Bella's Script

Bella's Script
Menyusul



Bella terduduk lesu di lantai teras seraya memeluk kedua kakinya yang terlipat. Setelah kepergian Devan, ia memilih berdiam diri di luar dan menunggu Ozi menjemputnya.


Apartemen minimalis ini mendadak terasa begitu luas saat tidak ada Devan di sisinya. Rasa sepi langsung menyergap dan membuat ia merasa begitu takut. Takut akan sendirian, takut akan di tinggalkan dan lebih dari itu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Devan.


Sekian lama bersama Devan, Bella cukup mengenal laki-laki ini. Laki-laki dengan ketenangan tingkat tinggi yang tidak pernah membuat Bella merasa terancam atau ragu dengan apapun. Ia selalu memandang sebuah masalah dengan bijak, pandai membuat mengambil sikap dengan pertimbangan yang selalu sangat tinggi.


Tapi rupanya setiap orang selalu memiliki. Batas ia untuk marah, sedih, kecewa dan batas ketenangan itu sendiri. Hingga saat ini Bella tidak tahu apa yang terjadi pada Devan. Ia tidak bisa menduga masalah apa yang mengusik ketenangan suaminya hingga kemudian bertindak kasar padanya.


Namun satu hal yang bisa Bella simpulkan, masalah itu sudah mengusik batas ketenangan Devan.


Cahaya lampu temarang menerangi jalanan beraspal di depan unit apartemen Devan. Nyala lampu dari sebuah mobil yang kemudian berhenti tepat di depan apartemen. Decitan remnya yang terdengar jelas, seolah menunjukkan ketergesaan sang pengemudi menghentikan laju kendaraannya.


Benar saja, dua orang turun dengan tergesa-gesa, yaitu Saras dan Ozi. Mereka menghampiri Bella yang terpekur sendirian, memeluk kedua kakinya sendiri.


“Sayang,…” Saras segera berlari menghampiri Bella yang menolehnya dengan tatapan kosong. Matanya merah dan sembab dan bulir air mata kembali berkumpul di sudut matanya. Entah sejak kapan putrinya berdiam diri di sana padahal udara malah di penghujung kemarau ini sangat dingin.


Saras segera memeluk Bella dengan erat, hatinya kembali hancur melihat Bella teruruk seperti ini.


“Sayang, adek kenapa di luar Nak?” Tanya Saras yang berusaha menahan tangisnya. Ia memeluk Bella dengan erat. Tubuhnya terasa begitu dingin karena sedari hawa dingin udara yang menyelimuti tubuhnya.


“Mah, Devan pergi Mah. Tapi dia gak bilang mau kemana.” Ucap Bella bergetar, bersamaan dengan air mata yang kembali menetes di pipinya.


Ada tangis belum usai yang masih di tahannya dan membuat pita suaranya terasa begitu berat hingga membuat serak.


“Ssssttt… Tenang sayang… Kita akan mencari tau yaa… Kita tunggu kabar dari Devan, mamah yakin Devan gak pergi tanpa alasan.” Saras berusaha menenangkan Bella yang terpuruk. Ia mengusap-usap punggung putrinya dengan lembut. Ia berusaha tegar walau perasaannya pun tidak karuan.


“Adek takut Mah. Adek takut kalau Devan juga pergi ninggalin adek dan gak kembali lagi. Nanti adek gimana?” Suara Bella terbata-bata hingga rasanya hati Saras ikut teriris.


Ozi melihat mata Bella yang kosong itu kembali menitikkan air mata. Di saat seperti ini, masih saja Bella mencemaskan Devan, pria yang ia pikir tidak akan membuat adiknya menangis.


“Lo ngomong apa sih? Gak usah mikir aneh-aneh dulu. Devan minta lo percaya sama dia kan? Maka lo cukup percaya sama dia.” Tegas Ozi yang sibuk dengan ponselnya. Walau ia sempat gamang apa Devan benar-benar memegang ucapannya atau tidak. Tapi kali ini, ia harus percaya pada Devan.


Bella menengadahkan wajahnya, ia menatap sang kakak yang berdiri mematung tengah berusaha menghubungi seseorang.


“Gimana kalo Devan bohong? Gimana kalo Devan gak kembali kayak papah? Papah juga bilangnya cuma pergi sebentar karena harus menyelesaikan masalahnya dengan perempuan itu, tapi buktinya papah gak balik lagi. Papah malah pergi selamanya sama perempuan itu dan ninggalin gue. Papah bohong sama gue bang…” Suara Bella semakin lemah. Ada hembusan nafas berat dari mulut Bella yang membuatnya ikut ketir.


Air matanya terus menetes  tapi tidak ada isakan yang terdengar.


Ozi mengingat benar bagaimana terpuruknya Bella saat mendiang sang ayah pergi, dan kali ini,


Akh tidak, Ozi tidak bisa membayangkan jika langit Bella kembali runtuh dan dunianya hancur.


Ozi tidak menimpali. Ia hanya mengigit punggung tangannya menahan geram. Matanya ikut berkaca-kaca lalu ia palingkan wajahnya dari Bella agar sang adik tidak melihat keraguan di matanya yang membuat Bella akan semakin terpuruk.


Ia masih berpikir, kemana sebenarnya Devan, mengapa tidak menjelaskan apapun sebelum pergi?


Bukankah menemukan Devan adalah yang terpenting saat ini? Mungkin saja nanti ia bisa menghajarnya dan memperingatkannya agar tidak memperlakukan Bella seperti ini.


Adalah Saras yang kini mengusap pipi putrinya dengan lembut dan ikut terisak mendengar ucapan Bella. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa menangisi kondisi putrinya saat ini.


"Adek jangan dulu berpikir buruk ya Nak. Kita gak pernah tau, mungkin saja saat ini Devan sedang membutuhkan bantuan kita atau butuh waktu untuk dirinya sendiri. Terkadang seseorang bisa terlihat egois sebelum kita tahu benar apa alasannya." Tutur Saras yang memandangi putrinya dengan perasaan yang entah.


Bella tertunduk lesu. Pada akhirnya mereka hanya bisa menunggu. Dua orang yang sangat yakin kalau Devan laki-laki terbaik untuk dirinyapun kini mulai ragu. Lalu, bisakah ia tetap yakin kalau saat ini ia hanya sedang pada kondisi dan sudut pandang yang salah?


“Semuanya dia bawa. Hp, dompet, foto keluarganya yang ia taruh di samping tempat tidur. Juga passport-nya. Tapi dia gak ngebolehin gue ikut. Dia malah bilang, terserah.” Jawab Bella dengan berurai air mata.


Ucapan Devan lagi-lagi seperti tamparan keras yang menyadarkan Bella bahwa cinta tidak selalu indah. Setelah kata-kata manis, yang tersisa hanya komitmen dan kepercayaan yang saat ini sedang di pertaruhkan.


“Astagaaa…” Ozi mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka kalau Devan akan akan bersikap seegois itu pada Bella. Padahal ia tahu persis seperti apa Bella. Dan ketakutan Bella itu wajar mengingat ia pernah trauma ditinggalkan oleh sang ayah yang menjadi cinta pertamanya.


Ozi menghampiri Bella lalu berjongkok lalu memeluknya dengan erat.


“Lo harus tau, Devan gak cuma cinta sama, dia juga menghormati lo. Dia gak mungkin bertindak seperti pengecut. Dan saat ini Devan perlu lo percaya sama dia. Tunggu dia pulang dan do’ain yang baik-baik buat dia. Lo paham kan?” Bisik Ozi seraya mengeratkan pelukannya pada Bella. Sekali ini saja ia berpesan seperti ini pada Bella.


Bella hanya terangguk dan membenamkan wajahnya di dada Ozi. Pertahannya memang hampir runtuh dan kepercayaannya nyaris sirna jika tidak diingatkan oleh Ozi.


“Sekarang, lo sama mamah tunggu di dalem ya, gue mau hubungin dulu seseorang.” Pinta Ozi. Ia melerai pelukannya dari Bella lantas mengusap air mata sang adik dengan lembut.


Ozi menangkup kedua sisi kepala Bella lantas mengusapnya. Ia menatap sang adik dengan tajam, seolah berusaha menyemangati Bella.


Lagi Bella hanya mengangguk. Benar adanya kalau saat ini ia harus percaya pada suaminya. Mungkin apa yang ada di benaknya tidak seperti yang sebenarnya terjadi.


“Ya udah, masuk gih.”


“Iya.” Bella mengangguk patuh.


Bella dan Saras sama-sama masuk ke dalam rumah sementara Ozi berusaha menghubungi seseorang. Bella memperhatikannya dari dalam, sang kakak tampak berbincang dengan serius dan entah dengan siapa.


“Minum sayang,… Adek perlu menenangkan diri dulu. Bener kata abang, jangan panik, kita harus tenang dan menunggu kabar dari Devan.” Saras duduk di samping Bella dan memberikan anak perempuannya segelas air mineral.


“Makasih Mah.” Ucap Bella.


Ia meneguk air mineralnya beberapa saat dan membiarkan sensasi dingin itu menenangkan dirinya.


“Tadi Devan belum makan Mah. Terus sekarang dia pergi gitu aja. Gimana kalo dia laper? Aku takut dia sakit.” Bella tertunduk lesu dengan kepala tertopang tangan kanannya yang memijat pelipisnya lembut. Sementara tangan kirinya masih memegangi gelas di tangannya.


Saras menghela nafas dalam, ia mengerti benar kekhawatiran putrinya. Di ambilnya gelas dari tangan Bella lalu ia usap punggung putrinya itu dengan pelan dan lembut.


“Mamah yakin, Devan akan menjaga dirinya. Karena dia tau, istri yang dia sayangi sedang menunggu kabarnya. Hem?” di kecupnya kepala Bella dengan lembut lantas ia tepuk-tepuk bahunya yang tegang.


Bella terangguk kecil. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu Saras, tempat ternyamannya saat ini.


“Makasih Mah.” Di kecupnya tangan Saras yang menggenggam erat tangannya.


“Sama-sama sayang.” Kedua wanita itu berangkul untuk beberapa saat, untuk saling menguatkan.


Tidak berselang lama, tiba-tiba Ozi masuk. Wajahnya terlihat tegang.


“Kita pulang sekarang, kita harus susul Devan. Dia pulang ke Singapore.” Ucap Ozi tiba-tiba.


“Apa?” respon Saras dan Bella bersamaan.


*****