Bella's Script

Bella's Script
Masa lalu kita



Malam ini menjadi malam yang tidak menenangkan bagi Ozi. Matanya tidak bisa terpejam dan ia hanya hilir mudik di ruang keluarga, ke dapur lalu ke kamarnya. Wajahnya di penuhi kecemasan saat tidak ada satupun panggilannya yang di jawab Bella.


Ia berdiri mematung di dekat sofa ruang tamu, berharap pintu itu terbuka dan Bella pulang. Tapi hingga setengah jam berdiri di sana, tidak ada tanda-tanda kalau Bella datang.


“Sh*t! Harusnya gue gak sekeras itu sama Bella.” Dengus Ozi sambil mengusap wajahnya kasar.


Dicobanya kembali untuk menghubungi Bella, namun kali ini ponsel Bella malah tidak aktif.


“Lo dimana dek?” gumamnya dengan diliputi kekhawatiran.


Lantas ia terduduk di sofa, mungkin ada baiknya ia menunggu sambil duduk agar perasaannya lebih baik.


Satu deringan telepon dengan segera di jawab Ozi, “Hallo dek, lo dimana?” ucapnya dengan tergesa-gesa.


“Ini gue, Devan.” Sahut suara di sebrang sana.


Ozi hanya menghembuskan nafasnya kasar seraya memijat pelipisnya yang terasa pening.


“Iya, gimana bro?” tanyanya lesu.


“Bella ada di tempat gue.” Satu kalimat Devan berhasil membuat Ozi bisa menghela nafas lega.


“Cuma dia gak mau pulang.” Imbuh Devan yang membuat Ozi mengguyar rambutnya kasar.


Sejenak ia memandangi wajah Bella yang ada di foto keluarga, pengisi salah satu sudut ruang keluarga. Ozi menggigiti jemarinya seraya berpikir.


“Hem, gue paham.” Sahut Ozi seraya tertunduk lemah.


Ia tidak berpesan apapun lagi. Memilih menutup panggilannya dan bersandar lemah pada sandaran sofa. Seperti tubuhnya tiba-tiba hilang tenaga dengan kepala berdenyut nyeri. Tangannya terkulai begitu saja. Setelah tahu Bella berada dimana, rasa lega sekaligus rasa bersalah kini terasa semakin jelas mengisi hatinya.


“Harusnya gue lebih bisa mengendalikan emosi gue.” Gerutu Ozi pada dirinya sendiri.


Ia meremas rambutnya sendiri seraya membungkuk. Sungguh ia menyesal saat mengingat bagaimana tadi ia bertengkar hebat dengan Bella.


“Lo kemana saat dulu gue butuh lo?”


“Lo tau, saat itu cuma Rangga yang ada di samping gue.”


“Lo bahkan berpikir kalau gue cuma pembohong, yang menjelek-jelekkan papah karena gak bisa nerima kepergiannya.”


Potongan-potongan kalimat Bella terus berdengung di telinganya. Ia masih mengingat bagaimana kecewa dan kesakitannya Bella saat itu. Lebih dari itu, ia bisa merasakan bagaimana perasaan sepi Bella saat ayah mereka meninggal.


“Abang, aku liat papah pergi sama perempuan. Dia bilang papah harus menyelesaikan masalah ini. Papah gak mau pulang sama adek. Dia malah bilang, saat adek dewasa adek bakalan ngerti. Kenapa papah ngomong gitu sama adek, bang? Adek kan cuma mau papah pulang ke rumah.” racau Bella di hari kematian ayahnya.


Matanya yang sayu karena terus menangis dan tidak bisa tidur, bibirnya yang pucat dan suaranya yang parau kembali tergambar jelas di pelupuk mata Ozi.


“Adekk, adek please udah dek… Udaahh..” ujar Ozi kala itu, seraya memeluk Bella.


“Nggak bang, Nggak!!!” Bella berontak, berusaha melepaskan pelukan Ozi. Ia masih berusaha menjelaskan apa yang ada di pikirannya. Ia menatap Ozi dengan lekat penuh keyakinan.


“Papah pergi. Papah meninggal setelah pergi dengan pacarnya. Adek liat sendiri dia gendong anak kecil. Anak itu bahkan di beliin loli kesukaan adek. Dia,” dengan menggebu-gebu Bella berbicara


“ADEK STOP!!!!” gertak Ozi. Ia melepaskan pelukannya. Di peganginya kedua behu Bella dengan erat.


“Kamu gak usah ngomong macem-macem! Itu cuma ada dipikiran kamu! Perempuan itu cuma temen kerja papah, gak lebih."


"Jangan karena kamu mengingkari telah kehilangan papah kamu berubah jadi pembohong! Berhenti Bell, abang mohon!” Ozi mengguncang-guncang tubuh Bella dengan kasar.


“Adek gak bohong abang, adek..” suaranya parau bercampur tangis dan hanya sebagian yang ia ucapkan.


“Abang gak percaya sama adek.” Lirihnya seraya tertunduk terkulai di hadapan Ozi.


Kejadian itu sudah sekitar 8 tahun lalu. Tapi Ozi masih mengingat bagaimana usaha Bella untuk meyakinkannya. Lebih dari itu, ia pun masih mengingat bagaimana usahanya untuk menyadarkan Bella kalau yang di lihatnya tidak benar.


Lalu, benarkah yang Bella katakan saat itu?


“AARGHH **!” Ozi hanya bisa mendengus kesal. Setelah kejadian itu Ozi mencari tahu kebenaran ucapan Bella dan ternyata ia tidak menemukan bukti apapun. Namun beberapa jam lalu, mengapa Bella masih mengatakan hal yang sama?


Dengan penuh kemarahan dan dengan penuh kekecewaan. Apa yang gadis itu tahu selama ini? Tidak, tepatnya, apa yang tidak ia tahu tentang orang tuanya selama ini?


****


Masih terduduk di tempatnya, Rangga tampak berpikir dengan serius. Dengan kedua tangan saling tertaut dan mata yang menatap kosong pada fotonya bersama Bella, ia tenggelam dalam pikirannya tentang kejadian beberapa jam lalu.


Bella sudah tahu hubungannya dengan Amara dan tentu hatinya sedang sangat hancur. Ia bisa melihat kemarahan dan kekecewaan Bella yang membuatnya hanya bisa bungkam.


Bella benar, kenapa ia melakukan hal ini pada Bella?


Seperti halnya Bella yang tidak mengerti, ia pun masih memikirkannya. Satu hal yang ia tahu, perasaannya pada Bella telah berubah.


Ia jadi memandangi Amara yang tengah berdiri di cermin dan mengganti pakaiannya. Ia melepas kaos yang membungkus tubuhnya dengan santai tanpa rasa risih karena Rangga ada di hadapannya.


“Apa karena Wanita ini?” batin Rangga. Di tatapnya dengan lekat wanita yang kini mempertunjukkan setiap lekuk tubuhnya tanpa sungkan.


Ia masih mengingat saat 2 tahun lalu, ia datang ke apartemen Amara. Saat itu Amara mengatakan kalau ia sakit. Tidak ada seorang pun yang ada di dekatnya, termasuk Bella dan manager-nya.


“Gue ke sana.” Ujar Rangga setelah menerima panggilan Amara.


Tiba di apartemen Amara, ia mendapati ruangan yang gelap tanpa ada lampu yang menyala. Hanya nyala lampu dari aquarium yang membuatnya bisa melihat kalau ruangan ini sangat berantakan.


“Ra,” panggil Rangga dari pintu masuk.


Ia berjalan perlahan, menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi ruangan.


Terlihat seseorang menggeliat di atas sofa saat cahaya lampu senter Rangga mengenainya. Ia meringis saat merasa cahaya lampu itu menyilaukan matanya.


“Sorry. Itu lo Ra?” dengan segera Rangga menurunkan cahaya ponselnya.


“Ranggaa…” suara Amara lebih terdengar seperti rengekan.


“Akhirnya lo dateng juga…” kali ini suaranya di sertai senyuman.


“Lo mabok ya?” Rangga menghampiri Amara dan melihatnya dari jarak yang cukup dekat.


Wanita itu sangat berantakan. Ia hanya mengenakan sweater rajut yang kebesaran serta hot pants untuk menutupi pangkal pahanya.


“Gue seksi juga yaaa,,,” gadis itu terkekeh membuat Rangga mematikan senternya seraya memalingkan wajah.


“Gue sendirian Ga. Semua orang pergi dari hidup gue. Kenapa sih semua orang brengsek banget? Mereka pikir gue apaan? Gak ada artinya buat mereka.” Amara kembali meracau tidak jelas. Entah apa yang gadis ini rasakan saat ini.


“Mau nelpon siapa lo? Manager gue?!” seru Amara saat melihat Rangga menghubungi seseorang.


“Bella bisa ngurus lo.” tegas Rangga.


“NGGAK!!!” protes Amara.


“Lo gak boleh ngehubungin dia.” Di rampasnya ponsel Rangga yang sedang ia gunakan untuk menelpon.


“Kenapa sih Bella lagi Bella lagii.. Bosen gue denger nama itu.” gerutu Amara sambil mematikan total ponsel Rangga.


“Ra, lo apaan sih?!” protes Rangga seraya merebut ponselnya.


Namun dengan cepat Amara beranjak dan menghampiri Rangga. Di kegelapan itu Amara mencium bibir Rangga dengan rakus. Setelah puas mencium Rangga, ia mengalungkan tangannya di leher Rangga.


“Gue lebih baik kan dari Bella?” bisiknya menggoda.


Rangga berusaha melepaskan Bella dari tubuhnya, namun wanita itu dengan cepat menahan tangan Rangga seraya menarik satu tangannya. Di usapkannya tangan Rangga ke dadanya, hingga Rangga bisa merasakan lekukan tubuh Amara yang indah.


“Lo gak perlu khawatir, Bella gak akan tau apa yang kita lakuin di belakang dia. Kita bisa ngelakuin apa aja yang gak bisa lo lakuin sama Bella dan pastinya, sama gue lo bisa jadi diri lo sendiri. Lo akan merasa lebih baik.” Suara Bella terdengar semakin menggoda disertai dengan hembusan nafasnya yang menderu.


Tangannya yang indah, mengusap perut Rangga dengan erotis, lantas turun ke bawah dan gadis itu hanya tersenyum saat Rangga tidak menolak tubuhnya ia sentuh.


“Lepasin gue Ra!” Rangga mengibaskan tangan Amara dan segera menjauh. Ia pun mencari saklar lampu dan beruntung ia menemukannya.


Bisa terlihat Amara yang tersenyum di tempatnya seraya mengingit jarinya dengan seksi.


“Gue pacar Bella!! Dan lo, temen Bella. Gak seharusnya lo ngelakuin ini sama gue.” Tegas Rangga.


Amara tidak menanggapi. Ia merapikan rambutnya yang berantakan, menurunkan sweater rajutnya hingga ke batas dada, membuat Rangga terpaksa memejamkan matanya.


“Apa yang lo dapet dari memacari Bella selama 6 tahun? Kebahagiaan? Bullshit!” ujar Amara dengan suara yang di buat pelan di ujung kalimatnya. Ia sengaja berbisik di telinga Rangga dengan senyum terkekeh.


“Gue yakin, gak menyenangkan kan berada di bawah kendali seorang wanita superior kayak Bella?” pertanyaannya terdengar memancing.


“Lo gak perlu sok tau. Urusan perasaan gue sama Bella, itu urusan gue. Bukan lo!” tegas Rangga.


“Ha ha ha…” Amara seperti mengeja tawanya seraya bertepuk tangan.


“Beruntung banget sih Bella. Di cintain segitunya sama lo. Tapi, serius gue nanya, lo liat apa di masa depan lo sama Bella, hemh?”


“Lo jadi vokalis band terkenal dan Bella jadi wanita karier. Kalian punya banyak anak, di sayangi sama keluarga Bella dan keluarga lo dan kalian hidup bahagia selama, gitu? Hahahaha….”


“Lo begok, Ga." Ia menunjuk pelipis Rangga dengan telunjuknya yang lentik.


"Lo ke makan sama cerita Bella… Lo masuk di script yang dia buat kalau setiap cerita itu bakal selalu happy ending…"


"Apa lo lupa, sampe sekarang aja lo gak dapet restu dari orang tua dan abangnya Bella? Hey, wake up darling… Lo bukan apa-apa di hidup Bella…. Susah jalan lo sama dia. Happy ending itu cuma buat Bella, buat lo?” Amara terkekeh seraya menepuk-nepuk pipi Rangga dengan gemas.


Rangga hanya terpaku, ia berusaha mencerna ucapan Amara. Beberapa perkataan Amara memang benar adanya bahwa ia akan selalu berada di bawah bayangan Bella, tidak bisa berdiri sejajar.


“Apa maksud omongan lo sebenarnya? Lo mau bikin gue ragu sama Bella?” hanya pertanyaan itu yang akhirnya di lontarkan Rangga.


Amara tersenyum kecil, di tatapnya Rangga dengan lekat.


“Lo tau Ga, sejak dulu, gue cinta sama lo. Gue selalu berusaha tampil paling cantik depan lo tapi lo gak pernah sadar. Saat berdiri di depan Bella, binar mata lo indah, seolah dunia lo cuma Bella.


"Lo sampe gak sadar kalau ada yang lebih berkilauan di banding Bella, yaitu gue. Gemes gue…” di usapnya pipi Rangga dengan lembut lantas Amara kecup gemas.


“Tapi, jangan panggil gue Amara kalau gak bisa bikin lo jatuh cinta sama gue.” Di raihnya kerah baju Rangga, lalu ia tarik membuat jarak hidung keduanya hanya sepersekian senti. Rangga bisa merasakan hembusan nafas Amara yang menderu hangat di wajahnya.


“Gue gak bisa!” tolak Rangga.


“Lo kelewatan Ra. Lo mabok!” ia sedikit mendorong tubuh Amara agar menjauh darinya.


“Rangga! Tunggu!” di raihnya kembali tangan Rangga untuk ia genggam dengan erat. Laki-laki itu sudah berniat untuk pergi.


“Gue mohon lo jangan pergi Ga, gue cinta sama lo. Cuma lo yang gue harap bisa mengisi hidup gue.” Ucap Amara dengan penuh kesungguhan.


“Sejak dulu, sejak lo suka nitip surat buat Bella, gue udah suka sama lo. Gue suka sama setiap permen yang lo kasih buat Bella dan gue bisa mencicipinya sedikit. Gue suka setiap baca puisi yang lo tulis buat Bella dan gue bisa menyimpannya diem-diem. Gue suka setiap kali lo ngajak Bella jalan dan gue jadi orang ketiga yang jagain lo di belakang. Gue,”


“Cukup Ra! Lo punya Niko! Ngapain lo ngarepin gue?!” sela Rangga yang tidak habis pikir.


“Karena Niko cuma pelarian gue!!! Niko hanya cara gue supaya bisa deket sama lo. Please Ga, gue cinta sama lo.” terang Amara dengan yakin.


“Lo gila, gue gak bisa.” Tolak Rangga.


“Ga, please…” akhirnya Amara bertekuk lutut di hadapan Rangga, membuat laki-laki itu tidak menyangka.


“Ra, lo apaan sih?!” Rangga berusaha membangunkan Amara namun Amara tidak bergeming.


“Gue bersedia jadi selingkuhan lo. Gue janji gue gak akan ganggu lo sama Bella. Gue bakal ngejaga sikap supaya kita gak ketauan. Tapi please, jangan tinggalin gue Ga. Gue butuh lo…” Amara menangis tersedu-sedu di depan Rangga.


Dan hingga hari ini, jelas sudah keputusan apa yang di ambil Rangga saat itu.


“Heeyy, kok ngelamun sih?” suara Amara kembali terdengar di dunia nyata.


Gadis itu terduduk di samping Rangga lantas menyandarkan kepalanya ke bahu Rangga.


“Ra,” panggil Rangga ragu.


“Hem,, Ngomong aja..” gadis itu tersenyum manis.


“Rasa sakit apa yang sebenernya udah Bella kasih sama kamu?” tanya Rangga tiba-tiba.


Tiba-tiba pula Amara menghentikan senyumannya. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap Rangga. Seperti tidak menyangka kalau Rangga akan bertanya hal ini.


“Banyak.. Terlalu banyaakkk, sampai aku gak tau bagian mana yang paling menyakitkan.” Lirih Amara. Ia balas menatap Rangga yang memandanginya dengan seksama. Terlihat jelas binar matanya yang menyimpan banyak kemarahan.


“Kamu gak perlu tau, kamu hanya harus tau sekarang kita bisa bahagia berdua. Ya, cuma kita berdua.” Lirih Amara seraya kembali menempatkan kepalanya di bahu Rangga dan lengan yang melingkari tubuh Rangga, memeluknya.


Rangga hanya terdiam, ia benar-benar belum bisa mencerna isi pemikiran Amara.


Sudah benarkah keputusan yang ia ambil sekarang?


*****