Bella's Script

Bella's Script
Menghentikan langkah



Pada akhirnya, Rini memutuskan untuk pergi. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk meninggalkan perusahaan yang sudah lebih dari 15 tahun menjadi tempatnya bekerja. Tidak hanya untuk mencari nafkah tapi juga mewujudkan cita-citanya sebagai penulis naskah.


Sayangnya, langkahnya harus terhenti di sini.


Untuk terakhir kalinya, ia terduduk di kursi, memandang layar komputer yang selama ini menemaninya bekerja. Wallpaper di komputernya masih sama, foto ia bersama tim di departemen penyutradaan saat acara conferensi pers film yang sedang di garap. Masih jelas terlihat senyumnya yang lebar saat berdiri di samping Bella.


Ia termenung sendirian, memikirkan apa yang sudah terjadi saat ini. Logikanya merutuki perbuatan bodoh yang ia lakukan dalam satu bulan ini. Namun perasaannya sudah sangat puas karena bisa membuat ia nyaris mengungguli Bella di jalan yang dilaluinya walau pada akhirnya ia gagal.


Selama ini, ia selalu merasa Bella adalah saingannya tapi harus ia akui kalau beberapa bulan kerja satu tim dengan Bella telah mengubah banyak pemikirannya tentang gadis itu.


Bella yang semula ia duga seseorang yang dominan ternyata tidak seperti dugaannya selama ini. Bella memang mandiri namun ia tidak pernah mentreat orang lain sesuka hati. Dia mudah bergaul dan menerima orang lain di sekitarnya, hingga begitu banyak orang yang menyukainya.


Sayangnya, itu semua yang malah membuat Rini merasa tersisih dan di nomor duakan. Hal ini juga yang membuat Rini sulit menerima kalau Bella adalah rekan kerjanya. Bella tetap menjadi saingannya. Terlebih saat ada bisikan-bisikan hasutan dari orang-orang tertentu yang seolah menyadarkan ia pada posisinya.


Dan karena kesalahannya itu, kini membuat Rini harus mundur dari pekerjaannya di PH ini. Ucapan Eko terlalu membekas di hatinya.


Ia marah, bukan karena tuduhan Eko tidak beralasan, melainkan ia kesal karena harus mengakui kalau ucapan Eko benar adanya. Ia terlalu picik.


Mengemas barang-barang pribadi, menghapus beberapa data di komputernya dan surat pengunduran diri itu akhirnya ia tanda tangani.


Ia menaruhnya di atas meja sebelum kemudian dengan berat hati ia meninggalkan ruangan yang selama ini di tempatnya.


“Terima kasih..” Lirihnya seraya menepuk kursi sebagai bentuk perpisahan. Hari ini semuanya berakhir dan ia harus pergi, menatap kembali mimpi yang telah dihancurkan olehnya sendiri.


Keluar ruangan, Rini melihat Bella yang berjalan mendekat ke arahnya. Cepat-cepat ia memalingkan wajahnya dan pergi dengan tergesa-gesa. Ia bahkan tidak berani untuk bertemu Bella dan mengucapkan salam perpisahan.


Sementara biarkan saja seperti ini. Ia dan Bella menjadi asing untuk satu sama lain.


“Rini kayaknya beneran resign Ka.” Jawab Bella penuh sesal.


Ia masih memandangi bahu Rini hingga bayangan wanita itu hingga menghilang di balik pintu. Ia tidak pernha menyangka kalau Rini benar-benar melakukan hal ini. Bella sudah merasa senang karena ada rekan kerja yang bisa memahami konsep pekerjaannya, bisa berbagi satu sama lain tapi nyatanya dugaan Bella salah selama ini. Tidak boleh ada dua matahari di langit yang sama.q


Bella mungkin menempatkan Rini sebagai rekan kerjanya tapi hal itu tidak berlaku bagi Rini. Entah apa posisi Bella di pikiran Rini.


“Udah, gak usah sedih. Kalau dia gak resign juga, om Eko yang bakalan mecat dia. Gak mungkin kan perusahaan masih mempekerjakan karyawan kayak dia?” terang Inka tanpa beban.


Bella hanya terdiam, tidak menimpali ucapan Inka. Ia bisa merasakan bagaimana rasanya dipisahkan secara paksa dari sesuatu yang kita cintai. Mungkin Rini pun merasakan hal yang sama.


“Hey, kok ngelamun sih? Ke rumah sakit sekarang yuukk...” Rengek Inka.


“Oh iya. Bentar, gue masih nunggu Devan. Dia masih di ruang rapat sama bang Indra, bang Kemal dan pak Eko.” Bella melihat jam di tangannya, sudah dua jam Devan berada di ruang rapat dan entah apa yang sedang di bahasnya.


“Ya udah, kita ngopi aja dulu yuk di kantin. Ngantukk gue, semalem gak bisa tidur.” Seperti anak kecil, Inka menarik tangan Bella dengan kuat menuju kantin.


“Kebiasaan lo ngebantah bang haji, begadang padahal gak ada artinya.” Ledek Bella.


“Hahahaha... Aku tidak akan mengulanginya Ani!.” Timpal  Inka dengan suara sengau yang di buat mirip dengan sang raja dangdut.


Bella hanya menggeleng, sahabatnya ini memang unik.


*****