
Satu jam lalu
“Devan udah berangkat?” Tanya Inka saat tiba di apartemen Devan.
Baru dibukakan pintu, gadis itu langsung menerobos masuk dengan menenteng beberapa paperbag di tangannya.
“Udah. Ada kali 10 menit lalu. Emang kenapa Ka?” Bella mengikuti sahabatnya yang berjalan menuju sofa dan menaruh paperbagnya di atas meja.
“Mandi gih, temenin gue ke pesta.” Tiba-tiba saja gadis itu membalik tubuh Bella dan mendorongnya menuju kamar mandi.
“Pesta apaan? Bukannya lo bilang mau ke café?” Bella memprotes sahabatnya yang mengganti agenda seenaknya.
“Udah, lo ikut aja. Ini lebih seru dari ke café. Lo bakal ketemu sama banyak orang penting. Percaya sama gue.” Tanpa terasa dorongan Inka sudah membawa Bella ke depan pintu kamar mandi.
“Lo sedeng ya, maen ajak orang sesuka hati. Gue udah bilang sama Devan kalo gue gak bakalan lama. Lah ini malah mau ke pesta, mana bisa gak lama-lama?” Bella menatap Inka dengan kesal.
“Gak usah ngomel, mandi aja dulu. Jangan lama-lama, gue tunggu di sofa.” Membukakan pintu kamar mandi, lalu mendorong Bella masuk dan di akhiri dengan menutup kembali pintu. Pekerjaan Inka baru selesai satu.
“Kebiasaan lo, maen maksa orang aja!” gerutu Bella di dalam kamar mandi, namun tetap saja ia menurut untuk segera mandi.
“Udah mulai jadi emak-emak dia, doyan ngomel.” Inka terkekeh gemas melihat tingkah sahabatnya.
Tidak sampai 5 menit, Bella sudah menyelesaikan mandinya. Inka terus mengingatkannya untuk cepat-cepat, mana mungkin ia bisa berlama-lama membersihkan tubuhnya.
Saat keluar, ia dikejutkan dengan ruang tamunya yang berantakan. Inka membongkar semua paperbagnya yang ternyata berisi beberapa gaun mewah. Ada alat make up juga yang sengaja ia bawa. Tidak salah kalau Bella memanggilnya miss well prepare.
“Ini lo mau ngapain Ka?” Bella menatap tidak percaya pada sahabatnya.
“Dandanin lo lah.” Membawa satu baju di tangannya lantas mengukurkannya ke badan Bella. Padahal Bella masih handukan.
“Coba muter.” Pintanya saat sudah mengukurkan satu baju.
“Lo gak salah mau nyuruh gue pake baju mahal begini? Nggak akh, gue gak pede. Apalagi ada blink-blinknya begitu.” Bella tetap dengan protesnya walau masih mengikuti permintaan Inka.
“Makanya gue cocokin dulu, biar keliatan mana yang bagus buat lo. Anggap aja ini kado dari gue."
"Tunggu, kayaknya yang ini gak terlalu bagus deh, terlalu kebuka.” Cuek saja ia melempar satu baju ke sofa dan mengambil satunya lagi.
“Nah, yang ini baru cocok.” Ujarnya, pada sebuah dress berwarna navy.
“Serah lo dah!” Bella hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Inka.
Selesai memilih baju, Inka langsung mendandani Bella. Dengan skill-nya yang mumpuni, ia memoles wajah Bella menjadi lebih segar dan menawan.
“Wiihhh kalo begini sih bukan cuma Devan, koko-koko pemilih PH juga bakal ngelirik nih.” Inka memandangi tampilan sahabatnya yang sudah rapi dan cantik.
“Ini gak berlebihan Ka? Kayaknya lipstick gue terlalu cerah deh.” Protes Bella saat melihat tampilannya yang sudah paripurna di depan kaca.
“Ini malem Belsky, kalo lipstick lo pucet, yang ada lo di kira sakit tipes. Udah deh nurut aja, jangan ngadi-ngadi.” Inka yang sedang merias dirinya, melirik Bella dengan kesal.
“Iyaaakk.. galak bener lo. Makasih udah dandanin gue secantik ini. Muach!” iseng Bella mencium pipi Inka.
“Belsky… Foundation gue belum ngeset anjir! Malah di cium lagi!” protes Inka yang sedang mengukir alisnya.
“Hahahahha… Sorry.. Gue kan gak tau. Sini dah gue bantuin pakein foundation-nya.” Bella mendekat pada sahabatnya. Ia bersiap dengan concealer di tangannya.
“Kagak usah! Yang ada gue malah cemong. Mana yang lo ambil bukan foundation lagi. Itu concealer Belsky, lo baca deh.” Hardik Inka dengan geram.
“Hahahahha… Salah yaa…” Bella malah terbahak. Sesi berdandan malah menjadi moment yang menyenangkan bagi dua sahabat itu.
Dua wanita cantik itu sudah siap dengan penampilan memukaunya. Mereka berangkat dengan disupiri oleh orang kepercayaan Wibisono.
Tidak butuh waktu yang lama sampai kemudian Inka dan Bella tiba di tempat yang tertulis pada undangan. Pandangan mereka menyapu seisi ruangan yang di dominasi oleh sineas terkenal Indonesia.
“Mau gue fotoin?” Bella langsung paham.
“Iyaaakk… Tapi kita liat dulu dia ngegandeng siapa. Anjiirr deg-degan gue.” Tangan Inka sampai berkeringat dingin melihat sosok Reza Rahadian yang menjadi idolanya.
Mereka masuk ke area pesta dan langsung di tawari minum oleh pelayan.
“Terima kasih.” Ucap Bella saat mengambil segelas jus yang ditawarkan oleh pelayan.
“Gue ke sana dulu ya, ada temen bokap.” Pamit Inka pada sahabatnya.
Bella hanya mengangguk mengiyakan. Relasi Inka memang cukup luas, pantas saja kalau banyak yang ia kenal di acara ini.
Sementara Bella merasa kalau tidak banyak orang yang ia kenal. Dari tempatnya ia memperhatikan seisi ruangan sambil menikmati orange jus di tangannya.
Matanya membola saat ia melihat seseorang yang sangat di kenalnya.
“Mas Devan?” lirihnya dengan tidak percaya. Ia sampai mengerjapkan matanya beberapa kali hanya untuk meyakinkan kalau yang dilihatnya benar-benar Devan, suaminya.
Ia melihat Devan sedang berbincang dengan seseorang namun entah siapa, karena sosok itu terhalangi oleh tiang besar.
Bella memutuskan untuk mendekat. Ia menaruh gelas minumannya dan menghampiri Devan.
Namun, baru beberapa langkah di ambilnya, ia sudah sangat terkejut saat melihat Devan sedang berbincang dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Jihan. Jihan tampak menikmati perbincangannya dengan Devan. Sesekali ia tampak tersenyum lalu meneguk minuman yang ada di tangannya dengan elegan.
Rasa terbakar di dada Bella langsung menyeruak, apa mungkin ini alasan Devan tidak mengatakan detail acaranya, karena ia akan bersama Jihan di acara ini?
Akh tidak. Jantung Bella langsung berdebar kencang saat membayangkan kedekatan Devan dan Jihan di belakangnya.
Hati Bella berdenyut ngilu. Pikiran buruk tentang suaminya mulai membayangi isi kepalanya. Semakin ia melihat senyum Jihan yang lebar, semakin ia takut kalau Devan akan tergoda oleh sosok cantik itu.
Bella memutuskan untuk mendekat, ia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Devan bersama wanita itu.
Di sela langkah yang di ambilnya, Bella melihat jelas saat tiba-tiba air muka Jihan berubah dengan cepat. Tawa ittu tiba-tiba hilang saat menyimak ucapan Devan.
“Kalau anda ingat saya seorang sutradara, harusnya anda ingat juga kalau saya sangat mumpuni membaca ekspresi mikro dan makro seorang pemain watak. Walau saya akui saya tidak begitu mahir membaca siasat seseorang.” Ucapan Devan itu samar-sama di dengar Bella.
Bella semakin mendekat, penasaran ia ingin tahu apa yang membuat suaminya menyombongkan pekerjaannya saat ini. Apa Jihan merendahkannya?
“Acting anda cukup mumpuni nona, namun saya tidak tertarik untuk bermain peran dengan anda apalagi menjadi tokoh yang ada di dalam permainan anda.” Tegas Devan seraya menunjukkan tangannya yang semula memegang gelas.
Apa ia sedang memamerkan cincin pernikahan?
Isi pikiran Bella sama dengan pertanyaan Jihan.
“Ya, saya sudah menikah dan saya sangat bahagia.” Tegas laki-laki itu.
Mata Bella langsung membola saat dugaannya ternyata benar. Dan saat ini, tidak hanya Bella yang terkejut dengan pengakuan Devan, melainkan juga wanita yang berdiri di hadapan Devan. Bedanya, Jihan kecewa dan Bella bahagia.
Terlihat jelas kalau Jihan sangat terkejut dan shock di waktu yang bersamaan hingga bahu wanita itu melorot. Jadi, apa selama ini Jihan menyukai Devan? Apa semua yang ia lakukan selama ini juga untuk mencari perhatian Devan?
Bella sampai tercenung tidak bisa berpikir. Beragam bayangan tentang Jihan melintas dikepalanya. Ekspresi Jihan saat menatap Devan, cara Jihan berbicara di depan Devan dan terbaru saat ini adalah respon Jihan saat mendengar pengakuan Devan. Sepertinya dugaannya tidak salah, kalau Jihan menyukai suaminya.
“Sedang apa kamu di sini?” akh, jantung Bella seperti mau pecah saat mendengar pertanyaan Jihan yang tiba-tiba. Ia kaget bukan kepalang melihat tatapan sinis dari wanita yang seperti sangat membenci keberadaannya.
Benar, sedang apa ia di sini?
Apa ini kesengajaan Inka untuk membuat Bella melihat kenyataan sebenarnya?
*****