Bella's Script

Bella's Script
Keluarga baru



Tempat yang di tuju Ozi dan Inka saat ini bukanlah apartemen melainkan kediaman keluarga Fauzi. Mereka sudah sepakat untuk pulang ke rumah ini agar Inka tidak sendirian di apartemennya.


Sejak turun dari mobil, Ozi sudah menggenggam tangan Inka dengan erat, membuat jantung Inka rasanya jedag jedug tidak karuan. Inka masih tidak menyangka, laki-laki ini bisa bersikap manis padanya setelah bertahun-tahun hanya mengacuhkannya saja.


Mengingat perjuangan panjang itu, rasanya sekarang sudah tidak ada artinya lagi. Enam tahun menyimpan nama Ozi dalam hatinya nyatanya menjadi waktu yang cukup bagi Inka untuk memantaskan dirinya berjalan di samping laki-laki yang ia cintai sepenuh hati.


Kedatangan dua orang ini cukup mengejutkan bagi keluarga Fauzi yang saat itu tengah menikmati makan malam. Ozi menggandeng tangan seorang wanita itu sesuatu yang tidak mungkin. Tapi kini, laki-laki itu berjalan dengan tegap seraya menggandeng tangan Inka yang enggan ia lepaskan.


“Abang minta izin, beberapa hari ke depan Inka akan tinggal di sini untuk sementara.” Ucap Ozi tanpa rasa ragu. Walau jelas terlihat rasa gugup yang coba ia sembunyikan di balik ekspresi wajahnya yang tenang.


“Tentu sayang, kenapa nggak. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk Inka.” Sahut Saras yang tersenyum ramah.


Inka tersenyum kecil mendengar sambutan hangat dari Saras, sosok ibu yang selalu ia idolakan sejak dulu.


Sementara Bella, ia langsung berlari menghampiri Inka dan memeluk sahabatnya yang masih mengenakan pakaian serba hitam.


“Eemm... Akhirnya lo masuk ke rumah ini. Gue harap, lo akan segera menjadi bagian dari keluarga ini Ka.” Ucap Bella dalam pelukan sahabatnya.


“Thanks Belsky. Sumpah gue deg-degan banget seperti mimpi gue bener-bener jadi kenyataan.” Timpal Inka yang mengeratkan pelukannya pada Bella.


Bella terangguk bahagia mendengar ucapan sahabatnya. Akhirnya usaha Inka untuk bertahan dan menunjukkan semua perasaannya pada Ozi, kini berbuah manis.


Sementara itu, Ozi hanya mendapat tonjokkan pelan di lengannya dari sang adik.


“Jangan kelamaan lo, biar gue cepet-cepet punya kakak perempuan.” Ucap Bella seraya melerai pelukannya dari Inka.


Inka hanya tersenyum kecil sambil melirik Ozi yang mengusap kepala sang asik dengan sayang.


“Gak akan lama, hati gue udah yakin.” Timpal Ozi tanpa rasa ragu. Membuat wajah Inka merona dengan cepat.


“Wuhuuyy, bentar lagi gue jadi om ganteng dari dua ponakan dong.” Ibra yang sedang memperhatikanpun ikut berkomentar.


Seketika wajah Inka semakin memerah mendengar ucapan Ibra tadi. Ini masih seperti mimpi indah yang membuat ia enggan membuka matanya.


“Ya udah, tolong anterin Inka ke kamarnya, gue ambilin dulu koper di mobil.” Pinta Ozi pada Bella. Ia sangat bersyukur karena kedatangan Inka ke rumah ini ternyata membuat Bella kembali tersenyum.


“Okey. Yuk!” ajak Bella.


“Tante, Inka permisi dulu.” Pamit Inka pada Saras.


“Iya nak.” Timpal Saras dengan senyum terkembang.


“Mah, Ibra boleh nginep di sini juga gak? Sepi di rumah cuma berdua sama nenek dan suster.” Pinta Ibra tiba-tiba.


Ia sudah seperti anak bungsu yang ingin di manja oleh ibu sambung dan kakak-kakaknya.


“Boleh lah. Tapi sekamar sama Bang Ozi ya…”


“Bang Ozi, ngorok gak tidurnya? Takut gak bisa tidur lagi.” Takut-takut Ibra bertanya pada Saras, khawatir Ozi mendengarnya.


“Nggak lah. Mana ada bang Ozi tidurnya ngorok. Ozi tidurnya kayak anak bayi, tenang banget.” Puji Saras pada sang putra.


“Enak aja mau tidur sama gue, tidur aja di sofa.” Ternyata Ozi sudah datang dengan membawa koper milik Inka.


“Dingin lah bang, masa di sofa.”


“Cengeng lo!” decik Ozi dengan sebal.


Devan jadi tersenyum melihat interaksi kakak beradik itu. Untuk beberapa saat mereka bisa tersenyum setelah ketegangan beberapa hari ini.


*****


Kedatangan Inka ternyata benar-benar merubah suasana rumah ini. Setelah makan malam tadi, Bella asyik bercerita dengan sahabatnya hingga perlahan pikirannya teralihkan dari ketakutannya pada kejadian siang kemarin.


Devan mulai mendengar lagi tawa kecil Bella yang membuatnya bisa bernafas lega. Ia berharap dengan adanya Inka di rumah ini bisa membawa ceria bagi Bella walau ia tahu kedua wanita itu sedang memiliki kesedihannya masing-masing. Paling tidak, mereka ada teman untuk saling bercerita dan mencurahkan perasaannya.


Seperti saat ini, Devan masih memandangi wajah Bella yang mulai tenang. Mereka terbaring berhadapan dengan mata yang saling bertatapan.


“Gimana perasaan kamu hari ini sayang?” Tanya Devan seraya mengusap pipi Bella dengan lembut.


“Sudah lebih baik Mas, terima kasih.” Timpal Bella dengan senyum kecil di sudut bibirnya.


Devan mengusap bibir merah muda itu dengan ibu jarinya lalu mengecupnya beberapa saat.


“Mulai sekarang, Mas berjanji kalau Mas akan menjaga kamu lebih baik lagi dari sebelumnya.” Ungkap Devan.


Bella terangguk di dada Devan. Ia bisa merasakan detakan jantung suaminya yang lembut seperti melodi yang indah dan menenangkannya.


Dengan telunjuknya ia membuat garis-garis lurus di permukaan dada Devan yang bidang.


“Mas, aku boleh ngomong sesuatu gak?” Tanya Bella tiba-tiba. Ia menengadahkan kepalanya menatap Devan yang ada di atasnya.


“Ya, katakan.” Devan menatap lekat wajah sang istri untuk menyimak permbicaraannya.


“Apa yang Mas pikirkan tentang rumah?” Tanya Bella tanpa ragu.


Devan langsung tersenyum mendengar pertanyaan Bella. Sepertinya sang istri mendengar pembicaraan ia dengan sang kakak ipar beberapa hari lalu.


“Emmm, rumah ya…” Devan pura-pura berpikir keras.


“Ya, rumah itu sebuah bangunan yang terdiri dari lantai, dinding dan atap.” Terang Devan dengan wajah seriusnya.


“Ish, bukan itu maksud aku…” Bella mencubit pinggang suaminya dengan gemas.


“Ahahahaha iyaa, iyaa,,,” Devan malah tertawa saat cubitan Bella membuatnya geli sendiri.


“Aku nanya serius tau mas.” Bella mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


“Okeeyy.. sorry.. Kenapa, kamu denger obrolan aku sama Ozi ya?” tebak Devan.


Bella mengangguk kecil. Sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini sejak beberapa hari lalu, menanyakan rencana Devan untuk membeli rumah untuk ia tinggali bersama Bella. Dia bilang, apartemen terlalu kecil untuk mereka walau masih tinggal berdua.


“Yaa.... Aku memang ngobrolin masalah rumah sama Ozi, soalnya aku pikir aku perlu pandangan Ozi buat masalah ini. Gimana pun, Ozi sahabat juga kakak yang bisa aku ajak bertukar pikiran. Maaf kalau aku belum membicarakan ini sama kamu.” Ucap Devan penuh sesal.


“Iyaa aku paham Mas. Cuma, aku masih belum bisa aja jauh dari mamah. Mamah semakin lama semakin tua, aku takut kalau mamah perlu apa-apa, akunya malah gak ada. Sementara sampai sekarang, aku masih merasa kalau aku belum bisa ngasih apa-apa buat mamah.” Raut wajah Bella berubah sendu, sesuatu yang sangat Devan hindari.


Devan mengangguk paham, perubahan kondisi di keluarga tentu bukan sesuatu yang mudah bagi Bella. Rasa memilikinya tinggi pada keluarga yang selama ini selalu melindunginya.


“Aku memang gak berniat beli rumah jauh-jauh dari sini sayang. Cuma pertimbangan aku adalah, apakah kita beli rumah jadi atau ngebangun dari nol.”


“Aku paham sepenuhnya keinginan kamu untuk gak jauh dari mamah, tapi saat ini kita sudah punya keluarga sendiri. Walau baru kita berdua, kita harus belajar untuk mandiri, mengelola keluarga kecil itu berdua supaya saat anggota keluarga kita bertambah, kita udah siap. Gak mungkin kan kalau sampe kita punya anak dan aku belum nyediain rumah buat kalian? Sementara aku mampu Bell, hanya saja aku memang perlu pertimbangan orang terdekat kamu.” Terang Devan panjang lebar.


Mendengar ucapan Devan, Bella bisa memahami keinginan suaminya. Devan benar, saat ini ia dan Devan sudah berkeluarga dan harus mengatur rumah tangga mereka sendiri. Ia juga menghargai usaha Devan untuk menyediakan tempat tinggal yang layak untuk Bella dan anak-anaknya kelak.


“Iya Mas, aku setuju. Maaf kalau pikiran aku masih kekanakan.” Bella tertunduk di hadapan suaminya.


Melihat tingkah Bella, Devan jadi gemas sendiri. Ia mengangkat dagu sang istri dengan telunjuknya, membuat wajah Bella kini menengadah menatapnya.


“Aku bangga karena bisa menikahi seorang wanita yang begitu mencintai keluarganya, lantas apa yang perlu di maafkan? Mencemaskan keluarga itu bukan hal yang kekanakan Bell. Aku tau kamu sangat menyayangi Ozi, Mamah dan Ibra. Dan aku menghormati itu.”


“Jadi, jangan merasa bersalah karena kamu sangat menyayangi mereka. Karena sekarang, merekapun keluarga aku. Hanya saja, jangan lupa, kitapun perlu menata masa depan keluarga kecil kita. Ya sayang?”


Bella terangguk setuju lalu memeluk Devan dan membenamkan wajahnya di dada Devan. Hembusan nafas Bella di dadanya membuat ia merasakan geli-geli sedap.


“Yang, jangan mancing aku…” bisik Devan pada sang istri.


“Siapa yang mancing, aku kan cuma mau meluk Mas aja. Emang gak boleh?” sahut Bella tanpa niatan menjauhkan wajahnya dari dada Devan. Ia sengaja meniup-niup dada bidang Devan membuat rambut halu di dadanya meremang.


“Iyaakk tapi itu tangannya diem, kamu bisa bikin si kancil bangun.” Devan sampai merinding saat Bella mengusap punggungnya.


“Diusap doang juga, masa langsung…” Bella tersenyum kecil saat ternyata Devan menarik tubuhnya untuk mendekat.


“Jadi gini cara kamu ngajak aku bikin anggota keluarga baru?” Bisik Devan dengan gemas.Ia menggigit lembut daun telinga Bella yang membuat gadis itu bergidik.


Bella hanya terkekeh mendengar pertanyaan suaminya.


“Heyy, Bell…” Bella malah iseng mencolek pinggang suaminya.


"Aku balas nanti."


Dan dalam beberapa saat Devan membalasnya. Ia membawa Bella ke dalam pelukannya dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Setelah itu, tentu kalian tahu apa yang mereka lakukan kemudian.


*****