Bella's Script

Bella's Script
Tidak bisa begini



Pulang, itu keputusan yang di ambil Bella hari ini. Dengan di antar Devan, ia masuk ke rumah walau masih sangat ragu. Laki-laki itu berjalan di belakang Bella, menatap setiap langkah yang di ambil Bella dengan berat.


Untuk beberapa saat Bella berdiri mematung di depan pintu, seperti ia sangat ragu untuk masuk atau tidak.


“Mereka keluarga lo Bell,..” lirih Devan dari belakang.


Bella hanya mengangguk kecil lantas menarik nafasnya dalam-dalam untuk menghimpun seluruh keberaniannya menghadapi Saras dan Ozi.


Devan benar, ia tidak boleh lari dari keluarganya, serumit apapun masalah yang ia hadapi.


Membuka pintu rumah, terasa benar hawa dingin dari AC yang menyapanya. Rumah yang cukup luas sementara penghuninya hanya 2 orang tentu memberi banyak ruang untuk udara dingin berkumpul. Berjalan semakin masuk ke dalam, terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu pelan di temani suara khas seorang host berita gossip.


Suara itu langsung berhenti saat Saras dan Ozi melihat kedatangan Bella yang mematung di tempatnya. Cepat-cepat Ozi mematikan ponselnya dan hendak beranjak. Namun tidak secepat tangan Saras yang menahannya.


“Sayang,,” sambut Saras dengan senyum pilunya. Melihat wajah putrinya yang sendu, hati ibu mana yang tidak teriris.


Cepat-cepat ia menghampiri Bella, memandanginya beberapa saat dengan mata berkaca-kca lantas ia memeluk Bella dengan erat. Ada tangis yang coba di tahannya di hadapan Bella yang bahkan tidak bergeming.


“Udah makan nak, hem?” Tanyanya lirih, penuh kecemasan.


Bella tidak mengangguk ataupun menggeleng.


“Mamah udah masakin makanan kesukaan adek, kita makan yuk..” Ajaknya seraya melepaskan pelukannya.


“Adek gak laper mah, mau ke kamar aja.” Begitu suara Bella yang terdengar.


Susah payah Saras menghela nafasnya dalam dan tertahan tangis, seperti ada bongkahan batu yang mengganjal glotisnya. Di usapnya wajah Bella penuh sayang seraya ia pandangi dengan penuh rasa sedih. Mata bulannya yang sendu, tidak berani beradu pandang dengan mata Saras yang penuh kecemasan.


“Iya nak,” ujarnya dengan suara gemetar. Melihat Bella seperti ini rasanya ia ingin menangis sejadinya. Bagaimana bisa laki-laki yang ia coba beri kesempatan malah memuat Bella hancur.


Ozi yang sedang makan pun segera menghentikan apa yang dilakukannya. Ia menaruh sendok dan garpu di sisi kiri dan kanan, selera makannya sudah hilang. Lantas ia berdiri menghadang Bella yang hendak berlalu pergi.


“Lo makan dulu.” Suara tegasnya berbalut kecemasan.


“Gue gak laper.” Bella menggeleng yakin tanpa berani menatap wajah Ozi yang persis di depannya.


“Lo belum makan, mau gue suapin, hem?” Ozi mengambil piringnya dengan kasar membuat sendok dan garpunya terjatuh.


“Traaanggg…” Suaranya sangat nyaring.


“Gue gak lapar bang, gue gak lapaaarrr...” Lirih Bella dengan tangis yang akhirnya pecah.


Tanpa berkata-kata Ozi menaruh piring di tangannya. Di raihnya tubuh Bella untuk ia peluk.


“Lo gak boleh kayak gini dek. Ini bukan Bella yang gue kenal.” Ujarnya dengan suara bergetar.


“Gue gak laper bang, please gue gak laper…” timpal Bella dengan tangis sesegukan. Entah berapa jenis perasaan yang berkecambuk di dadanya.


Ozi tidak lantas menimpali. Ia semakin mengeratkan pelukannya, seraya menengadah menahan laju air matanya yang turun.


Di sudut sana, Saras ikut menangis sesegukan.


“Gak boleh ada laki-laki yang ngehancurin lo dek. Lo bisa memilih laki-laki manapun yang lo mau. Tapi lupain Rangga.” Ozi mengusap kepala Bella dengan sayang. Suaranya masih terbata-bata.


“Lo tau, di sini juga ada Devan. Laki-laki yang bisa jagain lo."


"Lo bisa nikah sama dia dan gue pastikan dia bakal jaga lo seumur hidupnya. Iya kan bro?” Kali ini mata merah dan basah Ozi beralih menatap Devan.


Laki-laki itu hanya terpaku. Pertanyaan Ozi yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa berpikir.


“LO BISA JAGA BELLA KAN VAN???!!!” Gertak Ozi yang membuat Bella dan Saras terhenyak.


“NGGAK!” Adalah Bella yang menyahuti pertanyaan Ozi.


Ia mendorong tubuh Ozi menjauh darinya, lantas menatap Ozi dengan perasaan hancur.


“Lo bisa gak sih berhenti mempermalukan gue bang?” Ujarnya lirih bercampur tangis.


“Sekali ini saja lo abaikan gue. Lo gak perlu ngeliat gue yang hancur karena pilihan gue dan lo gak perlu memaksa orang lain untuk menjaga gue.”


“Gue udah cukup malu sama lo dan mamah, sangat malu. Jangan bikin gue tambah malu sama Devan atau laki-laki lainnya.” Suara bella terdengar terbata-bata.


"Lo kenapa sih selalu berpikir dengan cara lo sendiri?!" Kali ini Bella menatap Ozi dengan mata basah dan merahnya.


"Lo selalu bersikap seolah paling tau apa yang gue butuhin. Lo ngelakuin apa yang emang mau lo lakuin. Mengatakan apa yang ada di pikiran lo tanpa pernah lo nanya, gimana perasaan gue sekarang? Apa yang gue mau sekarang. KENAPA  BANG?!!!!"


"Jangan karena ngerasa lo ngenal gue, lo jadiin perasaan lo sebagai penggaris buat ngukur perasaan gue. Lo gak tau apa-apa!" seru Bella dengan suaranya yang serak.


Bibirnya bergetar menahan tangis, tapi matanya gagal menahan setiap bulir yang turun.


“Gue gak akan mati hanya karena gak bersama seorang laki-laki, tapi gue….”


“AKH **!!” Dengus Bella tidak mampu melanjutkan kalimatnya.


Ia memilih berlalu pergi, meninggalkan Ozi dan Devan yang mematung di tempatnya dan Saras yang menangis sesegukan di kursinya. Bella sudah enggan berdebat. Bagaimana pun ia bicara, tidak akan ada yang bisa memahaminya. Semuanya percuma, semuanya sia-sia.


Ia pergi tanpa mengatakan apapun lagi.


“Abang cuma mau ngehibur adek mah, gak ada niatan mempermalukan dia…” lirih Ozi yang kemudian jatuh terduduk di tempatnya.


Bella, putri kesayangannya. Betapa menderitanya ia dan Saras hanya bisa menangisinya.


******


POV Bella


Apa yang salah dengan hari ini hingga aku merasa kalau hari ini tidaklah 24 jam. Sudah terlalu banyak peristiwa  yang aku lewati tapi sekarang baru jam 9 malam. Aku tidak bisa tidur. Seperti biasa, aku hanya terduduk di pojokan kamar sambil memeluk kedua kakiku yang sudah lelah berjalan.


Aku merasa, setiap sudut kamar sedang memandangiku. Foto-foto di dinding ikut menertawakanku. Dan di kepalaku hanya berputar bayangan Rangga, Rangga dan Rangga.


Aku frustasi. Ku remmas kepalaku yang terus memutar bayangan Rangga. Mulai dari pertama kami bertemu di ruang OSIS, saat Rangga tiba-tiba menawarkan minum karena melihatku kelelahan berolah raga lalu saat Rangga yang polos menyatakan cintanya di hari senin tepat setelah pak Omar memberi kami pengumuman.


“Izin pak, ada satu murid bapak yang saya suka. Bikin saya inget terus sama dia siang dan malam. Boleh saya menyebutkan namanya pak?” Tanya Rangga dari pengeras suara di tengah lapangan upacara.


"Huuuuuu..." suara riuh pun terdengar jelas. Tidak hanya dari para murid, tapi juga para guru.


“Hahahahaha… Sebut namanya dengan lantang. Tapi janji, kalau kamu sampai jadian, jangan pernah membuatnya sedih apalagi menangis.” Ujar Pak Omar kala itu.


Rangga terangguk yakin membuat seisi sekolah kembali bersuara, “Cieeee….” Termasuk aku.


Tidak di duga, laki-laki berpenampilan necis khas anak band itu menghampiriku. Dia senyum-senyum tidak jelas, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dan membawa permen gula-gula berbentuk hati yang biasa aku beli dari amang-amang penjual di depan gerbang sekolah.


Dia menatapku dengan hangat membuatku celingukan dengan perasaan tidak menentu. Benar aku yang dihampirinya? Bukan Ara yang ada di sampingku kan?


Malu, takut, senang semua bercampur aduk di dalam rongga dada yang berdebar hebat. Aku melongo bodoh di depan laki-laki tampan yang tersenyum manis padaku.


Baju paskibra di badanku rasanya membuatku sangat gerah. Tidak biasanya.


“Bella Andini Fauziah, aku suka sama kamu sejak kamu bilang, Lo bisa hapus jawaban lo yang salah di kertas ujian. Tapi gak akan merubah pemikiran gue kalau lo calon ketua OSIS yang labil.” Rangga tersenyum kecil di depanku.


Hey, dia masih ingat. Membuatku tersenyum dalam tangisku saat ini.


Sungguh? Dia mengingat itu? Akh sial, aku bahkan tidak bisa berkata-kata.


“Aku suka sama kamu. Bisa gak kita bersama-sama bukan sebagai teman aja, tapi sebagai pacar.” Suara Rangga terdengar sedikit berbisik.


Aaarrrrgghhhh, aku masih bisa merasakan bagaimana perasaan membuncah itu mengisi rongga dadaku. Berani sekali laki-laki ini. Dan aku yang bodoh hanya bisa mengangguk. Aku di hadiahi sorakan oleh teman-teman dan para guru. Maluuuuuu yaa saat itu aku sangat malu.


Sejak hari itu, aku merasa kalau hari-hari berjalan dengan indah. Tuhan menghadiahiku banyak hal indah. Aku jadi banyak tertawa saat bersama Rangga.


Satu hari bertambah menjadi satu minggu, lalu satu bulan dan satu tahun. Semua berjalan begitu saja. Aku mendapatkan cinta pertama yang sering di bangga-banggakan oleh orang-orang dan katanya membikin susah move on.


Rangga hadir di setiap perjalanan sejarah hidupku. Dia membuatku berpikir semakin dewasa. Tidak hanya saat aku tertawa, tapi saat aku terpurukpun ia selalu ada.


Hingga aku bertemu dengan hari yang membuatku sangat hancur, Ranggalah yang menggenggam tanganku dengan erat.


Hari itu, aku bertemu dengan kenyataan kalau cinta tidak selalu manis. Aku di ajarkan bahwa dua orang yang saling mencintai bisa saja berpaling.


Papah, cinta pertama yang ada di hidupku ternyata telah menduakan mamah. Dia pergi dengan seorang wanita yang ia sebut sebagai tante Mila. Katanya wanita itu ibu sambungku.


Tunggu, mamahku masih ada. Dia tidak pergi atapun mati. Kenapa papah melakukan ini?


Aku menangis sejadinya. Tidak terima kalau papah menduakan mamah. Dia juga pergi bersama perempuan yang telah memberinya seorang anak laki-laki. Mereka menaiki mobil yang papah beli pertama kali sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mamah dan papah.


“Pah, pulang sama aku. Jangan pergi sama wanita jahat itu..” ujarku, seraya menarik tangannya.


Tapi papah hanya menggeleng. “Maafin papah nak, kita ketemu di rumah.”


Papah memilih pergi, meninggalkanku di pinggir jalan bersama Rangga.


Aku menangis sesegukan dan Rangga memelukku dengan erat.


“Ssstttt...." Hangat nafas Rangga di telingaku masih bisa aku ingat dengan jelas.


"Bell, kamu masih punya aku Bell. Aku akan selalu jagain kamu, sayangin kamu dan gak akan pernah ninggalin kamu. Percaya sama aku Bell,” suara itupun masih berdengung jelas di telingaku.


Rangga seperti penyembuh luka cinta pertamaku. Dia laki-laki yang membawa harapan baru dalam hidupku.


Tapi sekarang? Ucapanku tadi,


“Gue gak akan mati hanya karena gak bersama seorang laki-laki, tapi gue….”


Akh sial!


Aku memang tidak akan mati hanya karena gak bersama dengan seorang laki-laki tapi aku bisa sangat hancur jika Rangga pergi dari hidupku.


Tidak, aku tidak bisa seperti ini.


Rangga, ya Rangga harus aku temui. Aku tidak bisa membiarkan dia hanya hidup di khayalanku. Aku harus menemuinya. Aku harus meyakinkannya kalau dia pernah berjanji banyak hal padaku.


Kami sudah berjalan sejauh ini, aku tidak bisa melepaskannya.


Ya, aku tidak bisa melepaskannya.


*******