
Rangga berlari sekuat tenaga seraya melayangkan pukulan ke arah Keith.
“BUK!!” Pukulan keras itu di layangkan Rangga pada rivalnya. Kemarahannya sudah menggunung sejak ia tahu kalau laki-laki ini yang mengirimi Amara bunga sebanyak itu.
“ASTAGA!!!” Teriak Amara yang terkejut melihat Rangga yang datang tiba-tiba lantas memukul Keith.
Keith jatuh tersungkur di kaki Amara yang mundur beberapa langkah menjauh. Matanya membulat menatap Rangga dengan tidak percaya.
Tidak puas dengan satu pukulan telah yang membuat Keith tersungkur, Rangga segera berjongkok. Ia meraih kerah baju Keith dan mencengkramnya kuat-kuat lantas bersiap untuk melayangkan kembali bogem mentahnya pada Keith.
“RANGGA!!! STOP IT!!!” Teriak Amara sekuat tenaga.
Kepalan tangan Rangga sampai gemetar di udara saat ia terpaksa menahan tangannya untuk tidak menghantam wajah Keith yang kini berpaling pasrah seraya memejamkan mata.
Wajah Rangga sampai merah dengan mata membulat karena marah.
“Ga, please, tolong berhenti.” Lirih Amara seraya menahan tangis.
Mendengar keributan di lorong, membuat beberapa orang keluar dari unit apartemen mereka dan mengintip apa yang tengah terjadi saat ini. Mereka tampak terkejut saat ternyata ada baku hantam yang terjadi namun tidak satupun dari mereka yang berani melerai.
Sedikit melirik dan Rangga melihat seorang anak laki-laki yang juga ikut keluar rumah namun bersembunyi di belakang tubuh ibunya. Ia terlihat terkejut dan ketakutan.
“SH*T!!!!” Dengus Rangga seraya melepaskan cengkraman tangannya dengan kasar membuat Keith jatuh terlentang.
“MASUK KAMU!!” Seru Rangga pada Amara. Ia berujar dengan kasar karena kemarahannya masih memuncak.
Amara sampai tersentak kaget dan tidak menimpali. Ia menuruti saja permintaan Rangga untuk masuk. Di tekannya passcode kunci rumah dengan tangan gemetar dan sesekali melirik Keith yang kesakitan karena pukulan telak Rangga.
Kalau saja Rangga tidak ingat ada anak kecil yang melihatnya, mungkin ia akan melanjutkan untuk menghajar Keith hingga puas karena kekesalannya yang masih menggunung.
“Stay away from her. Leave!” Lirih Rangga dengan nada mengancam.
Keith tersenyum kelu seperti mengejek ucapan Rangga.
“LEAVE!!!!” Hardik Rangga dengan mata membulat marah membuat orang-orang yang melihatnya terhenyak kaget.
“OKE!!!” Seru Keith seraya mengangkat kedua tangannya menyerah. Ia beranjak dari tempatnya, merapikan kerah baju yang kusut karena cengkraman tangan Rangga. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menatap Rangga sinis sebelum kemudian pergi begitu saja.
Untuk beberapa saat Rangga terdiam sambil mengatur ritme nafasnya yang masih menderu karena kesal. Ia melihat tangannya yang masih mengepal dan merah karena menghantam rahang Keith. Orang-orang di sekitarnya berangsur masuk ke rumah masing-masing dan tidak lagi memperhatikan Rangga.
Setelah cukup tenang, Rangga masuk menyusul Amara. Gadis itu tidak ada di ruang utama. Rangga segera menuju kamar Amara dan benar saja, gadis itu tengah berada di depan cermin dan memandangi dirinya sendiri. Sedih dan marah menjadi dua ekspresi penting di wajahnya.
Dengan malas Rangga duduk di tepian tempat tidur Amara. Ia menoleh Amara yang tengah memandang dirinya sendiri dengan mata yang merah dan berair. Rupanya ia menangis.
“Kenapa kamu melakukan ini?” Tanya Rangga dengan nada rendah.
Amara hanya terdiam seraya mengusap air matanya yang kembali menetes.
“Apa yang mau kamu jelasin sekarang sama aku Ra? APA?!!!!” Bentak Rangga yang membuat Amara kembali terhenyak.
Laki-laki itu berdiri menghadap Amara yang hanya terdiam.
“Bagian mana yang mau kamu dengar?” Sahut Amara dengan suara yang lemah. Ia beranjak dari tempatnya dan menghampiri Rangga.
Rangga tersenyum sinis menatap Amara.
“Memangnya seberapa banyak cerita kamu sampai aku harus memilih bagian mana yang ingin aku dengar?” Rangga berdiri menantang Amara.
“Tentu saja tidak sebanyak cerita kamu dan Bella.” Amara berujar dengan sinis seraya memalingkan wajahnya dari Rangga.
“Bella?” Rangga menghampiri Amara dan mencengkram lengan Amara dengan kasar.
“Apa hubungannya sama Bella? Kenapa kamu selalu menyelipkan nama Bella di setiap perdebatan kita?” Ia menatap Amara dengan tidak mengerti.
“Karena seperti ini!” Amara mengibaskan tangan Rangga yang mencengkram tangannya dengan erat.
“Saat aku menyebut nama Bella, mata kamu selalu berbeda. Kamu tau itu Ga?” Lirih Amara dengan suara bergetar seperti menyimpan banyak kekecewaan.
“BUKAN ITU POINTNYA RA!!!” Seru Rangga dengan kesal. Menurutnya Amara kembali memulai usahanya untuk playing victim dan mencari alasan tidak masuk akal. Dua hal yan pasti dilakukan oleh pembohong yang tertangkap basah.
“Jangan mengalihkan pembicaraan dengan membahas masa lalu aku. Kita sedang membahas kamu yang sedang membohongi aku. Atau kamu tidak merasa?” Rangga menatap Amara dengan tajam, terlihat jelas kilatan kemarahan di matanya.
“Ck!” Amara berdecik sebal seraya memalingkan wajahnya dari Rangga.
“YOU,, LIE!!!!” Tunjuk Amara tepat di wajah Rangga.
Rangga terpaku dengan alis tertaut. Point mana menurutnya yang membuat Amara merasa di bohongi?
"See? Kamu bahkan gak mengingatnya karena terlalu banyak." Amara tersenyum sinis.
"Okey, biar aku ingetin satu per satu." Amara mundur untuk menjaga jarak dari Rangga. Entah mengapa berdekatan dengan Rangga kali ini membuatnya muak.
“Satu, kamu bilang kamu udah lupain Bella, tapi nyatanya kamu masih menyimpan foto-foto dan Video Bella." Amara mengangkat satu jemari lentiknya ke udara.
"Dua, kamu bilang perasaan kamu buat Bella udah pudar tapi kamu masih berusaha mendekati dia." ia menambah hitungannya.
"Tiga, kamu bilang mau ketemu sama sutradara padahal kamu berusaha untuk Bersama Bella."
"Empat, kamu juga berbohong sama aku dan kamu masih gak ngerasa dengan kebohongan sebanyak itu?” Suara Amara lirih di ujung kalimatnya. Ia menahan tangisnya dalam-dalam, terlihat sangat menyesakkan.
“Dan coba lihat cermin!” Amara menangkup wajah Rangga lalu mengarahkannya ke cermin di meja rias.
“Kamu liat sendiri, apa yang terjadi sama binar mata kamu saat kamu melihat Bella."
"Kamu lihat sendiri bagaimana waspadanya bola mata hitam itu saat melihat Bella didekati laki-laki lain."
"Kamu pikir aku gak tau Ga?!” Dengan kasar Amara melepaskan cengkramannya.
"Aku melihatnya dengan jelas." Ia tersedu tertahan dengan gigi menggeretak kesal. Mata bulatnya menatap Rangga yang masih memandangi wajahnya sendiri di cermin.
“Lebih dari 2 tahun kita bersama dan di pikiran kamu cuma ada Bella. Saat kalian putuspun kamu masih memikirkan Bella.” Amara mendekat pada Rangga dan menatap laki-laki itu dengan lekat.
“Saat kamu mabuk dan mendesah di atas tubuh aku, yang kamu sebutpun nama Bella. Apa kamu pikir aku gak ngerasa di bohongi?" Bisik Amara penuh penekanan.
"APA KEBOHONGAN KAMU GAK LEBIH BESAR DARI AKU, GA?” Teriak Amara persis di depan Rangga.
Ia ingin Rangga mendengar semua kemarahannya selama ini.
"Ra, apa maksud kamu? Kenapa kamu memutar balikkan semuanya?" Timpal Rangga. Ia berusaha mendekat pada Amara namun tiba-tiba Amara mundur seraya membekap mulutnya sendiri.
“HU- HUWEK!!” Ia berusaha menutup mulutnya yang nyaris muntah.
“Kamu kenapa?” Rangga sampai kaget.
Namun Amara segera mengibaskan tangan Rangga. Ia berlari ke kamar mandi dan mengunci dirinya di dalam.
“ARA!!!” Panggil Rangga dari luar kamar mandi.
“HUWEK!!!” Amara masih muntah-muntah di dalam sana.
“ARA buka pintunya!!” Rangga menggedor pintu kamar mandi namun Amara tidak menimpali.
Gadis itu tengah berdiri di depan wastafel. Menatap wajahnya sendiri yang sembab dan penuh kemarahan.
“ARA!!” Lagi suara Rangga terdengar namun Amara hanya menangis. Ia tidak ingin membukakan pintu untuk laki-laki itu.
Di tempatnya ia menangis sesegukan. Setelah mengungkapkan kemarahannya selama ini, perasaannya lebih lega namun rasa sakitnya semakin jauh terasa lebih dalam.
“Ra, please buka pintunya. Aku harus ngecek kamu.” Suara Rangga mulai turun. Ia menatap pintu kamar mandi dengan khawatir.
Tiba-tiba rasa bersalah muncul di pikirannya. Benarkah Amara sekecewa itu selama ini? Lalu apa alasan Amara berbohong adalah untuk membalas dendam padanya? Apa sebenarnya hubungan Amara dengan Keith? Hanya rekan kerjakah? Kenapa terlalu dekat?
Dan banyak lagi pikiran yang mengisi kepala Rangga saat ini. Akhirnya ia hanya bisa menunggu di depan kamar mandi, menunggu Amara membuka pintu dan menjelaskan seluruhnya.
“Ra, buka pintunya…”
*****
Lanjut????
Jangan lupa like, comment dan vote-nya yaaa...
Terima kasih...