
“Hay!” Sapa Ozi saat melihat sang adik datang.
Seperti biasa ia sudah berdiri di samping mobil dan membukakan pintu untuk Bella. Sikap manisnya memang tidak pernah berubah.
“Sorry nunggu lama.” Bella langsung masuk dan duduk di samping kursi kemudi.
“It’s okey.” Ozi sempatkan untuk mengusap pucuk kepala sang adik setelah menutup pintu mobil.
Lantas ia berlari kecil mengitari mobil dan duduk di balik kemudi.
“Okey, udah pasang sabuk pengaman?” Ozi terlebih dahulu memastikan adiknya siap.
“Udah dong! Let’s go!” seru Bella.
Baru kali ini ia di jemput lagi oleh Ozi setelah sekian lama selalu pulang bersama Devan. Akhh rasanya rindu. Bella jadi memandangi sang kakak yang duduk di sampingnya.
“Gimana hari ini, lancar? Dapet berapa scene?” Tanyanya penasaran. Mobil mulai berjalan, keluar dari area parkir studio.
“Alhamdulillah semakin lancar. Ada aja sih kalau kendala, tapi masih bisa di tangani.” Bella menjawab sambil menyetel arah GPS yang mau di ambil.
“Si Devan gimana? Masih suka ngomel-ngomel sama pemain?” Ia penasaran juga kabar Devan.
“Lo tau darimana Devan suka ngomel-ngomel?” Bella balik bertanya.
“Hahahaha… Waktu di Singapore gue pernah liat dia syuting. Eh pemainnya malah bikin kesalahan. Alhasil dia ngomeeelll aja. susah sih kalau kerja bareng orang perfectsionis kayak dia.” Terang Ozi yang seperti tahu banyak hal soal Devan.
“Hem, iya dia emang perpectsionis.” Bella membenarkan ucapan Ozi. Satu scene saja bisa di ulang beberapa kali kalau belum sesuai dengan arahannya.
Membicarakan Devan, membuat Bella teringat sikap Devan hari ini. Baru kali ini ia melihat Devan marah. Padahal biasanya laki-laki ini selalu tenang dengan ekspresi wajah yang itu-itu saja. Tapi hari ini, Bella seperti melihat sisi lain dari Devan yang baru di lihatnya.
Apa semengganggu itu ajakan David padanya untuk nonton?
"Devan pernah punya pacar gak sih bang?" Bella bertanya dengan penasaran.
Ozi jadi menoleh mendengar pertanyaan tiba-tiba Bella. "Belum pernah tau gue. Emang kenapa?" Ozi balik bertanya. Penasaran dengan alasan Bella bertanya.
"Gak apa-apa. Pengen tau aja." Sahut Bella acuh. Devan pernah beberapa kali memberinya nasihat soal hubungan tapi ia tidak tahu apakah laki-laki ini pernah punya pacar atau tidak.
Kilatan cahaya lampu dari mobil lain terasa menyilaukan mata. Bella memincingkan matanya dan menoleh Ozi yang fokus mengendalikan setirnya. Pikiran tentang Devan pun teralihkan.
“Bang,” panggil Bella.
“Apa lagi? Lo mau pipis?” Tanya Ozi yang membuat Bella tersenyum. Saat dalam perjalanan, satu-satunya keluhan Bella biasanya karena ingin buang air kecil.
“Enggak lah. Gue cuma mau nanya, lo pernah gak sih lagi nyetir gini terus tiba-tiba penglihatan lo diplopia atau kepala lo sakit?” Tanya Bella dengan cemas. Ia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi namun tidak bertanya membuatnya penasaran.
Ozi tersenyum kecil lantas menoleh Bella sejenak. Di usapnya kepala Bella sebelum kembali fokus pada jalanan di depannya.
“Pernah.” Jawabnya seraya tersenyum.
“Hah, beneran? Terus gimana?” Bella yang semula duduk tenang segera menegakkan tubuhnya.
“Wait wait wait, tenang dong…” Ozi berusaha menenangkan sang adik.
“Apanya yang tenang?! Kapan lo pernah kayak gitu, kenapa gak bilang ke gue?!” Tanya Bella beruntun. Ozi tidak pernah mengeluh sama sekali, padahal hal tersebut semakin berbahaya kalau Ozi sedang membawa kendaraan.
“Kalau gue cerita, terus lo panik kayak gini, yang ada gue jadi tambah panik.” Ungkap Ozi dengan tenang.
“Iihhh elo mah!!!! Mana ada gue gak panik dengernya.” Bella mengerucutkan bibirnya sambil menyilangkan tangan di dada. Kesal dengan jawaban Ozi.
“Manis banget adek gue! Perhatian banget. Gemes jadinya.” Ozi dengan sengaja mencubit pipi Bella. Eh sekarang malah makin tirus saja. Tidak ada lagi bola ubi di pipinya yang bisa Ozi cubit kapan saja.
“Jangan ngalihin pembicaraan deh! Kapan lo ngerasa kayak gitu?” Rupanya Bella memilih untuk tidak teralihkan.
“Hehehehe iya, iyaaa…” Ozi tampak berusaha menenangkan diri dan Bella menunggu dengan tidak sabar.
“Gue emang pernah ngalamin kayak gitu. Penglihatan gue tiba-tiba jadi double, atau diplopia itu. Awalnya sih gue juga panik. Tapi setelah beberapa kali gue ngalamin kayak gitu, gue jadi sadar, gue gak boleh panik.” Ia sempatkan untuk menoleh Bella yang intens menyimak. Satu tangannya ia gunakan untuk mengusap kepala Bella. Menakutkan kalau mengingat hal itu.
“Serangannya gak pernah tiba-tiba. Biasanya di awali dengan kepala agak pusing berputar, terus ngeliat cahaya juga susah. Kalau udah gitu, gue mending buru-buru menepi. Nyari tempat yang aman sebelum sakit kepala tiba-tiba datang dan bikin gue ngerasa kalau hidup gue bakal berakhir saat itu.” Ozi masih berusaha tersenyum namun tidak dengan Bella.
Ia melingkarkan tangannya di lengan Ozi lantas menyandarkan kepalanya di lengan kokoh itu. Ia tidak berbicara, membayangkan cerita Ozi sudah membuatnya ketir. Hanya air matanya saja yang menetes.
"Tapi kan gue masih baik-baik aja, Dek." Ujarnya berusaha menenangkan Bella. Gadis itu tidak menimpali, malah semakin mengeratkan genggamannya di lengan Ozi.
Akhirnya Ozi memilih tidak lagi berbicara, mereka sama-sama terdiam dan sesekali ia mengecup kepala Bella dengan sayang.
Mengingat rasa sakit itu memang menakutkan tapi, melihat Bella teruruk jauh lebih menakutkan.
“Dalam 10 meter, tujuan anda berada di sebelah kiri.” Suara GPS menyadarkan Bella dan Ozi dari pikiran mereka yang dalam.
Ozi baru sadar kemana Bella membawanya.
Sebuah rumah dengan halaman yang luas dan terlihat sepi. Hanya lampu jalan yang menyala di atas benteng kokoh gerbang. Di dalamnya ada sebuah mobil yang terparkir.
“Lo yakin kita ke sini?” Tanya Ozi saat tahu kalau rumah yang mereka kunjungi adalah rumah yang sebelumnya di pakai oleh Rangga dan teman-temannya.
“Hem,.” Sahut Bella tanpa ragu.
Ia segera menegakkan tubuhnya. Merapikan penampilannya dan turun lebih dulu dari mobil. Ozi memandangi Bella dari Belakang untuk beberapa saat. Langkah kaki sang adik yang di terangi cahaya lampu mobil terlihat begitu yakin walau ia tahu perasaannya saat ini tengah bergemuruh.
“Adek gue memang kuat.” Gumamnya seraya melepas sabuk pengaman dan ikut menyusul Bella turun.
Ia memandangi sekitaran rumah ini. Rumah yang Bella beli dengan hasil jerih payahnya, sebagai persiapan jika suatu hari ia harus keluar dari rumah yang ia tinggali selama puluhan tahun.
Rumah yang mereka tinggali saat ini pernah menjadi sengketa antara keluarga mendiang ayah Bella dan Saras. Tanpa sepengetahuan mereka, mendiang ayah Bella telah menggadaikan surat-surat rumah tersebut dan meninggalkan banyak hutang.
Hal itu yang membuat Saras begitu bekerja keras agar rumah itu tetap menjadi milik mereka di samping harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Masa itu benar-benar sulit hingga Bella berjanji, ia akan mengumpulkan uang demi memiliki rumah sendiri sebagai tempat mereka tinggal nanti.
Tapi jalan hidup seseorang tidak ada yang pernah tahu. Mereka berhasil mempertahankan rumah itu dan tinggal di sana sampai dengan hari ini.
Rumah besar ini sempat terbengkalai karena Saras tidak mengizinkan Bella tinggal di rumah ini sendirian. Akhirnya Bella memutuskan untuk menggunakan rumah ini sebagai studio Rangga selama bertahun-tahun.
“Mau lo apain rumah ini?” Tanya Ozi yang berdiri di samping Bella, ikut memandangi rumah yang berdiri kokoh walau kurang terawat.
Ia tahu, rumah ini memiliki banyak kenangan dari yang paling manis hingga yang terburuk di hidup Bella.
“Gue gak tau. Kita liat aja, apa gue bisa bertahan selama 30 menit di dalam rumah ini?” Sahut Bella dengan tidak yakin.
Semuanya seperti kolase yang mewarnai hidupnya yang ia kira selama ini akan baik-baik saja.
Yang berbeda adalah Bella tidak lagi merasakan perasaan bahagia ataupun sedih. Semuanya tampak biasa saja dan hanya terasa kosong. Bella sampai mencengkram dadanyanya sendiri, hey ada apa dengan perasaannya, seperti semuanya tiba-tiba hilang.
“Lo mau makan mie?” Tawar Ozi tiba-tiba.
Ia menunjukkan dua bungkus Mie instan yang ia temukan dari dalam kitchen set.
“Boleh. Mie buatan abang-abang biasanya lebih enak.” Ledek Bella.
Ozi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Bisa saja adiknya ini menimpali. Padahal ia tahu, mungkin saat ini perasaannya tidak baik-baik saja.
Sambil menunggu Ozi memasak mie instan, Bella berkeliling rumah. Dari satu ruangan ke ruangan lainnya dan entah apa yang ia cari karena semuanya kosong seperti perasaannya. Hanya ada beberapa kursi dan peralatan makan di dapur. Jam di dinding pun sudah tidak berdetak lagi.
“Dek, makan dulu.” Tawar Ozi saat melihat Bella memandangi lukisan yang ia buat bersama Rangga dan teman-temannya.
Benda ini ternyata tidak di bawa Niko padahal ini symbol semangat band mereka.
“Hem,” Bella segera menghampiri sang kakak yang menunggunya di sofa.
“Waahh wangi banget.” Puji Bella.
“Sesuai yang lo bilang, mie bikinan abang-abang selalu lebih enak. Wanginya aja beda. Wangi harapan terbebas dari masa lalu yang kelam. Eaaaakkk!!!” Ozi mencoba mencandai Bella.
“Sa ae lo malih.” Timpal Bella seraya menunjukkan lambang hati dengan jemarinya, membalas yang Ozi lakukan.
Mereka saling melempar senyum menguatkan.
Mie instan pun di santap. Rasanya enak walau kurang mantap tanpa potongan cabe dan tomat.
“Bang, menurut lo, mobil di depan bisa di ubah gak?” Tanya Bella tiba-tiba.
Ozi yang sedang menyeruput kuah mie-nya pun segera berhenti. Ia pikir Bella ingin membuang semua kenangannya bersama Rangga. Tapi sepertinya otaknya masih berpikir jernih. Mobil itu di beli dengan cara mencicil selama 3 tahun, perjuangan tidak mudah maka Bella mempertahankannya.
“Bisa. Mau lo apain? Mau di cat ulang apa di pasangin sticker? Apa kita jual aja terus ganti sama mobil yang lebih kekinian?” Tawar Ozi beruntun. Menurutnya mobil mini bus begitu tidak cocok untuk di pakai Bella.
“Semangat banget lo.” Bella tersenyum kecil di ujung kalimatnya.
Ozi jadi ikut tersenyum. Ternyata di ruangan ini Bella masih bisa tersenyum.
“Emang mau lo gimanain mobilnya? Apapun gue bantuin, asal jangan minta stirnya di pindahin ke kiri aja!” timpalnya lagi.
“Hahahahha… Resek lo!” Kali ini Bella tertawa lepas membuat Ozi ikut tertawa mendengarnya.
“Kalau dalemnya di bikin kayak mobil van gitu bisa gak ya?”
“Jadi bisa di pasangin tempat tidur, mini bar gitu kayak di film-film…” Bella terlihat antusias.
“Buat apaan? Biar lo gampang kalau mau kabur?!” Lagi Ozi meledeknya.
“Hahahaha iyaa, healing berujung hilang gitu deh. Wkwkwkwkwk” Bella sampai cekikikan.
“Ada-ada aja lo! Kalau tujuannya buat kabur, gak bisa!” sahut Ozi dengan cepat. Matanya sampai melotot.
“Yeee… Mana bisa juga gue kabur. Sayang banget sih lo ama gue, sampe takut gue pergi.” Bella balas meledek.
Yang di ledek malah mencubit pipi Bella dengan gemas.
“Iihh abang!!!" Ia menepis tangan Ozi.
"Maksud gue, kalau mobil itu bisa di ubah, kan enak tuh kalau gue butuh inspirasi bisa bepergian pake mobil itu. Nyantai di pantai atau di pake camping gitu. Gimana?”
“Gue bakalan di ajak gak? Kalau di ajak gue bantu pikirin kalau kagak, ya ogah akh!” Decik Ozi.
“Ngikut mulu lo maunya! Mandiri napa, jalan aja gitu sama pacar lo. Ngomong-ngomong lo punya pacar gak sih? Perasaan ngeledekin gue mulu.” Bella jadi penasaran ingin bertanya. Mengingat Ozi beberapa kali ter-gap tergesa-gesa menutup laptop atau mengakhiri panggilan.
“Gue belum siap sama hubungan kayak gitu.” Sahutnya dengan serius.
Ia menatap Bella lekat membuat gadis itu mengangguk-angguk berusaha paham.
"Gak semua hubungan berakhir tragis kali." Bella berujar sambil mengaduk-aduk kuah mie di hadapannya. Ia pikir Ozi mungkin trauma melihat hubungannya dengan Rangga yang berakhir seperti itu.
“Dek,” Panggil Ozi yang menaruh sendok yang tengah di genggamnya.
“Hem?” Perhatian Bella beralih pada sang kakak.
“Gue, pengen sembuh.” Ujarnya tiba-tiba. Matanya yang semula ceria kini terlihat sendu.
“Gue gak tau langkah gue udah terlambat atau belum. Tapi saat ini gue ngerasa, kalau gue pengen lebih lama sama-sama lo dan mamah.” Kini suaranya terdengar gemetar.
Bella melihat keinginan kuat dari sang kakak, membuat hatinya terrenyuh haru. Ini yang ia tunggu sejak dulu. Semangat Ozi untuk bangkit.
“Kalau nanti saat gue keluar dari ruang operasi dan ternyata gue lumpuh, mungkin ke depannya gue akan jadi beban buat lo sama mamah. Gue gak akan bisa nganter jemput lo lagi. Gue hanya akan menghabiskan waktu gue seharian ada di atas Kasur.”
“Tapi paling nggak, gue mau liat lo dan mamah lebih lama. Lo gak akan kecewa kan dek?” Butiran air mata menetes di pipi Ozi.
Ini ketakutan terbesarnya selama ini selain pikiran kalau ia mungkin harus pergi lebih dulu dan meninggalkan orang-orang yang ia sayangi dan ingin ia jaga.
“Lo begok banget sih bang! Mana ada gue bakalan kecewa! Dangkal banget lo!” Di tepuknya pipi Ozi perlahan, seperti menampar sang kakak.
Susah payah ia menahan air matanya sejak dalam perjalanan tadi. Tapi kali ini sepertinya ia gagal.
Ozi hanya tersenyum lantas meraih tubuh Bella untuk ia peluk dari samping. Dalam beberapa keduanya terisak dalam tangis mereka yang dalam.
“Jelek lo!” Ledek Bella saat melihat hidung Ozi yang memerah.
“Lo juga jelek.” Laki-laki itu menjulurkan lidahnya sambil mencubit pipi Bella.
Hanya beberapa saat sampai kemudian mereka sama-sama terdiam dan saling mengusap air mata. Ini keputusan baik dari Ozi yang tidak boleh mereka tangisi. Berharap saja semoga yang ada di pikiran Ozi hanya mimpi buruk yang tidak akan jadi kenyataan.
"Gue sayang lo bang." Lirih Bella seraya tersenyum.
Ozi mengangguk mengiyakan. Ia menekan sudut matanya yang masih meneteskan buliran bening itu. Kali ini saja ia terlihat lemah, setelah ini ia akan berjuang untuk sembuh. Demi Bella dan Saras.
*****