Bella's Script

Bella's Script
Keputusan bersama



Ozi dan Inka masih terduduk di kursi tunggu Ruang Poli bedah syaraf. Mereka sedang menunggu giliran di panggil masuk oleh petugas medis. Sekitar 3 antrian lagi sampai kemudian antrian Ozi di panggil.


“Mas Bima perlu sesuatu?” Tanya Inka yang tidak lepas perhatiannya dari Ozi yang duduk di sampingnya.


Beruntung tadi tubuh Ozi masih tertahan olehnya sehingga tidak jatuh pingsan. Inka membawanya untuk duduk dan sekarang, Ozi makin terlihat pucat dengan titik-titik keringat dingin di wajah dan lehernya. Sejak tadi laki-laki ini tidak berbicara apapun. Mungkin sisa tenaganya hanya sedikit.


“Lo gak perlu nemenin gue di sini.” Timpal Ozi tanpa menoleh Inka sedikitpun. Perasaan tidak nyaman di tubuhnya membuat ia semakin keras kepala.


Rasa sakit di kepalanya seperti berbaur dengan rasa gugup saat akan menghadap dokter nantinya. Pikiran-pikiran buruk serta bayangan kematian semakin jelas menari di pelupuk matanya.


“Okey.” Sahut Inka. Ia mengambil ponselnya dari dalam saku. Mencari salah satu nama di kontaknya dan Ozi melihatnya.


“Ngapain lo ngehubungin Bella?” Ia menahan tangan Inka agar tidak melanjutkan ketikan di jarinya apalagi sampai menekan tombol panggil.


“Aku pikir, mas Bima perlu di temenin. Papah aku juga suka minta di temenin agar tenang saat nanti ketemu dokter. Katanya berasa ada yang nguatin.” Terang Inka dengan polos.


“Lo ngerti privasi gak sih? Pernah gak gue minta lo duduk di sini dan nemenin gue?” Ujaran Ozi pelan namun penuh penekanan.


Lihat saja tangannya yang mengepal, meremas nomor antrian di tangannya.


Ia sedang berusaha memberanikan dirinya sendiri untuk bertemu dokter dan wanita di sampingnya dengan mudah akan menghancurkan usahanya.


“Sorry,, Aku gak maksud lancang. Tapi maaf, aku gak akan pergi. Aku khawatir mas Bima kenapa-napa.” Terang Inka dengan matanya yang bahkan sudah berkaca-kaca.


Ozi hanya menggelengkan kepalanya yang semakin pusing. Ia sudah tidak punya tenaga hanya untuk sekedar berdebat dengan Inka.


Sayup-sayup di belakang sana Ozi dan Inka mendengar obrolan seorang ibu dengan ibu lainnya. Mungkin keluarga pasien yang sama-sama sedang menunggu giliran di panggil.


“Sakit apa ya masih muda gitu udah berobat ke poli bedah syaraf?” Usil wanita itu bertanya pada wanita di sampingnya.


Ozi yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa membenamkan topinya untuk menyamarkan penampilannya. Matanya terpejam dengan usaha mengalihkan pikirannya dari suara wanita di belakangnya. Jangan sampai keputusan bulatnya hancur hanya karena suara sumbang orang lain yang tidak tahu apa-apa.


“Iyaa.. Saya pikir poliklinik bedah syaraf hanya di kunjungi ibu kita yang udah tua dan kena stroke. Ternyata yang muda juga ada yang ke sini.”


Gagal, Ozi masih mendengar jelas suara wanita lainnya. Aarrgghh rasanya ia ingin berteriak dan meminta dua wanita itu untuk diam. Tidak ada yang mau mengantri di sini baik yang tua ataupun yang muda. Ia bahkan harus mengumpulkan banyak keberanian untuk sekedar melangkahkan kakinya ke sini sambil harap-harap cemas memikirkan apa vonis dokter nantinya.


Belum selesai otak Ozi berpikir, tiba-tiba ia merasa ada yang menyentuh telinganya. Ia membuka matanya dan ternyata Inka sedang memasangkan handsfree di kedua telinganya. Ia melihat jelas saat wajah Inka tepat di hadapannya. Matanya sedikit basah walau raut mukanya terlihat tenang.


Apa gadis ini ikut menangis karena melihat kondisinya yang mengkhawatirkan? Apa seperti ini rasanya di kasihani? Ozi bertanya pada dirinya sendiri.


Tidak lama, terdengar suara musik lembut merambat mengalun masuk ke telinganya. Inka melepas satu handsfree Ozi hanya sekedar untuk berbisik.


“Daripada dengerin omongan yang gak berfaedah, mending dengerin musik sambil nunggu antrian kita di panggil.” Bisik Inka. Setelah berbicara gadis itu memasangkan kembali satu handfree yang tadi di lepasnya sementara.


Ozi melirik Inka sesaat dan gadis itu tampak kembali termenung. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.


“Kita” dia bilang. Apa Ozi memang tidak sendirian saat ini? Apa gadis ini benar-benar akan menemaninya? Entahlah, yang jelas untuk beberapa saat Ozi bisa tenang, tidak mendengar lagi suara sumbang dua wanita di belakangnya.


“Antrian 58.” Panggil petugas Kesehatan.


“Saya!” Sahut Inka seraya mengangkat tangan.


“Silakan masuk mba.” Seorang perawat wanita membukakan pintu ruang pemeriksaan.


“Iya sus.”


“Mas, ayo kita masuk.” Buru-buru Inka melepas handsfree dan mematikan musik. Ia meraih lengan Ozi dan membantunya untuk berdiri.


“Gue bisa sendiri.” Ujar Ozi yang baru tersadar. Ia berusaha melepaskan tangan Inka yang melingkar di lengannya.


“Jangan keras kepala.” Tegasnya tanpa bisa di tolak. Ia bersikukuh membawa Ozi masuk ke ruang pemeriksaan.


Akhirnya Ozi hanya menurut saja pada perintah Inka. Ia berjalan tertatih masuk ke ruang pemeriksaan. Saat ia duduk bahkan isi kepalanya rasanya seperti berguncang penuh dengan air.


“Atas nama Mas Bima. Benar?” Tanya dokter paruh baya bernama Antony di atas *name tag-*nya.


“Benar dok.” Sahut Ozi. Pelan-pelan ia mengangkat kepalanya yang semula selalu tertunduk menahan pusing.


“Saya dokter Antony.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.


Ozi mengangguk pelan. Dengan tangan gemetar ia meraih tangan dokter Antony. Rasanya sudah ia pegang tapi belum terasa. Tangan dokter Antony malah berbayang, membuat Ozi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memfokuskan padangannya. Tapi ternyata cukup sulit.


“Silakan, baringkan pasien di tempat tidur.” Dokter Antony melirik assistant-nya yang langsung sigap membopong Ozi bersama Inka.


“Apa yang mas Bima rasakan sekarang?” Ia memulai pemeriksaan beberapa bagian tubuh Ozi sambil bertanya.


“Pusing berputar dok, dan lemas. Penglihatan saya juga berbayang.” Aku Ozi yang memejamkan matanya kuat-kuat menahan pusing.


Dokter Antony terangguk paham. Ia menekan ujung jari tangan Ozi dan Ozi menariknya dengan lemah. Kakinya di tekuk lalu di ketuk di beberapa bagian dan hanya gerakan lemah yang menjadi respon Ozi.


“Sudah berapa lama sakit seperti ini?” Doker Antony pun membuka mata Ozi yang terpejam dan mengarahkan cahaya ke sana untuk memeriksa refleks mata Ozi.


“Sekitar 6 bulan dok. Awalnya saya pikir pusing biasa sampai kemudian saya jatuh pingsan saat bekerja dan di bawa ke rumah sakit. Dokter saya sebelumnya menyatakan kalau saya terkena tumor otak.” Aku Ozi dengan sejujurnya.


“Baik. Tetap berbaring di sini. Mas Bima sebelumnya sudah mengikuti terapi apa saja?” Dokter Antony sudah selesai memeriksa Ozi dan beranjak menuju meja kerjanya. Memeriksa beberapa dokumen hasil pemeriksaan Ozi.


“Belum terapi apa-apa dok, selain konsumsi obat Pereda nyeri.”


“Boleh saya lihat obatnya?”


“Ada dok, di..”


“Ini dok.” Baru Ozi akan beranjak, Inka sudah lebih dulu menyerahkan obat Ozi dari dalam tas.


“Wah istrinya cekatan yaa… Tapi kok di biarin suaminya sudah separah ini?” Tanya dokter Antony yang tetap memperhatikan satu per satu gambaran hasil CT Scan.


“Seperti apa sekarang kondisi mas Bima dok?” Inka dengan sigap bertanya.


Dokter Antony sedikit melirik Inka, melihat kedua tangannya yang berada di atas meja. Tidak ada cincin yang melingkar di tangannya.


“Pacarnya jangan di tinggal-tinggal yaa.. Luangin waktu lebih banyak dengan pacarnya. Supaya dia termotivasi untuk sembuh. Karena, menunda pengobatan selama 6 bulan itu terlalu lama. Tumornya sudah semakin membesar.” Terang dokter Antony dengan santai. Ia melingkari beberapa gambar yang menurutnya tidak normal.


Inka jadi menoleh ozi yang sedang memandangi langit-langit ruang pemeriksaan. Hatinya berdesir saat melihat Ozi yang terkulai lemah.


“Saya akan lebih baik menjaganya. Saya tidak akan kemana-mana dok.” Tegas Inka.


Ozi tidak menanggapi ujaran Inka. Hanya jakunnya yang terlihat bergerak naik turun, seperti ia tengah menelan rasa tercekat di tenggorokannya karena mendengar ucapan Inka.


“Bagus. Pacarnya kita operasi ya mba. Gak apa-apa kan kalau nanti pacarnya jadi agak pelontos? Bekas luka di kepalanya mungkin akan sedikit mengerikkan tapi sepertinya bakalan tetep ganteng kok.” Dokter Antony tersenyum kecil membuat Inka terkejut.


Apakah benar, ia yang harus memutuskan.


“Iya dok.” Sahut Inka dan Ozi bersamaan. Ternyata, keduanya memutuskan hal yang sama.


“Baik, kita rencanakan operasi di minggu depan. Gak bisa di tunda terlalu lama karena kasian masnya kalau terlalu lama. Obat Pereda nyerinya akan di turunkan dosisnya secara bertahap dan untuk beberapa hari tidak boleh mengkonsumsi obat Pereda nyeri. Makanya kita gak bisa nunda terlalu lama. Gimana? Kalau setuju, mbanya tanda tangan di sini. Mba walinya kan?” Rentet dokter Antony dengan cepat.


Inka memandangi surat persetujuan tindakan yang di tunjukkan oleh dokter Antony. Saat tegang seperti ini, tiba-tiba saja barisan kalimat di atas kertas itu berubah menjadi buram. Inka bahkan kesulitan mencerna isi dari surat pernyataan itu.


“Dok, boleh saya nanya dulu?” Ujarnya dengan takut-takut.


“Silakan.” Dokter Antonny begitu terbuka.


“Nanti setelah operasi, apa saja kondisi yang akan di alami oleh mas Bima?” Sambil melirik Ozi, Inka melanjutkan pertanyaannya.


Sungguh saat ini jantungnya berdebaran dengan sangat kencang. Keputusan ini bukan keputusan yang kecil. Nyawa taruhannya.


“Em… Memang ada beberapa kemungkinan kondisi seperti, adanya lumpuh sementara pada kedua kakinya dan kesulitan untuk fokus. Tapi mas nya gak akan sampai lupa kok sama mba-nya. Dan di saat itu, pasien akan sangat bergantung pada orang di sekitarnya, tidak menutup kemungkinan mba pun akan di repotkan. Jadi, kalau tidak bersedia menemani, putuskan dari sekarang. Jangan meninggalkan pasien di saat dia sedang sangat tergantung pada anda.” Terang dokter Antony dengan gamblang.


Inka tertegun beberapa saat. Ia menatap ozi yang kini juga sedang menatapnya.


Satu keputusan di ambil Inka. “Saya mencintai mas Bima apa adanya. Saya tidak akan pergi untuk alasan apapun.” Tegas Inka dengan penuh keyakinan.


Ozi yang mendengar ucapan Inka, hanya bisa memalingkan wajahnya. Di sudut matanya mulai berkumpul bulir air mata yang dalam satu kedipan saja langsung pecah dan menetes. Benarkah wanita itu memiliki perasaan sebesar itu?


“Good! Kalau begitu silakan tanda tangani tanpa ragu. Jangan lupa berdo’a dulu.” Tegas dokter Antony seraya mengetuk kertas yang ada di hadapannya.


Inka mengambil ballpoint di hadapannya. Ia sempatkan menoleh Ozi dan laki-laki itu kembali menghadapkan pandangannya pada Inka. Ia tidak protes, hanya matanya yang terlihat basah dan merah. Inka tersenyum kecil pada Ozi, berusaha menyemangatinya dari jauh. Dalam satu tarikan tangan, dokumen persetujuan itu pun di tanda tangani.


*****