di tempatnya. Matanya sampai berkaca-kaca karena terharu dengan kehangatan Ozi yang begitu menyayanginya.
Devan ikut tersenyum melihat pemandangan indah di depan matanya. Hatinya ikut menghangat melihat keakraban kakak beradik ini.
“Okey, sekarang lo berdua pergi gih.” Ozi melerai pelukannya dari Bella.
“Lo selesein masalah lo, tanpa bersisa. Gue, mamah sama papah Amri akan menunggu kabar baiknya.” Ozi menepuk bahu Bella dengan semangat dan mengajak Devan untuk tos.
“Tentu. Gue bakal bikin nyesel siapapun yang mengusik hidup keluarga kita.” Janji Devan.
“Sure! Go ahead!” Ozi mengangkat tangannya yang terkepal untuk menyemangati Devan dan Bella. Jujur, ini nyala semangat paling besar yang Ozi berikan.
Tanpa menunggu lama Bella dan Devan segera pergi ke kantornya. Ia harus berbicara banyak dengan timnya. Sepanjang jalan mereka berpegangan tangan. Mengisyaratkan kalau mereka ada untuk satu sama lain.
****
“Pak Eko sudah yakin untuk mendukung saya melakukan ini?” Tanya Devan pada pimpinn tertinggi PH ini.
“Ya, saya sangat yakin.” Jawab Eko dengan tegas. Ia melepas kacamata yang bertengger di hidungnya dan menaruhnya di atas meja.
“PH ini memang sedang tidak baik-baik saja. Banyak kekurangan di sana sini. Tapi, saya tidak bisa membiarkan seekor ular bersarang di sini dan membuat permainan yang dapat merusak hal paling berharga di PH ini yaitu kebersamaan dan integritas para crew.” Imbuhnya dengan penuh kesungguhan.
“Terima kasih pak.” Devan menangguk takzim pada laki-laki tambun itu. Eko tersenyum seraya mengangguk. Ia menghembuskan nafasnya lega karena bisa memutuskan hal yang dirasa pantas untuk ia lakukan.
“Dari kawan-kawan yang lain, apa ada masukkan?” Pandangan Devan menyapu seluruh pasang mata yang fokus menatapnya. Tidak ada yang bersuara selain gelengan kepala yang menjadi respon.
“Baiklah, kalau kawan-kawan setuju, Inka akan mengirimkan email pemberitahuannya.” Ucap Devan.
“Yo bisa yo! Lebih cepat lebih baik.” Indra bertepuk tangan menyemangati.
“Iyaa, biar gak ada ular lagi di PH ini.” Timpal Kemal tidak kalah kesal.
“Okey, dengan senang hati email-nya gue kirim.” Ucap Inka.
Ia mengetik beberapa kalimat pengantar di email yang ia kirim pada Jihan.
“BOOM!!!! Bye-bye Jihan!” Ucap Inka yang melambaikan tangannya pada tampilan email yang ia kirim.
Semua orang nyaris menahan nafas, menunggu email itu terkirim.
“Ding!” Sebuah notifikasi masuk dan menjadi penanda kalau email sudah terkirim.
“WUHUUU!!!!” Para crew bersorak. Notifikasi email itu seperti bunyi kembang api yang memecah ketegangan yang beberapa saat sempat terasa.
Suasana ruang rapat yang sepipun mendadak riuh. Mereka saling berangkulan untuk merayakan perpisahan crew dengan sang produser.
“Eh tunggu-tunggu. Ssstttt!!!” Inka dengan suaranya yang lantang meminta semua diam.
“Kenapa?” Roni menggeser kursinya mendekat karena penasaran.
“Ular nelpon gue.” Ucap Inka.
“Ya udah, buruan angkat! Gue pengen denger.” Hasut Roni dengan semangat.
“Ehm!” Inka berdehem sebelum menjawab telepon Jihan. Ia menekan tombol jawab lalu tombol loudspeaker.
“Hallo mba Jihan,…” Jawab Inka yang dibuat sehalus mungkin. Suasana ruanganpun mendadak sepi, setiap orang ikut menyimak pembicaraan Inka dan Jihan.
“Inka! Apa maksud kamu ngirim email ini sama saya?!” Bentak Jihan dari sebrang sana.
Inka sampai terhenyak tapi tidak lantas membuat nyalinya menciut.
“Yaa baca dong sama mba Jihan. Kami mengirimkan surat pemutusan kontrak anda sebagai produser di project kami.” Jawab Inka dengan penuh percaya diri.
“APA?! KAMU GILA?!” Suara Jihan semakin meninggi.
“Gila? Gila gimana sih mba Jihan yang terhormat?"
"Itu saya jelas nulis, kalau pemutusan ini dilakukan secara sadar tanpa ada tekanan dari pihak manapun. Mata mba Jihan kali yang picek yaa, gara-gara mikir jahat mulu itu isi kepala?!” Sengit Inka.
“Pppfftt…” Roni sampai tidak kuasa menahan tawa mendengar ucapan Inka.
“Oh, kamu berani menghina saya sekarang? Kamu tau kan konsekuensi dari kalian memutus kontrak dengan saya? Kalian harus mengembalikan semua dana beserta denda karena kontrak yang,…”
“Ssssttttt…. Udah deh udah mba Jihan!” Inka langsung berdesis memotong kalimat Jihan.
“Kami udah tanda tangan surat itu yang berarti kami siap dengan segala konsekuensinya atas tindakan kami. Tenang deh, hari ini juga gue balikin semua duit lo!” Sengit Inka tidak suka.
“Eh brengsek kamu Inka! Tunggu saya sekarang, saya akan bikin perhitungan sama kamu!” Gertak Jihan yang kemudian memutus panggilan teleponnya.
“Yuhuuuu... Maklampir is coming guyssss…. Kalian bersiaplah untuk peraaaaang…” Ledek Inka seraya mengepalkan tangannya, mencontohkan seseorang yang sedang terbang.
"Ini mataku, ini matamu. HAAWWRRHHHH!!!!" seru Inka dan Roni bersamaan.
Hahahahaha... Akh ada-ada saja tingkah Inka dan Roni ini. Kalian sudah siap berhadapan dengan Jihan?
****
Halaaawww.....
Aku mau ngucapin terima kasih buat semua pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita neng Bella sama abang Devan.
Sepertinya hanya beberapa episode lagi sampai cerita neng Bella ini sampai di akhirnya.
Terima kasih untuk setiap like, komen dan gift-nya yaa, itu asupan semangat yang luar biasa buat aku.
Tapi sekarang kolom komentar sepi, semoga masih pada baca yaa....
Bulan depan, rencana akan rilis novel baru, judulnya "Menjadi Dia"
Seperti apa kisahnya, kita tunggu nanti yaa...
Aku mau fokus dulu sama novel ini dan novel Terikat Takdir dengan serigala.
Yang belum mampir ke cerita Thea dan Xavier, silakan mampir ya....
Okey, segitu du;u, see you on my next caphter.
Terima kasih semuanya....