Bella's Script

Bella's Script
Klarifikasi



Menunggu jawaban Bella, membuat Tio sampai lupa kalau ia harus menjeda tayangannya dengan commersial break yang sudah mengantri di belakang. Semua tampak tegang menunggu jawaban Bella yang entah akan menjawab seperti apa.


Bella tercenung beberapa saat, mencoba memikirkan jawaban yang bijak tanpa menyudutkan siapapun. Ini terakhir kalinya ia berusaha untuk menyelamatkan banyak hal tanpa merusak citranya sendiri. Ia takut, jika ia salah bicara, malah akan memperburuk keadaan.


“Iyaa, kami pernah bersama sebelum project film ini di mulai.” Aku Bella dengan tenang.


"Hah, ko lo ngaku sih Belsky?!" protes Inka di tempatnya.


"Udeh lo diem dulu, dengerin dulu." Roni langsung menekan bahu Inka agar kembali duduk.


" Lalu, benarkah kalian berpisah karena gossip perselingkuhan sebelumnya?” Luna benar-benar menguji kesabaran Bella dan penonton.


“Eeeerrmm!!!” Inka mengeram kesal, ia sudah mengangkat-angkat microphone di tangannya dan rasanya ingin ia lempar pada Luna.


“JBisa tenang gak lo!.” Indra segera merebut microphone dari tangan Inka, ia takut gadis ini kelepasan.


“Ini si Luna memang minta gue beri!” ancam Inka pada Tio yang hanya menatap perbincangan di depan sana dengan bingung. Ia bahkan tidak tahu harus menjeda sesi ini pada bagian mana karena penonton di media sosial begitu antusias sebanding dengan permintaan joining iklan dari tim promotor.


Aaarrggh kepala Tio seperti mau pecah!


Tidak hanya Inka dan crew, Amara dan Rangga pun di buat gelisah. Wajah Amara yang semula menebar senyum, kini tampak tegang. Tangannya sudah mengepal mencengkram pinggiran jaket bomber yang dipakianya. Kalau tahu akan digiring ke pertanyaan ini, harusnya ia tidak terpancing dengan pertanyaan Luna sebelumnya dan memilih patuh pada script yang ia terima.


Mungkin saja dengan begitu ia tidak akan kelimpungan seperti sekarang.


“Kebersamaan kami memang cukup lama namun kami sudah sepakat untuk berpisah. Seperti yang kak Luna lihat, mereka tampak serasi bukan?” Tegas Bella tanpa menyenggol masalah perselingkuhan. Ia ingin semuanya netral.


“Waw, benarkah Bell? Lalu gimana rasanya bekerja dalam satu project dengan mantan pacar? Terlebih ada pasangan Rangga di lokasi yang sama.” Luna semakin antusias.


Bella hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Luna. Luna benar-benar menguji kesabaran.


“Masalah saya dan rekan saya di masa lalu, sudah selesai. Tidak ada masalah berarti saat syuting berjalan. Kami bekerja secara professional dan mengerjakan tugas kami masing-masing. Saya rasa itu yang terpenting dalam pekerjaan kami saat ini. Menghargai dan menghormati posisi masing-masing.”


“Lagipula saya percaya, baik fans-nya Ara ataupun Rangga, adalah fans yang cerdas. Mereka tentu akan mendukung karya Ara dan Rangga dan tahu mana yang bisa mereka komentari dan mana yang harus mereka hormati."


"Saya harap, setelah ini tidak ada lagi yang saling mengkait-kaitan masa lalu kami. Saya pribadi sangat bahagia dengan  keadaan sekarang, membuat banyak karya untuk penikmat film di tanah air.” Tegas Bella tanpa keraguan.


Namun Luna masih saja penasaran.


“Apa kamu mengatakan itu karena kamu sendiri sudah memiliki pasangan?” Tanya Luna seraya memandangi cincin di jari tangan Bella.


Bella hanya tersenyum seraya menoleh ke arah Devan.


“Ya.”


“Dia bukan sekedar pasangan tapi dia support system terbaik saya, selain keluarga dan teman-teman baik saya, tentunya.” Aku Bella dengan tatapan penuh cinta.


Devan tersenyum kecil mendengar ucapan manis Bella. Rasanya ia ingin berlari menghampiri Bella dan memeluknya dengan erat.


“Saya harap, orang-orangpun bisa menghormati privasi saya.” tandasnya seraya menatap kamera dengan penuh harap.


Ia ingin menjaga citranya di depan penonton setia acaranya dan tentu juga di depan fansnya. Maka pada akhirnya Luna pun bungkam. Kertas pertanyaan di tangannya ia lipat begitu saja, tepatnya kertas pertanyaan yang diberikan Jihan beberapa saat lalu.


“Good job, Bell.”


“Terima kasih karena kamu sudah bertahan sekuat itu.” Batin Devan seraya memandangi Bella dengan penuh kekaguman.


“Hahahha bestie gue emang beda. Makan tuh julidan Lun!” seru Inka dari tempatnya.


Ia tos dengan para crew tak terkecuali Devan. Laki-laki itu tampak tersenyum lega saat melihat Bella begitu percaya diri menghadapi Luna dan opini orang-orang tentang dirinya. Ia tidak hanya membela harga dirinya melainkan juga membela harga diri dua orang di sampingnya.


Sesuai janjinya, Ia benar-benar melakukan apa yang sudah ia rencanakan yaitu menghadapi masalah ini dengan berani lalu menyelesaikannya.


"Bentar, emang Bella udah punya cowok sekarang?" Roni sepertinya baru tersadar.


"Euuhhh... Tau akh!" Decik Inka pada Roni. Ia tidak berani menjawab sebelum Bella sendiri yang bicara.


"Van, lo tau Bella punya pacar? Bukannya deket sama lo?" Kali ini Devan yang di tanya.


"Coba lo tanya sendiri sama Bella." Sahut Devan dengan ringan.


Roni hanya menggaruk kepalanya gatal, lengkap dengan wajahnya yang bingung.


“Wah, cepet banget ini netizen belok.” SeruTio saat melihat barisan komentar yang memenuhi kolom chat-nya.Seruannya berhasil mengalihkan rasa penasaran Roni akan siapa pasangan Bella.


“Wihhh kok suka yaa sama jawabannya Bella. Bener juga sih, ngapaian kita mikirin masalah pribadi mereka, masalah gue aja udah banyak.” Tulis salah satu akun.


“Gue kok jadi ngefans yaa sama Bella. Ada fans base-nya gak yaa, gue mau gabung.”


“Bijak nih perempuan, gak menjelekkan siapapun padahal di sebelahnya ada mantan dan pacarnya mantan. Salut.”


“Hayoohhh siapa yang kemaren ngehujat Bella, hayoh ngaku hayooohhh… Malu gak tuh main fitnah orang aja.”


"Enak bener jadi Rangga, manta ama pacar barunya akrab banget gitu. Kalo gue sih,mana bisa duduk sebelahan sama pacarnya mantan."


Tio terus men-scroll komentar lainnya ke bawah, ia sangat antusias.


“Ih bentar, gue belum selesai baca!” Protes Inka dengan kesal.


“Lo buka di hp lo sendiri, biar trending kita juga naik. Gimana sih!” tolak Tio yang memilih membaca sendirian barisan komentar itu.


Mendengar kabar dari Tio dan melihat sekilas komentar para penonton, membuat Devan bisa menghela nafas lega.


“Wiihh komentar buruk di postingan Bella pada di hapusin anjir. Malah sekarang banyak yang memuja karya Bella. Kayaknya Bella bakal terkenal deh!” seru Roni dengan bangga.


“Hhahaha… Keren-keren.. Bener kan, setelah ada hujan pasti ada pelangi.” timpal Indra yang ikut senang. Akhirnya satu per satu masalah terselesaikan.


****