Bella's Script

Bella's Script
Apa ini cemburu?



Proses syuting hari ini cukup menguras tenaga dan emosi tidak hanya bagi pemain juga bagi para crew. Inka hingga saat ini belum selesai meeting dengan para stafnya, membahas keinginan Amara yang semakin hari semakin banyak.


Amara masih uring-uringan dan dengan sabar Rangga terus berusaha membujuk.


Devan yang serba salah dalam bersikap terlebih saat melihat Bella yang tergesa-gesa pulang. Semuanya terasa begitu kompleks hari ini.


Devan masih memperhatikan Bella dari kejauhan. Gadis itu tampak sudah mengemas semua barang bawaannya, memasukkannya ke dalam ransel padahal proses syuting baru selesai beberapa menit lalu.


Tidak biasanya ia seperti ini. Setelah syuting selesai biasanya Bella akan mengajak Rini untuk evaluasi script sebentar sambil melepas lelah dengan menikmati secangkir kopi di antara mereka. Tapi kali ini Bella terlihat tergesa-gesa. Apakah karena perdebatan tadi?


Hah, rasanya tidak nyaman setelah tadi berselisih dengan Bella terlebih karena masalah komunikasi. Akhirnya Devan memilih untuk menghampiri.


“Lo udah mau pulang?” Tanya Devan. Membantu Bella merapikan beberapa script yang berserakan di atas meja.


“Yups!” Sahutnya biasa saja. Tidak terlihat sinis atau acuh sebenarnya tapi Devan masih merasa ada yang mengganjal di antara mereka.


Devan memberikan script yang ia rapikan pada Bella.


“Thanks.” Ucap Gadis itu yang lantas memasukkan semua script ke dalam kotak yang biasa ia gunakan untuk menyimpannya.


Devan jadi memperhatikan Bella dari samping. Ia ingin berbicara tapi entah harus memulainya dari mana.


“Bell,” Panggilnya ragu.


“Ya, kenapa?” Bella menoleh untuk beberapa saat.


Ternyata Bella merespon membuat Devan bingung harus berkata apa. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


“Bisa gue ngomong sebentar?” Pilihan sudah di ambil, bagaimanapun ia harus membicarakannya.


“Go ahead. Gue sambil nyimak kok. Atau lo mau sambil duduk?” tawar Bella.


“Em gak usah, yang penting lo dengerin gue.” Cepat-cepat Devan menahan. Ia tidak mau mengganggu waktu Bella yang sedang bebenah.


“Okey,.” Bella berbalik menghadap Devan.


Ia bersiap menyimak. Sepertinya laki-laki ini memerlukan perhatian penuh. Tapi semakin di perhatikan semakin dia bingung mau memulai kalimatnya dari mana.


“Ya, silakan. Lo mau ngomong apa? Waktu gue gak terlalu banyak soalnya. Ada yang nunggu.” Ujar Bella.


Devan hanya bisa menghela nafas. Dalam pikirnya jangan-jangan laki-laki tadi yang menunggu Bella. Tapi akh, saat ini ia harus fokus dulu pada masalahnya sekarang. Kalau pun benar laki-laki itu sedang menunggu Bella, itu urusannya. Laki-laki itu memang hanya sedang mengejar Bella, tidak salah jika ingin menghabiskan waktu lebih banyak untuk memperhatikan Bella.


Itu ucapan malaikat di kepalanya, tidak dengan ucapan lain di hatinya. Jujur, ia over thinking dengan usaha laki-laki itu untuk mendekati Bella.


Berharap saja respon Bella masih dalam batas wajar walau ia sadar, respon Bella terhadap laki-laki itu bukan hak ia untuk mengaturnya. Ia menghormati itu. Ya, ia harus menghormati itu.


“Soal kejadian tadi, gue mau minta maaf. Gue gak bermaksud bersikap kayak gitu sama lo.” Akhirnya ia mengucapkan kalimat yang begitu sulit untuk ia rangkai.


Bella tersenyum kecil seraya terangguk. “Gue juga minta maaf sama lo, harusnya tanggapan gue gak seektrim itu sama lo. Masalah lo marah dan kesel, itu hak lo. Sekalipun yang bikin marah itu gue."


“Tapi Van,” Bella menjeda kalimatnya dengan helaan nafas dalam. Ada hal yang harus ia katanya dengan gamblang.


“Gue gak suka silent treatment.” Ia mengatakannya dengan tegas. Matanya menatap Devan dengan penuh kesungguhan.


“Kalau gue salah, tanpa lo minta gue akan minta maaf. Tapi saat gue gak ngerasa salah, dan lo pikir gue salah, tolong jangan silent treatment sama gue. Ngomong aja. Jangan bikin gue ngehabisin waktu buat overthinking sama lo. Itu gak nyaman.”


“Lo bisa ngomong dan pasti bakal gue dengerin. Lo mau ngomel silakan lo mau melototin gue silakan, tapi please sekali lagi jangan silent treatment sama gue.” Terangnya dengan sejujurnya.


Ia sudah lelah dengan kebiasaan over thinking-nya saat berhubungan dengan Rangga. Dan sejak ia melepaskan Rangga, ia pun ingin mengakhiri kebiasaan yang sering membuatnya lelah secara mental.


“Gue minta maaf, gue gak bermaksud kayak gitu sama lo Bell.” Devan menimpali dengan penuh kesungguhan.


“Gue juga perlu waktu buat mikirin cara nyampein yang ada di kepala gue supaya gak nyakitin orang lain.” Kali ini Devan yang berbicara sejujurnya.


Ia sengaja menahan kemarahannya karena tidak ingin mengatakan kata-kata yang mungkin melukai orang lain, terutama Bella.


“Gak masalah, beneran, itu gak masalah buat gue kalau lo perlu waktu. Tapi, lo bisa dong ngomong,”


“Bell, gue lagi kesel. Sikap gue mungkin gak menyenangkan tapi gue perlu waktu. That’s all. Gue akan sangat paham dan menghargai itu. Lo gak perlu langsung menjelaskan semuanya. Gue cuma butuh komunikasi yang jelas sama partner gue.” Terang Bella dengan tenang.


Ternyata berbicara terus terang seperti ini dengan Devan, lebih melegakan di banding menahan dongkol dalam hati.


Devan terangguk paham. Ia menyandarkan tubuhnya pada meja dan memikirkan perkataan Bella.


“Ada lagi yang perlu lo omongin?” Tanya Bella saat sesi beres-beresnya hampir selesai.


Devan menoleh Bella yang kini menunggunya. Ia menegakkan tubuhnya. Ia rasa ia harus menanyakan ini sekarang.


“Maksud lo, David?” Bella balik bertanya.


“Oh, jadi namanya David?” Devan akan mengingat baik-baik nama laki-laki itu.


“Emang kenapa kalau gue nonton sama dia? Ada masalah emang?” Entah pertanyaan Bella ini sesungguhnya atau hanya pancingan bagi Devan.


Hanya saja Bella merasa aneh dengan cara Devan mempertanyaan pilihannya.


“Dia ngajak lo nonton berdua doang Bell. Terus lo maen mau aja.” Devan langsung menimpali. Entah apa alasan ia berpikir kalau David memiliki modus.


“Jadi ini yang bikin lo kesel? Lo ngerasa gue mauan gitu?” Bella menahan senyumnya saat menanyakan itu. Ia menatap Devan penuh selidik dan membuat laki-laki itu salah tingkah.


“Em, maksud gue, lo gak harus pergi berdua kan? Apalagi nonton.” Akh Devan merasa kata-kata dari mulutnya terlalu spontan.


“Lo mikirin apa sih sebenernya Van?" Bella mengernyitkan dahinya tidak mengerti dan Devan malah gelagapan.


"Jadi mau lo, lo harus di ajak? Lo kesel gara-gara gak di ajak nonton? Gitu?” tanya Bella beruntun, sambil menahan tawa.


Pikirnya, ada-ada saja Devan ini. Cuma karena tidak di ajak nonton langsung marah dan bersikap menyebalkan.


“I-iyaaa..” Devan yang tersudut akhirnya mengiyakan saja.


Ia masih belum menemukan cara yang tepat untuk menguraikan perasaannya. Masa ia langsung bilang, “Gue cemburu.”


Akkkhhh tidaaak, itu terlalu memalukan dan kekanakan.


Tapi tunggu, apa benar ia sedang cemburu? Rasa tidak terima saat Bella mengiyakan ajakan laki-laki lain, apa yang seperti ini namanya cemburu? Atau hanya bentuk rasa tidak percaya pada laki-laki yang akan mengajak Bella pergi?


Tiba-tiba wajahnya memerah tanpa di minta. Harus bagaimana ini? Bagaimana kalau Bella sadar akan kemungkinan pertama? Apa tidak sebaiknya ia lari saja? Devan jadi gelisah sendiri.


“Astaga Vaan,,,” Bella menggeleng-geleng sambil menahan tawa. Menutup mulutnya dengan punggung tangan agar tidak berkomentar iseng.


“Kenapa lo ketawa?” Devan sudah panik lebih dulu saat melihat Bella tertawa. Apa Bella yakin kalau kemungkinannya ia sedang cemburu?


Akh, bagaimana ini? Devan semakin panik. Berdiri dengan tidak tenang.


“Ya kali lo ngambek gara-gara gak di ajak nonton!” Bella menonjok lengan Devan dengan gemas.


“Satu studio itu minimal ada 124 kursi. Kalau lo mau ikut nonton, ya ikut aja. Pilih salah satu kursi, terserah lo deh mau duduk dimana. Pake acara ngambek segala. Bocah lo! Hhahaha.. ” ledek Bella sambil terkekeh.


“Ha haha, hahaha..” Entah mengapa Devan jadi ikut tertawa. Ia lega sendiri karena Bella hanya menyangka kalau ia marah karena tidak di ajak.


“Lo bolehin gue ikut?” Ia balik bertanya setelah perasaannya lebih lega.


“Ya boleh lah… Gue ngeiyain ajakan David nonton bukan berarti gue gak ada niatan ngajak yang lain. Orang gue juga mau ngajak anak-anak. Kan biar seru nontonnya.” Ungkap Bella tanpa Devan duga.


“Ahahhahaha boleh juga. Iya lo bener, biar seru.” Ia mengutip sepenggal kalimat Bella sambil menghembuskan nafas lega.


“Jadi udah gak ngambek nih?” Lagi Bella bertanya. Mendekatkan wajahnya pada Devan, membuat laki-laki itu tersentak kaget.


“Ngg – nggak..” Terpaksa ia memalingkan wajahnya yang tiba-tiba terasa panas.


“Huh, dasar lo!” Bella menyikut Devan dengan kesal. Devan hanya cengengesan. Bisa di pastikan kali ini ia terlihat bodoh di hadapan Bella.


“Ya udah, gue balik dulu.” Pamit Bella.


“Eh, gak bareng gue.” Cepat-cepat Devan menahan lengan Bella, membuat langkah kaki Bella terhenti.


Ia menoleh lengannya yang di pegangi Devan. Devan yang cepat tersadar segera melepaskannya.


Bella tersenyum kecil seraya memandangi Devan. “Gue di jemput abang. Apa lo aja yang mau bareng gue sama abang?” Tawar Bella.


“Oh, nggak. Gue masih ada yang harus di bahas sama Indra, takutnya lama. Lo duluan aja, kasian Ozi nungguin. Salamin aja.” Perubahan ekspresi Devan jelas sangat terlihat. Ia lebih tenang dari sebelumnya.


“Ya udah, bye!!” Bella melambaikan tangannya pada Devan dan laki-laki itu membalasnya dengan segaris senyum.


Syukurlah, Bella tidak hanya menonton berdua.


“YES!!!” Serunya tanpa sadar. Entah mengapa ia sangat senang.


Tapi setelah itu ia celingukan melihat ke sekeliling takut ada yang memperhatikannya. Akh aman, hanya ia dan tuhan yang tahu tingkah bodohnya sekarang.


******