Bella's Script

Bella's Script
Bertemu dia



Siang ini, Bella kedatangan tamu di lokasi syuting. Seorang laki-laki pelontos berpakaian kemeja santai dengan motif bunga-bunga mawar besar, melambaikan tangannya pada Bella. Dari cara jalannya yang gemulai, tentu saja Bella mengenali laki-laki itu.


“Mas Ary?” Seru Bella, yang menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara matanya melotot tidak percaya.


“Siapa Bell?” Tanya Rini.


“Temen gue. Gue nitip bentar ya.” Bella memberikan script di pangkuannya pada Rini dan langsung pergi menghampiri laki-laki bertubuh kurus tersebut.


“Siapa itu? Bang Dev kenal?” Rini bertanya pada Devan yang ikut menoleh.


Penasaran juga untuk ikut menoleh pada orang yang bisa membuat Bella langsung berlari menghampirinya dengan semangat.


“Ya ampun neng… Apa kabar lo? Tambah cakep aja sih lo chiinnnn!” Laki-laki yang Bella panggil Mas Ary itu memeluk Bella dengan erat.


“Agak cucok ya chiinn..” Komentar Rini dengan gaya melambai, membuat Devan tersenyum kecil dan menghela nafas lega.


Ia bisa fokus kembali pada pengambilan gambar kali ini karena laki-laki itu bukan calon saingannya.


“Baik mas. Mas Ary apa kabar?” Balas Bella yang terlihat sumeringah.


“Gue baik neng. Lo udah lama sih gak main ke tempat gue. Udah lupa ya lo jalannya?” Mereka berjalan bersisian menuju tempat yang teduh.


“Iyaa sorry, gue belum sempet. Tapi nanti deh gue pasti main-main lagi.” Janji Bella.


“Beneran yaaa… Kangen gue makan seblak bareng lo sehabis latihan. Keringet gue sampe banjir-banjir. Uhhh cucookk dehh...” Ary dengan gayanya yang seksi, seolah mengibaskan rambut panjangnya.


“Hahahaha.. Iyaa.. Makan seblak yang terakhir gue sampe mencret tau mas.” Bella jadi ingat kalau ia dan Inka sampai sakit perut pulang dari Sanggar milik Ary.


“Duh kasian banget sih lo. Lagian itu cabeknya cengek domba kalau kata assistant gue. Pedesnya gila!” Ary jadi keterusan mengenang masa lalu. Rasa pedas di mulutnya seperti kembali terkenang.


“Wah, rupanya kalian juga saling mengenal ya?” Seorang wanita cantik menghampiri Bella dan Ary.


Ia melepas kacamatanya dan terlihatlah dengan jelas wajah Jihan yang cantik dengan polesan make up minimalis.


“Iya lah gue kenal baik ama dia mah bu prod. Dulu dia pernah belajar acting di sanggar gue. Malahan sempet  tampil di salah satu pertunjukkan teather gue. Acting-nya bagus loh padahal tapi sayang gak dia terusin. Sayang banget sih lo neng.” Ary menyenggol Bella dengan gemas.


Ary adalah seorang pelatih acting. Ia guru bagi banyak artis terkenal. Bella memang pernah belajar tentang acting di sanggar Ary namun karena kesibukan sehingga tidak berlanjut.


“Hahahaha.. Iya, gue juga kangen di omelin sama lo.” Bella jadi mengenang masa-masa itu.


Masa dimana ia belajar acting untuk mendalami pemahaman implikatif untuk script-nya agar tepat saat di perankan.


“Sekarang, gue gak nyangka kalau ternyata lo udah sukses jadi penulis script. Bikin film segala. Bangga deh gue sama lo.” Ary memeluk Bella dengan erat, penuh kebanggaan


“Ini berkat mba Jihan yang percaya sama gue kalau script gue bisa di film kan.” Bella mengangguk takzim pada wanita yang kini menatapnya seraya tersenyum.


“Yaa, lo emang mampu Bell. Lo multi talent banget ternyata.” Puji Jihan, ia mengangkat kedua jempolnya untuk Bella.


“Makasih mba… Duh gue mesti beli topi yang lebih gede nih, biar muat pas gue pake.” Bella membenamkan topi di kepalanya, membuat Jihan dan Ary tertawa lirih.


“Masih receh aja lo!” Ary mencubit lengan Bella dengan gemas. Sepertinya laki-laki ini memang benar-benar merindukan Bella.


“Ngomong-ngomong ada apa nih mas Ary main ke lokasi? Ada salah satu murid lo di sini?” Bella jadi penasaran atas kedatangan Ary yang tiba-tiba.


“Iyaaa.. Gue di kontak sama ibu produser cantik ini, katanya salah satu actor di sini butuh ilmu gue. Ya akhirnya gue ke sini lah buat liat langsung gimana acting dia sebenarnya. Gue pengen tau dulu, sebelum di poles tuh anak gimane kemampuannya.” Terang Ary.


“Oh ya? Siapa?” Bella di buat semakin penasaran.


“Tuh, dia lagi jalan ke sini.” Jihan menunjuk seseorang yang tengah berjalan mendekat dan tidak lain adalah Rangga.


“Wiihhh… Ganteng amaaatt… Boleh eike colek gak ne?” Tingkah genit Ary langsung muncul.


“Jangan lah, pawangnya ada di sini.” Sahut Jihan dengan cepat.


Entah apa alasannya ia menoleh Bella yang tampak terkejut melihat kedatangan Rangga. Dan Bella hanya tersenyum kecil. Tentu bukan ia yang dimaksud kan?


“Pelit lo!” Dengus Ary yang mendelik kesal dan di balas kekehan oleh Jihan.


“Halooo siapa namanya?” Ary langsung bersikap ramah saat Rangga menghampiri. Ia mengulurkan tangannya hendak berjabat tangan.


“Halo mas, saya Rangga.” Rangga membalas uluran tangan Ary.


“Rangga, yang artinya itu bisa: Perhiasan hidup, Gelar bangsawan, tanduk tajam, bunga, Firman, petunjuk, wahyu, ilham, pesan, Matahari. Wah banyak banget arti nama lo, sesuai sama mukanya. Cakep!” Puji Ary dengan sungguh.


“Makasih mas.” Rangga berusaha melepaskan tangannya yang di genggam erat oleh Ary.


“Cuma, cakep juga gak acting lo? Jangan sampe gak lebih bagus dari produk setengah jadi gue ini nih.” Ary menyenggol Bella dan gadis itu hanya tersenyum.


“Saya akan belajar mas. Saya ingin melakukan pekerjaan saya dengan cara yang benar. Jadi mohon bimbingannya.” Rangga berujar dengan sungguh membuat Bella tertegun.


Ia mengenal benar kalimat yang diucapkan Rangga barusan.


“Siap mas!” Rangga mengacungkan jempolnya sepakat.


“Bagus lah! Eh ngomong-ngomong, kok gue kagak liat si bawel Inka? Kemana tuh anak? Masih kerja bareng lo kan?” Rupanya Ary masih mengingat anak didiknya yang spesial itu.


Inka memang langganan di omeli karena selalu kesulitan menghafal naskah tapi gadis itu sering membalas omelan Ary dengan rengekan atau derai air mata.


“Masih mas. Sekarang dia lagi ke rumah sakit, nganter bokapnya berobat.” Terang Bella.


“Oh ya ampun… Bos besar ternyata bisa sakit juga.” Lirih Ary prihatin.


****


Dan benar saja, saat ini Inka masih berada di rumah sakit. Tepatnya ia berada di depan sebuah apotek dan tengah menunggu obat milik papahnya selesai di kemas.


Hari ini ia memang izin tidak masuk kerja karena papahnya harus memeriksakan kondisi kesehatannya yang makin melemah.


“Gejala strokenya memang sudah berkurang tapi kondisi jantung pasien, tidak terlalu baik. Sepertinya keluarga harus memikirkan rencana tindakan operasi pemasangan ring jantung yang pernah kita bicarakan.”


Penjelasan dokter itu kembali berdengung di telinga Inka membuat gadis itu mengepalkan tangannya dengan erat.


Setelah kepergian sang ibu di usianya yang masih anak-anak, ia hanya memiliki sang papah. Walau kerap merasa diperlakukan dengan tidak adil, namun ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau kemudian ia tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.


Wibisono, sang ayah, walau tidak pernah memihaknya secara terang-terangan, namun ia selalu berusaha melindungi Inka dari para kakak tirinya yang selalu menindasnya. Ada saja cara yang ia lakukan agar Inka terhindar dari konflik dengan para kakaknya. Jika kemudian Wibisono pergi, siapa yang kelak akan melindunginya?


“Atas nama bapak Wibisono.” Panggil petugas apotek yang membuyarkan pikiran Inka.


“Iya, mba.” Inka segera beranjak dari tempatnya, menghampiri petugas apotek.


“Mba, ini obatnya yaa… Obatnya di resepkan untuk dua minggu. Jadi dokter tidak memberikan lagi copy resep, karena harus di pastikan dua minggu ke depan bapak Wibisono konsultasi dulu dengan dokternya ya.” Terang petugas tersebut.


“Baik mba. Terima kasih.” Sahut Inka.


Ia pun pergi, bergegas menemui sang ayah yang menunggunya di loby Gedung rawat jalan.


“Heh!” Sebuah suara mengagetkan Inka dan menghentikan langkahnya.


Tidak berselang lama, sebuah tangan kekar merampas plastik dari tangan Inka. Siapa lagi yang bisa berlaku kasar seperti ini kalau bukan Andra, sang kakak tiri.


“Dimana papah?” Tanyanya dengan kasar.


“Di loby kak. Kakak bisa dateng?” Inka tersenyum tipis pada sang kakak yang selalu menolak saat harus berada di tempat yang sama dengan Inka.


Pagi tadi Andra mengatakan kalau ia tidak bisa mengantar papahnya konsul karena ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal. Tapi rupanya ia menyusul. Lega juga karena sejak tadi papahnya selalu menanyakan Andra, putra kebanggaannya.


Andra tidak menjawab, lebih memilih bergegas pergi menemui sang ayah. Inka mengikutinya dari belakang. Hah, memang biasanya juga seperti ini. Kenapa ia masih harus merasa sedih?


Di loby Gedung rawat jalan Inka melihat sang ayah akan segera pergi bersama Andra. Andra mendorong sendiri kursi roda tanpa bantuan petugas.


“Pah!” Panggil Inka.


Laki-laki yang sudah tidak muda itu, meminta Andra berhenti sebentar.


“Papah pulang bareng kakakmu ya. Kalau kamu mau kembali ke kantor, silakan.” Tuturnya. Memilih untuk tidak berlama-lama membiarkan Inka dan Andra berdekatan atau sikap kasar Andra pada Inka akan membuatnya malu.


Dan setelah ada Andra, posisinya memang selalu tergeser.


“Iya pah.” Sahut Inka. Ia melihat jelas tatapan sinis dari sang kakak.


Tanpa berbasa-basi, Andrapun pergi. Meninggalkan Inka yang kini sendirian di Gedung rawat jalan rumah sakit. Gadis itu tersenyum karena melihat wajah papahnya yang senang saat Andra datang, tapi kemudian ia menangis karena sadar, ia tidak pernah bisa membuat papahnya bangga dan bahagia atas apapun.


"Padahal Inka masih mau bareng papah. Ngobrol sama papah tentang hal apapun." Batinnya yang membuat air matanya menetes.


Inka tertunduk lesu di antara hiruk pikuk orang-orang di rumah sakit. Ia berjalan menuju pintu keluar sampai kemudian,


“BRUK!!” Ia menabrak seseorang dan membuat beberapa dokumen jatuh berhamburan.


“Aduh, maaf- maaf, saya tidak sengaja.” Ujarnya.


Dengan cepat ia mengusap air matanya dan berjongkok mengambil satu per satu kertas yang berserakan.


Tangannya terhenti saat ia membaca selembar hasil lab dengan nama yang tertera di sana, “Bima Andika Fauzi.”


Nafasnya seperti tercekat. Ia segera mengangkat kepalanya yang semula tertunduk. Dan benar saja laki-laki bertopi yang kini berdiri di hadapannya dengan keringat dingin di leher dan wajahnya adalah Ozi.


Wajahnya pucat dan pandangannya mulai kabur.


“Mas Bima?!” Seru Inka saat melihat tubuh Ozi yang sempoyongan dan nyaris rubuh.


*****