Bella's Script

Bella's Script
Menyemangati sang pemeran utama



"Kamu mau makan?" Tawar Lisa pada Amara yang sejak tadi hanya memandangi layar ponselnya.


"Kamu harus minum obat. Kata dokter kamu udah gak di kasih obat penahan sakit lewat infus lagi jadi harus yang diminum dan efeknya bisa bikin lambung gak nyaman kalau kamu gak makan dulu." Lisa mendorong meja portable yang memuat makanan Amara beserta obat-obatan di atasnya.


Mendapati Amara hanya terdiam, lantas ia sedikit mengintip layar ponsel Amara. Ternyata wanita itu sedang menonton teaser yang di posting di akun media social Bella. Sudah banyak orang yang melihat teaser film tersebut dan mereka memberikan apresiasi positif atas film tersebut.


“Gak sabar nunggu dua minggu lagi. Apa pre order ticketnya udah dibuka dari sekarang ya?” Komentar salah satu netizen.


“Acting queen natural banget, terus King dingin tapi manis gimana gitu, bikin baper aja.” Komentar penonton lainnya.


“Uuuhhh, gue bapeeerrr… Guling mana guling…. Pengen di pelukkk...”


“Kayaknya ceritanya seru deh, fix harus nonton.”


Itu empat komentar teratas yang disukai netizen lainnya. Masih banyak komentar positif lainnya tentang film yang di bintangi Amara. Ia tidak menyangka kalau netizen seantusias ini. Entah untuk melihat actingnya atau penasaran dengan jalan ceritanya. Film dengan kisah mulai benci jadi cinta ini memang di gandrungi banyak orang dan sangat di nanti.


“Menurut lo, siapa yang mereka idolakan? Gue sebagai pemain apa Bella sebagai penulis script?” Tanya Amara yang menatap kosong layar ponselnya.


Entah sudah berapa kali teaser itu di putarnya dan berapa ratus komentar yang sempat ia baca.


“Kamu masih nanya hal kayak gitu, Ra?” Lisa menatap Amara tidak paham. Bisa-bisanya ia masih memperbandingkan dirinya dengan Bella.


“Kenapa? Emang gak boleh kalau gue nanya begitu?” Amara tersenyum sinis tanpa mengalihkan pandangannya pada Lisa.


Lisa menarik kursi untuk duduk di samping Amara.


“Kamu terus melihat ig Bella dan memperhatikan berapa banyak yang menyukai postingan Bella, membaca setiap komentar netizen buat Bella lalu memperhatikan benar berapa banyak follower Bella yang bertambah. Kamu gak capek Ra?” Tanya Lisa dengan tatapan lekat pada artisnya.


“Capek?” Amara mengernyitkan dahinya saat mendengar pertanyaan Lisa.


“Iyaaa… Emang kamu gak capek selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan pencapaian orang lain? Kenapa kamu nggak mensyukuri aja banyaknya follower yang setia mendukung kamu dan memberi kamu suntikan semangat? Gak semua public figure punya fans setia sebanyak kamu loh Ra.”


“Tapi kamu malah mencemaskan banyaknya follower Bella yang semakin bertambah. Itu lah yang bikin kamu capek dan frustasi.” Terang Lisa panjang lebar.


Ia sudah lelah melihat Amara yang terus memperbandingkan dirinya sendiri dengan para saingannya.


“Ra, kamu tau gak sih kalau banyak orang yang pengen berada di posisi kamu?” Tanya Lisa dengan lembut. Ia berusaha menyentuh hati Amara yang sekeras batu.


“Apa itu bikin lo penasaran? Lo bener-bener pengen tau pikiran dan perasaan gue?” Amara berdecik, ia membalik ponselnya dan berganti menatap Lisa.


“Ya. Aku sering gak habis pikir dengan semua sikap kamu. Kalau orang-orang tahu posisi kamu, mereka pasti akan sangat iri. Kamu bukan hanya memiliki fans yang fanatic tapi kamu juga punya musuh yang terlalu baik.”


“Kamu sadar gak sih, kalau orang yang kamu benci itu sebenarnya ngajarin kamu banyak cara untuk bertumbuh? Kamu sadar gak, berapa kali Bella melindungi kamu padahal bisa aja dia ngejatuhin kamu hanya dengan satu kali jentikan jari?”


Amara tidak menjawab, ia lebih memilih memalingkan wajahnya dari Lisa. Entah mengapa, ucapan Lisa mulai terasa seperti tamparan. Sakit, namun tidak berdarah.


“Karena tau apa yang Bella lakukan, gue selalu merasa kalau gue selalu ada di bawah dia. Dalam segala hal.”


“Dia matahari dan gue adalah gunung tinggi menjulang yang selalu berada di bawahnya. Semakin terang cahaya Bella maka bayangan gue semakin kecil, bahkan tidak terlihat kalau itu gunung.” Ucap Amara yang tersenyum kelu.


Ia masih selalu mengingat bagaimana Bella yang selalu menjadi poros di setiap tempat. Orang-orang akan lebih mudah memujanya di banding memuju Amara sendiri. Sering kali itu menyebalkan bagi Amara dan seperti melukai egonya. Harusnya ia lah yang menjadi mentari dan menerangi orang-orang di sekitarnya.


“Kalau kamu merasa diri kamu adalah gunung, maka tetaplah menjadi gunung."


“Jangan merasa rendah hanya karena orang-orang melihat bayangan kamu yang pendek karena matahari bersinar terik. Bukankah orang-orang akan tetap memuja dan mengagumi gunung karena keindahannya? Bukan karena bayangan yang terlihat seperti jelaga?” Lisa menatap Amara lekat dan gadis itu hanya termenung.


“Tetaplah menjadi gunung. Kamu gak perlu terlihat paling tinggi menjulang dengan cara menjatuhkan matahari. Karena setiap hal selalu punya porsinya sendiri. Termasuk porsi kamu dan Bella yang tidak akan pernah sama.”


“Pernah gak sih kamu berpikir kalau menjadi matahari itu tidak selalu menyenangkan? Orang-orang cenderung memprotesnya saat dia terlalu terik ataupun redup. Mungkin sering kali juga dia merasa sendirian. Dia pusat energi, tapi saat malam tiba, bulanlah yang lebih banyak di temani oleh bintang.”


“Sementara gunung, entah matahari terbit ataupun tenggelam, dia akan tetap dipuja karena kekokohan dan keindahannya. Itulah alasan mengapa seharusnya gunung gak perlu iri sama matahari.” Tegas Lisa seraya memberikan selembar tissue pada Amara.


Ia tahu, mata cantik Amara yang sendu itu mulai meneteskan air matanya.


Amara tidak menimpali. Ia mengambil tissue dari tangan Lisa lalu mengusap sudut matanya yang berair. Entah mengapa semua ucapan Lisa begitu mudah dimengerti olehnya saat ini dan terasa menyakitkan diwaktu yang bersamaan. Mungkin karena ia sedang tenang dan tidak lagi menggebu-gebu untuk selalu menungguli Bella.


“Tanpa kamu tau, banyak yang sayang sama kamu Ra. Kamu hanya perlu membuka mata kamu lebar-lebar dan melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda dan pikiran yang terbuka. Aku yakin, kamu bisa melihatnya.” Tandas Lisa seraya menusap kepala Amara dengan lembut.


Ia merasa kalau ia bukan sedang menghibur atau menyemangati artisnya melainkan seorang adik yang tanpa sadar begitu ia sayangi. Hingga ia merasa kalau ia tidak akan bisa meninggalkan Amara apalagi dalam kondisi terpuruk.


Hati Amara terrenyuh mendengar ucapan Lisa. Mata bulatnya semakin basah dan merah. Ia menoleh Lisa yang ada di sampingnya. Lantas berucap, “Thank you…” Dengan senyum tipis penuh rasa haru.


Lisa hanya mengangguk dan tersenyum. Ia menyendok satu sendok nasi yang sudah ia campur dengan sup, makanan favorit Amara.


“Makanlah. Bukanlah seorang Amara yang bisa terpuruk seperti ini.” Ucapnya, seraya menyodorkan sendok itu ke mulut Amara.


Amara tersenyum ketir. Ia membuka mulutnya dan memakan makanan yang disuapkan Lisa. Ia mengunyah makanan itu sambil menahan tangis. Tapi tetap saja air mata itu menetes tanpa bisa ia tahan. Dengan tangannya yang masih terpasang infus ia mengusap kasar air matanya. Ia sampai sesegukan menahan tangis di dadanya sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sungguh dadanya terasa begitu sesak. Seperti ada sesuatu yang berjogol di rongga dadanya.


Tanpa rasa ragu Lisa memeluk Amara dan menjadikan bahunya sebagai tempat sandaran yang nyaman bagi Amara.


“Jangan terlalu sombong dan sok kuat. Menangislah sekerasnya, kalau itu bisa bikin kamu merasa lebih baik.” Ucapnya lirih.


Di saat itu, Amara pun menangis. Ia menangis sejadinya seraya mencengkram baju Lisa. Ia ingin menumpahkan perasaannya, perasaan yang tidak tentu ujung dan pangkalnya namun sering kali membuatnya sesak.


Mungkin setelah ini, ia akan merasa lebih baik lagi.


*****