
“Okey, CUT!! Bungkus!!!” Seru Devan.
“Wuhuuu kereenn!!!! Terima kasih gaisss!!!” Timpal Indra seraya bertepuk tangan di udara.
Crew pun ikut bersorak gembira karena scene terakhir berhasil di rampungkan.
“Okey, kawan-kawan gue minta perhatian kalian sebentar.” Suara riuh itupun reda seketika saat suara Devan terdengar dari pengeras suara.
“Gue ucapin terima kasih atas kerja keras dan kerja solid kita semua hingga proses syuting ini bisa berjalan lebih cepat dari perkiraan.”
“Semua pengambilan scene di lokasi ini sudah selesai, sehingga tidak ada hari ketiga seperti yang kita rencanakan.”
“Kita bisa mulai berkemas dan bagi yang masih mau menikmati liburannya di sini, gue persilakan. Kalian bisa pake akomodasi yang disediakan sampai besok. Tapi tolong melapor siapa yang besok akan cabut dan yang masih mau di sini.”
“Besok kita break syuting sampai 3 hari ke depan. Kita ketemu lagi di hari selasa.”
“Sekali lagi gue ucapin terima kasih dan salam kompak!” Tandas Devan menutup kalimatnya.
“Thank you semuaa… Selamat berlibur!!!” Indra menangkupkan kedua tangannya dan mengangkatkan tinggi-tinggi sebagai bentuk apresiasi.
“Thanks you, thank you!!!” Mereka saling menyahuti antar crew.
“Hah, akhirnya selesai juga.” Indra mendudukan tubuhnya di kursi kebesarannya di samping Devan.
Ia duduk terlentang dengan sisa tenaga yang masih tersisa.
“Lo mau balik hari ini apa besok?” Tanyanya pada Devan yang tengah meneguk kopinya.
“Besok pagi.” Sahut Devan seraya menaruh cangkir kopinya.
“Waaahh… Terus mo kemana nih malem ini? “ Indra jadi penasaran pada rencana bos nya.
Tentu saja ia penasaran, karena sedari tadi Devan seperti sibuk dengan benda pipih di tangannya. Padahal biasanya benda itu selalu ada di dalam sakunya.
“Bukan urusan lo!” Cetusnya seraya berlalu.
“Heh, mau kemana lo?! Jalan sama, Bella ya?” Tanya Indra setengah berteriak.
Devan yang tengah berjalanpun lantas berhenti. Ia berbalik menatap Indra dengan sinis.
“Okey, sorry!!!” Laki-laki itu hanya cengengesan seraya melakukan gerakan tutup mulut seperti me-resleting mulutnya saat tatapan tajam Devan tertuju padanya.
Devan pun melanjutkan langkahnya setelah memastikan Indra akan diam.
“Have fun bro!” Eehh masih saja laki-laki itu menggodanya, membuat Devan hanya bisa menggelengkan kepala melihat keisengan Indra yang tidak henti menggodanya.
Coba dengar, bisa-bisanya laki-laki itu menertawakan Devan dengan gemas. Entah apa yang ada di pikirannya.
“Bell, mau jalan malem ini apa besok pagi aja?” Sebuah pesan di kirim Devan pada Bella.
“Malem ini aja. Besok gue mau pulang cepet.” Cepat juga Bella membalasnya.
Devan melihat dari kejauhan Bella yang sedang membantu Inka membereskan property. Gadis itu pun sadar kalau ia tengah di pandangi oleh Devan yang ada di seberangnya. Mereka hanya saling melempar pandangan tanpa ekspresi yang berarti.
“Okey. Setelah makan malam.” Balas Devan.
Bella membaca pesan yang masuk beberapa saat. Dari tempatnya Devan bisa melihat kalau Bella mengangguk ke arahnya.
Laki-laki itu hanya tersenyum lantas berlalu entah kemana.
“Bell, malem ini lo mau ikut gak sama gue dan temen-temen?” Tanya Inka yang sedang memasukkan property ke dalam peti.
“Emang mau pada kemana?” Bella bertanya dengan ragu.
Selesai mengemas barang, Inka menutupnya dengan selotip besar.
“Bang Roni ngajak jalan. Katanya ada tempat makan yang enak gak jauh dari sini. Menu khas-nya sate. Katanya sih enak banget. Makanya gue penasaran.” Terang Inka.
Ia melirik Bella yang terlihat bingung harus merespon apa. Bella terlihat menggenggam ponselnya erat-erat seperti tidak mau lepas.
“Ya kalau lo gak bisa, ya gak apa-apa juga kali Bell. Gue tau lo lebih suka menyendiri dan mungkin mau nyari inspirasi. Asal jangan pergi-pergi sendiri ya…” Inka memang pengertian, ia coba memberi Bella waktu untuk dirinya sendiri.
“Thanks Ka.” Hanya itu sahutan Bella kemudian.
Bella jadi berpikir sendiri, entah mengapa ia harus sembunyi-sembunyi dari Inka? Kenapa ia tidak bisa jujur pada Inka kalau ia akan pergi dengan Devan?
Entahlah. Saat ini Bella hanya memandangi Inka yang tersenyum padanya seolah gadis itu tidak memerlukan penjelasan apapun dari Bella.
******
Sesuai janji, Bella dan Devan bertemu di pintu keluar lokasi syuting. Mereka sepakat untuk menggunakan sepeda motor agar perjalanan lebih mudah dan cepat.
Saat tiba di pintu keluar, Bella melihat Devan yang sedang memeriksa motor trail yang akan mereka gunakan. Seorang laki-laki tengah berbincang menemaninya memeriksa kondisi kendaraan yang disewanya.
“Okey, thank you.” Sayup-sayup Bella mendengar suara Devan yang berjabat tangan dengan laki-laki pemilik motor tersebut.
Tidak lama kemudian laki-laki itu pamit pergi.
“Hay.” Sapa Bella dengan canggung saat menghampiri Devan.
“Oh, hay.” Devan pun tidak kalah canggung. Ia segera mematikan panel lampu motor yang coba ia nyalakan tadi.
“Lo beneran gak masalah naik motor? Udaranya dingin loh Bell.” Lagi Devan bertanya untuk memastikan ide Bella ini.
Ia sempat ragu karena siang saja Bogor sudah terasa dingin apalagi malam seperti sekarang.
“Gue udah pake jaket tebel dan baju berlapis. Lagian kalau pake mobil katanya jalannya berbatu, kita gak bisa milih jalan.” Terang Bella.
“Iya sih. Okey kalau gitu.” Devan hanya bisa mengikuti kemauan Bella.
Ia mengambil helm dan memakaikannya pada Bella. Bella jadi memandangi wajah Devan yang persis ada di hadapannya.
“Udah nyaman?” Tanya laki-laki itu seraya menatapnya.
“Ya, nggak terlalu kencang. Cukup nyaman.” Sahut Bella.
Devan hanya tersenyum. Ia mengambil helm untuk dirinya sendiri lantas memakainya. Ia duduk lebih dulu, menunggangi kuda besi yang bersuara nyaring saat mesin dinyalakan.
“Yuk!” ajaknya pada Bella.
Gadis itu mendekat dan segera naik. Ia berpegangan pada bahu Devan sebagai titik tumpu.
“Tangan lo masukin ke saku jaket gue, biar gak dingin.” Ujar Devan saat Bella sudah berada di boncengannya.
“I-Iya.” Ragu-ragu Bella memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Devan membuat jarak keduanya menjadi sangat dekat.
Devan memperhatikan Bella dari spionnya.
“Udah siap?” Devan kembali bertanya.
“Iya.” Sahut Bella dengan yakin.
Ia berusaha duduk dengan nyaman. Ternyata sulit juga mengatur jarak dengan Devan saat tangannya melingkari tubuh Devan dan dimasukkan ke dalam saku.
Jarak mereka yang cukup rapat hingga membuat Bella bisa mencium wangi parfum Devan yang segar. Ia juga bisa merasakan bahu Devan yang kokoh saat ia bersandar.
Perjalanan menuju telaga di mulai. Hanya lampu remang-remang yang menerangi jalan setapak yang mereka lewati. Jalanannya cukup berbatu dan licin. Beruntung Devan bisa mengendalikan kuda besinya dengan baik sehinga Bella tetap merasa nyaman di boncengan Devan.
Angin malam memang terasa sangat dingin, suara alam terdengar jelas di keheningan seperti ini. Rasanya memang menenangkan untuk Bella yang suka keheningan.
“Tempat ini katanya mau di catat sebagai salah satu tempat wisata daerah yang dikelola oleh swasta. Tapi sepertinya masyarakat sekitar tidak terlalu setuju.” Suara Devan memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Oh ya, emang kenapa?” Bella jadi penasaran dengan pernyataan Devan tadi.
“Mereka takut kalau setelah di jadikan tempat wisata yang terbuka untuk umum, tempat ini menjadi rusak. Kecuali ada jaminan kalau tempat ini akan terus di lestarikan.”
“Warga setempat juga mau mereka di libatkan dalam pengelolaannya. Karena sedikit banyak, tempat ini harus memberi keuntungan untuk mereka dari segi financial.” Terang Devan.
“Terus, vila-vila yang ada di sekitar sini milik siapa?”
“Em, Kalau yang gue denger dari pemilik motor ini katanya itu milik warga sekitar. Mereka sengaja membangun vila-vila itu secara bersama-sama lalu menyewakannya. Keuntungannya mereka bagi dengan adil.”
“Ohhh.. Gue pikir punya pengembang swasta gitu.” Bella tampak tertegun.
“Dulu katanya harga tanah di sini murah banget. Karena aksesnya sulit dan jauh ke perkotaan. Tapi begitu tempat ini terkenal, harganya mulai lumayan. Banyak tanah warga yang akhirnya di bangun vila alih-alih di jual ke pihak luar. Ya menurut mereka ini lebih baik karena kedepannya bisa sebagai lahan investasi.”
“Wah, mereka berpikiran maju juga yaa… Gue pikir mereka akan lebih tergiur dengan harga fantasis saat lahan mereka di jual. Ternyata enggak.” Bella terkagum-kagum sendiri dengan pemikiran warga sekitar sini.
“Mereka masih berpikir kalau lebih baik lahan yang mereka punya di wariskan daripada di pakai senang-senang sesaat. Toh ke depannya anak cucu mereka pasti membutuhkannya.”
Kalimat Devan tersebut menjadi kalimat terakhir dari obrolan mereka mengisi perjalanan.
“Kita udah nyampe Bell.” Ujar Devan yang menghentikan motornya tidak jauh dari telaga.
“Waahhh… Indah banget…” Bella segera turun dari motor. Rasanya ia tidak sabar untuk menyentuh dinginnya air telaga.
Ia berlari kecil, berjongkok di pinggir telaga dan menyentuh airnya yang dingin seperti menghentikan selama beberapa saat otak Bella untuk berpikir. Rasanya sejuk dan ada rambatan dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya.
Devan memilih menyiapkan tempat duduk. Ada sebuah bangku yang tertutup dedaunan dan tengah ia bersihkan. Sedikit lembab karena hawa dingin di sekitar telaga.
Dari tempatnya Devan bisa melihat garis bibir telaga yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari tempatnya. Airnya berkilauan terkena cahaya rembulan yang seperti memantul di atas kaca dan membuat jernihnya air telaga jelas terlihat.
Gemintang ikut menerangi langit malam di penghujung bulan ini.
“Lo masih inget gak Bell nama bintang-bintang di atas sana?” Tanya Devan dari tempatnya.
Kepalanya menengadah memandangi langit yang cerah karena banyak bintang yang saling berkerlipan.
“Kenapa, lo masih inget cerita gue waktu kecil?” Bella balik bertanya seraya tersenyum.
“Hem. Cerita lo dulu terasa nyata. Seolah lo benar-benar tau bintang itu dan pernah bertemu.” Puji Devan seraya mengalihkan pandangannya pada Bella.
“Hahahaha… Padahal gue tau nama bintang itu asal dari film cerita anak-anak. Gue gak tau persis seperti apa itu beneran Sirius, Canopus atau bintang lainnya.” Aku Bella seraya menoleh Devan.
Tanpa sengaja kini mereka berpandangan dan sama-sama mengingat memory beberapa tahun ke belakang.
Saat itu, hujan lebat mengguyur ibu kota. Di rumah hanya ada Bella dan Devan karena Ozi dan kedua orang tua Bella sedang pergi menghadiri sebuah acara.
Tiba-tiba listrik mati, membuat rumah menjadi gelap gulita.
“AAAKKHHHHH…” Devan mendengar suara teriakan Bella dari kamarnya.
Dengan cepat Devan berlari menuju kamar Bella membawa sebuah senter di tangannya.
“Bell, kamu di mana?” Tanya Devan saat tiba di kamar Bella.
“Bang Devan, aku takut.” Rengek Bella.
Devan mencari keberadaan Bella yang ternyata bersembunyi di bawah selimut. Dengan cepat ia menghampiri, ikut masuk ke dalam selimut.
“Hey, ada aku di sini.” Ujar Devan seraya menyalakan senter di dalam selimut. Ia bisa melihat wajah Bella yang ketakutan dengan air mata yang berlinang.
“Aku takut…” Bella segera mendekat pada Devan dan memegang tangannya dengan erat.
“It’s okey.. Gak perlu takut. Kamu tunggu sebentar, aku mau nunjukkin kamu sesuatu biar kamu gak takut lagi.” Devan memberikan senternya pada Bella sementara ia keluar dari selimut.
Ia mencari laci meja Bella. Meraba-raba mencari kertas atau buku juga gunting. Beruntung ia menemukannya. Setelah itu ia membawa kertas dan gunting itu lalu masuk kembali ke dalam selimut.
“Bang Devan mau ngapain?” Tanya Bella, ngeri sendiri melihat Devan memegang gunting.
“Nanti kamu akan lihat.” Ujar Devan dengan yakin.
Ia menggunting kertas-kertas itu menjadi beberapa bagian dan ukuran yang berbeda.
“Matiin dulu senternya.” Pintanya. Ia mengambil alih senter itu dari Bella dan suasana pun kembali gelap.
“Bang Devan, bang Devan di mana?” Bella merasakan kalau Devan menjauh darinya.
“Sebentar Bell, sebentar lagi selesai.” Suara Devan terdengar agak jauh.
“Jangan jauh-jauh, aku takut…” Rengek Bella.
“Nggak, sebentar lagi. 1, 2, 3!”
Tidak lama senterpun menyala. Cahayanya membias di permukaan selimut di atas mereka. Tidak hanya permukaan selimut yang terlihat melainkan ada bentuk bintang yang terpantul dengan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran paling kecil hingga besar. Kertas-kertas berbentuk bintang itu memang sengaja Devan taruh di permukaan senter.
“Waahhh bagus banget… Bang Devan keren…” Puji Bella yang terkagum-kagum.
Devan masih mengingat persis bagaimana binar mata Bella yang terlihat sangat indah di antara sisa air mata di sudut matanya yang bulat.
“Kamu suka?” Tanya Devan dengan tidak sabar.
“Suka banget!!” Bella berseru kegirangan.
“Yang itu Sirius, bentuknya paling besar dan paling terang karena ada di tengah-tengah. Kalau yang itu canopus, lebih redup sedikit dari Sirius. Kalau yang besar sama kecil ini Alpha Centauri. Dia porosnya dan ini orbitnya. Waaahhh cantik yaaa…” Puji Bella dengan penuh kekaguman.
Dan sekarang Bella dan Devan sama-sama tersenyum mengingat kenangan itu.
“Gelap tidak selalu menakutkan kan?”
“Gelap tidak selalu menakutkan kan?”
Ujar keduanya bersamaan. Itu adalah kalimat yang diucapkan Devan kala itu.
“Rupanya lo masih inget.” Ujar Devan.
“Pasti. Itu yang bikin gue gak pernah takut lagi sama gelap. Thanks Van….” Lirih Bella seraya tersenyum pada Devan.
Devan terangguk-angguk pelan.
“Lo gak cuma gak harus takut sama gelap Bell, tapi pada semua hal. Karena, lo istimewa. Lo memiliki banyak hal yang mungkin orang lain gak punya. Dan hal itu yang harusnya membuat lo tidak takut pada apapun.” Tutur Devan seraya menatap Bella dengan lekat.
Bella hanya tertegun. Ia balas menatap Devan yang ada di sampingnya. Mata bersorot tajam itu memberi Bella banyak kepercayaan dan keyakinan hingga membuat satu sudut hatinya berdesir.
“Thanks Van.” Lagi, hanya kalimat itu yang bisa mewakili perasaan Bella saat ini.
Devan hanya tersenyum seraya memandangi wajah Bella yang terlihat cantik saat terkena bias cahaya rembulan. Mereka saling terdiam untuk beberapa saat, saling mengagumi masing-masing sosok yang ada di hadapannya. Seseorang yang membuat hidup satu sama lain berubah.
“Okey, lo mau coba pegang airnya? Seger banget tau Van.” Bella berusaha mengalihkan fokusnya pada hal lain. Ia tidak mau kembali canggung. Ia pergi ke sisi telaga dan berjongkok di sana. Tangannya sudah tercelup ke dalam air telaga yang jernih. Bisa ia bayangkan bagaimana indahnya telaga ini di siang hari saat terkena ccahaya matahari.
“Nggak akh Bell, dingin.” Devan lebih memilih memasukkan tangannya ke dalam saku.
“Jangan cemen dong… Ayok sini.” Hasut Bella yang sudah lebih dulu memainkan tangannya di dalam air dengan menjentik-jentikkan jarinya.
“No, gue gak mau.” Devan kukuh menolak.
“Vaaannn… Sebentar… Lo coba pegang airnya…” Bella berusaha membujuk sambil tersenyum.
Akh bikin gemas saja, pikir Devan. Mana bisa ia menolak.
“Okey, tapi cuma nyentuh doang ya…” Akhirnya Devan pun terbujuk. Ia menghampiri Bella dan ikut berjongkok.
“Coba, sentuh dikit.” Pinta Bella.
“Okey, gue coba.” Devan menghela nafas dalam sebelum mencelupkan tangannya. Ragu-ragu ia melakukannya, karena ia bisa membayangkan sedingin apa air telaga ini.
Baru Devan akan menyentuh permukaan air, siapa sangka Bella malah menarik tangan Devan dan mencelupkannya.
“BELL!!!” Devan sampai terhenyak kaget karena dingin hingga refleks berdiri.
Sayangnya, tanah yang di pijaknya sedikit basah dan licin, bukannya berdiri Devan malah jatuh. Ia jatuh terduduk dan tanpa sengaja ia menarik tangan Bella dengan kuat hingga menubruk tubuhnya.
“CUP!” Tanpa sengaja satu hal tidak terelakkan itu terjadi. Bella berada di pangkuan Devan dan mencium bibirnya.
Mata keduanya kompak membulat sempurna karena kaget. Mereka terdiam beberapa saat seolah pikiran mereka kosong. Bella bisa merasakan lembut dan hangatnya bibir yang tanpa sengaja ia kecup.
"Astaga!" Bella refleks menjauh dari Devan dan mendorong dadanya. Ia tidak sadar kalau di belakangnya adalah telaga, hingga.
“BYUR!!!” Tubuh Bella terjatuh ke dalam air bersamaan dengan Devan yang berusaha menahan tubuh Bella agar tidak jatuh.
Sayangnya gagal. Mereka sama-sama jatuh terlentang di atas permukaan air. Beruntung airnya masih dangkal, hingga hanya setengah tubuh mereka yang basah.
Keduanya hanya terdiam. Pikiran mereka kosong tiba-tiba seolah rasa dingin telah membekukannya. Tapi kemudian Bella tersadar. Ia menggigit bibirnya sendiri yang tadi mengecup bibir Devan, lalu mengusapnya dengan punggung tangan.
“Akh sial!” Dengusnya.
Ia segera bangkit dari tempatnya dan keluar dari air. Ia mengabaikan cucuran air yang menetes dari badannya. Tubuhnya kedinginan namun ia coba abaikan.
“BELL!!! Bella! Lo mau kemana?” Devan yang ikut tersadar segera menyusul Bella.
“Bell, tunggu!! Lo mau kemana?!” Devan menahan tangan Bella untuk menghentikan langkahnya.
“PULANG!!” Ketusnya. Tidak sedikitpun ia menoleh Devan yang mencemaskannya. Tangannya mengepal kuat.
“Iya pulang, tapi tunggu motornya di sana.” Tunjuk Devan pada motor yang terparkir.
“Terserah!” Dengusnya seraya mengibaskan tangan Devan dan memilih pergi mengikuti jalan setapak yang tadi di lewatinya.
“Astaga Bella… Kita kan gak sengaja…” Cepat-cepat Devan berbalik dan mengambil motor. Memarkirkannya dengan cepat dan segera menyusul Bella.
“Ayok naik.” Ajak Devan.
Bella tidak menimpali, ia memilih terus berjalan.
“Bell.. please.. Kita tadi gak sengaja. Itu kan cuma,”
“DIEM LO!!” sentak Bella yang membuat Devan langsung membungkam mulutnya.
Tidak bisa ia pungkiri kalau ia memang masih merasakan hangatnya bibir Bella yang tadi bersentuhan dengan bibirnya. Jantungnya malah masih berdebar hanya karena melihat bibir merah muda itu mengerucut kesal.
Devan menajalankan motornya lalu berhenti menghadang Bella.
“Okey, gue salah. Gue juga kan akan bahas. Tapi, lo jangan pulang jalan kaki. Kaki lo bisa sakit. Gimana kalau ada hewan melata yang nyamperin lo?” Devan berusaha membujuk Bella.
“Kenapa lo malah nakut-nakutin gue?!” Seru Bella dengan kesal. Nafasnya sampai terengah-engah menahan tangis. Entah untuk alasan apa ia menangis.
“Gue bukan nakut-nakutin Bell. Maskud gue,”
Belum selesai Devan melanjutkan kalimatnya, Bella sudah melengos lebih dulu. Ia mengambil helm yang semula ia pakai dan memasangkannya di atas kepala.
“Talinya,” Devan berusaha menalikan helm tidak SNI itu.
“GAK USAH!!” Dengan keras Bella menepuk tangannya.
“Okey, sorry. Soryy. Gue minta maaf atas kejadian tadi. Gue,”
“Lo bisa diem gak sih?! Gue mau pulang.” Ujar Bella yang selalu menghindar saat Devan akan menatap matanya.
Devan tidak lagi berbicara. Ia mengunci mulutnya lalu membuang kuncinya entah kemana. Ia naik ke atas motor lantas menyalakan mesin motor. Sejak saat itu tidak ada lagi perbincangan di antara keduanya.
****