
POV Bella
Hari ini semua terasa gamang. Melihat abang yang seharian ini terus merengek minta pulang, membuat perasaanku tidak menentu. Mamah yang baru tahu kondisi abang yang sebenarnya, hanya bisa menangis sambil memijiti tangan abang yang sebenarnya baik-baik saja.
Setelah pemeriksaan dokter dan menanda tangani surat penolakan tindakan, kami pun di persilakan pulang. Abang masih harus menggunakan kursi roda untuk menuju mobil, di atas pangkuannya ada satu keresek obat penahan nyeri dan obat lain untuk mengurangi gejala kambuhnya sakit abang.
Ya, pada akhirnya kali ini aku dan mamah harus bersabar mengikuti kemauan abang. Mungkin ia perlu waktu untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau Ia bisa melewati proses pengobatan yang menakutkan baginya.
Devan, sahabat sekaligus orang kepercayaan abang pun gagal membujuk.
Dia hanya berkata, “Kita gak bisa benar-benar mengerti perasaan abang lo saat ini. Gak ada orang yang gak mau sembuh dari penyakitnya, gue yakin dia juga gitu. Tapi buat saat ini, kita lebih baik menghormati keputusannya.” Ujarnya sok dewasa.
Ya, dia memang kadang sok dewasa tapi kali ini ada benarnya. Ketakutanku dan ketakutan abang tentu berbeda dan sekarang aku hanya bisa menghormati keputusan yang abang ambil.
“Dek, kalau lo mau ke kantor bareng Devan, ke kantor aja. Gue bisa pulang sama mamah naik taksi.” Lagi permintaannya mengesalkan untukku.
“Ya nggak lah bang. Gue rencana mau cuti hari ini, gue di rumah aja. Toh nulis juga bisa di rumah.” Kilahku.
“Jangan di biasain ah kayak gitu.” Abang langsung mengusap mukaku dengan telapak tangannya yang besar.
“Gue gak mau terus-terusan di perlakukan khusus karena gue sakit. Itu bikin gue makin inget kalau gue penyakitan.” Bisa saja dia beralasan.
Aku hanya memandang mamah dan mamah mengangguk setuju.
“Ya udah kalau gitu. Tapi gue gak balik ke kantor ya Van. Gue perlu cari inspirasi. Dikit lagi tulisan gue selesai.”
Hah, aku tidak siap dengan suasana kantor yang kadang terasa kaku. Aku butuh penyegaran.
Tunggu, rasanya komunikasiku dengan Devan mulai santai, ya cukup santai tidak sekaku dan secanggung dulu.
“Iya gak pa-pa. Lo gak harus terburu-buru nyelesein semuanya.” Dia pengertian juga rupanya.
Setelah sepakat akhirnya kami berpisah. Mamah dan abang pulang naik taksi, Devan kembali ke kantor dan aku,
Aku lebih memilih diam di halte bis sambil memutuskan jalur mana yang akan aku ambil untuk menyegarkan pikiranku.
Cukup lama aku terduduk di halte bis. Memperhatikan orang dan kendaraan yang berlalu lalang di hadapanku. Entah kemana tujuan mereka. Entah pulang atau baru berangkat dan entah terarah atau bimbang sepertiku.
Aku naik bis tanpa tujuan. Terserah kemana saja bis ini melaju. Sambil berdesak-desakan, aku berdiri dan berpegangan pada handle grip agar tidak oleng. Aku memperhatikan kegiatan orang di sekitarku. Ada yang asyik menelpon, ada yang berbincang dengan temannya. Ada juga yang murung sepertiku bahkan ada yang tertidur. Terkadang aku perlu melihat semua ini untuk menambah inspirasiku.
Bis pun berhenti di halte berikutnya. Kali ini aku memilih turun. Aku masuk ke sebuah Mall dimana sedang di gelar ajang pencarian bakat untuk muda-mudi. Aku mengambil beberapa gambar lewat kamera ponselku dan menangkap sudut lainnya yang beragam.
Kesibukan orang-orang di sekitarku memang cukup menambah isi pemikiranku.
“Silakan mampir kak, kita lagi soft opening. Ada beragam es krim dan minuman teh yang mungkin kakak sukai.” Tawar seorang waitress yang berdiri di depan pintu sebuah café yang baru buka.
Tawaran yang menarik buatku.
Aku memesan beberapa menu makanan dan minuman. Hanya untuk aku sendiri memang tapi ini cukup menghiburku. Jadi ingat perkataan Devan semalam, anggap saja ini penghiburan. Ya, terkadang aku perlu menghibur diriku sendiri.
Sambil menikmati teh dan makanan yang ada di hadapanku, aku menyalakan laptopku. Beberapa kalimat aku buat untuk menambah deskripsi untuk script-ku. Lumayan juga, satu part bisa aku tuntaskan. Hanya satu part lagi yang harus aku selesaikan sebelum aku menghadap Devan dan membahas script ini dari sudut pandang kami sebagai penulis skenario dan sutradara.
Suara dering telepon menyadarkanku dari tenggelam dalam sebuah narasi. Inka, nama yang tertera di ponselku.
“Belksyyyyy…. Lo dimana? Katanya mas Bima sakit?” belum sempat aku mengucap salam atau halo, suara Inka sudah lebih dulu mengisi rongga telingaku.
“Hem, gue lagi di luar.” Sahutku. Aku sedikit menjaga jarak dengan ponselku karena aku yakin Inka akan kembali nyerocos dengan suara nyaring, membuat telingaku pekak.
“Terus kondisi mas Bima gimana? Lo kok gak bilang sih kalau mas Bima sakit? Gue boleh ke rumah kan?” benar kan, Inka bisa mengintrogasiku dalam satu tarikan nafas.
Aku terdiam sejenak, entah harus mengiyakan atau menolak permintaan Inka.
“Gue bawa apa kalau mau ke rumah lo? Nyokap lo suka makanan kayak gimana?” sepertinya tidak akan berhasil kalau di tolak.
“Lo gak usah repot-repot. Mau ke rumah ya ke rumah aja.” akhirnya aku pasrah.
“Okey, gue siap-siap dulu nih, kan mesti cantik ketemu mas Bima sama calon mertua, hehehe.... Nanti gue kabarin yaaa…”
"Ya ya ya... Hati-hati di jalan." pesanku.
Huft, sepertinya aku harus mengakhiri sesi gabutku hari ini. Aku tidak yakin semua akan baik-baik saja kalau Inka main ke rumah.
Pulang sajalah….
*****
Inka terlihat gugup saat berdiri di depan pintu. Tangannya mengepal kuat, ragu untuk mengetuk. Ia memang sudah beberapa kali main ke rumah Bella namun kali ini terasa begitu berbeda. Biasanya ia datang untuk menemui Bella namun kali ini di khususkan untuk bertemu Ozi.
Sejak pesannya yang tidak di balas Ozi beberapa hari lalu, baru hari ini lagi ia akan berbicara dengan laki-laki yang ia puja sejak pertama kali bertemu di rumah ini.
“Apa aku udah bener-bener gak boleh tau kabar mas Bima?” tanyanya kala itu.
Dan Ozi hanya mengatakan, "Lo bisa lebih fokus sama hal lain, di luar gue." sebuah penolakan yang singkat dan membuat Inka meringis ngilu.
Ia tahu kalau Ozi dan Bella bertengkar karena masalah keluarga. Dan, ia memiliki andil dalam masalah itu sebagai informan tentang Bella dan Rangga.
Mungkin kali ini ia harus menanyakannya langsung.
Dari halte Bis, ada seseorang yang berlari dengan cepat menuju pangkalan ojek. Adalah Bella yang kini tergesa-gesa mengenakan helm dan meminta tukang ojek itu untuk segera berangkat.
“Perumahan angkrek bulan kan mba?” tanya tukang ojek itu, mengkonfirmasi alamat yang Bella tuju.
“Nomor 23. Cepetan bang, langsung gas!” serunya.
“Siap mba!!” sahutnya semangat.
Ia tergesa-gesa karena baru ingat kalau sekarang ada Devan yang tinggal di rumahnya. Apa jadinya kalau Inka bertemu Devan dan tahu bahwa Devan tinggal di rumahnya?
Arrrgghhhh kenapa ia bisa sampai lupa?
Motor pun melaju dengan cepat masuk ke kompleks perumahan. Bella memperhatikan jalanan lurus yang ada di hadapannya. Rasanya ingin ia gulung saja jalanannya agar perjalanannya lebih cepat.
Sambil memperhatikan jalanan di depan, Bella mencoba menghubungi Devan. Ia hendak meminta agar laki-laki itu tidak pulang dulu ke rumah supaya tidak bertemu Inka. Sayangnya tidak ada satupun panggilan yang di jawab Devan.
“Kemana sih nih anak?!” dengus Bella putus asa.
“Di depan bang!” ia menepuk bahu tukang ojek untuk memperingatkan.
“Siaaapp.” Motor pun berhenti di tepian jalan.
“Ini ongkosnya. Makasih yaa… kembaliannya ambil aja.” cerocos Bella yang segera turun dan pergi.
“Eehh mba tunggu,,,” seru tukang ojek tersebut.
“Apalagi? Kurang? Biasanya juga segitu.” Sengit Bella kesal.
“Bukan mba, itu helm saya.” laki-laki itu menunjuk ke atas kepala Bella.
“Oh astagaaaa… Maaf bang, lupa.” Cepat-cepat Bella melepas helmnya. Saat tergesa-gesa memang ada-ada saja yang tertinggal.
“Ini, makasih yaa!”
“Iya mba, sama-sama.” Sahut tukang ojek.
Bella segera membuka gerbang, berjalan dengan cepat menuju pintu dan saat pintu di buka, seseorang sedang mematung di balik pintu menatap Devan dengan bingung.
“Inka!!!!” seru Bella dari pintu.
“Bell?” Inka menoleh namun tangannya tetap menunjuk Devan.
“Gue jelasin! Ikut gue!” Bella segera menarik telunjuk Inka dan berjalan mengikutinya. Sementara Devan mematung kebingungan bercampur kaget.
“Mas Bima kenal sama mas Devan?” pertanyaan itu yang langsung di lontarkan Inka setelah masuk ke kamar Bella.
“Iyaaa, tapi lo jangan mikir macem-macem.” Bella menaruh barang-barang di tangannya di atas meja belajar, lalu mendudukan Inka di tepian tempat tidurnya.
“Emang lo pikir gue mikir apa?” Inka menatap Bella lekat.
“Dari muka lo keliatan banget keponya. Kok bang Ozi kenal Devan, kok gue kenal dia, kok Devan ada di sini, kok dia bisa tinggal bareng gue, kok dia..”
“Hah? Mas Devan tinggal di sini?” Inka mengutip satu kalimat Bella.
Mulut Bella sontak mengatup. Rupanya pertanyaan Inka tidak sampai ke sana.
“Em nggak, maksud gue,” Bella kebingungan sendiri. Bukan Inka yang bertanya, malah ia sendiri yang memberitahu.
“Nggak! Jawab dulu pertanyaan gue. Mas Devan tinggal di sini?” Inka memegangi bahu Bella dan menatapnya dengan lekat.
Dengan cara seperti ini pasti Bella tidak bisa berbohong.
“I-Iya,…” benar bukan.
Tanpa di duga, tiba-tiba saja Inka memeluk Bella membuat Bella semakin kaget.
“Syukurlah Bell, sekarang mas Bima ada temen. Gak cuma lawan berantem kayak lo.” ujar Inka sambil mengeratkan pelukannya pada Bella.
“I-Iyaa…” Bella benar-benar terkejut.
Ketakutan yang ada dibenaknya berbanding terbalik dengan isi pemikiran Inka. Inka tidak bertanya mengapa Devan tinggal di rumahnya dan bagaimana mereka bisa kenal. Haruskah Bella bersyukur?
“Gue boleh ketemu mas Bima kan?” pinta Inka dengan sungguh. Rupanya ini yang lebih penting untuk Inka. Terlihat jelas kecemasannya setelah mendengar kabar kalau Ozi sakit.
“Boleh. Tapi, gue minta jangan ngomong yang aneh-aneh ya.. Terutama soal gue. Please….” Bella sampai memohon pada Inka.
“Iyaa…. Lagian gue udah berhenti jadi informannya mas Bima. Dia udah gak butuh gue lagi. Mungkin gara-gara ada mas Devan yang bisa dia tanya. O iya, ngomong-ngomong kenapa mas Devan,”
Mata Bella langsung membulat mendengar awal pertanyaan Inka. Inka memang tidak bisa di prediksi.
“Gak usah banyak nanya, ayo gue anter lo ketemu abang gue.” Dengan cepat Bella menarik tangan Inka.
“Tar dulu, gue siap-siap dulu Belsky.”
Inka berhenti di depan cermin dan merapikan penampilannya. Mulai dari lipsticknya, tersenyum untuk melihat barisan giginya khawatir tidak bersih dan tentu saja merapikan bajunya.
“Udah cakep. Ayo!!” Bella menarik tangan Inka agar mengikutinya. Sementara isi kepalanya masih memikirkan alasan jika Inka bertanya mengapa Devan bisa tinggal di rumahnya.
Berjalan menapaki anak tangga dan terlihat Ozi sedang berada di taman rooftop bersama Saras. Mereka tengah bercengkrama dan terlihat Saras yang tersenyum kelu pada sang putra.
“Mah, ada temen adek.” Ujar Bella menjeda obrolan ibu dan anak tersebut. Saras segera menoleh.
“Eh, nak Inka. Ayo sini nak.” Sambut Saras.
Wanita itu segera beranjak menyambut Inka sementara Ozi hanya terdiam di tempatnya, tidak menoleh sedikitpun.
“Apa kabar tante?” Inka mengambil tangan Saras yang kemudian di ciumnya.
“Alhamdulillah sehat. Duduk nak,”
Inka duduk dengan canggung, ia menatap Ozi yang hanya terdiam di tempat.
“Inka jengukin lo nih bang.” Ujar Bella. Ia mengambil tempat di samping Saras.
“Hem,” sahutnya dengan senyum tipis alakadarnya.
“Mas Bima gimana kabarnya?” tanya Inka dengan penuh perhatian.
“Seperti yang lo liat sekarang, gak kurang gak lebih.” Sahut Ozi acuh.
“Abang…” Saras mengambil tangan Ozi lalu menggenggamnya. Inka hanya tersenyum mendapat respon dingin dari Ozi.
“Adek bikin minuman dulu yaa…” pamit Bella yang diangguki Saras.
Meninggalkan Inka dengan ibu dan kakaknya, sesekali Bella menoleh. Sangat canggung rasanya, padahal biasanya Inka pandai mencairkan suasana. Ya, mungkin berbeda kalau yang di hadapi itu orang yang dia suka.
“ASTAGA!!!” seru Bella saat hampir saja menabrak Devan yang berdiri di jalannya.
“Lo ngapain sih di situ? Berdiri tegap, udah kayak arca aja.” protes Bella yang masih kaget. Ia mengusap dadanya untuk menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
“Gue dari tadi di sini, lo yang jalan gak liat-liat.” Kilah Devan tidak mau beranjak.
“Ya maksud gue, lo liat gue jalan terus hampir nabrak lo, ya lo inisiatif pindah. Jangan ngalangin jalan gue.” protes Bella dengan kesal.
“Emang ada arca yang bisa pindah sendiri?” tanya Devan dengan acuh. Ia memasukkan kembali sisa biscuit ke mulutnya.
“Astagaaaa, lo beneran ngeselin ya.”
“Bruk!” dengan sengaja Bella menabrakkan bahunya ke lengan Devan dan Devan hanya tersenyum. Ternyata menyenangkan mengganggu Bella, sama seperti dulu.
Bella berniat membuatkan minuman untuk Inka. Ia mengambil sebuah gelas dan sekaleng gula. Kotak teh yang ada di dekatnya sudah habis, terpaksa ia harus membuka pintu kitchen set di atas kepalanya. Sedikit berjinjit untuk menggapai pegangan kitchen set dan ya berhasil. Tangannya meraba-raba isi kitchen set, mencari kotak teh celup.
“Ke kanan dikit.” Ujar Devan dari tempatnya.
Bella mendelik sebal namun tetap mengikuti petunjuk Devan. Badannya yang tidak terlalu tinggi, membuat ia kesulitan.
“Eh salah, maksudnya kiri.” Ia berusaha mengulum senyum karena berhasil mengerjain Bella.
“Ngeselin lo ya! Nyari perkara aja!” gerutu Bella. Ia mencari secara acak dan benar saja di sebelah kiri ia menemukan kotak teh celup.
Di ambilnya satu teh celup dan sisanya, “BUK!!” ia lempar pada Devan.
Binggo, dengan tepat Devan menangkapnya lalu tersenyum menang. Balasan dari Bella adalah acungan jari tengah yang ia tujukan pada Devan.
Entah ada angin apa, Devan jadi keranjingan mengganggunya begini.
“Lo ada di rumah, itu lebih bagus buat abang sama nyokap lo.” tiba-tiba saja Devan bersuara. Ia menghampiri Bella dan menaruh kotak teh di samping tangan Bella.
“Gue gak kemana-mana.” Timpal Bella. Ia melirik Devan yang bersandar pada kitchen set dan sedang memakan apel yang di bawa Inka.
“Keluar dari rumah karena marah, itu terlalu kekanak-kanakan. Lo boleh berantem sama keluarga lo, tapi jangan pernah ninggalin mereka.” Devan menatap Bella dengan laman.
Tangan Bella yang sedang mengucek teh pun berhenti. Di taruhnya sendok dengan kasar.
“Sorry, gimana tadi? Kekanakan?!” Ia menatap Devan yang tengah memandanginya dengan tajam.
Saat bertemu pandang laki-laki itu langsung mengalihkan perhatiannya.
Bella tersenyum sinis.
“Enteng banget lo ngomong. Lo gak tau aja, ada orang yang suka tiba-tiba pergi tanpa ngejelasin apapun dan tiba-tiba dateng lagi tanpa rasa bersalah. Mau, gue kenalin gak sama orangnya?” tantang Bella.
Devan tersenyum kecil, ia menyilangkan tangannya di depan dada sambil memainkan sisa apel di tangannya.
“Orang itu mungkin mengambil keputusan yang salah saat masih kanak-kanak. Tapi gue yakin, dia nyesel karena gak bisa ngejelasin alasannya. Dan kalo dia jelasin, mungkin lo gak akan paham saat itu.” kali ini Devan balas menatap Bella.
Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan, mencoba memahami isi kepala masing-masing.
“Oh ya? Lo kayaknya paham banget pikiran orang itu.” lagi Bella tersenyum sinis.
“Dulu mungkin dia masih kekanakan tapi sekarang dia orang dewasa yang gak punya nyali untuk menjelaskan apapun. Dan parahnya, dia gak punya keberanian buat sekedar minta maaf, padahal,” Bella mencondongkan tubuhnya ke arah Devan dengan suara yang di buat lebih pelan namun penuh penekanan.
“Maaf,” lirih Devan. Ia menatap wajah Bella yang tepat ada di hadapannya.
Bella tidak lantas menjawab. Ia menelan salivanya yang tiba-tiba saja membuat tenggorokannya terasa penuh. Jujur ia terkejut dengan ucapan tiba-tiba Devan.
“Lo bisa terima itu?” imbuhnya.
Bella hanya terpaku. Ia menarik tubuhnya menjauh. Menaruh secangkir teh di atas tatakannya. Alih-alih memberikannya pada Inka, malah ia minum dengan cepat. Devan diam saja sambil memperhatikan Bella.
Setelah puas meminum teh buatannya sendiri, ia menarik kantong sampah yang ada di dekat kakinya.
“Bisa lo buang? Permintaan maaf itu perlu usaha.” Ujarnya tegas.
Devan hanya mengulum senyum dan tidak menolak. Ia mengambil kantong sampah itu dan berjalan keluar rumah. Di belakangnya Bella mengikuti dengan membawa dua buah dus kosong yang hendak ia buang. Sesekali Devan menoleh ke belakang dan Bella membuang muka saat Devan menolehnya.
Devan tersenyum dalam hati, Bella memang tetaplah Bella. Saat ia bingung harus bersikap seperti apa, ia akan melakukan hal yang random.
“Bruk!!” kantong sampah berhasil masuk ke dalam tong. Di susul dengan dua buah dus yang di simpan di atasnya.
“Ada hal lain?” tanya Devan.
Bella hanya mengendikan bahunya. Laki-laki ini memang sedang berusaha menebus kesalahannya namun entah Bella bisa dengan cepat memaafkannya atau tidak.
“Bell,” sebuah suara membuyarkan pikiran Bella dan Devan. Keduanya menoleh dan sama-sama terkejut saat melihat seorang laki-laki yang berdiri di hadapan mereka.
“Rangga?”
Tanpa mereka sadari, ada satu orang lagi yang melihat hal ini dari kejauhan.
Ya, ada Jihan yang melihat keberadaan Devan di rumah Bella. Wajahnya terlihat dingin. Hanya beberapa saat saja ia memperhatikan sampai kemudian ia kembali mengenakan kacamata hitamnya dan menancap gas pergi entah kemana.
Oow..., bagaimana ia menghadapi Rangga kali ini?
*******
Huaaaa,, Ini Part terpanjang yang aku tulis... Mudah-mudahan emosinya nyampe yaaa...
Di tunggu Like, Comment, Vote nya yaaa... Itu berarti banget buat aku. Kalau mau ngasih gift juga boleh bangeett, hoho...
Terima kasih buat readerku yang masih setia baca... Sehat selalu yaaa...
Love