
Baru menunggu sekitar 30 menit di depan ruangan operasi, nyatanya terasa sangat lama bagi Bella. Saat ini Bella bersama Ozi dan Inka, sedang menunggu selesainya tindakan operasi Amara. Beberapa kali ia melihat ke arah pintu, menunggu dokter keluar dari ruang operasi dan berharap semua baik-baik saja.
Di sela waktu Bella menunggu, deringan telepon menjeda rasa khawatirnya. Nama Lisa yang muncul di layar ponselnya.
“Ya mbak.” Bella segera mengambil jarak dan menjawab dengan suara pelan.
“Bell, apa bener Amara sedang operasi?” tanya Lisa tanpa aba-aba. Jelas terdengar kalau ia panik.
“Iya mba, sudah setengah jam lalu.” Sahut Bella seraya melihat jam di tangannya.
“Astaga. Di rumah sakit mana?"
“Pelita bunda mba, deket rumahku.”
“Dia ke rumah kamu? Apa dia berniat nyerang kamu lagi?” Rupanya kabar penyerangan Amara terhadap Bella, cepat juga menyebar hingga sampai ke telinga Lisa.
“Nggak mba, dia gak nyerang aku. Dia cuma butuh pertolongan.” Bella kembali memandangi lampu yang masih menyala di atas pintu ruang operasi, tanda operasi masih berlangsung.
Terdengar hembusan nafas lega di sebrang sana, sepertinya sedikit banyak Lisa juga mencemaskan Amara.
“Tolong sharelock alamatnya ya, nanti aku ke sana.” Benar bukan, Lisa masih mencemaskan Amara.
“Iya mba.”
Panggilanpun terputus dan Bella segera mengakhiri panggilannya. Syukurlah Lisa masih peduli pada Amara walau tidak jarang Amara membuat wanita itu naik darah.
“Keluarga pasien Amara.” Panggil seorang perawat dari pintu ruang operasi.
“Iya, saya.” Ozi dan Bella kompak menyahuti.
Mereka segera mendekat.
“Gimana sus, apa pasien baik-baik saja?” Tanya Ozi yang terlihat khawatir.
“Mohon maaf pak, pasien mengalami perdarahan hebat dan memerlukan transfusi darah. Kami hanya memiliki stock 2 labu darah lagi. Apa ada di antara keluarga yang memiliki golongan darah sama dengan pasien?” Tanya perawat itu.
Ozi tercenung lantas mengusap wajahnya kasar. Ia tidak tahu siapa lagi keluarga Amara selain ibunya yang sudah lama tiada.
“Golongan darahnya sama dengan saya dok.” Bella langsung menyahuti. Ia ingat persis kalau golongan darahnya sama dengan Amara.
“Baik. Mbanya silakan kebagian unit transfusi dulu untuk melakukan pengecekan terlebih dahulu baru donor darah. Selain itu, kami menemukan ini di saku baju pasien. Silakan untuk di simpan oleh keluarga saja.” Tutur perawat tersebut.
Bella menerima sebuah plastik yang disodorkan oleh perawat. Plastik transparan itu berisi kain putih seperti sapu tangan dengan beberapa manik berwarna terang.
“Baik sus, terima kasih.” Ucap Bella.
Perawat itupun kembali ke dalam, tinggallah Bella dan Ozi yang memandangi benda berkilauan di dalam plastik itu.
“Lo yakin mau donorin darah lo?” Ozi menatap Bella dengan sangsi.
“Kalau kondisi gue memungkinkan, kenapa enggak?” Sahut Bella sembari memasukkan benda itu ke dalam sling bag-nya.
“Tapi Bell, dia Amara.” Ozi seperti tidak rela.
“Apa salahnya kalau dia Amara?” Bella balik bertanya.
"Emang kalau itu Amara gue gak boleh donor gitu?" Pertanyaan Bella membuat Ozi kesulitan menjawab. Baginya, masalahnya bukan pada siapa darah itu diberikan melainkan apa yang telah dilakukan orang itu pada Bella
“Coba gue tanya, kalo lo datang ke PMI, lo nanya dulu gitu itu darah buat siapa? Nggak kan? Mungkin aja darah itu dipake sama orang yang udah ngehina lo atau nyakitin lo. Tapi kalaupun iya, apa urusan lo?”
“Usaha lo cuma menolong orang lain kan, terlepas itu orang yang baik sama lo, orang jahat sama lo atau orang yang gak lo kenal sekalipun dan gak tau latar belakangnya. Apa peduli lo? Nggak ada kan”
Ozi hanya terdiam mendengar ucapan Bella yang memang benar adanya. Ia tidak bisa memilih-milih siapa yang ingin ia tolong, sekalipun ia adalah musuh Bella.
Mendengar suara Bella yang meninggi, Inka pun ikut menghampiri. Ia mengusap lengan sahabatnya untuk menenangkan Bella. Kali ini ia setuju dengan Bella.
“Okey, terserah lo! Cuma gue gak akan ngizinin sesuatu yang buruk terjadi sama lo. Apalagi kalau sampe pelakunya adalah Amara.” Tegas Ozi dengan menggebu-gebu.
“Gue paham ketakutan lo bang. Tapi saat ini, gue bisa membantu orang itu dan gue gak bisa hanya diam seolah gak ada apa-apa. Gimanapun dia butuh bantuan gue, bantuan lo bahkan mungkin bantuan Inka.”
“Percaya sama gue, gak akan ada yang terjadi sama gue karena gue tau, akan selalu ada lo, mamah, Devan, Inka bahkan Ibra yang ada di samping gue dan memastikan gue baik-baik aja. Sementara dia? Dia sendirian Bang.” Tegas Bella.
Ozi bisa melihat kuatnya tekad Bella. Dan untuk alasan itu, ia tidak memiliki pilihan lain, selain membiarkan Bella mendonorkan darahnya untuk Amara.
*****
Di ruang unit transfusi kini Bella berada. Petugas sudah selesai melakukan pemeriksaan dan ia dinyatakan boleh untuk mendonorkan darahnya.
“Tindakannya akan dimulai ya mba...” Ujar seorang petugas yang duduk di samping Bella.
“Silakan.” Bella berusaha mempersiapkan dirinya.
Ia sudah bersiap menunggu saat jarum berukuran cukup besar itu di tancapkan di pembuluh darahnya lengan kirinya.
Sedikit meringis, saat sudut tajam jarum itu menusuk permukaan kulit Bella dan masuk ke aliran darahnya. Dalam hitungan detik cairan merah segar itupun mengalir melewati selang dan masuk ke dalam kantung.
Ada kelegaan tersendiri setelah darah Bella keluar dan mengisi kantung berkapasitas 350 ml itu.
“Silakan sambil istrirahat ya mba. Mbaknya bisa sambil meremmas-remas bola ini agar aliran darahnya lancar.” Ucap perawat.
Sepeninggal perawat itu Bella memperhatikan kesekelilingnya. Cat diruangan ini didominasi oleh warna putih, warna yang sudah pasti menunjukkan kalau ini fasilitas kesehatan. Di sampingnya ada tirai putih plastik yang sedikit bergerak terkena hembusan kipas angin.
Perlahan, Bella mulai terbawa dalam pikirannya sendiri. Ia jadi ingat bagaimana hubungan ia dan Amara dahulu.
Flash back.
“Bell, kamu sayang aku gak?” Suara ceria Amara mengisi pikiran Bella. Gadis itu masih melamun di hadapan selembar kertas formulir pendaftaran kuliah yang urung ia isi.
“Kamu ngomong apa sih? Aneh!” Bella yang masih mengisi form hanya menggeleng kecil. Pertanyaan macam apa yang dilontarkan sahabatnya di tengah keterburu-buruannya mengisi formulir yang harus segera mereka serahkan ke guru BK.
Tapi kemudian ia menoleh saat Amara tidak lagi menimpalinya.
“Hey, kamu kenapa sih, Ra?” Bella menyikut lengan Amara dengan sengaja. Tidak biasanya sahabatnya termenung begini.
Amara tersenyum kelu lalu membawa formulir itu dan menaruhnya di hadapan mereka berdua.
“Kayaknya aku gak kuliah deh Bell." Ucapnya dengan banyak pikiran yang terlihat di sorot matanya.
"Kenapa?" Bella penasaran, karena sebelumnya Amara sangat ingin segera lulus dan kuliah di jurusan seni.
"Aku gak yakin sama pilihan aku untuk kuliah. Kamu tau sendiri, otak aku gak nyampe buat pelajaran di kelas. Apalagi kalau harus belajar mandiri. Kayaknya, nggak deh.” Sahutnya dengan wajah putus asa.
“Heeeyyy, siapa yang bilang otak kamu gak nyampe? Kamu pinter loh, Ra.”
“Coba aja kamu liat, waktu kelas 1 nilai kamu emang di bawah standar, tapi liat di kelas 2 dan tiga. Kamu masuk 10 besar. Apalagi alasannya kalau bukan karena pinter?” Bella mencoba menyemangati Amara.
“Ya itu kan karena kamu bantuin aku. Kamu jelasin lagi penjelasan guru, terus kamu bantuin aku nugas, kamu juga ngajakin aku belajar kalau mau test. Tapi pas kuliah nanti, jurusan kita aja beda. Mana bisa aku belajar sendiri Bell?” Rutuk Amara menyadari kemampuan dirinya sendiri.
“Kamu suka gitu, jiper duluan. Padahal dicoba aja belum. Lagian pas kuliah kan banyaknya praktek, gak terus-terusan di kelas. Hem?” bujuk Bella seraya memeluk sahabatnya.
Amara malah menggeleng.
“Aku maunya jadi artis. Aku udah di tawarin buat ikut casting. Aku rasa itu lebih mudah buat aku di banding harus menghapal materi yang fungsinya entah untuk apa.” Amara menunjukkan pesan singkat di aplikasi chat-nya.
Lantas Bella melepas pelukannya dari Amara.
“Model majalah dewasa? Kamu gak salah?” Tanya Bella saat membaca sebaris pesan yang membuatnya menoleh Amara.
Amara mengangguk. “Katanya jadi model majalah dewasa itu gak bener-bener telanjang kok Bell. Mereka pake baju sebenernya, cuma warna kulit. Lagian itu di depan crew, gak akan ada yang nerkam aku juga."
"Selain itu, bayarannya mahal. Aku bisa beli rumah yang layak, rehabilitasi mamah, aku juga membeli barang keperluan aku tanpa perlu minta sama Bang Ozi atau Mamah Saras. Aku gak harus terus bergantung sama keluarga kamu.”
“Ya Bell, please... Aku mau jadi artis aja, gak perlu jadi sarjana.” Amara sampai memohon pada Bella.
Bella menatap Amara dengan sendu. Sepertinya Amaara sudah bulat dengan keputusannya.
Ia menangkup kedua tangan Amara yang memohon di hadapannya.
“Jadi maksud kamu, kalau aku sayang kamu, aku harus ngizin kamu untuk melakukan apapun keinginan kamu gitu?” Bella bisa menangkap arah pembicaraan Amara.
Amara mengangguk dengan sungguh.
“Jangan paksa akuuu... Otak aku gak kuat ngapalin pelajaran.... Ya Bell, hem?” Amara merengek manja pada Bella. Hanya Bella tempatnya bermanja dan berbagi cerita.
“Aku gak masalah kalau kamu mau jadi artis karena memang kamu berpotensi di bidang itu. Cuma, aku gak setuju kalau kamu mau jadi model majalah dewasa. Itu berresiko Ra."
"Aku gak akan kenapa-napa Bell. Percaya sama aku kalau aku bisa menjaga diri aku sendiri." Amara langsung mematahkan kalimat Bella. Saat memiliki keinginan, Amara memang cenderung kukuh dengan pilihannya.
"Kamu bisa janji?" Bella mengulurkan jari kelingking tangan kanannya pada Amara.
"Janji! Demi persahabatan kita. Aku pasti menjaga diri aku, jadi kamu gak usah khawatir lagi. Okey?" Amara membalas dengan mentautkan kelingkingnya dengan kelingking Bella.
Bella hanya bisa memandangi Amara dengan cemas tapi ia tidak bisa melarang pilihan Amara.
"Ya udah, silakan kalau kamu udah yakin sama pilihan kamu." Akhirnya Bella menyerah.
“Aaaa.... Bella.... Sayang kamu banyak-banyak.” Amara memeluk Bella dengan erat.
"Muach! Muach! Muach!” Ia bahkan mengecupi pipi Bella.
“Iihhhh Ara jorok! Basah tau!” Protes Bella yang berusaha melepaskan pelukan Amara.
"Hahaha... Itu kan namanya kecup basah." Amara dengan keengganannya memeluk Bella.
Sayangnya, kedekatan itu hanya sampai mereka SMA. Sejak Bella kuliah, mereka sibuk masing-masing. Amara mulai dikenal banyak orang dan memiliki fans. Ia juga sempat mengikuti sekolah model di luar negeri. Kesibukannya membuat mereka jarang memiliki waktu bersama.
Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang berubah antara Bella dan Amara. Komunikasi mereka jadi tersendat dan mereka sudah jarang lagi bercerita hal-hal seru yang membuat keduanya begitu dekat.
Dan saat ini, Bella seperti tidak mengenali lagi Amara. Ada apa dengan sahabatnya? Mengapa Amara bisa berubah sedrastis itu? Padahal dulu mereka sedekat urat nadi tapi sekarang menjadi sejauh langit dan bumi.
Apa kesalahannya di masa lalu hingga membuat Amara begitu membencinya?
“Aku kangen kamu Ra. Amara sahabatku yang dulu.” Bella berucap lirih seraya memejamkan matanya.
Tanpa terasa air mata menetes di sudut mata Bella, air mata yang membawa rasa sedih karena ia telah kehilangan sahabatnya.
****