
Entah seperti apa cara yang diambil Devan untuk menyampaikan kabar ini pada Bella, masih belum terbayang sama sekali oleh Devan. Langkahnya sengaja di buat lamban saat melewati lorong menuju ruang ICU, sambil memikirkan cara terbaik yang harus ia lakukan.
Di saat seperti ini, rasanya ia tidak tega memberitahu Bella tentang gosip yang saat ini beredar.
“Apa gak usah gue kasih tau dan jauhin Bella dari segala macam sumber berita?” Devan bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi sampai kapan? Bella bukan anak kecil yang bisa menurut saat di suruh duduk diam tidak melakukan apapun. Wanita ini berhak tahu kabar miring apa yang menerpanya."
Hati dan logika Devan berdebat dengan sendirinya.
Melihat Bella yang berusaha terduduk tegak di tempatnya membuat Devan merasa sedih. Wanita itu sedang berusaha kuat dan ia tidak sampai hati menambah beban pikirannya.
“Gue harus gimana?” Devan mengusap wajahnya kasar.
Satu ide muncul di kepalanya yaitu menghubungi teman lamanya di Singapura. Devan mencari nomornya dan ternyata masih tersimpan.
“I need to talk with you. Just call me after you receive this message.” Begitu isi pesan yang di kirim Devan pada sahabatnya.
Berharap saja semoga sahabatnya membalas dengan cepat.
Setelah memiliki ide ini, Devan melanjutkan langkahnya menghampiri Bella.
“Hey…” Panggil Devan seraya mengusap kepala Bella.
“Hey… Beli apa?” Bella melihat keresek dan cup holder di tangan Devan.
“Nasi goreng sama minuman hangat. Mau makan sekarang?” tawarnya.
“Boleh. Bentar,,” Bella sedikit mengangkat kepala Saras. Ia menempatkan bantal leher bekas di mobil di bawah kepala Saras dengan hati-hati. Ia tidak mau mengusik tidur ibunya.
“Gue juga beli buat mamah. Mau di tawarin sekarang?”
“Nanti aja, mamah baru tidur. Kasian kalau di bangunin lagi. Paling satu lagi juga mamah bangun.” Bella tahu persis jam Saras biasanya bangun untuk menunaikan solat malam.
“Okey. Kita di sebelah sana, biar mama gak berisik.” Devan membawa makanannya ke bangku di sebrang sana dan Bella mengikut saja.
Dua bungkus nasi goreng di buka Bella lengkap dengan sendok bebeknya.
“Ini kebanyakan buat gue Van.” Melihat porsi nasi goreng, Bella tidak yakin mampu menghabiskannya.
Lagi pula, ia tidak berselera makan, hanya karena tubuhnya memerlukan makan sehingga ia harus mengisi perutnya. Namun tidak sebanyak ini juga.
“Gimana kalau yang ini dulu? Mau gue suapin?” Devan menaruh makanannya di tengah-tengah mereka.
“Hem, boleh.”
"Okey," Devan menyendok sendokan pertama dan menyuapkannya pada Bella. Bella menurut dengan membuka mulutnya lalu mengunyahnya.
“Gimana, enak?” Devan penasaran dengan ekspresi Bella yang biasa saja.
“Lo coba sendiri.” Bella tersenyum kecil, ia mengambil sendok bebek miliknya, mengambil nasi dan menyuapkannya pada Devan.
“Gimana?” Ia Juga penasaran dengan pendapat Devan.
Ekspresi Devan langsung berubah.. “Rasa garam.” Cetus Devan
Bella jadi terkekeh mendengar ucapan suaminya. Nasi gorengnya memang asin sampai membuat ia tidak bisa berkata-kata.
“Padahal abangnya keliatan serius loh ngebikinnya.” Devan masih beralasan. Ia ikut nyengir kuda.
“Hahahah sok tau banget lo. Serius bukan berarti bener. Abangnya gak fokus kali ya?”
“Iya sih, tadi dia sambil nonton bola di hpnya.” Devan menggaruk kepalanya walau tidak gatal.
“Hahahaha…” Bella kembali tertawa kecil melihat ekspresi bersalah Devan.
“Tapi ini enak kok, karena lo yang nyuapin.”
“Yakin? Mau gue suapin lagi?” Goda Bella, seraya menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulut Devan.
“Nggak dulu yang, gue kenyang.” Geleng Devan, menolak.
“Gue makan lo aja!” Tiba-tiba Devan menarik tangan Bella lalu mengigitnya dengan gemas.
“Aw! Astaga yang, lo kebiasaan banget gigit-gigit gue.”
“Sakit ya?” Devan langsung siaga, kaget juga melihat ekspresi Bella.
“Nggak, wle!” Rupanya Bella mengerjai Devan.
“Haissh dasar!” Devan menarik tangan Bella agar mendekat padanya. Ia melingkarkan lengannya di leher Bella.
Bella diam saja di peluk suaminya.
“Gue seneng liat lo ketawa. Cantik.” Bisik Devan seraya mengecup kepala belakang Bella.
“Gombal! Dari mana lo belajar gombal?”
“Dari Indra sama Kemal.” Aku Devan sesungguhnya.
“Katanya cewek suka di gombalin.”
“Ya di gombalin suka tapi gak pake boong juga. Gombalannya harus jujur.”
“Okeeyy, gue catet. Tapi soal lo cantik kalau ketawa, gue gak boong. Lo cantik lagi gimanapun. Tapi kalau lo nangis, hati gue ikut hancur.” Suara Devan terdengar semakin pelan sementara pelukannya semakin erat.
Bella jadi terdiam mendengar ucapan Devan. Ia bisa merasakan kalau kasih sayang suaminya memang besar.
“Iyaa, gue gak akan sering-sering nangis depan lo.” Janji Bella.
“Gue minta satu hal lagi, boleh?”
“Apaan? Banyak bener…” Goda Bella.
“Hehehehe… Gue gak mau di panggil abang. Mau di panggil mas aja.” Pintanya tiba-tiba. Ia teringat ucapan Saras agar membiasakan memanggil pasangan dengan baik.
“Tiba-tiba banget. Emang kenapa mau di panggilnya mas?” Bella jadi menoleh.
“Kalau abang, takut gue asin, kayak abang nasi goreng.” Celotehnya.
“Wkkwkwkkwk…” Bella terkekeh tertahan mendengar celotehan suaminya. Suara tawanya kecil tapi bahunya sampai naik turun.
Devan jadi ikut tertawa. Ia menempatkan kepalanya di samping kepala Bella lalu mengesekkannya perlahan.
"Hehehehe... Gue lucu yaa..."
"Nggak. Jayus banget!" Timpal Bella.
"Tapi kan bisa bikin lo ketawa."
"Yaa, okey, 30 untuk materinya 70 untuk usahanya."
"Hem,, Lumayaaann..." Devan mengusap bahu Bella dengan lembut.
Untuk beberapa saat ia terdiam menikmati kebersamaannya dengan Bella. Rasa berdebar tidak karuan itu kini berubah jadi rasa tenang yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Setelah seseorang resmi menjadi miliknya, ternyata perasaannya jauh lebih melegakan.
“Ngomong-ngomong yang, hp lo dimana?” Devan tiba-tiba ingat pesan Indra tadi.
“Gak ke bawa, kayaknya di rumah.”
“Oh syukurlah.” Devan menghembuskan nafasnya lega.
“Emang kenapa?” Bella jadi penasaran. Ia kembali menoleh suaminya yang ada di belakangnya, membuat jarak wajah mereka sangat dekat satu sama lain.
Bella bisa melihat sepasang mata elang yang tengah mencemaskannya.
“Gak pa-pa, cuma ya syukur aja bukan gak ada karena hilang atau jatuh.” Sahut Devan, tenang.
“Random banget lo yang.” Lirih Bella.
Devan hanya tersenyum, tidak masalah Bella menyebutnya random. Yang penting istrinya tidak melihat gossip apapun untuk sekarang.
"Minum kopi yuk.." Devan menunjuk cup holder di hadapan mereka dengan sudut matanya.
Bella mengambilkannya dan memberikannya satu pada Devan.
"Nih."
Keduanya kini memegangi gelas kertas berisi kopi hangat. Keduanya sama-sama menghurip wangi cafein dari minuman berwarna hitam itu. Wangiya cukup melegakan walau pada akhirnya mereka sama-sama memandangi Saras yang tertidur di bangku sebrang mereka.
"Saat ini kita sedang pahit, tapi aku percaya, kelak semuanya akan berubah manis." Batin Bella.
Sekali lalu ia meneguk minumannya dan merasakan rasa hangat yang mengisi mulut dan tenggorokannya. Ini cukup melegakan.
*****