
Mimpi buruk menunggu di ruang operasi berakhir sudah. Ozi sudah berada di atas blankar yang di dorong menuju ruang ICU. Langkah mereka begitu tergesa, mengimbangi langkah petugas medis yang Panjang.
“Keluarga silakan menunggu di sini. Sebentar lagi dokter akan memberikan penjelasan.” Ujar seorang petugas medis saat tiba di pintu ruang ICU.
“Baik sus. Terima kasih.” Bella menghembuskan nafas lega karena akhirnya ia bisa melihat Ozi keluar dengan selamat. Kepalanya di tutupi perban dan belum sadarkan diri.
“Baik, kami permisi.” Pintu ruanganpun di tutup dan tubuh Bella terasa lemas.
Lagi mereka harus duduk menunggu. Saras yang berada di antara Bella dan Devan, sementara Inka di temani Ibra. Gadis itu tidak pernah pergi kemanapun. Perasaannya sama cemasnya dengan Bella.
Dokter anthoni tampak keluar dari sebuah ruangan. Ia masih memakai baju berwarna biru khas ruang operasi.
“Silakan untuk ke ruangan saya, ada yang perlu kami jelaskan.” Pintanya.
“Baik dok.” Sahut Devan.
Devan menoleh Bella, “Kita berdua yang masuk ya. Mamah biar di temenin sama Inka dan Ibra.”
“Iya.” Bella sepakat.
“Mamah tunggu di sini yaa.. Adek sama Devan gak lama kok.”
Saras hanya mengangguk lemah. Ia memang sudah tidak punya kekuatan untuk mendengar apapun lagi.
“Ka, titip mamah bentar ya.” Pada Inka.
“Iya. Lo tenang aja, tante sama gue dan Ibra.” Berganti Inka duduk di samping Saras dan membiarkannya bersandar.
Dokter Antony menunjukkan sebuah gambaran hitam putih di layar monitornya.
“Operasi yang kami lakukan berlajan dengan baik. Tumor sudah berhasil kami angkat dengan diameter 7,4 cm. Ukurannya cukup besar dan sudah menekan beberapa saraf kecil di kepalanya.”
“Apa kondisinya bisa pulih seperti sedia kala dok?” Ini ketakutan yang pernah Ozi katakan pada Bella.
“Pasien saat ini masih belum sadarkan diri namun sejauh ini responnya masih cukup baik. Kita akan observasi selama beberapa hari ke depan di ruang ICU dan mudah-mudah prognosanya semakin membaik.” Terang dokter Anthony.
Walau tidak terlalu paham dengan gambar yang mereka lihat, namun Bella bisa melihat gambar bulatan putih di gambar kiri sudah tidak ada lagi di gambar kanan.
“Terima kasih dok atas bantuannya. Kami berharap pasien bisa segera sadarkan diri.” Devan menggenggam tangan Bella yang dingin.
“Tentu. Kita akan tunggu efek bius hilang. Harusnya besok pagi pasien sudah sadarkan diri. Untuk sekarang, keluarga bisa beristirahat dulu karena pasien belum bisa di temui. Biar petugas medis yang memonitornya semalaman ini.” Senyuman dokter Anthony di ujung kalimatnya seolah menegaskan agar Bella dan Devan bisa tenang.
“Baik dok, terima kasih.” Ucap keduanya bersamaan. Akhirnya mereka bisa bernafas lega.
*****
Sore itu Bella meminta Inka dan Ibra untuk pulang dulu. Sesuai penjelasan dokter, kalau Ozi belum bisa di temui karena kondisinya yang belum stabil. Ia khawatir kalau semua orang berada di rumah sakit, mungkin salah satu di antara mereka bisa ikut sakit.
Beruntung mereka setuju dan langsung menuruti permintaan Bella walau tetap harap cemas.
“Mah,..” Bella menghampiri Saras yang tengah berdiri di depan kaca ruangan Ozi.
Tangannya mengusap lembut permukaan kaca seolah tengah membelai sosok putranya yang tengah tertidur di atas bed rumah sakit.
Hanya dari sini Saras dan keluarga di izinkan untuk melihat, itupun tidak selalu, hanya pada jam-jam tertentu.
“Abang anak yang kuat,” Saras mengawali kalimatnya dengan parau. Ia sadar Bella tengah memandanginya.
“Saat usianya baru satu tahun, dia sudah bisa melangkahkan kakinya dengan minim pegangan.” Saras tersenyum kecil, bangga pada putranya.
“Sekalipun dia jatuh, dia sangat jarang menangis. Yang ada dia malah tertawa, membuat mamah dan papah ikut tertawa.”
“Dia juga jarang sakit,…” Tapi kali ini suara Saras tercekat. Helaan nafasnya terdengar berat.
“Saat mamah sakit, dia yang pasti bolak balik ke kamar dan menemani mamah.” Saras terkulai lesu dengan tangan bertumpu pada kaca.
“Dia bilang, dia punya mantra untuk mamah yang akan membuat mamah selalu kuat.” Tangisnya pecah lirih.
“Simsalabim, tsuyokunaru!” Ucap Bella dan Saras bersamaan.
Saras terhenyak saat Bella mengucapkan mantra yang sama milik Ozi. Sepertinya Saras cukup kaget mendengar Bella juga tahu mantra rahasia ia dan Ozi.
“Tsuyokunaru, artinya kuatlah.” Ucap Bella seolah menjawab rasa penasaran Saras.
Saras terangguk mendengar ucapan Bella.
Bella jadi ikut memandangi Ozi dengan segaris senyum. Ia jadi ingat, saat Bella depresi dan Ozi menemaninya, kata itu yang terus di gumamkan Ozi setiap kali memandangi wajahnya.
“Setiap salah satu di antara kita sakit dan abang begitu mencemaskan kita, abang akan mengucap mantra itu. Mantra untuk menguatkan fisik dan mental kita."
"Mungkin di alam bawah sadarnya, abangpun sedang mengucap mantra itu mah.”
“Mantra itu juga berlaku untuk kita saat ini, menguatkan mental kita yang sedang terpuruk.”
Bella menoleh sang ibu yang kini menatapnya. “Bukankah kita dan abang harus sama-sama kuat?” Bella bertanya dengan lirih. Ia menyeka air mata di pipinya lantas tersenyum menatap Ozi.
“Iya kan bang? Lo mau gue sama mamah juga kuat ngehadapin semua ini?” Kembali Ozi yang di tatapnya.
Devan yang berdiri di samping Bella ikut terrenyuh melihat usaha Bella untuk tegar. Ia meremas bahu Bella untuk menguatkannya lantas mengecup pucuk kepala wanita itu dengan sayang. Ia tidak menyangka, Bella berusaha berdiri tegar menghadapi badai besar di tengah keluarganya.
“Iya sayang.” Lirih Saras lantas menyandarkan kepalanya ke bahu Bella.
Bella melingkarkan tangannya di punggung Saras dan mendekapnya dari samping dengan erat.
Ketiganya memandangi Ozi di dalam sana dengan penuh harap agar laki-laki itu bisa segera sembuh.
“Gue udah janji kalau gue akan nemenin lo bang. Nemenin di saat lo menghadapi rasa sakit dan takut terbesar lo.” Bisik Bella dalam hatinya. Ia berbicara seolah sedang berdialog dengan Ozi.
“Lo gak usah khawatir, gue akan selalu ada di sini. Sama mamah dan Devan, tanpa terus menerus menangis. Gue tau, lo paling marah kalau liat gue nangis. Maka lihatlah, gue kuat sekarang bang. Lo mengarahkan gue untuk memilih laki-laki yang tepat dan sekarang dia berdiri di samping gue.”
Bella tersenyum kecil pada Devan. Ia mengeratkan genggaman tangan sang suami di tangan kirinya. Keberadaan Devan sangat bermakna untuknya.
“Sekarang, jangan lagi lo ngerasa khawatir tentang gue. Sesekali egoislah untuk diri lo sendiri, untuk kesembuhan lo."
"Beristirahatlah dan besok lo bangun dalam keadaan yang lebih baik.”
“Gue sayang sama lo, bang.” Batin Bella menyemangati sang kakak.
****