
Pepatah lama mengatakan, pernikahan itu indah, hal itu di ungkapkan oleh para pengantin baru yang belum menemukan kesulitan dalam hubungan pernikahan. Pernikahan itu sulit, diungkapkan oleh orang-orang yang belum menemukan rasa keindahan pada hubungan sakral ini. Dan pernikahan itu bermakna, di ungkapkan oleh pasangan yang sudah bertahan sekian lama tanpa pernah melepaskan genggaman tangan satu sama lain.
Kehidupan pernikahan, baru terasa benar di rasakan oleh Bella di hari ini. Hidupnya terasa normal dengan diawali tebangun di samping suaminya, saling berpelukan beberapa saat sebelum beranjak dan mengarungi hari dengan saling memberi kabar dan perhatian. Seperti ini harusnya sebuah pernikahan berjalan bukan?
Dan pagi ini, semua itu di mulai.
Bella masih memandangi wajah sang suaminya yang masih terlelap di hadapannya. Wajahnya yang tampan saat tertidur, rahangnya yang tegas, alisnya yang tebal, bibirnya yang sedikit berisi juga hidungnya yang bangir membuat Bella menggigit bibirnya sendiri dengan gemas. Telunjuknya masih menelusur setiap bagian menarik di wajah Devan itu.
Setelah pergelutan semalam, Devan tertidur sangat lelap. Bagaimana tidak, beberapa babak mereka lewati dan Devan yang masih mendominasi permainan. Sudah pasti lengan kokohnya ini cukup lelah menopang tubuhnya saat berada di atas tubuh Bella.
Bella jadi tersenyum sendiri saat melihat wajah suaminya. Dadanya yang bidang menjadi objek perhatian berikutnya yang membuat Bella kesulitan memejamkan mata. Ia menggunakan jari telunjuknya untuk menelusur dada bidang Devan yang berkotak-kotak.
Dulu ia hanya melihat gambar seperti ini di majalah tapi sekarang semuanya begitu nyata di depan mata. Memandanginya saja membuat darahnya berdesir apalagi saat menyentuhnya dengan lembut. Pantas para fans idol selalu berteriak setiap kali idola mereka memperlihatkan ABS idolanya.
“Dub, dub, dub,,,” Jantung Devan terasa konstan berdetak di bawah telapak tangan Bella.
Ia memejamkan matanya beberapa saat sambil merasakan melodi yang terus berdetak indah dan membuat jantungnya ikut berdetak tenang. Ia sengaja mendekatkan tubuhnya pada Devan dan membiarkan hembusan nafas Devan yang hangat, menerpa wajahnya.
Ia semakin mendekat, ujung hidungnya nyaris menyentuh dada Devan, di sana ia bisa mencium wangi tubuh Devan yang khas. Wangi yang membuat Bella betah berlama-lama dalam pelukan Devan.
“Grap!” Tiba-tiba saja sebuah lengan kokoh melingkari dan menarik tubuh polos Bella mendekat padanya, hingga kulit mereka bertemu.
“Mas…” Lirih Bella, saat ia sadar kalau suaminya sudah terbangun.
“Apa tenaga kamu udah kembali?” Tanya Devan yang lebih terdengar seperti bisikan yang menggoda.
Ia sedikit menundukkan kepalanya, menyambut kepala Bella yang menengadah, lantas membuka matanya. Bella benar-benar membangunkannya. Digesekkannya dahi ia ke dahi Bella.
Tatapan lekat Devan berhasil membuat Bella terpesona dan susah payah untuk menyadarkannya.
“Ini udah adzan subuh, nanti kita kesiangan.” Lirih Bella, beralasan atas keisengannya.
Devan tidak lantas menimpali. Dengan sudut matanya ia melihat jam dinding dan baru jam setengah 5 pagi. Masih ada waktu pikirnya.
Telapak tangan yang lebar itu mulai mengusap tubuh polos Bella, dari punggung, terus ke bawah dengan sentuhan yang lembut dan intens membuat bulu kuduk Bella meremang.
“Mas…” Bisik Bella setengah terengah, merasakan usapan tangan Devan, membuat kupu-kupu di perutnya mengepakkan sayap.
“Hem… Kamu menyukainya?” Tanya Devan dengan senyuman tipis.
Bella tidak berani menjawab. Ia lebih memilih menangkup satu sisi wajah Devan lalu mengusapnya. Menatap mata elang itu lekat, seolah memanggil Devan untuk semakin mendekat dan melekat.
Devan dan Bella begitu menikmati pagutannya, sementara satu tangannya menarik pinggang Bella mendekat.
“Ah…” Lenguh Bella ia merasakan hantaman dari benda tumpul di bawah perutnya.
Devan melanjutkan kecupannya, menelusuri leher Bella hingga ke dada dan bertemu dengan dua benda sintal di dada Bella. Ia menyesapnya membuat Bella melenguh tidak tertahan.
Ia berusaha kembali menghantamkan tubuhnya ke tubuh Bella hingga akhirnya penyatuan itu terjadi.
Usaha pagi itu kembali di mulai, dari guncangan pelan hingga berubah menjadi guncangan hebat yang membuat ranjang Bella berderit. Tidak hanya berbaring, Devan kini berada di atas tubuh Bella dengan kedua tangan yang kokoh sebagai penopang tubuhnya.
Menghentakkan tubuhnya di atas tubuh Bella membuat mereka bersamaan merasakan gairah yang memuncak.
Dan keheningan pagi itu tidak pernah benar-benar hening sampai kemudian keduanya melenguh bersamaan saat puncak kenikmatan mereka raih bersama.
Devan masih tersenyum, menatap wajah Bella yang begitu menggoda saat berhasil mencapai klimaksnya. Ia membaringkan kembali tubuhnya di samping Bella lantas ia peluk wanita itu dengan erat.
“Kamu menikmatinya?” Tanya Devan dengan nafas terengah.
“Ehemm…” Sahut Bella yang masih kesulitan mengatur ritme nafasnya.
“Terima kasih sayang. Istirahatlah sebentar, nanti aku siapin air mandi.” Sebuah kecupan kembali mendarat di bibir dan kepala Bella.
“Beneran? Bukannya harusnya aku yang nyiapin air mandi buat mas?” suara Bella masih terbata-bata.
“Apa salahnya kalau aku yang ingin memanjakan istriku?” Ucapan Devan terdengar penuh keyakinan.
“Tentu tidak salah, aku hanya takut kalau aku terlalu terbiasa di manjakan.”
“Tidak perlu takut, kamu bermanja pada orang yang tepat. I’m yours…” tegas Devan yang kembali mengecup pucuk kepala Bella dengan sayang.
Bella hanya bisa tersenyum lega. Ia membiarkan saat Devan beranjak dari sampingnya untuk menyiapkan air mandi. Ia masih memandangi punggung laki-laki itu hingga kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
Suara air terdengar mengisi bath tube. Devan benar-benar melakukan apa yang ia janjikan. Mengisi bath tube dengan air hangat, memberinya sabun dan wewangian yang menyegarkan dan mengatur suhunya agar pas untuk Bella.
Ia berpikir kalau Bella sangat suka merendam kakinya untuk menenangkan pikirannya. Maka apa salahnya jika ia memanjakan Bella saat ia mandi.
****