
Persiapan untuk pengambilan gambar sudah dilakukan. Para pemain sudah standby di tempatnya dengan beberapa kamera sudah bersiap merekam adegan yang akan dimainkan.
“Scene 467, take 3.” Ujar Clapper.
“SLATE IN!” Seru Indra saat syuting akan kembali di mulai.
Seorang Clapper mendekat dan menempatkan clapper board di depan kamera.
“Sound!”
“Roll!”
“Camera!”
“Roll!”
“Action!” Suara Devan menjadi perintah akhir take di mulai.
“Kemana saja kamu selama ini Nara?” Tanya Michael seraya bersandar di dinding dan memandangi Minara.
Minara tampak menghela nafas dalam dengan raut wajahnya yang berubah sendu.
“Mari kita akhiri semuanya.” Ujar Minara yang berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Apa?” Michael segera bangkit dari tempatnya dan menghampiri Minara.
“Apa kamu bilang? Akhiri?” Michael mengutip sebagian kalimat Minara yang terasa menusuk pendengarannya.
“YA!” Seru Minara dengan air mata berurai.
Seketika yang dilihat Rangga saat ini adalah Amara bukan peran Minara yang dimainkannya. Dan tiba-tiba saja ia teringat akan kemarahannya semalam. Kemarahan dan ketidak pahaman atas sikap Amara semalam malah muncul di saat yang tidak di tepat. Entah kenapa kesal sekali melihat mata Amara yang basah. Pikirannya digiring untuk memperbandingkan ekspresi Amara saat ini dengan semalam. Rasanya sama-sama palsu.
“Sorry…” Ucap Rangga yang tidak menimpali kalimat Amara karena pikirannya tiba-tiba kosong.
“CUT!!” Seru Devan dari pengeras suara.
“Lo kenapa bro?” Devan dan Indra menghampiri Rangga.
“Sorry, tadi tiba-tiba gue blank.” Aku Rangga seraya menggelengkan kepalanya.
“Okey, lo baca lagi. Ini bagian yang crucial, seperti yang gue arahkan tadi, pastikan lo menunjukkan emosi yang berbeda pada kalimat yang ini dan kalimat berikutnya.” Devan memberikan arahan.
“Okey, gue minta waktu 5 menit ya.” Izin Rangga.
“Yoo.. Break 5 menit.” Indra memberikan tanda break pada crew.
Ia kembali ke kursinya untuk melanjutkan meneguk kopi miliknya.
“Kenapa nih Rangga?” Rini iseng bertanya pada Bella.
“Mungkin gak fokus.” Sahut Bella dengan tenang. Hal ini memang bisa terjadi pada pemain, tiba-tiba pikiran blank di tengah adegan.
Ia masih memperhatikan Rangga yang berusaha keras berlatih pada bagian yang tadi di tunjukkan Devan. Sepertinya ia kesulitan.
“Anak-anak bilang dia lagi berantem sama Amara, makanya blank kali.” Indra menambahkan.
“Gak ada alasan kalau udah di lokasi. Itu konsekuensi punya hubungan dalam satu pekerjaan yang sama.” Devan pun ikut berkomentar membuat Bella menoleh.
Lupakah Devan kalau beberapa waktu lalu ia mengajak Bella menikah? Bukankah mereka dalam pekerjaan yang sama?
Ucapan Devan membuat Bella tersenyum kecil. Jadi penasaran juga apakah Devan bisa bersikap professional saat ada masalah dengan Bella?
Tunggu, bukankah waktu mereka bertengkar Devan malah mengomeli semua orang yang melakukan kesalahan? Professional kah itu?
“Kenapa neng?” Tanya Indra yang penasaran karena Bella tersenyum.
Devan jadi ikut menoleh pada gadis itu.
“Gak apa-apa. Tiba-tiba aja ada yang lucu.” Sahut Bella dengan enteng.
“Siapa? Gue?” Indra menunjuk batang hidungnya sendiri.
Devan langsung melirik laki-laki itu dengan tajam.
“Hahahaha… Tampilan gue emang garang tapi hati helo kity Bell.” Ujar Indra yang tertawa sendiri. Tawanya menjadi pelan sendiri saat Devan menatapnya dingin.
“Hah, garing gue.” Lirihnya lantas mengalihkan perhatian pada para pemain yang tengah berlatih.
“Okey, bisa kita mulai?” Tanya Devan dari pengeras suara.
Rangga mengacungkan ibu jarinya tanda sudah siap.
“Scene 467, take 4.” Ujar Clapper.
“SLATE IN!” Indra memberi kode saat syuting akan kembali di mulai.
Seperti biasa Clapper mendekat dan menempatkan clapper board di depan kamera.
“Sound!”
“Roll!”
“Camera!”
“Roll!”
“Action!” Suara Devan menjadi perintah akhir take di mulai.
“YA!” Suara Minara menjadi lanjutan take sebelumnya.
“Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja?” Michael menarik tangan Minara dengan kasar.
“Lepaskan aku!” Minara berusaha melepaskan tangan Michael.
“Kamu tidak boleh pergi kemanapun. Aku melarangnya!” Sahut Rangga dengan suara keras.
“CUT!!!!” Lagi Devan memotong adegan.
“Rangga fokusss!!!” Ia beranjak menghampiri Rangga seraya menunjuk pelipisnya sendiri, mengingatkan Rangga untuk fokus.
“Sorry.. Harusnya gue baca yang ini dulu.” Rangga langsung menyadari kesalahannya.
“Bagus kalau lo tau letak kesalahan lo. Tapi, bukan cuma itu. Perhatiin juga ekspresi lo!!!” Ujar Devan penuh penekanan.
Ia menatap Rangga yang termenung mencoba mengumpulkan kembali fokusnya.
“Kita turun sebentar. Biarin mereka latihan dulu.” Devan memberi instruksi dengan mengepalkan tangannya ke udara. Baginya Rangga belum siap beracting di depan kamera.
“Okey, break!!!” Indra menimpali dan menghampiri Rangga.
“Lo ada apa sih bro? Tadikan waktu lo persiapan cukup lama. Kenapa gak fokus gini?” Indra jadi ikut kesal dengan Rangga yang tidak konsentrasi pada pekerjaannya.
“Sorry. Gue coba buat latihan lagi.” Rangga berusaha tenang.
Ia membaca script kemudian memejamkan matanya. Beberapa kali ini menghela nafas dalam lantas menghembuskannya perlahan.
“Siap?” Devan bertanya saat melihat Rangga membuka matanya.
“Gue coba.” Rangga berdiri menghadap Amara yang menatapnya bingung. Ada apa sebenarnya dengan Rangga? Bukankah ia sendiri yang mengatakan kalau coba untuk professional saat berada di lokasi?
“Kamu gak bisa pergi. Aku tidak akan membiarkannya. Kamu pikir semudah itu mendapatkan kamu? Gak! Sulit Minara!!!” Seru Rangga.
“Sorry…” Devan mengangkat tangannya. “Ekspresi lo gak tepat man.” Sanggahnya.
“Akh, **!!” Dengus Rangga seraya mengguyar rambutnya kasar lantas menengadahkan kepala. Kenapa sulit sekali mengendalikan perasaannya saat ini. Melihat Amara hanya rasa kesal yang dirasakannya.
“Di kalimat ini, lo harus menunjukkan rasa gak terima lo. Lo bayangin, lo udah berusaha dan orang lain memandangnya usaha lo itu kecil. Nah, ekspresi itu yang lo tunjukin. Bukan membelalak marah.”
“Lalu di kalimat berikutnya, baru lo tunjukin kalau lo marah dan takut di waktu yang bersamaan. Lo bayangin rasa takut kehilangan orang yang sangat berarti. Dia pacar lo man, harusnya gak sulit kan ngebayangin kehilangan dia?” Terang Devan dengan gamblang.
“Michael kenapa sih? Dari tadi kayaknya gak fokus banget! Bikin syuting jadi lama gini.” Protes Rini di sebelah Bella.
Bella menggeleng kecil. Ia ikut memandangi Devan dan Indra yang sedang mem-briefing Rangga. Ia juga melihat ekspresi Rangga yang putus asa.
“Switch emosi dalam satu scene itu susah Rin, pancingannya harus tepat, pendalaman karakternya harus lebih di banding emosi biasa.” Terang Bella tanpa mengalihkan perhatiannya dari 4 orang di depan sana.
“Harusnya gampang kan ngebayangin seseorang yang kita cinta itu pergi? Apalagi sorry nih, lo berdua pernah putus. Gak mungkin kan dia ngelewatin fase kehilangan waktu kalian putus dengan biasa aja?” Suara Rini berubah pelan di ujung kalimatnya saat melihat wajah Bella yang tanpa ekspresi.
Bella hanya termangu mendengar ucapan Rini. Ia jadi berpikir, bagaimana dengan perasaan Rangga saat berpisah? Apa merasa kehilangan? Atau baru setelah berpisah ia merasa kehilangan?
Bella bertanya pada dirinya sendiri.
Rini dan Bella yang tampak berpikir, jauh berbeda dengan seseorang yang baru datang dan tanpa sengaja mendengar obrolan dua orang itu.
“Lagi stuck ya?” Tanya seseorang yang tidak lain adalah Jihan.
Kedua gadis itu kompak menoleh. “Mba Jihan…” Kalimat mereka pun sama dan sama-sama terkejut. Entah sejak kapan wanita ini ada di belakang mereka.
Mereka segera berdiri mengimbangi Jihan.
“Kenapa, ada masalah sama pengambilan scene-nya?” Jihan ikut memperhatikan sutradara dan sang assistant yang sedang mem-briefing.
“Iya mba, pemain utama sedang kesulitan switch emosi.” Terang Bella apa adanya.
“Oh ya? Wah repot dong kalau gitu. Apa lagi ada masalah pribadi?” Jihan menaikkan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya ke atas kepala. Pembacaan situasinya memang tepat.
Cukup menarik perhatian penampilan Jihan yang apik dan cantik. Make-up nya pun ketara jelas, tidak ada sisa-sisa keringat di kulit mulusnya.
Bella hanya terdiam menanggapi ujaran Jihan.
“Lagi berantem kayaknya mba pasangan legend ini.” Rini yang menyahuti.
Jihan tersenyum kecil.
“Mungkin dia butuh bantuan kamu Bell.” Cetus Jihan tidak terduga.
“Saya?” Bella sampai mentautkan alisnya tidak paham.
Jihan mengangguk dengan yakin.
“Saya gak capable mba men-direct pemain.” Bella langsung menolak.
“Oh ya?” Jihan tersenyum kecil pada Bella.
Bella mengangguk yakin. Menurutnya ada orang yang lebih ahli melakukan itu, yaitu Devan dan Indra.
Tidak di duga, Jihan menghampiri Rangga dan crew yang sedang mem-briefing pemain.
“Scene ini sepertinya terlalu lama. Apa karena terlalu sulit?” Tanya Jihan yang membuat orang-orang menoleh.
“Wiihh tumben mampir ibu produser." Sambut Indra yang berusaha ramah.
Namun Jihan hanya tersenyum, tidak tertarik untuk berbasa-basi.
Indra yang melihat sikap Jihan, hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita ini ternyata tidak bisa di ajak berbasa-basi.
"Ada masalah apa dengan adegannya?" Lagi Jihan bertanya.
"Ya biasaa.. Scene ini memang rada sulit, perlu feel yang kuat dan pendalaman yang mumpuni.” Terang Indra dengan mode tidak kalah serius.
“Pancingan dari partnernya juga mempengaruhi kan?” Lagi Jihan bertanya. Ia melirik Amara yang berdiri di samping Indra.
“Ya, itu sangat mempengaruhi.” Sahut Devan dengan yakin.
“Okey.” Jihan tampak berpikir, mencari kata-kata yang tepat untuk mengutarakan idenya.
“Kenapa gak kita coba ganti partner latihannya?” Lanjutnya lagi.
“Maksud nona?” Indra menatap Jihan penuh tanya.
“Ya maksud saya, kenapa nggak kita meminta bantuan penulis script untuk memancing feel pemain utama?” Jihan menatap Bella dari kejauhan. Begitupun dengan Devan, Indra, Rangga dan Amara.
“Ehh itu nyonya besar malah beneran ngomong Bell.” Cetus Rini saat melihat Bella di hujani berbagai pandangan dari orang-orang itu.
“Bisa tolong ke sini sebentar Bell?” Panggil Jihan.
Dan Bella benar-benar tidak bisa menolak, ia memutuskan untuk menghampiri. Entah apa rencana Jihan sebenarnya.
“Bell, gue ikut.” Rini segera mengekori.
“Mba Jihan yakin mau minta dia latihan sama Rangga? Bella punya skill apa buat meranin adegan ini?” Adalah Amara yang protes. Pikirnya Jihan terlalu mengada-ada.
“Kenapa nggak?” Sahut Jihan dengan yakin, tidak menerima penolakan. Beragam rencana tersusun rapi di kepalanya.
“Sini Bell.” Ia menarik tangan Bella untuk berdiri di sampingnya, antara ia dan Rangga.
Semua mata kini tertuju pada Bella, nyaris seluruh crew termasuk Roni dan Inka yang melihat dari kejauhan.
“Kamu bantu pemeran utama latihan ya.” Pintanya dengan senyum yang seolah tulus. Jihan bahkan menggenggam tangan Bella, seperti menguncinya agar tidak menolak.
“Mohon maaf mba, saya tidak pandai men-direct pemeran. Itu belum menjadi kapaitas saya.” Tolak Bella dengan hati-hati.
“Loh, siapa bilang? Kamu lupa ya kalau yang nulis setiap kalimat di script ini adalah kamu?” Jihan bertanya dengan wajah serius.
“Kamu yang lebih paham nyawa dari setiap kalimat hingga membentuk emosi yang harus di perankan oleh pemain. Kalau dengan membacanya saja bisa memunculkan emosi, apalagi dengan memerankannya kan?”
“Lagipula, saya dengar kamu juga mumpuni ber-acting. Kamu pernah berlatih acting di sanggar yang sama dengan Rangga, kenapa gak kita coba? Ayolaaahh jangan takut, ini cuma latihan. Bantu dia nemuin feel yang tepat.” Jihan dengan mode membujuk yang cenderung lebih seperti paksaan.
Beberapa kali ia mencuri pandang pada Devan, berusaha melihat seperti apa ekspresi laki-laki itu saat ini.
“Mba! Gak bisa gitu dong, aku pemeran utama wanitanya kenapa harus latihan sama Bella?” Protes Amara yang tidak terima.
“Amara sayang, liat deh muka kamu pucet banget. Mending touch up gih, atau istirahat sebentar. Muka kamu lagi gak bagus loh di kamera. Iya kan mas?” Sahut Jihan seraya bertanya pada Kemal sang cameraman.
“Iya, boleh touch up dulu Ra.” Laki-laki itu mengacungkan jempolnya.
“See? So what the problems?” Kali ini Jihan bertanya pada banyak orang. Ia menatap satu per satu mata yang mempertanyakan idenya.
"Ck!" Amara berdecak sebal. Sejak kapan ia tidak satu pemikiran dengan Jihan?
“Nih apaan sih maksud ini perempuan?” Komentar Inka yang tidak terima Bella di pojokkan.
“Dia lagi nyelam sambil minum air. Ngebaperin Rangga sama Bella terus usaha ngebanting perasaannya Devan. Emang pinter nih cewek. Amara aja di bikin mingkem.” Puji Roni dengan senyuman sinis.
“Ini sama aja ngegali luka lama Bella kan bang? Sialan emang ini cewek. Kalau bukan produser kita, udah gue pites deh.” Dengan Emosi Inka merremas kertas di tangannya.
“Kita liat aja dulu. Kita percaya sama Bella, kita dukung dia dan semangatin dia.” Ujar Roni penuh keyakinan. Menarik juga melihat Bella berhadapan dengan Rangga.
“Lo yakin bang?” Inka yang masih pesimis. Melihat Bella di tatap dengan berbagai ekspresi saja rasanya Inka tidak terima. Apalagi membayangkan berada di posisi Bella secara langsung.
“Iyaa, gue percaya. Bella gak selemah itu. Dia pinter secara pekerjaan juga secara emosi. Lo liat aja nanti.”
“BELLAAA SEMANGAT BELL!!! LO PASTI BISAAA!!!” Seru Roni yang berteriak dari kejauhan.
“See? Mereka aja yakin kamu bisa Bell. Kenapa kamu enggak?” Jihan dengan keyakinannya siap menembak dua burung sekaligus.
Bella hanya tercenung. Ia melirik Devan yang sedang memandanginya. Laki-laki itu menatapnya dengan tenang seperti memberikan Bella kebebasan untuk memutuskan sendiri apakah ia akan meladeni Jihan yang memojokkanya atau memilih menghindar.
Lalu, apa kalian juga yakin Bella bisa memancing feel Rangga dengan professional?
****
Sebelum lanjut, jangan lupa like, comment dan vote-nya ya...
Semangat Belsky!